Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Kejadian di Restoran Angin Musim Semi


__ADS_3

Ketiga orang yang ada di hadapannya mengangguk. Mereka juga setuju dengan perkataan Orang Tua Menyebalkan barusan. Kalau dalang di balik ini berniat untuk menguasai dunia persilatan, itu artinya pemimpin dunia persilatan sudah pasti berada dalam bahaya.


"Itu sudah pasti. Lantas, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Huang Yang Qing.


"Tentunya kita harus menyelidiki kasus ini lebih dalam lagi, setelah itu kita membongkarnya," kata Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya.


"Julukanmu kan si Buta Yang Tahu Segalanya, masa kau tidak tahu dalang di belakang ini?" tanya Orang Tua Menyebalkan dengan tatapan mata tajam.


Pendekar Tanpa Nama, Huang Pangcu dan Li Guan sendiri lalu saling berpandangan. Kemudian mereka bertiga tertawa.


"Hee, apakah ada yang lucu?" tanya kakek tua itu sedikit kesal. Mukanya telah berubah seperti seorang anak kecil yang marah.


"Memang ada,"


"Apa?" tanyanya penasaran.


"Kau yang lucu,".


"Aku?" tanya si Orang Tua Menyebalkan masih belum mengerti jelas.


"Sekarang aku tanya kepadamu, si tua bangka Tian Hoa mempunyai julukan Iblis Tua Langit Bumi, nah, apakah dia memang berarti seorang iblis yang ada di langit dan di bumi? Apakah dia bukan manusia?" tanya Huang Pangcu dengan tatapan kesal.


Orang Tua Menyebalkan tidak segera menjawab. Dia memutarkan bola matanya terlebih dahulu. Seperti seseorang yang sedang berpikir.


"Tentu saja bukan. Julukan itu hanya mewakili, bukan berarti benar secara keseluruhan. Aku juga begitu, orang-orang menyebutku Orang Tua Menyebalkan, tapi aku tidak setiap saat menyebalkan,"


"Nah, kalau kau sudah tahu, kenapa kau tadi bicara bodoh? Mentang-mentang pemuda ini mempunyai julukan si Buta Yang Tahu Segalanya, lantas menurutmu dia tahu semua hal yang terjadi sekarang dan bahkan kejadian di seluruh dunia? Begitu? Tentu saja tidak,"


Plakk!!!


Huang Pangcu memukul kepala Orang Tua Menyebalkan.


Kakek tua itu hanya bisa mendengus dan mengusap-usap kepalanya yang dipikul.


Huang Pangcu melanjutkan, "Menurutku, pemuda ini mendapatkan julukan begitu karena dia tahu banyak hal. Apapun yang kau tanyakan, selama itu masuk akal, bocah ini pasti bisa menjawabnya. Pengetahuannya mungkin melebihi dirimu dan aku sendiri. Otaknya jauh lebih cerdas, sehingga dia istimewa di tengah kekurangannya. Tapi kalau kau mengartikan bahwa dia tahu segala hal dari setiap sisi, kau salah besar. Dia juga manusia, bukan seorang Dewa. Paham?" bentak Huang Pangcu sangat gemas.


Yang dikatakan Huang Pangcu memang benar. Li Guan dijuluki Tahu Segalanya karena pengetahuannya yang sangat luas. Selama pertanyaan yang diajukan logis dan masih bisa dijangkau manusia, maka sudah pasti dia mampu menjawabnya.


Namun diluar itu, dia tidak tahu. Karena Li Guan bukan Tuhan.


Huang Pangcu kadang tidak habis pikir, kenapa harus ada orang seperti kakek tua ini? Julukan Orang Tua Menyebalkan agaknya memang tepat sekali.


Sementara itu, selama kedua orang tua tersebut berdebat, dua pemuda yang bersama mereka justru sekarang sedang menikmati hidangan yang telah datang beberapa saat lalu.

__ADS_1


Keduanya makan dengan lahap. Mereka amat menikmati makanan tersebut.


"Kenapa kalian makan lebih dulu?" teriak dua kakek tua itu secara bersamaan.


"Kenapa kalian malah berdebat yang tidak penting?" tanya balik Li Guan sambil tertawa.


"Justru kami sedang mendebatkan dirimu," jawab mereka bersamaan lagi.


"Aku sendiri tidak peduli," jawab Li Guan santai lalu memasukan makanan ke mulutnya.


Akhirnya kedua kakek tua itu hanya dapat menghela nafas. Mereka berdua memutuskan turut menyantap hidangan pula.


Kalau makan sudah selesai, maka sekarang tinggal menikmati arak untuk diminum.


Keempatnya minum arak sambil tertawa gembira.


"Hei kau yang di sana, kemari," kata Orang Tua Menyebalkan kepada seorang pria yang duduk di pojokan.


"Baik Tuan," jawab orang tersebut lalu bangkit dan menghampirinya.


Orang itu memakai pakaian berwarna biru gelap. Matanya tajam. Wajahnya bengis. Di punggungnya terdapat dua batang tongkat pendek.


"Ada apa Tuan memanggilku?" tanyanya.


"Memangnya kenapa Tuan?"


"Kenapa kau menguping pembicaraan kami?"


"Aku, aku tidak menguping,"


"Kau pikir aku tidak tahu? Suruh semua orang-orangmu keluar," katanya sedikit membentak.


"Orang-orang yang mana Tuan?" tanya orang itu kebingungan.


"Hemm, kau kira inderaku sudah tidak berfungsi lagi? Apakah aku harus mematahkan tanganmu dulu supaya mereka keluar?"


Orang tersebut terdiam. Dia membalas tatapan tajam yang diberikan boleh Orang Tua Menyebalkan kepadanya.


"Hehe, Orang Tua Menyebalkan memang bukan orang lain,"


Orang itu kemudian tertawa lantang. Selepas itu, dua belasan orang segera keluar dari persembunyian di dalam restoran. Ada yang bersembunyi di kasir, di atas atap sehingga menjebol atap. Ada juga yang menyamar menjadi pengunjung.


Bahkan si pelayan yang memberikan makanan serta koki juga turut keluar menghampiri mereka. Wajah yang tadinya ramah, sekarang menjadi wajah yang bengis seketika.

__ADS_1


"Hehe, ternyata semua yang ada di sini merupakan bangsat-bangsat tak berguna," ucap si Orang Tua Menyebalkan sambil tertawa meremehkan.


"Apakah kalian sudah menduga bahwa kami akan datang kemari?" tanya Huang Pangcu.


"Tentu saja. Kami sudah mengetahui semuanya, dan kami sudah memperhitungkan dengan sangat baik," jawab orang yang tiba-tiba saja muncul dari tangga.


Orang itu memakai pakaian serba kuning tua. Wajahnya sudah penuh keriput, kedua alis matanya putih. Rambutnya juga putih panjang, sebagian digelung, sebagian lagi di sanggul ke atas.


"Bagus. Aku salut. Sayangnya, kalian tetap tidak akan bisa membunuh kami hanya dengan cara mencampur makanan bersama racun," ucap Huang Pangcu tertawa penuh kemenangan.


"Ba-bagaimana kalian tahu bahwa makanan itu sudah ditaburi racun?" tanyanya sedikit kaget.


"Seseorang memberitahuku secara diam-diam," jawabnya.


"siapa?"


"Aku. Aku yang memberitahu mereka," jawan Li Guan spontan.


"Kenapa kau bisa tahu? Padahal racun itu tidak berwarna dan tidak beraroma,"


"Karena aku si Buta Yang Tahu Segalanya. Racun itu mungkin tidak berwarna dan beraroma. Tapi kau lupa satu hal,"


"Apa itu?"


"Racun tersebut memberikan sedikit efek kepada makanan. Coba kau lihat, bukankah sekarang makanan ini terlihat berubah warnanya? Sedikit pucat dan sedikit lembek. Padahal siapapun tahu, makanan yang kami pesan tidak seperti ini bentuknya," jawab Li Guan dengan santai.


"Kau buta, tapi tidak seperti orang buta. Justru sepertinya malah kami yang buta," kata si pelayan yang tadi menghidangkan makanan.


Li Guan hanya tersenyum simpul.


"Lantas, kenapa kalian tidak keracunan? Padahal sudah jelas kalian juga memakannya,"


"Hal itu rahasia," jawab Cakra Buana tersenyum penuh arti.


"Tidakkah kau bisa memberitahuku?"


"Kalau diberitahu, namanya sudah bukan rahasia lagi,"


"Hahaha, cerdas. Kalian memang orang-orang hebat. Sayangnya, malam ini riwayat kalian pasti akan tamat," ucap orang berpakaian kuning yang diduga pemimpin mereka.


"Benarkah?"


"Tentu saja. Karena seratus meter dari sini, sudah dipenuhi oleh orang-orang kami," ujarnya tertawa penuh kemenangan.

__ADS_1


"Baik sekali. Aku memang sudah tua, semoga saja rencana kalian ini berhasil membunuhku," ejek si Orang Tua Menyebalkan.


__ADS_2