Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Jurus Tanpa Bentuk


__ADS_3

Lima orang anggota Tujuh Perampok Berhati Kejam tertegun saat itu juga. Golok yang tadinya utuh dan berkilau tajam, kini hanya tersisa tinggal sebagian saja.


Semuanya memandang golok yang tergenggam di tangannya masing-masing. Dalam benaknya, mereka bertanya-tanya kapan pendekar tak dikenal itu mematahkan golok mereka?


Hal ini menjadi pertanyaan mendasar sebab tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dia bisa melakukannya. Apalagi pendekar itu mematahkan goloknya semudah mematahkan ranting pohon.


Benarkah ada manusia seperti itu?


Tentu saja ada. Cakra Buana adalah salah satu contohnya. Orang lain juga mungkin bisa melakukan apa yang dia lakukan seperti barusan, hanya saja sepertinya tidak ada yang bisa melakukan lebih dari kecepatannya bergerak.


Sebab tanpa sadar, Pendekar Tanpa Nama telah melakukan gerakan dasar dari Jurus Tanpa Bentuk.


Jurus Tanpa Bentuk.


Sebuah jurus yang mengerikan. Jurus paling langka dan paling sulit. Di dunia ini, mungkin hanya dia seorang yang mempunyai jurus tersebut.


Jurus Tanpa Bentuk adalah sebuah jurus tahapan akhir. Tahapan tertinggi. Intisari dari ilmu silat Tanah Pasundan.


Para pendekar ataupun pata tokoh sungai telaga persilatan mungkin ada juga yang telah mencapai tahapan seperti Pendekar Tanpa Nama. Hanya saja dari segi penciptaan dan segi nama, pasti berbeda. Karena itu, setiap orang yang sudah berhasil mencapai titik sempurna dalam penguasan ilmu silat negerinya masing-masing, pasti tidak akan ada yang bisa menirunya.


Begitupun dengan Jurus Tanpa Bentuk milik Pendekar Tanpa Nama.


Bedanya jurus itu dengan yang lain adalah cara penguasaannya. Jika ilmu silat lain didapatkan karena telah mengerti seluk-beluk ilmu silat, falsafah ilmu silat, dan sebagainya, maka lain lagi ceritanya dengan Jurus Tanpa Bentuk.


Jurus Tanpa Bentuk bisa didapatkan hanya melalui pikiran. Semakin kita tenggelam meninggalkan hiruk-pikuk dunia fana, semakin kita mengerti tentang hakikat kehidupan. Semakin kita dapat menyibak tabir di alam fana, semakin matang juga Jurus Tanpa Bentuk.


Singkatnya, Jurus Tanpa Bentuk akan matang seiring dengan bertambahnya pengalaman bertarung dan bertambahnya wawasan pengetahuan. Jurus Tanpa Bentuk adalah kekosongan di dalam kekosongan.


Isi di dalam isi. Kosong di dalam kosong. Isi bisa jadi kosong, kosong bisa jadi isi.


Tidak ada yang abadi kecuali keabadian itu sendiri. Dan tidak ada yang berbentuk kecuali ketidakberbentukan itu sendiri.


Sehingga terciptalah Jurus Tanpa Bentuk yang maha dahsyat.


Sebenarnya tidak ada yang menarik dari jurus ini. Jurus Tanpa Bentuk tidak banyak perubahan, tidak banyak gerakan indah, tidak ada gerak tipu dan semacamnya. Sebab pada hakikatnya, terciptanya Jurus Tanpa Bentuk bukan untuk dipamerkan.


Melainkan untuk membunuh!!


Jurus yang khusus untuk membunuh tidak perlu banyak ragam gerak. Cukup satu gerakan saja. Asalkan bisa dilakukan dengan sangat sempurna, niscaya hasilnya akan lebih menakutkan daripada Malaikat Pencabut Nyawa.


Semua warga yang ada di sana juga terbengong. Walaupun mereka orang awam, tapi mereka tahu bagaimana keahlian para pendekar. Meskipun banyak pendekar yang bisa memotong besi seperti memotong ranting pohon kecil, tapi tidak ada yang bisa seperti pendekar tak dikenal itu.

__ADS_1


Caranya dia mematahkan golok sungguh sangat mudah sekali.


Bahkan Cakra Buana sendiri merasa sangat heran. Dia bergerak seolah tidak sadar. Dia hanya mengikuti perkataan dalam pikirannya. Seketika itu juga dirinya langsung bergerak.


Tetapi pemuda itu tidak terlalu berpikir macam-macam sebab dia sudah mengetahui semuanya.


"Aku sarankan supaya kalian segera kembalikan barang-barang itu. Lalu segera pergi. Jangan membuang nyawa dengan percuma. Ini adalah peringatan terakhir, kalau masih penasaran juga, silahkan coba," tantang Cakra Buana dengan tenang.


Memangnya apalagi yang membuatnya panik? Sekarang dia sudah mempunyai Jurus Tanpa Bentuk. Tidak ada lagi sesuatu yang bisa membuatnya takut ataupun panik.


Apalagi memang sebelumnya dia tidak pernah merasa takut dan panik.


"Wushh …"


Tanpa sebuah jawaban, dua orang perampok lainnya sudah menerjang Cakra Buana dengan gerakan cepat. Golok mereka sudah diacungkan dan siap ditebaskan.


Pikiran Cakra Buana berkata bahwa mereka harus mati.


Begitu kata tersebut terucapkan, tubuhnya bergerak secepat cahaya lalu segera kembali ke posisi semula.


Dua perampok tadi sudah terkapar di tanah. Nyawanya telah melayang. Tapi entah kapan. Yang jelas, begitu tubuhnya menyentuh tanah, nyawa itu telah tiada.


Semua orang terperangah lagi. Tanpa banyak bicara, delapan perampok segera meninggalkan tempat tersebut. Barang curian mereka dilemparkan begitu saja.


Yang terpenting untuk sekarang adalah menyelamatkan nyawanya lalu melaporkan kejadian ini kepada pemimpin mereka.


Kutungan golok sudah mereka buang di tengah jalan. Tidak peduli mahal atau murahnya harga golok, sebab toh tak ada gunanya juga meskipun selalu mereka bawa.


Malam ini mereka sungguh mengalami kejadian sial. Sudah gagal merampok, teman terbunuh, golok dibuat kutung pula.


Bukankah ini sangat sial?


Cakra Buana berjalan dengan tenang lalu memungut barang-barang yang sempat dirampok tadi. Dia langsung menyerahkannya kepada si tuang rumah.


"Silahkan diperiksa Tuan, apakah ada yang hilang?"


Hartawan Tio menerima semua barangnya. Dia kemudian melihat isinya. Ternyata memang benar masih utuh. Tidak kurang sedikitpun.


"Semuanya masih utuh Tuan. Mohon maaf, apakah aku boleh mengetahui siapa Tuan penolong ini?" tanyanya dengan suara yang sopan.


Hartawan Tio memang terkenal dengan etikanya. Jangankan bicara kepada seorang yang telah menolongnya, kepada para tetangga dan kepada pekerja dirumahnya saja, dia sangat sopan.

__ADS_1


Apalagi sekarang kepada Cakra Buana yang jelas dia sendiri merasa sangat berhutang budi.


"Orang-orang biasa memanggilku Pendekar Tanpa Nama,"


Begitu kata itu selesai, orangnya sudah lenyap dari pandangan. Hartawan Tio dan para warga dibuat terkejut kembali. Di antara mereka, sama sekali tidak ada yang tahu ke mana orang itu pergi.


Padahal semua orang punya mata. Tapi kenapa mereka tidak dapat melihat bagaimana caranya dia bisa pergi?


###


Anggota Tujuh Perampok Berhati Kejam yang tadi merampok di rumah mewah Hartawan Tio sudah tiba di markas cabang perkumpulannya.


Nafas mereka terengah-engah. Wajahnya masih saja pucat.


Salah seorang pemimpin yang bernama Kang Pou —pemimpin kelima— bertanya dengan dahi berkerut. "Apa yang sudah terjadi kepada kalian? Dan di mana yang lainnya?"


"A-ampun Tuan, sebagian rekan kami telah tewas, kali ini kami gagal menjalankan tugas,"


"Plakk …"


Tamparan cukup keras mendarat di pipi masing-masing anggota itu. Seketika pipi mereka langsung merah dan sedikit bengkak.


"Siapa yang sudah menggagalkan aksi kalian?"


"Kami tidak tahu,"


"Apakah kalian sudah memberitahu dari mana asal kalian?"


"Sudah,"


"Apa jawab orang itu?"


"Dia menjawab memang sengaja ingin mencari masalah dengan Tujuh Perampok Berhati Kejam,"


"Bangsat betul orang ini. Bagaimana ciri-cirinya?"


"Memakai jubah dan pakaian serba merah. Di punggungnya terdapat gambar naga dan harimau,"


Mendengar jawaban anggotanya, Kang Pou langsung memperlihatkan ekspresi tidak percaya.


"Pendekar Tanpa Nama, bukankah dia sudah mati?" gumamnya sambil menahan rasa kesal.

__ADS_1


__ADS_2