
Aku duduk di depan meja kerjaku seraya mengusap air mata yang jatuh. Hatiku merasa sakit dengan hal yang Cloud lakukan. Dia seolah memaksaku untuk terus bekerja, padahal kondisi tubuhku sedang kurang baik.
Mengapa semua ini harus terjadi?
Aku bingung kalau sudah begini. Apa yang harus kulakukan ke depannya? Tetua Agung bilang jika aku adalah dewi pembawa kedamaian. Tapi kenapa kakak dan adik itu bertengkar karenaku? Aku sendiri belum dapat memilih salah satu dari keduanya. Namun, jika situasi terus seperti ini, mungkin lebih baik aku kembali ke duniaku saja.
"Ara ...."
Kudengar Rain mengetuk pintu dari luar. Pintu kamar memang sengaja aku kunci dari dalam. Aku tidak ingin diganggu dulu malam ini.
"Ara, aku bawakan sup untukmu. Aku akan pergi bertugas."
Mendengar hal itu, mau tak mau akupun membukakan pintu untuknya. Rain kemudian masuk ke dalam kamar dan melihat mataku memerah karena menangis. Dia segera meletakkan sup itu ke atas meja lalu memegang kedua pipiku.
"Kau masih menangis?" tanyanya seraya menatap ke arahku.
"Rain, aku ingin kembali ke duniaku saja," jawabku sambil menahan air mata yang akan jatuh.
"Apa?! Ara, aku tidak salah dengar, kan?" Rain tampak terkejut.
"Rain, aku tidak mau kehadiranku membuat kalian bertengkar."
"Ara, hal ini biasa terjadi. Kami keluarga."
"Tapi, Rain. Aku merasa tidak enak hati sendiri."
Rain segera memelukku. Dia mengusap-usap kepalaku ini.
"Ara, jika kau kembali ke duniamu, aku tidak dapat menyusulnya lagi," katanya.
"Benarkah?" tanyaku seraya mengusap air mata dalam pelukannya.
"Aku hanya bisa sekali ke sana. Berbeda denganmu."
"Maksudmu?" Akupun segera melepas pelukan Rain.
"Kau adalah tujuan yang memegang kunci utama. Hanya dirimulah yang bisa bolak-balik melewati portal. Sedang aku, hanya bisa sekali."
Aku mencoba menelaah perkataan Rain. Sepertinya aku harus mencari tahu sendiri tentang kejelasan hal ini.
"Sekarang beristirahatlah, aku pergi bertugas dulu. Nanti jika sudah selesai, aku akan segera menemuimu."
__ADS_1
Rain lalu mengecup keningku. Dia juga mencium tangan kiriku seraya berpamitan. Dia tampak terburu-buru.
"Hati-hati, Rain." Aku mengantarkan kepergiannya sampai di depan teras kamar.
Apa benar yang dikatakan oleh Rain?
Aku masih bertanya-tanya tentang hal ini. Rasa penasaran kini menyelimuti pikiranku. Sepertinya aku harus mencari tahu akan kebenaran yang Rain ceritakan.
Sementara itu...
Malam ini Cloud tidak tenang, ia gelisah melewati malam seorang diri, ia merasa bersalah karena telah membuat gadisnya itu menangis. Di antara kesibukannya, Cloud terngiang-ngiang dengan segala hal yang telah dilaluinya bersama Ara. Gadis itu benar-benar menaklukkan hatinya.
"Hah ...."
Cloud keluar dari kamarnya lalu mencoba untuk kembali bekerja. Namun, pikirannya tidak bisa fokus, angannya melayang ke mana-mana.
"Apa aku harus menemuinya?" Ia bertanya sendiri.
Cloud dilema. Ia ingin menemui Ara malam ini juga. Namun, ia khawatir jika Ara akan menolak kehadirannya. Ia hanya bisa termenung dalam sepi.
"Mungkin aku harus mencari cara lain."
Hatinya menggebu, ingin sekali bertemu gadis itu. Cloud kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil sesuatu dari laci bawah lemarinya. Sebuah biola berwarna cokelat berniat ia mainkan.
Cloud segera berjalan keluar kamar dan bergegas menuju pintu keluar ruangannya. Ia melangkahkan kaki menuju kamar gadis itu. Ia belum dapat tenang sebelum melihat Ara malam ini. Perasaan bersalah menyelimutinya.
"Salam bahagia untuk Pangeran Cloud."
Beberapa pelayan istana ia temui di sepanjang koridor ruangan. Namun, Cloud tidak terlalu menghiraukan, ia hanya tersenyum.
Lebih cepat lebih baik.
Cloud fokus ke tujuannya, menuruni anak tangga menuju lantai satu. Langkah kakinya terdengar cepat, ia ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Ara.
Sesampainya di depan kamar Ara...
Kini Cloud sudah tiba di kamar Ara, namun ia tidak berani untuk mengetuk pintu kamar gadis itu. Ia berinisiatif memainkan biolanya di teras kamar sang gadis. Berharap Ara akan mendengarnya lalu membukakan pintu.
Cloud menarik napas panjang lalu berusaha menghayati melodi yang akan ia perdengarkan. All That I Need, sebuah lagu yang akhir-akhir ini selalu terngiang di kepalanya. Iapun mengalunkan lagu itu.
Suara biola yang merdu, membuat seluruh penghuni istana yang dekat dengan kamar Ara berdatangan. Mereka kemudian melihat jika putra mahkota lah yang sedang menyenandungkan melodi indah itu. Cloud terus saja memainkan biolanya sambil menunggu Ara keluar dari kamar.
__ADS_1
Ara, keluarlah. Aku mohon.
Alunan lagu itu tentu saja sangat familiar di telinga Ara. Lagu favoritnya dialunkan dengan irama biola yang indah. Ia kemudian keluar dari kamar untuk melihat siapa gerangan yang mengalunkan melodi lagu itu.
"Cloud?!"
Sesaat setelah ia membuka pintu kamarnya, ia melihat jika Cloud lah yang tengah menyenandungkan lagu itu dengan biola. Cloud pun menghentikan alunan melodi itu setelah menyadari Ara membuka pintu kamarnya.
"Cloud, kau?"
"Ara, aku ...."
Gadis itu tampak terkejut dengan kehadiran Cloud. Cloud pun segera mendekati Ara dengan mata yang berkaca-kaca. Ia ingin meminta maaf kepada sang gadis.
"Ara ...." Cloud tampak terbata.
"Cloud, kau belum tidur?" tanya Ara seraya menatapnya.
Momen itu terlihat jelas di mata para penghuni istana yang melihatnya. Mereka tampak terkejut dengan hal yang Cloud lakukan. Para penghuni istana pun segera bersembunyi karena khawatir ketahuan sang putra mahkota.
Sementara itu di negeri Aksara...
Hell berpesta pora dengan para menterinya karena telah berhasil membuat penduduk ibu kota negeri Angkasa terkena wabah penyakit. Mereka terlihat mabuk dengan didampingi beberapa penari wanita. Hal itu terekam jelas di depan kedua mata sang putri yang mengintipnya dari balik dinding ruangan.
Ayah, aku tak menyangka jika ayah seperti ini.
Andelin tak habis pikir dengan tindakan ayahnya. Ia kini mengetahui jika ayahnya itu telah melakukan cara licik untuk menundukkan Angkasa.
Aku harus berbuat sesuatu. Aku tidak ingin ayah terus seperti ini.
Ia mencari cara untuk menyadarkan sang ayah. Dengan segera ia pergi dari tempatnya bersembunyi, berjalan cepat menuju kamarnya. Sementara sang ayah masih asik mabuk-mabukan.
"Hah, aku tak menyangka rencana kita akan berhasil." Hell meneguk lagi minuman anggurnya.
"Paduka, apakah kita harus menyerang penduduk di luar ibu kota?" tanya Land kepada rajanya itu.
"Nanti, nanti saja. Aku ingin melihat kekacauan yang terjadi di ibu kota dulu. Jangan terburu-buru. Hal ini pasti membuat Sky berpikir keras untuk mencari jalan keluarnya." Hell tampak senang.
"Tapi, Paduka. Raja Sky mempunyai dua orang putra yang pintar dan bisa diandalkan. Keduanya tidak mungkin berdiam diri dengan wabah ini." Menteri lain ikut bicara.
"Baiklah. Kalau begitu kita minta kepada penyihir itu untuk menyebarluaskan wabah ini di sekitaran luar ibu kota." Hell akhirnya menyetujui saran menterinya.
__ADS_1
Aku tidak sabar melihat Angkasa jatuh miskin karena wabah ini. Perputaran roda ekonomi di sana pasti terhenti lama. Kita lihat saja nanti siapa yang lebih unggul, Aksara atau Angkasa.
Hell berniat untuk terus menggempur pertahanan Angkasa melalui jalan tak kasat mata. Ia menggunakan sihir untuk membuat negeri Angkasa jatuh miskin dengan wabah penyakit kirimannya.