Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Over


__ADS_3

Di halaman belakang kediaman Rain...


"Baiklah, apa yang ingin kau tunjukkan padaku?" tanyaku kepada putra bungsu kerajaan ini.


Kini aku sudah tiba di halaman belakang kediamannya. Di sini aku merasa lebih leluasa bergerak karena hanya ada aku dan Rain. Tak lama, Rain membawakan sesuatu untukku.


"Tongkat besi?" Aku terkejut saat dia membawa banyak tongkat besi.


"Ya, ini adalah salah satu senjata perang selain pedang, Ara," katanya lalu berdiri di tengah halaman.


"Apa yang akan kau lakukan, Rain?" tanyaku heran.


"Aku akan menunjukkan bagaimana cara menggunakan tongkat besi ini." Dia mulai mengambil tongkat paling pendek.


Rain membawa tiga pasang tongkat besi dengan ukuran yang berbeda. Dia lalu menunjukkan aksinya di depanku. Rain memutar tongkat ukuran terpendek dengan satu tangannya.


"Wow!" Aku bertepuk tangan melihat kebolehannya.


"Saat perang, apapun bisa menjadi senjata. Jadi lihat ini." Rain memutar tongkat itu ke seluruh tubuhnya dengan cepat.


Dia hebat! Aku takjub melihat pertunjukannya.


"Kau mau mencoba, Ara?" Sesaat kemudian Rain menawarkan padaku.


"Boleh." Aku segera berjalan mendekatinya lalu kupegang tongkat besi itu. "Astaga! Ini berat, Rain!"


"Awalnya memang berat. Tapi jika sudah terbiasa, akan terasa ringan."


"Baiklah. Akan kucoba."


Aku yang selalu ingin mencoba hal-hal baru, akhirnya meniru gerakan Rain. Ya, walaupun tidak semulus apa yang telah dia perlihatkan padaku. Rain mengajariku bagaimana cara memegang tongkat besi yang benar. Dia sabar sekali.


"Perhatikan posisi punggungmu. Tetap harus tegak sekalipun berjongkok." Dia menegakkan tubuhku.


Aku mulai berlatih bersamanya. Dimulai dari tongkat terpendek hingga tongkat terpanjang. Rain mengajariku sambil bercanda hingga aku juga tidak merasa berat untuk mempraktikkan apa yang telah dia ajarkan.


Hari ini kuhabiskan waktu di kediamannya untuk berlatih. Dan tanpa terasa, jam makan siang telah tiba.


"Kita istirahat dulu, Ara," katanya menyudahi latihan.


"Aku ingin makan salad buah yang segar, Rain," pintaku padanya.


"Eh? Tapi para pelayan sedang tidak ada," sahutnya.


"Ke mana?"


"Mereka sedang mengantri mengambil gaji hari ini."


Pantas saja Cloud belum kelihatan. Mungkin dia sedang sibuk membayarkan gaji para pelayan.


"Em, baiklah. Aku yang akan membuatnya. Temani, ya."


Aku minta diantarkan ke dapur kediamannya, letaknya tidak jauh dari pintu masuk rumah. Sesampainya di dapur, aku segera menyiapkan sajian makan siang. Rain pun ikut membantu. Kami mulai mempersiapkan buah-buahan yang ada.


"Rain, bantu aku mencuci buah, ya."

__ADS_1


Aku meminta Rain untuk mencuci semua buah. Setelahnya aku iris kecil-kecil berbentuk dadu.


"Ada susu?"


"Ada, Ara. Tapi kau kan sudah punya," celetuknya.


"Rain, jangan memancingku. Ini tengah hari," balasku cepat.


Kulihat dia hanya tersenyum lalu mengusap kepalaku ini. "Baiklah, Nyonya Rain," katanya lalu mengambilkan susu untukku.


Kami mencampur semua buah yang telah dipotong lalu memberinya susu. Akhirnya salad buah tersaji tanpa mayonais.


"Lumayan." Aku mencicipinya.


"Sayang, susunya jatuh."


"Mana?!" tanyaku kaget.


Rain ....


Kurasakan kecupan hangat di bibirku ini sesaat setelah aku berbalik menghadapnya. Aku pikir susunya benar-benar jatuh. Ternyata itu hanya akal-akalannya untuk menciumku.


Dasar!


"Aku semakin tidak sabar menunggu hari itu. Jadilah pengantinku, Ara." Dia tersenyum lalu mencium tanganku ini.


Andai dia tahu jika aku pun ingin segera menikah dengannya. Aku juga ingin menjalani hari-hari baruku bersamanya. Sepertinya Rain cukup dewasa untuk menjadi seorang suami. Ya, walaupun terkadang sifat manjanya itu datang tanpa diundang.


"Baiklah, setelah ini kita lanjutkan latihannya."


"Eh?! Tap-tapi—"


"Baiklah, Sayang. Kupenuhi titahmu," kataku seraya mencubit kedua pipinya. Rain pun tertawa mendapat balasan dariku.


Kami makan siang bersama dengan salad buah sebagai hidangan pembuka. Setelahnya, Rain meminta dibuatkan nasi goreng olehku. Dia bilang sih, nasi goreng buatanku enak. Entah benar atau tidak, tapi sepertinya apa yang dikatakannya memang benar.


Menjelang sore...


"Ara, ingat pesan-pesanku. Jangan keluar istana tanpa sepengetahuanku." Rain mengantarkanku ke kamar.


"Tapi, Rain. Aku ingin sekali melihat pasar malam di ibu kota. Boleh, ya?" rayuku manja.


"Tidak boleh, Ara. Kalau mau ke sana, tunggu aku!"


"Tapi aku kan pergi bersama mbok Asri," sanggahku.


"Tetap saja tidak boleh. Kalau kataku tidak, ya tidak!" Rain tidak mengizinkanku untuk keluar dari istana.


"Ya, sudah. Kalau begitu temani aku ke sana malam ini," pintaku lagi.


"Malam ini aku ada pertemuan dengan para jenderal dari berbagai daerah, Ara. Kami akan mengadakan rapat untuk mengamankan acara pertunjukan busana nanti."


"Tu, kan. Jadi gimana?" tanyaku lesu.


"Tunggu aku saja ya, Sayang."

__ADS_1


Aku tahu Rain khawatir padaku. Tapi lama kelamaan sifat protektifnya itu mulai terasa menyebalkan. Aku juga ingin mencari udara segar di luar istana.


Apa aku ajak Cloud saja, ya?


"Ya, sudah. Aku temui pasukan dulu. Sebentar lagi pergantian jaga. Kau baik-baik di sini, ya." Rain bergegas pergi setelah mengantarkanku sampai di depan kamar.


"Baiklah. Sampai nanti."


Dia pergi begitu saja tanpa meninggalkan kecupan mesra untukku. Sepertinya Rain sebal karena aku sudah membandel padanya.


Hufft, dia itu memang sedari dulu ... menyebalkan!


Kini aku hanya bisa menunggu Cloud datang dan mengizinkanku untuk melihat pembukaan pasar malam di ibu kota. Ya, semoga saja Cloud mengajakku ke sana malam ini.


Beberapa jam kemudian...


"Nona."


"Mbok?"


Aku sedang tidur-tiduran sambil bermain ponsel. Tiba-tiba Mbok Asri datang mengetuk pintu lalu menghampiriku.


"Nona, apakah kita jadi ke pasar malam?" tanya mbok.


"Hem, bagaimana ya, Mbok. Pangeran Rain tidak mengizinkanku untuk keluar istana tanpanya." Aku sedih.


"Tidak apa-apa, Non. Pangeran Rain pasti khawatir dengan Nona." Mbok seperti menutupi kekecewaannya.


"Mungkin lain kali saja ya, Mbok. Tak apa, kan?" tanyaku lagi.


"Baiklah, Non. Tak apa. Kalau begitu saya mohon pamit. Besok saya diliburkan dan lusa baru kembali. Jika Nona ada keperluan, bisa meminta kepada pelayan lain." Mbok berpesan.


"Iya, Mbok." Akupun mengiyakannya.


Aku lalu mengantarkan mbok hingga ke depan pintu kamar. "Oya, Mbok. Aku ada sedikit untuk Mbok." Aku menyerahkan dua koin emas padanya.


"Nona, tidak usah. Pangeran Cloud baru saja memberikan gaji kepada kami."


"Tak apa, Mbok. Anggap saja untuk jajan anak-anak," kataku seraya menyerahkannya.


Seketika mata mbok berkaca-kaca. Ia seperti terharu dengan apa yang kulakukan.


"Terima kasih, Nona. Semoga Tuhan membalasnya."


"Aamiin," sahutku seraya tersenyum.


"Kalau begitu, saya permisi, Non."


Mbok kemudian berpamitan kepadaku dengan senyum semringahnya. Aku merasa senang melihat mbok dapat tersenyum seperti itu.


Aku tidak begitu membutuhkan uang selama berada di sini. Jadi untuk mbok saja.


Sebelum berpisah dengan Rain, Rain memberiku sepuluh koin emas untuk jajan. Tapi aku hanya mengambilnya dua lalu kuberikan kepada Mbok Asri. Aku merasa tidak terlalu membutuhkan uang di sini karena kehidupanku sangat tercukupi.


"Hah, aku bete sekali."

__ADS_1


Aku kembali merebahkan diri di atas kasur lalu bermain ponsel. Malam ini terasa begitu sepi karena kedua pangeran sepertinya sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Jadi kuputuskan untuk tidur lebih awal saja.


Sambil mendengarkan lagu-lagu favoritku, akhirnya kantuk pun mulai datang menerjang. Tak lama aku tenggelam dalam alam bawah sadar. Tertidur nyenyak bersama angan yang kini mulai menjadi kenyataan.


__ADS_2