
Puluhan pasang mata sekarang tertuju ke tempat pertarungan mereka. Semua tokoh yang ada di pihak pendekar Tionggoan menahan nafasnya. Mata mereka melotot seperti ingin keluar. Peluh sebesar biji kacang kedelai telah membasahi kening. Keringat panas dan dingin membasahi seluruh tubuh.
Saat ini adalah detik-detik penentuan mati hidupnya dua tokoh pilih tanding tersebut. Tidak ada yang berani menghentikan tiga serangan yang dilancarkan oleh Dewi Cantik Tujuh Nyawa itu.
Para tokoh pilih tanding sahabat dari Tiang Bengcu dan Cio Hong pun merasakan hal yang sama.
Untuk menolong ke sana sudah tidak ada waktu lagi. Jarak mereka cukup berjauhan, dan mereka bukan malaikat yang bisa berpindah dalam satu kedipan mata. Meskipun kalau dipaksa orang-orang itu bisa sampai ke sana, tapi tetap ada perbedaan waktu.
Dan di perbedaan waktu itulah yang justru menjadi masalahnya. Terlambat dua detik saja bisa menjadi akhir dari segalanya.
Detik-detik paling menegangkan. Detik-detik paling mendebarkan.
Ternyata selain para pendekar Tionggoan, semua anggota Organisasi Naga Terbang yang tersisa pun melakukan hal yang sama. Bedanya kalau pihak musuh takut serangan Dewi Cantik Tujuh Nyawa bakal berhasil, maka pihak organisasi rahasia tersebut khawatir kalau serangan pemimpinnya gagal.
Karena kalau gagal akan sulit lagi menemukan kesempatan emas seperti sekarang ini.
Di sisi lain, yang bisa menggagalkan serangan maut dari wanita cantik tersebut hanyalah Pendekar Tanpa Nama dan Naga Terbang Ketiga.
Selain dari kedua orang tokoh itu, jangan harap akan ada lagi yang sanggup melakukannya. Jangankan manusia, bahkan malaikat atau Dewa sekalipun mungkin tidak akan bisa.
Tapi mereka pun saat ini sedang 'bertarung' dengan sengit pula.
Keduanya seperti tidak melihat kejadian yang sebentar lagi bakal terjadi itu.
Mereka tetap fokus kepada 'musuhnya' masing-masing.
Waktu terasa berjalan dengan lambat.
Pada saat seperti itulah sesuatu diluar diguaan siapapun telah terjadi.
Wushh!!! Wushh!!!
Dua bayangan tiba-tiba melesat dengan kecepatan diluar batas nalar manusia. Bayangan itu seperti kilat. Sangat cepat, menakutkan, dan membawa hawa mengerikan.
Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!
Dua puluh jarum hitam yang sangat kecil tahu-tahu sudah patah menjadi dua bagian lalu terpental ke segala arah.
__ADS_1
Gerakan bayangan itu ternyata melebihi gerakan Dewi Cantik Tujuh Nyawa sendiri. Bahka. Melebihi pula dua puluh batang jarum hitam yang dia lemparkan.
Meskipun bayangan tersebut berhasil menggagalkan serangan dari senjata rahasia itu, namun tak urung pelakunya terkena pula serangan lainnya. Segulung angin tajam membawa hawa panas menerjang orang tersebut hingga terdorong mundur sejauh enam langkah.
Harusnya orang itu terpental lebih jauh lagi, untungnya ada satu bayangan lagi yang segera menahan luncuran tubuhnya.
Hoekk!!!
Orang tersebut muntah darah. Darah segar kehitaman. Seluruh tubuhnya mengepulkan asap putih karena saking panasnya angin yang menerpa.
Setelah kejadian singkat tersebut, Cio Hong dan Tiang Bengcu segera melompat mundur lalu melindungi dua orang tadi.
Mereka tak lain dan tak bukan adalah Pendekar Tanpa Nama dan Naga Terbang Ketiga, Sian-li Bwee Hua.
Setelah semua jurusnya sempurna, sesudah tenaga dalamnya mencapai tahap tertinggi, baru sekarang saja Cakra Buana mengalami luka yang terbilang cukup parah.
Untung bahwa tubuhnya mempunyai sejenis kekuatan istimewa yang selalu melindunginya di saat-saat bahaya. Sehingga hasilnya pemuda itu bisa cepat pulih seperti sedia kala, meskipun memang belum sepenuhnya.
"Kau tidak papa?" tanya Cio Hong khawatir karena melihat darah di mulut murid saudara seperguruannya tersebut.
Sekarang keempatnya sudah berdiri beberapa langkah di depan Dewi Cantik Tujuh Nyawa.
Tidak lama setelah itu, seluruh sahabat Pendekar Tanpa Nama turut menghampiri mereka.
Si Buta Yang Tahu Segalanya, Huang Pangcu, Orang Tua Menyebalkan, Nenek Tua Bungkuk, Huang Mei Lan, Liu Bing, Tian Hoa, Poh Kuan Tao, bahkan Ming Tian Bao pun turut serta di dalamnya.
Puluhan tokoh lainnya turut memperpendek jarak mereka dalam mengerubungi orang-orang itu.
Di pihak musuh pun sama, seluruh anggota Organisasi Naga Terbang telah bersatu dalam barisannya.
Mereka tampak kesal. Kesalnya melebihi apapun. Apalagi melihat seorang di antara anggotanya saat ini telah berada di pihak lawan.
"Naga Terbang Ketiga, apa yang kau lakukan? Kembali ke barisanmu," teriak Naga Terbang Kelima dengan amarah memuncak.
Semua sahabat Pendekar Tanpa Nama kemudian memandangi Naga Terbang Ketiga, mereka seperti ingin bergerak. Tapi Tiang Bengcu memberikan aba-aba agar orang-orang itu diam.
"Jangan bertindak gegabah. Kalau dia benar ingin membunuh Pendekar Tanpa Nama, tidak mungkin dirinya mau mengorbankan diri," bisiknya kepada para tokoh pilih tanding.
__ADS_1
Akhirnya mereka kembali ke posisinya masing-masing. Yang paling tidak terima adalah Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding. Dia ingin sekali menghajar Naga Terbang Ketiga, namun setelah Tiang Bengcu mengambil keputusan demikian, diapun tidak dapat melakukan apa-apa lagi.
"Aku tidak akan kembali," tegas Naga Terbang Ketiga dengan singkat.
"Apa maksudmu?" bentak si Naga Terbang Keempat.
"Apa kau tuli? Aku bilang tidak akan kembali,"
"Keparat. Rupanya kau ingin mampus," teriak si Naga Terbang Pertama.
Pedang bercabang dua miliknya sudah dihunus. hampir saja dia menyerangnya. Untung pada saat itu Dewi Cantik Tujuh Nyawa telah angkat bicara.
"Tahan sebentar," katanya sambil mengangkat tangan.
Naga Terbang Pertama langsung diam. Pedang pusaka yang sudah dia hunus sudah disarungkan kembali.
Dewi Cantik Tujuh Nyawa menatap tajam ke arah Naga Terbang Ketiga. Tatapan matanya seolah sanggup menembus benda sekeras apapun.
Tanpa sadar orang-orang di sekitar Naga Terbang Ketiga merasa gentar saat menatap sepasang mata yang bening itu.
"Buka cadarmu dan katakan siapa kau sebenarnya," kata Dewi Cantik Tujuh Nyawa memberikan perintah.
Tanpa berkata lebih dulu, Naga Terbang Ketiga lantas segera membuka cadarnya. Bahkan pakaian dan jubah hitamnya pun dia buka. Topeng kulit wajah yang menutupi dirinya juga ikut dibuka.
Pendekar Tanpa Nama tidak terkejut dengan wajah itu, karena wajah cantik tersebut sudah sangat dia kenal. Dia hanya sedikit terkejut sesaat sebelum topeng kulit itu dibuka. Untunglah Sian-li Bwee Hua langsung membukanya.
Yang terkejut adalah sahabat-sahabatnya, para tokoh pendekar dunia persilatan Tionggoan, dan tentunya pihak Organisasi Naga Terbang sendiri.
Mereka benar-benar terkejut setengah mati. Wajah wanita cantik itu sangat tidak dikenal olehnya. Bahkan melihat pun baru sekarang.
Perlu diketahui bahwa dalam Organisasi Naga Terbang ada satu aturan yang harus dipatuhi oleh setiap anggotanya. Peraturan yang dimaksud adalah setiap di antara mereka tidak boleh melihat wajah rekan-rekannya sendiri kecuali pada saat tertentu. Dan saat-saat seperti itu tidak terhitung satu bulan sekali.
Mungkin dua atau tiga bulan sekali mereka baru dapat melihat masing-masing wajah rekannya.
"Jadi selama ini kau menyamar menjadi si Naga Terbang Ketiga?" tanya Dewi Cantik Tujuh Nyawa dengan tatapan semakin tajam.
"Benar," jawab singkat Sian-li Bwee Hua.
__ADS_1