Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Jealous


__ADS_3

"Rain ...."


Aku kemudian bangkit lalu memeluk Rain dari belakang. Kucoba untuk mengutarakan perasaanku. Rasanya, aku juga tidak ingin semua ini cepat berakhir.


Rain membalas pelukanku. Kurasakan jika dia benar-benar menyayangiku. Aku semakin ingin dimiliki olehnya.


"Ara ...."


Kurasakan hangat tubuhku ini bersamaan dengan terisinya hatiku oleh namanya. Sepertinya, aku tidak ingin lepas darinya. Jiwaku meronta ingin dimiliki dirinya.


Entahlah, rasa apa yang kini menyelimuti hatiku.


Beberapa menit kemudian...


Tak terasa langit mulai gelap. Aku mengajak Rain pulang ke istana. Kulihat wajahnya tersirat keengganan, namun aku memaksanya. Tidak baik bagi perempuan di luar malam hari. Apalagi ini di dunia orang, bukan di duniaku.


"Kau tidak menyesal pergi denganku kan, Ara?" tanya Rain di belakangku sambil melajukan kudanya.


"Eh, kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" tanyaku balik.


"Dari tadi kau selalu meminta pulang, aku merasa—"


"Ssst. Aku khawatir penghuni istana mencari kita dan ada keperluan mendesak. Bagaimana coba? Kita kan bisa berpergian di lain hari." Aku menyemangatinya.


"Baiklah. Tapi kau janji, ya?"


"Iya, bawel."


Aku mengusap pipi kanannya dengan tangan kananku seraya menatapnya dari bawah. Kulihat Rain melihatku sesaat dari atas. Dia tersenyum bahagia sambil terus melajukan kudanya. Kami pun terus menyusuri hutan sebelum gelap datang.


Rintik hujan tiba-tiba datang tanpa diundang. Rintik itu mengundang kawanannya. Kami diserang hujan deras.


"Ara, kita berteduh dulu."


Rain mengarahkan kudanya menuju pemukiman penduduk. Terlihat ada gubuk yang bisa kami gunakan untuk berteduh. Rain segera turun dari kudanya lalu membantuku turun. Kami masuk ke dalam gubuk itu.


"Kau kebasahan, Ara."


Aku memeluk diriku sendiri. Rintik-rintik hujan ini menyatu menjadi besar hingga membuat gaunku basah.


"Sepertinya sudah memasuki musim hujan. Ini, pakailah jubahku."


Rain memakaikan jubahnya yang berwarna merah itu kepadaku.


"Bagaimana, sudah terasa hangat?" Rain sibuk sendiri.


"Belum, udaranya begitu dingin apalagi memasuki waktu malam seperti ini," jawabku yang kedinginan.


"Apakah aku harus membuka baju dan celanaku?" tanyanya lagi.


"Eh! Mau ngapain?!" tanyaku sedikit menjauh darinya.


"Sudah, jangan menghindar lagi. Kau milikku, Ara."


Rain menarik lalu memelukku dengan erat tanpa dipinta. Diberinya kehangatan yang meresap hingga ke sumsum tulangku. Aku pun menikmatinya. Dia berulang kali mengusap-ngusap lengan atasku untuk memberikan kehangatan.


"Harusnya kau tidak memakai gaun yang seperti ini, Ara. Bagian atasnya terbuka. Nanti bisa masuk angin."

__ADS_1


Rain menunjukkan perhatiannya padaku.


"Kan aku belum pernah mencobanya. Jadi ya, aku pakai," belaku.


"Oh, ya. Di istana jangan mengenakan gaun sembarangan, ya!" pintanya.


"Sembarangan, maksudnya?" tanyaku sambil melihat ke arahnya.


"Jangan yang terlalu terbuka. Pakai yang ada lengannya dan bagian atasnya tertutup." Rain melanjutkan.


"Mengapa seperti itu?" tanyaku lagi.


"Aku tidak ingin ada yang melihat tubuhmu selain aku."


Jantungku seakan berhenti berdetak mendengar Rain mengucapkan kalimat itu. Aku benar-benar merasa dimiliki olehnya.


Hatiku...


"Nanti jika pekerjaanmu dengan Cloud sudah selesai, bekerjalah padaku."


"Eh?"


"Aku tidak ingin kehilanganmu, Ara. Kalau bisa, menetaplah selamanya di istana," ungkapnya.


"Memangnya bisa?" tanyaku lagi.


"Bisa, jika kau mau menikah denganku dan merawat anak-anakku kelak."


"Rain!"


"Aku serius kali ini, Ara. Jangan anggap ini hanya sebagai senda-gurau belaka."


"Kau mau, kan?" tanya Rain sambil mendekatkan wajahnya.


"Kalau aku tidak mau, bagaimana?" godaku.


"Aku akan memaksanya."


"Kalau masih tidak mau?"


"Aku akan—"


"Hm...?"


"Ara, jangan memancingku. Udara begitu dingin." Rain memelas.


"Aku tidak memancing, hanya menggoda," kataku.


"Itu sama saja, Ara!"


Rain mencubit kedua pipiku. Dia kelihatan gemas. Ekspresi wajahnya itu membuatku senang mempermainkannya.


"Kau ini, ya. Kalau sudah menjadi istriku saja, tak akan kubiarkan dirimu keluar kamar, walau sedetik pun!" serunya.


Aku segera melepaskan diri dari pelukannya.


"Rain. Ssst... Jangan berkata seperti itu, kita ini di dekat pemukiman penduduk."

__ADS_1


Aku memberinya isyarat karena khawatir ada yang mendengar percakapan kami. Rainpun diam sambil menutup mulutnya. Sengaja aku menjauhkan diri darinya agar percakapan ini tidak berlanjut. Tapi jujur saja, ekspresi wajahnya itu membuatku senang mempermainkannya.


Beberapa saat kemudian...


Langit sudah gelap, namun hujan belum juga berhenti. Sepertinya ini doa Rain agar bisa lebih lama berduaan denganku. Aku tersenyum sendiri memikirkannya.


Kami akhirnya nekat pulang ditemani rintik-rintik hujan yang turun. Semakin mendekat ke arah istana, hujan semakin reda, hanya tersisa rerintikkannya saja.


Kami memasuki gerbang belakang istana yang dijaga oleh banyak prajurit. Rain kembali menjaga kewibawaannya sebagai sosok penting di kerajaan ini. Dan aku pun kembali bersikap anggun sebagai seorang tamu kehormatan yang dibawa Cloud.


Rain menggunakan jubahnya untuk melindungi kepalaku dari rintik hujan. Padahal aku tidak terlalu memerlukannya. Tapi kuturuti saja kemauan putra mahkota ini.


"Aku antar sampai ke depan kamar."


Kami berjalan menuju kamarku. Rain kembali memakai jubahnya saat memasuki koridor ruangan. Terlihat para pelayan yang membungkuk saat kami berjalan melintasi mereka.


Sesampainya di depan kamarku, aku melihat seseorang telah menunggu kedatangan kami.


"Rain!!!"


Sosok itu berseru kepada Rain dengan tatapan yang tajam. Aku tersentak saat melihat jelas siapa sosok itu.


"Kak Cloud?" Rain menyapanya.


Sosok itu benar adalah Cloud. Raut wajahnya merah padam seperti menahan amarah.


"Jam berapa ini?!" Cloud melirik ke arahku dan aku hanya tertunduk. "Dari mana saja kalian?!" tanya Cloud lagi.


"Kakak, kami dari pohon surga. Kami—"


"Kau pergi dalam waktu yang lama dan tanpa pamit kepadaku. Apa kau menyadari kesalahanmu?!"


Aku tidak enak hati berada di antara kakak-beradik yang sedang bertengkar. Aku pun berpamitan.


"Maaf, Pangeran Cloud. Sebaiknya saya permisi." Aku membungkukkan badanku ke arah Cloud.


"Ara!"


Saat ingin masuk ke dalam kamar, Cloud memanggilku. Sontak langkah kakiku terhenti lalu kembali ke hadapan Cloud.


"Iya, Pangeran Cloud," jawabku sedikit takut sambil tetap menundukkan pandangan karena merasa bersalah.


"Besok pagi kita adakan rapat. Jangan sampai terlambat!" ucapnya tegas.


"Baik, Pangeran. Kalau tidak ada lagi, saya permisi."


Aku undur diri dari hadapan keduanya lalu masuk ke dalam kamar dan segera menutup pintu. Terdengar langkah kaki mereka yang mulai menjauh.


"Kakak, aku tahu aku salah. Tapi tolong jangan laporkan pada ayah." Suara Rain terdengar.


"Rain. Aku tidak suka dengan caramu. Kau pergi meninggalkan istana tanpa memberi pesan padaku. Apa kau tidak berpikir bagaimana jika di saat kau pergi, istana ini diserang?" Cloud terdengar menekan intonasi bicaranya.


"Maaf. Aku salah." Rain mengakui.


"Dan apa kau tidak tahu jika Ara adalah tanggung jawabku? Aku bertanggung jawab atas apa yang terjadi padanya. Sekalipun hal itu kau yang melakukannya!"


Cloud berseru. Perkataannya mengejutkanku. Baru kali ini aku mendengar Cloud semarah ini. Selama ini Cloud begitu tenang di pandangan kedua mataku.

__ADS_1


Apakah hal ini terjadi murni dikarenakan rasa tanggung jawabnya atau karena rasa cemburu di hatinya? Entahlah. Aku tidak tahu pasti. Tubuhku yang mulai menggigil membuatku segera berlari ke kamar mandi. Kulupakan sejenak peristiwa yang baru saja terjadi.


__ADS_2