
Mereka menyerang dengan jurus andalannya. Kerja samanya patut diacungi jempol. Jika lawannya pendekar kelas menengah, mungkin mereka akan langsung tewas satu atau dua jurus.
Sayangnya, pemuda itu bukan pendekar kelas menengah. Meskipun namanya belum menyebar secara luas, tapi dia sudah mulai dikenal banyak tokoh.
Pendekar Tanpa Nama hanya berdiri menunggu datangnya semua serangan tersebut. Begitu delapan serangan hampir tiba di hadapannya, Cakra Buana langsung mengambil tindakan.
Tubuhnya berkelebat seperti sambaran angin. Pemuda itu lenyap dari pandangan semua orang.
Plakk!!! Plakk!!! Plakk!!!
Suara yang sama terus terdengar hingga delapan kali. Hanya dalam beberapa serangan kelas tinggi, delapan lawannya dibuat terkapar tanpa nyawa.
Jika tidak melihat, maka siapapun tidak akan percaya.
Seorang pemuda tak bernama, mampu membunuh Sembilan Iblis Berbaju Biru hanya dalam sekejap mata. Siapa yang akan percaya kabar ini jika tidak melihatnya secara langsung?
Kesembilan iblis itu mengalami luka yang sama. Dada mereka gosong dan organ dalamnya hancur. Hal ini menyebabkan darah keluar dari seluruh lubang di tubuhnya.
Bau anyir darah tercium saat terhembus semilir angin.
Cakra Buana lalu berjalan mendekati si Walet Putih yang saat itu sedang memandangi dirinya dengan penuh selidik. Sepertinya orang tersebut ingin mengetahui siapa sebenarnya pemuda itu.
"Sobat, siapa kau sebenarnya?" tanyanya sambil memandang penuh selidik.
"Aku ya aku. Memangnya siapa lagi?" jawab Cakra Buana seenaknya.
Si Walet Putih hanya mendengus. Tapi dia bukan merasa marah, malah dirinya merasa gemas.
"Aii, aku tahu bahwa kau adalah kau. Yang aku maksud, siapa kau sebenarnya?"
"Cakra Buana …" jawabnya singkat.
Si Walet Putih tersentak kaget. Dari kekagetannya, sangat terlihat jelas bahwa dia juga mengenal siapa Cakra Buana sebenarnya.
"Kau … kau Pendekar Tanpa Nama?"
"Emm, kurang lebih seperti itu,"
"Pantas saja, tidak heran kalau kau bisa membunuh Sembilan Iblis Berbaju Biru dalam waktu yang sangat singkat,"
"Itu hanya kebetulan saja. Jangan terlalu dilebih-lebihkan,"
"Aku bicara jujur. Bahkan aku sendiri tidak yakin bisa mengalahkan mereka. Aii, kemampuanmu sungguh membuat siapapun kagum. Dalam usia semuda ini, ternyata kau sudah memiliki kemampuan hebat. Kagum, sungguh kagum," katanya mengatakan kekaguman berulang kali.
__ADS_1
Dia tokoh tua. Sudah pasti pengalamannya tidak diragukan lagi. Walaupun baru melihat penampilan Cakra Buana, namun orang tua itu sudah dapat menebak sampai di mana kemampuannya.
"Terimakasih. Sebenarnya, apa yang sudah terjadi?" tanya Cakra Buana sambil mengalihkan pembicaraan.
"Ceritanya cukup panjang. Tapi aku aka menjelaskan kepadamu secara singkat saja,"
"Lanjutkan,"
"Empat hari lalu, aku pernah mencari masalah dengan seorang Tuan tanah. Dia menguasai daerah Hiang Kun dari Timur hingga Barat. Kebiasaannya adalah memeras rakyat jelata. Setiap keinginannya harus wajib terlaksana. Saat dia ingin sebuah tanah, bagaimanapun caranya, dia harus mendapatkan tanah tersebut. Saat dia ingin gadis atau istri orang, dengan cara apapun, dia harus bisa memilikinya. Pokoknya, apapun yang dia inginkan, dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya,"
"Lalu?"
"Lalu aku berusaha untuk membunuhnya ketika dia berada dalam sebuah perjalanan. Saat itu di jalanan sepi, aku menerjang masuk ke kereta kuda yang dia tumpangi. Pedangku langsung dikeluarkan dan berniat untuk ditusukkan ke jantungnya. Sayang, aku kurang waspada sebelumnya sehingga aku tidak tahu jika dalam kereta itu, ternyata ada tiga orang pengawal yang mempunyai kemampuan mumpuni,"
"Apakah kau bertarung dengan mereka?"
"Tidak. Aku langsung lari menembus hutan. Untungnya mereka tidak mengejarku,"
"Tapi apakah mereka juga melihat wajahmu?
"Tidak sama sekali,"
"Kalai tidak, bagaimana mereka bisa tahu bahwa orang itu adalah dirimu?"
"Entahlah. Aku tidak tahu siapa yang sebenarnya mengenalku. Hanya saja menurutku, mereka bisa menebak karena dari jurus yang aku keluarkan. Saat aku ingin melancarkan aksi, aku memakai jurus Walet Putih Terbang Melayang,"
"Jadi mereka bisa tahu karena semua orang paham, siapapun tidak ada yang menguasai jurus tersebut kecuali dirimu sendiri. Begitu maksudmu?"
"Tepat sekali," jawab Walet Putih sambil tersenyum.
"Hemm, menarik. Kemudian tidak berapa lama Sembilan Iblis Berbaju Biru menaruh racun dalam makananmu?"
"Betul," jawab Walet Putih mengangguk.
Cakra Buana berpikir sebentar. Setelah merasa yakin, pemuda langsung angkat bicara.
"Kau sadar bahwa orang-orang suruhan Tuan tanah akan kembali datang mencarimu?"
"Sepertinya memang begitu. Karena aku tahu, sejak tadi ada seorang yang mengintip semua kejadian barusan. Aku yakin orang itu akan segera melaporkannya kepada Tuan tanah,"
"Lantas kalau sudah tahu, apa yang sekarang akan kau lakukan?"
"Apa yang aku lakukan tentunya sama seperti niat awal,"
__ADS_1
"Maksudmu kau tetap ingin membunuh Tuan tanah itu."
"Emm, sebab kalau tidak disingkirkan sejak sekarang, pasti akan banyak lagi rakyat jelata yang menjadi korban kesewenang-wenangan dirinya,"
Apa yang dikatakan oleh Walet Putih terlihat sangat serius. Sepertinya dia termasuk ke dalam orang-orang yang konsisten dalam segala hal.
"Kapan kau akan membunuhnya?"
"Lebih cepat lebih baik lagi,"
Cakra Buana setuju dengan perkataan Walet Putih. Kalau orang yang disebut Tuan tanah itu tidak segera dibereskan, sudah pasti orang itu akan memakan korban lebih banyak lagi.
"Tiga hari lagi kita akan ke sana," kata Cakra Buana penuh semangat.
Jika menghadapi masalah yang menyangkut kebahagiaan orang banyak, maka pastinya Pendekar Tanpa Nama tidak akan tinggal diam.
Apapun akan dia lakukan jika menyangkut persoalan seperti sekarang ini.
"Kita?" tanya Walet Putih seakan tidak percaya.
"Tentu saja, kita. Aku dan kau, memangnya siapa lagi?"
"Kau yakin akan menemaniku dalam hal ini?"
"Kenapa tidak? Kau pikir hanya mengandalkan kemampuanmu dapat membunuh si Tuan tanah?"
"Hemm, aku sadar kemampuanmu tidak setinggi dirimu. Tapi aku tetap akan melakukannya meskipun nyawaku menjadi taruhan,"
"Tapi aku tidak akan memberikan nyawamu kepada mereka. Karena itulah aku akan pergi bersamamu," tukas Cakra Buana penuh keyakinan.
"Ternyata apa yang kau katakan sebelumnya memang benar,"
"Apa itu?"
"Kau adalah orang yang suka mencampuri urusan orang lain," jawab Walet Putih sambil tertawa terbahak-bahak.
Cakra Buana tertawa. Mereka tertawa bersama sambil berlalu dari sana. Kuda milik si Walet Putih ditinggalkan. Dia tidak merasa sayang, sebab pada dasarnya kuda tersebut adalah kuda rampasan.
"Ke mana kita sekarang?" tanya Walet Putih sambil berjalan beriringan.
"Mencari seseorang yang mempunyai banyak informasi tentang Tuan tanah," jawab Cakra Buana.
"Emm, baiklah. Aku tahu siapa orang yang harus kita cari. Hanya saja, orang ini tidak mudah jika ingin diajak bekerja sama,"
__ADS_1
"Selama ada uang, aku rasa dia masih bisa diajak bekerja sama," kata Cakra Buana sangat yakin.
Walet Putih hanya tersenyum saja. Apa yang dikatakan pemuda itu memang sesuai dengan kenyataannya. Orang yang akan dia cari tidak mau diajak bekerja sama kalau tidak ada uang. Tapi jika mempunyai uang banyak, maka orang itu pasti mau.