
"Hahaha … memang aku yang menyuruhnya. Sekarang, apakah kau sudah mengerti semuanya?" tanya Selir Anjani sambil terus tertawa menyeramkan.
Pendekar Tanpa Nama tidak menjawab. Dia merasa amat marah. Saat ini, kemarahannya benar-benar memuncak.
Sekarang Cakra Buana telah memahami semua kejadian yang terjadi di tanah airnya. Ternyata segala macam kekacauan, baik itu di dalam Istana Kerajaan, maupun yang diluar Kerajaan, semua itu tak lain akibat ulah Selir Anjani.
Malapetaka besar ini bersumber darinya. Itu artinya, dia pula yang menjadi dalang dibalik layar.
Siapa yang bakal menyangka akan kenyataan ini? Ternyata wanita yang terlihat lemah lembut, wanita yang dianggap baik, bukan lain adalah Ratu Iblis dari segala iblis.
Apakah di tempat lain masih banyak kejadian serupa? Apakah pelakunya juga banyak yang merupakan wanita?
"Aku mengerti," jawab Pendekar Tanpa Nama.
"Benarkah?"
"Benar. Aku mengerti bahwa kau sangat pantas untuk dibunuh …" katanya dengan nada serius.
Bukannya merasa takut, Selir Anjani malah tertawa terbahak-bahak. Wanita itu menganggap bahwa ucapan Cakra Buana barusan hanyalah lelucon belaka. Sebuah omong kosong yang tidak akan terbukti nyata.
Dua pusaka yang mempunyai kekuatan dahsyat sudah berada di kedua tangannya, dengan semua bekal yang ada, benarkah pemuda itu masih sanggup membunuhnya?
"Hahaha … apakah kau belum terbangun dari tidurmu? Kalau belum, cobalah kau bangun dan lihat kenyataan yang ada di depan mata. Sekarang aku memegang dua pusaka legendaris di Tanah Pasundan. Dengan ini semua, apakah kau yakin masih bisa mencabut nyawaku?"
Pendekar Tanpa Nama terbungkam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya saat ini Cakra Buana tidak punya keyakinan. Dia sendiri sangat ragu, benarkah Selir Anjani masih dapat dikalahkan?
Jangankan dirinya, baik itu Prabu Katapangan, Ratu Ayu, atau bahkan semua tokoh yang hadir, mereka pun merasakan hal yang sama pula.
Meskipun semua orang tahu bahwa Selir Anjani hanya seorang diri, tapi mereka juga sangat yakin kalau dia sanggup meluluh lantakkan semua yang ada di sana. Baik itu orangnya maupun bangunan Kerajaannya.
"Apakah kau tahu pusaka yang berada di tangan kananku ini?" tanyanya.
__ADS_1
Pendekar Tanpa Nama hanya menggelengkan kepala. Kemudian dia sedang menanti ucapan Selir Anjani. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Perlu diketahui, senjata pusaka ini merupakan leburan dari tiga pusaka legendaris. Yaitu Pedang Pusaka Dewa, Tombak Dewa Batara, dan juga Panah Raden Arjuna. Tiga pusaka legendaris tersebut dileburkan menjadi satu setelah semua syarat terpenuhi. Karena itulah aku memberikan nama Pusaka Tri Tunggal Maha Dewa …" katanya menjelaskan.
Tri berarti tiga. Tunggal berarti satu. Dan Maha Dewa berarti Raja dari segala Dewa.
Nama dari pusaka tersebut bisa diartikan menjadi tiga pusaka yang mempunyai kekuatan sangat dahsyat. Kedahsyatannya mungkin tiada tandingannya lagi.
Pada saat Selir Anjani memberi tahu nama pusaka sekaligus sejarahnya, semua orang langsung bergidik ngeri. Siapa yang tidak tahu tentang cerita dari tiga pusaka legendaris? Siapapun pasti tahu.
Pedang Pusaka Dewa dikabarkan dapat membelah sebuah bukit. Tombak Dewa Batara diberitakan sanggup menggetarkan bumi jika ditancapkan dengan dalam. Sedangkan cerita tentang Panah Raden Arjuna, konon katanya bisa menghancurkan sebuah anak gunung.
Selain daripada itu, semua orang juga merasa sangat bingung. Bagaimana caranya tiga senjata pusaka legendaris itu bisa disatukan? Dan lagi, apa pula syarat-syarat yang diperlukan dalam proses peleburan itu?
Pendekar Tanpa Nama juga bergidik. Tapi bukan karena takut, dia bergidik karena tidak bisa membayangkan pertempuran yang akan segera. Hatinya juga tergetar.
Pedang Pusaka Dewa, Tombak Dewa Batara, Panah Raden Arjuna … semua itu adalah tiga pusaka legendaris yang bakal menjadi miliknya jika kelak sudah meneruskan posisi ayahnya menjadi seorang Raja.
Tapi sekarang? Sekarang tiga pusaka itu berada di tangan orang lain.
"Aku tidak butuh penjelasanmu. Aku hanya butuh nyawamu …" teriak Pendekar Tanpa Nama dengan lantang.
Begitu selesai berkata, dirinya langsung melesat secepat angin kencang yang menerjang.
Wushh!!!
Bayangan merah berkelebat. Pedang Naga dan Harimau langsung dikeluarkan. Pedang pusaka itu mengeluarkan sinar berwarna merah pekat yang menyelimuti seluruh bagiannya.
Bersamaan dengan hal tersebut, Prabu Katapangan dan Ratu Ayu juga sama. Entah sejak kapan, tahu-tahu Sang Raja sudah memegang sebuah senjata pula.
Di tangan kanannya sudah ada sebuah pedang. Batang pedang itu teramat tajam. Sedangkan di tangan kirinya ada sarung pedang berwarna hitam pekat.
__ADS_1
Pedang Manggala Agni!!!
Pedang Manggala Agni adalah sebuah senjata pusaka yang pernah menggetarkan jagat pada masa lalu. Dulu, pedang ini juga pernah dipegang oleh Prabu Bambang Sukma Saketi, ayah dari Cakra Buana, pada saat dirinya bertempur melawan puluhan pasukan musuh.
Setiap orang persilatan angkatan tua, tahu bagaimana keampuhan pedang pusaka yang satu ini. Tiada seorangpun yang meragukan kemampuannya.
Dulu, pedang itu selalu dicari oleh setiap insan persilatan. Setiap orang pasti ingin memilikinya. Tapi sayang sekali, setelah Prabu Bambang Sukma Saketi tewas, pusaka itu tidak pernah terdengar beritanya lagi.
Semua orang telah mengira bahwa pusaka itu sudah lenyap bersamaan dengan tewasnya sang pemilik. Sungguh tak disangka kalau pada saat ini, senjata tersebut ternyata kembali menampakkan dirinya.
Di sisi lain, Ratu Ayu juga telah meluncurkan selendang saktinya.
Tiga serangan maut sudah mengancam tubuh Selir Anjani. Wanita itu tidak akan bisa kabur lagi. Sebab pada saat ini semua jalan keluarnya untuk melarikan diri.
Wutt!!!
Kilatan merah dan putih keperakan tiba dari sisi kanan dan kiri. Sedangkan luncuran selendang Ratu Ayu datang dari arah tengah.
Melihat tiga serangan tersebut, Selir Anjani hanya menanggapinya dengan senyuman sinis. Senyuman yang merendahkan. Dia yang sekarang sudah jauh berbeda dengan Selir Anjani yang tadi. Kalau sebelumnya dia merasa sedikit takut dengan kejadian seperti sekarang, saat ini justru malah sebaliknya.
Kujang Dewa Batara diangkat. Kujang itu ditusukkan ke depan. Sinar kuning terang mendadak keluar dari ujung senjata. Bersamaan dengan hal tersebut, Pusaka Tri Tunggal Maha Dewa juga digerakkan.
Wutt!!!
Sinar putih cemerlang menyelimuti langit dan bumi. Sebuah tekanan yang sulit dijelaskan terasa oleh semua orang.
Blarr!!!
Benturan antar pusaka tanpa tanding terjadi. Ledakan keras langsung terdengar menggelegar. Tanah di sekitar halaman Istana Kerajaan bergetar.
Saking besarnya gelombang kejut yang tercipta, puluhan orang prajurit malah ada yang terdorong mundur hingga dua sampai lima langkah ke belakang.
__ADS_1
Ada pula yang sampai jatuh bergulingan lalu segera memuntahkan darah segar kehitaman.
Hal seperti itu bukan hanya dialami oleh mereka para prajurit. Malah tiga tokoh tanpa tanding yang bertarung pun mengalami kejadian yang sama.