Dua Pangeran Satu Cinta

Dua Pangeran Satu Cinta
Between


__ADS_3

Sesampainya di bukit pohon surga...


Tak sampai satu jam perjalanan, para rombongan istana sudah tiba di kaki bukit pohon surga. Kusir kereta kuda yang mengangkut para putri kerajaan, membuat kemah di kaki bukit. Sedang para putri, menaiki kuda yang ditunggangi para pangeran. Sisanya bersama para pasukan khusus karena jumlah putri yang lebih banyak dari pangeran.


"Aku jadi ditinggal sendiri."


Ara tertinggal, ia tidak mempunyai pasangan untuk menaiki bukit. Gadis itu kemudian menunggu asistennya datang membawa perlengkapan alat tulis untuk acara nanti malam. Tapi karena Ara tidak betah menunggu, akhirnya ia berjalan kaki menaiki bukit itu.


"Tak apalah, anggap saja berolahraga."


Baru beberapa langkah naik, seorang pangeran kembali datang dan menawarkan diri untuk mengantarkannya ke atas bukit.


"Pangeran Zu?"


"Naiklah, Nona. Aku akan mengantarkanmu," katanya seraya tersenyum.


Ara yang tidak punya perasaan apapun, menganggap hal itu biasa saja. Ia lalu menaiki kuda putih Zu lalu duduk di belakang sang pangeran.


Harum parfumnya begitu lembut.


Keduanya meneruskan perjalanan hingga sampai di depan pohon surga.


"Biar kubantu, Nona." Zu membantu Ara turun dari kuda.


"Terima kasih, Pangeran."


Angin yang berembus sedikit kencang, membuat parfum yang Ara pakai tercium jelas di hidung sang pangeran. Zu lantas mengingat-ingat kembali aroma itu.


Seperti pernah mencium parfum ini. Tapi di mana?


Lekas-lekas Ara berdiri tegak selepas turun dari kuda putih Zu. Ia kemudian bergegas menuju sisi kanan pohon surga untuk bergabung bersama putri yang lain. Ia meninggalkan Zu begitu saja setelah mengucapkan terima kasih. Namun, Zu masih memikirkan aroma parfum itu.


Apakah dia gadis yang kucari?


Tak lama berselang, asisten Ara datang bersama beberapa pelayan pria yang membawakan perlengkapan perkemahan. Dengan segera, para pangeran mengambil peralatan kemah tersebut. Beberapa pangeran membuat kemahnya sendiri, dan yang lain membantu para putri membuat kemah.

__ADS_1


Sesuai instruksi, kemah dibuat terpisah antara pangeran dan putri kerajaan. Lima kemah dibuat untuk para putri, yang mana satu kemah terdiri dari lima putri. Begitu juga dengan tiga kemah pangeran. Mereka terpilih secara acak agar bisa saling membaur satu sama lain.


"Boleh kubantu, Nona?"


Lagi-lagi Zu datang menawarkan bantuan kepada Ara untuk membuat kemahnya. Ara pun tampak heran dengan kebaikan sang pangeran. Tapi, ia menerimanya begitu saja.


"Pangeran, Anda terlalu baik. Aku jadi merasa tidak enak." Ara ikut membantu Zu memasang tenda kemahnya.


"Pria diciptakan untuk meringankan pekerjaan wanita, Nona. Dan aku tidak merasa keberatan," sahut Zu seraya menoleh ke Ara yang ada di sampingnya.


Entah mengapa, ada perasaan aneh menyelimuti Ara saat kalimat itu terucap dari Zu. Namun, ia tepiskan perasaan itu untuk sementara waktu hingga kemahnya terpasang sempurna.


Pangeran Zu baik sekali padaku. Dia memberi tumpangan dan juga membantu membuatkan aku kemah. Padahal aku juga bisa sebenarnya.


Di tengah-tengah perkemahan putri dan pangeran, terlihat para putri yang sibuk membuat dapur dadakan. Mereka belajar hidup di alam terbuka selama satu hari ke depan. Tentunya kegiatan ini mengundang gelak canda dan juga tawa. Tak biasanya para putri hidup di alam terbuka, terlebih mereka kini bisa berbaur dengan para pangeran dari kerajaan lain.


Zu tampak sedang memukul pasak agar kemah Ara tidak goyah saat terkena angin. Ara yang merasa dibantu, segera mengambilkan botol air minumnya untuk Zu.


"Pangeran, minumlah dahulu. Kau terlihat berkeringat."


"Ah, ya. Terima kasih."


Gadis itu berani-beraninya mendekati kakakku.


Shu melihat kedekatan kakaknya dan juga Ara dari kejauhan. Ia pun berjalan mendekati keduanya.


"Hei, Kak. Sedang apa kau di sini? Kemah kita belum juga selesai," cetus Shu beralasan.


Sontak Ara merasa tidak enak hati dengan perkataan Shu. Ia lalu meminta Zu menyudahi bantuannya.


"Em, maaf. Sebaiknya biar aku saja yang meneruskannya, Pangeran." Ara mengambil alih batu yang dipegang oleh Zu.


"Tak apa, Nona. Sebentar lagi juga selesai," Zu menahannya.


"Huh!"

__ADS_1


Terdengar embusan kesal dari sang adik yang menunggu kakaknya. Zu pun mempercepat membangun kemah Ara. Dan selang beberapa menit kemudian, kemah Ara sudah jadi.


"Selesai." Zu kemudian beranjak berdiri setelah selesai membantu Ara.


"Terima kasih, Pangeran Zu." Ara membungkukkan badannya, mengucapkan terima kasih.


Zu tersenyum lalu segera kembali ke perkemahan para pangeran. Shu sendiri terlihat kesal. Ia menatap tajam ke arah Ara lalu segera berbalik. Ara lantas menundukkan pandangannya dari Shu. Ia tidak ingin terjadi salah paham di acara puncak kebersamaan ini.


Beberapa saat kemudian...


Setelah selesai membangun tenda, para putri disibukkan memasak makanan untuk makan siang bersama. Dapur dadakan itu tepat berada di depan pohon surga. Sedang perkemahan para pangeran di sisi kirinya. Perkemahan para putri sendiri terletak di sisi kanan pohon surga. Dan jarak antara perkemahan mereka sekitar sepuluh meter. Pohon surga menjadi saksi keakraban hari ini.


Beberapa dari pangeran kerajaan ada yang mendekati sebagian putri. Tampaknya tengah terjadi cinta lokasi di sini. Ara bisa merasakan jika benih-benih cinta itu mulai tumbuh di sebagian hati para pangeran dan putri kerajaan. Tapi sayang, ia sendiri tidak menyadari jika sedang ada benih cinta yang tumbuh untuknya.


Para pangeran dan putri kerajaan saling bahu-membahu menyediakan sajian makan siang. Hingga akhirnya, selembar karpet besar dihamparkan di antara perkemahan mereka. Makan siang pun segera dimulai.


Mereka duduk melingkar dan mencoba menyantap tanpa menggunakan sendok ataupun garpu. Tampak para putri yang malu-malu saat menyantap sajian makan siang itu. Beberapa topik perbincangan pun terlontar di antara para putri. Ara sendiri menengahinya. Ia menjadi jembatan keakraban para putri.


Dia manis sekali.


Zu, diam-diam mencuri pandang saat Ara sedang tidak melihat ke arahnya. Ia memandangi gadis yang tengah tertawa saat berbincang dengan putri kerajaan lain. Entah mengapa, seperti ada sekuntum bunga yang sedang bermekaran di dalam dadanya.


Kakak tidak henti-hentinya memandangi gadis itu. Aku harus berbuat sesuatu.


Lain dengan Shu. Ia tampak tidak senang saat sang kakak terus menerus memandangi Ara. Ia berniat melakukan sesuatu untuk menghentikan hal itu.


Sementara itu di istana Angkasa...


Rain mendatangi ayahnya perihal pengawalan yang akan segera ia lakukan. Tak lama Cloud juga datang membawakan dokumen untuk sang ayah.


"Ini surat jalannya, Yah."


Cloud memberikan dokumen untuk ditandatangani ayahnya. Rain sendiri duduk sambil menyandarkan punggung di kursi, menunggu surat jalan itu sampai ke tangannya. Ia duduk seraya menyilangkan kedua tangan di dada. Entah mengapa raut wajahnya tampak kesal siang ini.


Rain tidak dapat mengambil barang di pelabuhan tanpa tanda tangan dari ayahnya. Sebuah peti besar berisi mutiara asli akan segera datang di dermaga Angkasa.

__ADS_1


"Ada sepuluh peti besar berisi mutiara asli yang datang sore ini. Aku harap kalian mempersiapkan segala sesuatu untuk mengamankannya. Kita akan menjual mutiara-mutiara itu kepada para raja dan ratu di istana." Sky selesai menandatangani dokumennya.


"Baik, Yah." Cloud segera menanggapi, namun Rain terlihat diam saja.


__ADS_2