
Menjelang malam di istana kerajaan Angkasa...
"Akhirnya ...."
Pekerjaanku sudah selesai. Kini tinggal menyerahkan sisa rancangan ini kepada Cloud. Akhirnya, ketiga puluh rancangan busana kebayaku berhasil diselesaikan.
Aku begitu lelah, rasanya ingin sekali untuk tidur. Tapi sebaiknya aku segera membersihkan diri. Cloud bilang akan menyambut kedatangan sepupunya, mungkin dia juga akan memanggilku.
Aku bergegas menuju kamar mandi dan segera membersihkan diri. Tak lama, aku keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar dan juga harum. Sabun mandi kepunyaan negeri ini mampu bertahan seharian penuh harumnya. Benar-benar kualitas yang tidak perlu diragukan lagi.
Aku mengenakan gaun berwarna merah dengan mahkota kecil yang kukenakan sebagai tanda tugas baru dari raja. Dengan berdandan sedikit berani dan parfum mawar yang kusemprotkan ke seluruh tubuh, kini aku siap untuk menyambut kedatangan sepupu Cloud itu. Namun, entah mengapa perutku tiba-tiba terasa sakit.
Aku bergegas keluar kamar dengan mengenakan sepatu hak tinggi berwarna hitam. Kulangkahkan kaki menuju dapur istana untuk mencari sesuatu agar dapat meredakan sakit perutku ini. Sesampainya di sana, kulihat banyak koki sedang sibuk menghidangkan jamuan makan malam.
"Permisi," kataku kepada koki yang ada di sana.
"Nona Ara?"
Mereka lalu membungkukkan badan setelah menyadari kehadiranku. Para koki itu lalu mencegahku untuk masuk ke dalam dapur.
"Nona, di luar saja, ya. Di dapur sangat berantakan," kata salah seorang koki.
"Tidak apa. Aku ingin sedikit membantu," sahutku agar mereka dapat mengizinkanku untuk masuk.
Mereka saling berpandangan. "Tapi, Non—"
"Tidak apa, Mbok. Ini tanggung jawabku."
Setelah aku mengatakan hal itu, barulah para koki istana mengizinkanku untuk masuk ke dalam area dapur. Sebuah ruang masak yang sangat luas sekali. Banyak perabotan masak di dalamnya. Lengkap dan tidak kekurangan sesuatu apapun.
Beberapa pelayan kerajaan datang lalu mengambil hidangan makan malam yang sudah siap tersaji. Mereka tampak begitu sibuk menyiapkan hidangan ini. Hidangan besar yang disajikan untuk menyambut kedatangan sepupu Cloud.
Aku dipersilakan untuk mencicipi berbagai macam hidangan. Namun, penglihatanku tertuju pada sebuah wajan berisi sup sapi. Segera saja aku meminta semangkuk sup itu kepada koki.
Tak lama, sajian sudah tersedia untukku.
Aku lalu menyantapnya segera. Alhasil, perutku kini sudah terasa lebih baik. Kulihat para koki memperhatikanku sedari tadi. Tersirat raut heran dari wajah mereka.
"Kalian seperti melihat hantu." Aku mencoba membuka percakapan.
"Maafkan kami, Non. Kami hanya heran saja," jawab salah seorang koki.
"Iya, Non. Belum ada seorang putri yang mau masuk ke dalam dapur ini. Kecuali Nona."
"Hah? Benarkah?" tanyaku tak percaya.
"Bahkan ratu pun belum pernah menginjakkan kakinya di sini."
"Apa?!"
Aku tidak percaya dengan yang kudengar. Padahal menurutku keadaan dapur cukup bersih. Tidak berantakan seperti yang dibayangkan.
__ADS_1
"Nona, apakah Nona ingin dibuatkan sesuatu?" tanya seorang koki.
"Em, apa, ya?" Aku berpikir.
"Mungkin minuman hangat?" tanyanya lagi.
Aku jadi punya ide. Kulihat tadi tidak ada minuman khusus yang akan disajikan untuk malam ini. Aku lalu ingin membuat sesuatu.
"Apakah di sini ada jahe?" tanyaku kepada mereka.
"Ada, Non. Mereka lalu mengambilkan jahe untukku.
"Wow! Besar sekali."
Aku begitu takjub melihat jahe yang mereka bawakan. Jahe-jahe ini sebesar telapak tangan orang dewasa. Tidak seperti jahe di duniaku, paling sebesar ruas jari.
"Kayu manis?" tanyaku lagi.
"Ada, Non."
Dengan segera mereka mengambilkan bahan-bahan yang kubutuhkan. Niatku akan membuat wedang jahe spesial malam ini.
"Baiklah. Jahe, kayu manis, lada, serai sudah tersedia di meja dapur. Mari kita mengupasnya."
"Biar kami saja, Non."
Para koki istana tidak mengizinkanku untuk ikut mengupas semua bahan itu. Mereka mengerjakannya sendiri. Tak lama, semua bahan sudah tersedia dengan bersih.
"Ini, Non."
"Apakah ada susu?" tanyaku lagi.
"Ada, Non."
Beberapa liter susu lalu diambilkan oleh mereka. Aku pun mengaduk wedang jahe yang sudah jadi dengan campuran susu murni. Alhasil, wedang jahe spesial ini sudah siap untuk disajikan.
"Mari dicicipi."
Aku kemudian meminta para koki untuk mencicipinya. Tampak keterkejutan dari raut wajah mereka.
"Ini?!"
"Rasanya!"
"Luar biasa!"
Para koki mengagumi wedang jahe yang kubuat. Mereka lalu meneguknya secangkir per orang.
"Nona, baru kali ini kami dapat menikmati secangkir wedang jahe spesial."
"Benarkah?"
__ADS_1
"Benar, Nona. Biasanya jahe hanya dicampur gula merah saja. Tapi kali ini ... rasanya sungguh berbeda. Nona begitu pintar."
"Terima kasih. Tapi aku belum ada apa-apanya dibandingkan dengan kalian," sahutku, balik memuji mereka.
"Nona, Anda begitu merendah. Pantas saja Pangeran Cloud maupun Pangeran Rain begitu tergila-gila kepada Anda."
"Hush! Jangan bicarakan hal itu!"
Salah seorang koki keceplosan mengatakan hal itu kepadaku. Dan koki yang lain segera memperingatkan. Aku hanya tersenyum saja menanggapinya.
"Baiklah. Aku tunggu hidangannya."
Aku lalu berpamitan kepada mereka. Mereka kemudian mengantarkanku hingga sampai di depan pintu dapur. Tak lama, kulihat Mbok Asri berjalan mendekatiku. Dia menemukanku di depan dapur istana ini.
"Nona, saya mencari Anda sedari tadi."
"Maaf, Mbok. Perutku kurang baik tadi, jadi aku ke dapur untuk mencari makanan hangat," kataku.
"Nona, kenapa tidak meminta kepada saya saja?" Wajah Mbok Asri terlihat khawatir.
"Tidak apa, Mbok. Sekali-kali aku ingin menelusuri istana sendiri."
"Baiklah kalau begitu. Lain kali bilang saja kepada saya ya, Non. Jangan sendiri."
Akupun mengangguk. Aku tahu jika Mbok Asri begitu mengkhawatirkan keadaanku.
Aku jadi rindu dengan ibu...
Kini aku berjalan bersama Mbok Asri menuju ruang utama kerajaan. Aku berniat untuk ikut menyambut kedatangan sepupu Cloud. Namun, tiba-tiba saja rasa rindu itu datang menyelimuti hati. Aku jadi kangen sama ayah dan ibu.
Ibu, ayah. Semoga kalian baik-baik saja di sana...
Sementara itu di halaman istana...
"Hai, Cloud. Sudah lama kita tidak bertemu."
Seorang pria mengenakan pakaian kerajaan berwarna kuning tampak bersalaman lalu merangkul putra mahkota. Ia begitu senang karena dapat bertemu kembali.
"Star, jaga sikapmu!" pinta Cloud kepada pria yang bernama Star itu.
"Santailah, kita ini sepupu. Apakah harus begitu formal?" tanyanya seraya berjalan bersama, masuk ke dalam istana.
"Aku ini calon raja," jawab Cloud yang tampak risih dengan sikap sepupunya itu.
"Benarkah? Kalau begitu mari kita puaskan bermain sebelum mahkota itu kau kenakan." Star merangkul Cloud lebih erat.
"Lepaskan rangkulanmu, bodoh!" pinta Cloud dengan wajah serius.
"Baiklah-baiklah."
Sesaat setelah mereka memasuki istana, raja dan ratu menyambut kedatangan Star beserta para rombongan. Mereka tampak begitu gembira menyambut keluarga besar dari Bibi Sun ini. Namun, tidak dengan Cloud, ia tampak kurang menginginkan kedatangan sepupunya itu.
__ADS_1
Sepertinya ada masalah baru yang harus kulewati.
Cloud tampak mencemaskan dirinya. Di antara anggota kerajaan yang lain, hanya Cloud lah yang tampak kurang gembira menyambut kedatangan keluarga besarnya itu.