Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Para Tokoh Berkumpul


__ADS_3

Waktu yang ditentukan sudah tiba. Semua sahabat Pendekar Tanpa Nama telah berkumpul di padang rumput Gunung Hua Sun. Semuanya lengkap. Semuanya hadir di sana.


Para tokoh tersebut saat ini sedang duduk dengan santai beralaskan rumput hijau yang sudah basah oleh embun. Angin berhembus lirih. Suara kelelawar terdengar berdecit tanpa berhenti.


Binatang malam itu terbang mengelilingi Pendekar Tanpa Nama dan sahabat-sahabatnya dengan riang gembira. Seolah mereka tidak merasakan adanya ancaman dari para manusia yang ada di sana.


Rembulan bersinar dengan terang. Malam ini Sang Dewi Malam itu tampil berbeda dari malam-malam sebelumnya. Dia tampak dikelilingi oleh sinar yang mirip seperti pelangi.


Ribuan bintang gemerlapan memenuhi angkasa raya. Benda langit itu tampak berkedip-kedip dengan anggun. Seanggun kedipan seorang gadis cantik.


Di tengah-tengah para tokoh tersebut terdapat beberapa guci arak yang sudah terbuka dan beberapa ada yang masih tersegel.


Saat ini, di antara mereka belum ada yang bicara kembali. Semuanya sedang tenggelam bersama keheningan dan ketenangan malam purnama.


"Apakah mereka akan datang?" tanya Cakra Buana memecahkan keheningan di antara mereka.


"Pasti datang. Kau tenang saja," ujar Huang Pangcu langsung menjawab pertanyaannya.


"Kalau dihitung semuanya, berapa banyak tokoh yang akan hadir di tempat ini?"


"Yang patut diandalkan dan diperhitungkan paling-paling hanya sekitar lima puluh orang saja," jawab Tiang Bengcu setelah meneguk arak.


Pendekar Tanpa Nama menghela nafas dalam-dalam. Lima puluh orang bukanlah jumlah yang sedikit. Apalagi kalau dari mereka hampir semuanya merupakan tokoh kelas atas dunia persilatan.


Kalau mereka semua turun tangan, apakah pihaknya akan sanggup menghadapi? Benarkah mereka sanggup melawan semua orang-orang tersebut?


"Apakah malam ini akan menjadi malam pertempuran yang tiada habisnya?" tanya Pendekar Tanpa Nama entah kepada siapa sambil memandangi rembulan di atas langit sana.


"Tidak. Apa yang kau takutkan tidak akan terjadi. Kau tenang saja, aku sudah mengatur semuanya," kata si Buta Yang Tahu Segalanya sambil tersenyum hangat kepada Cakra Buana.

__ADS_1


"Aku percaya kepadamu," ujar Pendekar Tanpa Perasaan tanpa ragu lagi.


Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya mengangguk. Begitu juga dengan para tokoh yang lainnya. Mereka tidak ada yang bicara lagi, sebab tepat pada saat itu, suara bergemuruh tiba-tiba saja terdengar.


Suara langkah kaki orang banyak berkumandang. Puluhan bayangan manusia melesat dari balik semak belukar menuju ke arah padang rumput Gunung Hua Sun.


Seiring berjalannya waktu, suara bergemuruh mulai lenyap. Bayangan manusia yang sejak tadi melesat pun mulai menghilang.


Sekarang di hadapan Pendekar Tanpa Nama dan para sahabatnya sudah hadir puluhan tokoh dunia persilatan. Jumlah mereka lumayan banyak. Kira-kira sesuai dengan perhitungan Tiang Bengcu. Yakni hampir mencapai lima puluh orang.


Mereka memakai pakaian yang beragam. Wajahnya hampir semuanya sangar. Orang-orang tersebut berasal dari berbagai daerah dan berbagai perguruan. Bahkan tak sedikit juga para tokoh yang tidak mempunyai tali ikatan dengan sebuah perguruan. Mereka berdiri sendiri dan biasanya melakukan apa yang diinginkan diri sendiri.


Semua tokoh yang sekarang hadir di sana telah berjajar dengan rapi. Mereka membentuk lima buah barisan teratur.


Tua muda, pria wanita, sekarang semuanya telah hadir di padang rumput Gunung Hua Sun. Komplit. Bahkan ada pria yang seperti wanita, ataupun juga sebaliknya.


Suasana yang sebelumnya sempat ramai, sekarang telah hening kembali. Tempat yang luas tersebut dicekam oleh keheningan lagi. Tidak ada seorangpun yang berani bicara di antara mereka.


Barisan rapi yang sebelumnya disebutkan itu dipimpin oleh orang-orang ternama. Termasuk oleh para datuk dari segala penjuru.


Malam semakin larut. Rembulan sudah tertutup oleh gumpalan awan kelabu yang berarak secara perlahan. Suara binatang malam telah menghilang, gemerlap sang bintang juga lenyap.


Ke mana perginya mereka? Apakah mereka tidak ingin menyaksikan apa yang akan terjadi sebentar lagi? Malukah mereka itu? Atau, takut?


"Selamat datang kawan-kawan. Terimakasih karena kalian sudah mau hadir di tempat ini," ujar Tiang Bengcu kepada semua tokoh yang hadir tersebut.


Suaranya menggelegar bagaikan guntur. Meskipun Tiang Bengcu bicara perlahan, namun bicaranya itu dibantu oleh tenaga dalam, sehingga siapapun dapat mendengarnya dengan jelas.


"Hormat kepada Tiang Bengcu, sudah menjadi kewajiban bagi kami untuk memenuhi undangan Bengcu," kata Ming Tian Bao si Raja racun tiada obat, dia merupakan datuk dari Timur.

__ADS_1


"Semoga Thian selalu melindungi Tiang Bengcu. Sudah lama aku tidak bertemu dengan Bengcu, tak kusangka malam ini bisa berjumpa lagi," ujar Tian Hoa si Iblis Tua Langit Bumi, orang tua itu tentunya si datuk dari Selatan.


"Semoga Bengcu panjang umur. Entah ada petunjuk apa sehingga Bengcu mengundang kami kemari. Yang jelas, aku merasa tersanjung," tukas Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding, dialah sang datuk dari Utara.


Ucapan demi ucapan yang hampir sama terdengar dari para pemimpin barisan tersebut. Sambil berkata demikian, orang-orang itu sembari memberikan hormatnya kepada Tiang Bengcu.


Saat para pemimpin tersebut menghormat, orang-orang yang ada di belakangnya pun melakukan hal yang sama. Bagaimanapun juga, mereka tetap harus berlaku demikian kepada Bengcu.


Karena sudah menjadi peraturan mutlak sejak zaman dahulu bahwa siapapun yang menjadi Bengcu, maka setiap insan persilatan harus tunduk dan hormat kepadanya.


Tidak perduli apakah orang tersebut seorang datuk sungai telaga ataupun seorang guru besar, dia tetap harus hormat kepada Bengcu.


"Aku mengundang kalian kemari berhubungan dengan kabar yang beredar luas di dunia persilatan saat ini," ujarnya masih dengan suara yang sama.


"Apakah terkait benda pusaka yang sedang kita perebutkan?" tanya Tian Hoa si Iblis Tua Langit Bumi.


"Tepat, memang menyangkut hal tersebut,"


"Sudah kuduga," kata Poh Kuan Tao menyindir sambil sedikit tersenyum sinis.


Tiang Bengcu tidak marah. Dia hanya melirik sekilas kepada orang tua tersebut sambil tetap melemparkan sebuah senyuman hangat.


Pria bertubuh kekar dengan wajah tampan itu terkenal dengan kesabarannya dalam menghadapi sebuah masalah. Dia pun dikenal jarang sekali emosi. Setiap persoalan yang dia bereskan, hampir semuanya dihadapi tanpa menggunakan emosi.


"Tuan Poh terkenal dengan kecerdikannya. Sudah pasti kau pun dapat menebak maksud semua ini," puji sang Bengcu.


Datuk sesat itu tidak menjawab. Dia hanya mengangguk merasa bangga.


"Kita kembali ke pokok pembicaraan, sebenarnya terkait kabar yang mengatakan bahwa dua benda pusaka itu ada di tangan Pendekar Tanpa Nama, hal itu merupakan fitnah. Aku sendiri sudah memeriksa yang bersangkutan, dan hasilnya nihil. Benda pusaka itu tidak ada di tangan beliau," katanya sambil memberikan isyarat kepada Cakra Buana agar dirinya maju ke depan.

__ADS_1


"Hemm, bagaimana kami akan percaya kalau tidak ada buktinya?" tanya seorang pemimpin dari lima barisan tersebut. Suaranya mengandung nada curiga.


__ADS_2