
Satu jam kemudian...
Aku baru saja selesai makan malam bersama Zu. Sedikit bisa bernapas lega karena bisa menyantap nasi, ya walaupun harus dijadikan bubur terlebih dahulu. Maklum, aku penduduk asli Indonesia, sudah terbiasa makan nasi sejak kecil. Jadi rasanya kalau belum makan nasi, perutku ini masih saja keroncongan. Untungnya di dunia ini ada. Coba kalau tidak, aku pasti harus membawa berkarung-karung beras dari duniaku.
"Hah, kenyang sekali."
Aku duduk di teras kamarku sambil menyeruput secangkir teh hijau asli dari kerajaan Asia. Malam ini suasana hatiku pun sedikit membaik jika dibanding kemarin. Aku mencoba menggunakan logikaku untuk terus melanjutkan hidup. Tidak baik jika berlarut-larut dalam kesedihan. Ya, aku mencoba menerima takdir yang dituliskan untukku. Aku harus tetap melangkah maju.
Kutatap sekeliling pemandangan yang bergelayut manja di depanku. Aku merasa lebih baik jika menerima kehendak-NYA. Mungkin saja akan ada kisah yang lebih menarik lagi untukku. Tidak ada yang tahu, bukan? Percuma juga jika aku mencoba menolak takdir. Aku ini siapa? Hanya makhluk semata yang tidak berdaya-upaya tanpa pertolongan-NYA.
"Nona, kau di sini?"
Zu datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, atau memang akunya saja yang tidak mendengarnya karena terlalu asik menikmati deburan ombak di malam hari.
"Pangeran, kau tidak bergegas tidur?" tanyaku santun.
"Aku belum bisa tidur jam segini, masih terlalu sore," katanya.
"Hah, benarkah?"
Aku mencoba melihat jam di dinding kamarku. Dan ternyata jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Zu tiba-tiba tertawa melihat sikapku ini, dia lalu berdiri di belakangku.
"Kau gadis yang penuh dengan rasa penasaran, Nona."
Dia berbicara tepat di belakangku, hingga aku bisa merasakan hangat napasnya. Jarak kami terlalu dekat.
Pangeran, tolong sedikit mundur dariku.
Spontan tubuhku bereaksi karena terlalu dekat dengannya. Dan entah mengapa tubuhku seperti kaku, tidak bisa digerakkan. Kejadian ini benar-benar mengingatkanku saat berada di kolam air panas dulu. Ya Tuhan, lagi-lagi aku teringat kenangan itu.
Waktu itu...
Ara menyandarkan kepalanya di tepi kolam. Menghirup dalam-dalam aromaterapi bunga melati yang disediakan sambil melihat langit sore yang begitu menawan. Tiba-tiba saja ia merindukan keluarganya di desa.
"Sedang apa ya mereka di sana?"
Ara rindu adik-adiknya. Terutama adik bungsunya yang masih kecil. Rasa kesepian mulai menyelimuti hatinya itu. Tiba-tiba saja air matanya berlinang.
"Kau bisa sedih juga ternyata."
Suara seseorang menyadarkannya. Ia pun segera melihat ke asal suara. Dan ternyata Rain yang berbicara. Lagi-lagi Rain di hadapan Ara.
__ADS_1
"Rain?!"
"Hai, Nona. Bolehkah aku ikut berendam bersamamu?"
Rain segera masuk ke dalam kolam air panas tanpa menunggu jawaban dari sang gadis, iya atau tidak. Rasa sedih gadis itu tiba-tiba berubah menjadi kesal karena kedatangannya.
"Kuperhatikan hari ini kau sangat sibuk seperti tidak memberiku cela," kata Rain mengawali.
"Cela, cela apa maksudmu?"
Ara menjadi risih dengan kedatangan Rain. Ia lantas segera beranjak bangun, ingin pergi dari hadapan sang putra mahkota.
"Nona!"
Rain memegang tangan kiri Ara, menahan kepergian sang gadis. Entah mengapa ada getaran aneh saat Rain memegang tangannya itu.
"Aku ingin kau menemani. Jangan pergi ...."
Sebuah kalimat permohonan terdengar kali ini. Bukan seperti sebuah perintah atau ancaman yang biasa Ara dengar dari Rain.
Rain lantas membalikkan badannya. Dia berdiri di belakang Ara. Napasnya terasa hingga ke tengkuk leher sang gadis. Respon tubuh Ara pun begitu cepat saat Rain mulai mendekatkan dirinya. Tubuh Ara gemetaran.
"Aku ingin lebih mengenalmu, Nona."
Jari-jemari Rain mulai merayap dari telapak tangan menuju ke lengan atas Ara. Tubuh sang gadis pun benar-benar dibuat merinding oleh sang pangeran. Ara khawatir jika ini hanyalah jebakan belaka. Terlebih Rain sudah beberapa kali membuatnya kesal.
Tidak! Ini tidak boleh terjadi!
Segera saja Ara berbalik menghadap Rain tanpa aba-aba terlebih dahulu. Rain pun kaget dengan gerakan cepat sang gadis. Ara lalu mendorong Rain sekuat tenaga hingga sang putra mahkota itupun jatuh ke dalam kubangan air panas.
Ini saatnya untuk melarikan diri!
Ia segera keluar dari kolam air panas, menghindari Rain. Terus berlari keluar sambil mengambil cepat gaunnya dan memakainya di jalan. Tidak lagi peduli jika ada yang melihat perbuatannya itu. Ia terus saja berlari menuju kamar pribadinya, bersama dengan rasa takut dan penasaran yang kian memburu. Ara merasa seperti dikejar-kejar sesuatu.
...
Perasaan itu kini muncul lagi. Entah sengaja atau tidak Zu melakukannya, dia seperti ingin menyandarkan kepalanya di bahu kananku.
"Nona?" Dia lantas menegurku.
"Pangeran Zu, bisakah kau mundur sedikit?" tanyaku yang mulai merasa aneh.
__ADS_1
Zu seperti memahami apa yang sedang kurasakan. Kulihat dari pantulan jendela kaca, ia tersenyum lalu segera memundurkan langkah kakinya ke belakang. Aku pun menoleh ke arahnya dan melihat ia tertawa sendiri.
"Pangeran?" Aku merasa malu tapi juga ingin tahu mengapa dia begitu.
"Nona, kau tahu?"
Aku menggelengkan kepala.
"Kau itu begitu lucu. Entah bagaimana aku menjelaskannya, ya." Zu seperti kebingungan sendiri.
"Pangeran, maaf. Aku tidak bisa terlalu dekat. Jangan tersinggung, ya," kataku lagi.
Dia lalu mendekatiku kembali, dan kini jarak kami bicara hanya sekitar satu meter saja. Dia lalu merendahkan tubuhnya di depanku seraya terus menatap wajahku ini.
Di-dia ingin menciumku?!
Aku terbelalak saat melihat tangannya ingin menggapai wajahku. Aku khawatir jika terjadi sesuatu pada kami. Akupun segera membalikkan badan, membelakanginya.
"Nona?" Dia tampak heran dengan sikapku.
Aduh, kenapa aku harus seperti ini, ya? Aku bertanya sendiri dalam hati.
"Baiklah-baiklah, aku tidak akan mendekat lagi. Kau beristirahatlah sekarang. Besok kita akan berenang di pantai. Sampai nanti."
Dia segera pergi meninggalkanku. Berjalan melewatiku begitu saja yang masih terdiam dan terpaku. Rasanya ada hasrat yang ingin menahan kepergiannya. Tapi, aku masih malu untuk melakukanya. Aku tidak ingin dia salah paham dengan sikapku ini.
Baiklah. Mungkin lebih baik aku beristirahat saja.
Segera kulangkahkan kaki masuk ke dalam kamar lalu mulai menutup jendela kamarku.
"Semoga hari esok lebih baik."
Kututup malam ini dengan doa lalu mulai merebahkan diri di atas kasur. Aku pun kembali mengingat-ingat kejadian tadi saat makan malam bersamanya.
"Nona, kecapnya sampai ke pipimu."
Zu mengelap kecap yang ada di pipi Ara dengan selembar tisu yang diambilnya. Seketika Ara merasa sesuatu sedang terjadi di dalam hatinya itu. Zu begitu menunjukkan perhatiannya kepada sang gadis.
"Perlahan saja makannya, ya." Zu lalu menuangkan air minum untuk Ara.
Perlakuan-perlakuan yang Zu berikan, mampu membuat Ara merasa diistimewakan. Ia merasa jika Zu telah mulai menyayanginya. Terlepas dari apa yang terjadi, Ara berusaha membangkitkan semangat juangnya dan tidak ingin terlarut lama dalam kesedihan.
__ADS_1