
Cio Hong berjalan lebih dulu. Orang tua itu tidak membawa Cakra Buana ke ruangan sebelumnya. Tujuan kali ini berbeda lagi. Maha guru Perguruan Rajawali Sakti membawa pemuda itu ke sebuah hutan yang terdapat di belakang perguruan.
Puluhan tombak di sana ada kolam ikan yang berisi teratai. Keduanya menuju ke sana, dengan ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai taraf sempurna, tidak perlu membutuhkan waktu lama bagi mereka berdua untuk tiba di tempat tersebut.
Di atas kolam ada satu bangunan semacam saung. Sangat sederhana, tapi juga sangat nyaman. Ikan koi dan ikan lainnya berenang ke sana kemari. Sesekali ikan tersebut menampakkan dirinya ke atas. Bunga teratai mekar dengan indah.
Semilir angin berhembus lirih. Suara bambu bergesekan membuat suasana semakin nyaman lagi. Sinar matahari tidak terlalu menyorot sebab terhalang oleh daun pepohonan yang rimbun.
Kedua orang itu duduk berhadapan. Di tengah-tengahnya ada meja. Di atas meja ada seguci arak dan dua cawan. Cio Hong langsung menuangkan arak ke masing-masing cawan tersebut.
Biasanya, jika Cakra Buana melihat cawan arak yang sudah di isi, dia akan segera meminumnya. Tetapi kali ini tidak, pemuda itu bahkan tidak menyentuh cawan sama sekali.
"Kau takut aku menaruh racun dalam arak ini?" tanya Cio Hong yang sudah kembali ramah seperti saat Cakra Buana tiba di ruangannya.
"Aku hanya takut tidak bisa berdiri lagi," jawab Cakra Buana seenaknya.
Cio Hong tertawa. Orang tua itu tidak memperlihatkan ekspresi kesal. Sikap Cakra Buana ini wajar, kalau dirinya di posisi pemuda itu, mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama.
"Kau jangan khawatir. Arak ini arak murni,"
Cio Hong langsung meminum arak dalam cawan tersebut.
"Cobalah. Ini arak keras yang harum,"
Glekk!!!
Cakra Buana menghabiskan arak dalam cawan hanya sekali teguk. Ternyata benar, arak itu arak yang keras sekaligus harum.
__ADS_1
"Bagaimana bisa ada arak di sini?"
"Tempat ini selalu menjadi tempat pertemuanku dengan tamu khusus. Para murid selalu menyimpan arak di sini meskipun beberapa hari belakangan aku belum berkunjung,"
Cakra Buana sekarang mengerti kenapa bisa ada arak di sana. Di tempat yang sunyi seperti ini, minum arak adalah hal yang paling cocok untuk dilakukan.
"Jika kau ingin tahu dari mana aku mendapatkan jurus tadi, ceritakan dulu hubunganmu dengan Pendekar Tanpa Nama. Kalau kau tidak mau bercerita, sampai mati pun aku juga akan tetap menutup mulut," ucap pemuda Tanah Pasundan itu mendahului Cio Hong bicara.
Orang tua itu hanya bisa tertawa. Ternyata pemuda yang duduk di hadapannya ini lebih cerdas dari yang dia bayangkan sebelumnya.
"Kalau aku bercerita, apakah kau akan percaya?"
"Selama ucapanmu benar sekaligus ada buktinya, aku pasti percaya,"
"Baiklah. Dengarkan baik-baik," Cio Hong menghela nafas sebelum memulai ceritanya.
"Hampir sepuluh tahun kami berpisah. Pada suatu ketika, secara tanpa disengaja kami dapat bertemu kembali. Dan pada saat itu, kami sudah menjadi pendekar yang terkenal. Terlebih lagi kakak seperguruanku Pendekar Tanpa Nama. Dia sudah menjadi pendekar tanpa tanding, sepak terjangnya membuat semua lawan ketakutan. Saat kami berkumpul pada waktu itu, kakak seperguruanku mengatakan bahwa dirinya sedang menulis sebuah kitab. Di mana kitab tersebut berisi jurus khusus yang dia ciptakan untukku sekaligus adik seperguruanku Nenek Tua Bungkuk,"
"Tetapi dia tidak langsung memberikan kitab yang dimaksud karena belum selesai sempurna. Dia berkata ingin menyempurnakan dulu kitab hasil tulisan tangannya sendiri. Setelah berbincang beberapa lama, kami berpisah kembali. Beliau sudah berjanji bahwa saat bertemu nanti, kitab itu akan selesai,"
"Apakah kau bertemu dengannya lagi?" sela Cakra Buana.
"Tepat. Kami memang bertemu lagi. Sayangnya dalam waktu yang tidak tepat. Saat itu beliau sudah menjadi incaran pemerintah. Pendekar Tanpa Nama menjadi buronan semua orang, dia berusaha untuk mencari tempat bersembunyi, sayangnya gagal. Semua tempat sudah dikuasai oleh pemerintah. Dia hanya memberikan pesan kepadaku bahwa kitab itu telah selesai, sayangnya tidak bisa diberikan saat itu karena keadaan,"
"Lantas apa yang dia katakan?"
"Kakak seperguruanku menyebut bahwa jika dirinya mati, suatu saat nanti akan ada anak manusia yang mengantarkan kitab itu kepadaku. Namun terkait kapan waktunya dan siapa yang mengantarkannya, aku sendiri belum tahu hingga sekarang," kata Cio Hong menyudahi cerita singkatnya kepada Cakra Buana.
__ADS_1
Pria tua itu menghela nafas dalam-dalam. Wajahnya menjadi lebih tua beberapa tahun, kesedihan bercampur dendam membara terlihat jelas di sepasang matanya.
Di sisi lain, Cakra Buana sungguh merasa sangat terkejut setengah mati. Dia tidak pernah menduga bahwa Cio Hong ternyata adik seperguruan gurunya, Pendekar Tanpa Nama. Itu artinya, Cio Hong adalah paman gurunya sendiri. Dan Nenek Tua Bungkuk adalah bibi gurunya.
Namun di balik itu, Cakra Buana masih belum yakin sepenuhnya. Apakah benar dia adik seperguruan gurunya? Apakah cerita yang dikatakan itu benar? Jika benar, apa buktinya?
"Apa buktinya kalau kau memang adik seperguruan Pendekar Tanpa Nama?" tanya Cakra Buana dengan tatapan mata menyelidik.
"Apakah kau tahu ini apa?" tanya Cio Hong sambil mengeluarkan sepertiga lencana emas.
Cakra Buana tersentak kaget. Sepertiga lencana itu sangat mirip dengan lencana milik gurunya yang selalu dia bahwa bahkan hingga sekarang. Jika disatukan, pasti akan menyatu, karena pada dasarnya masing-masing dari lencana tersebut saling melengkapi.
Tubuh Cakra Buana bergetar hebat. Mulutnya tidak sanggup berkata apa-apa lagi.
Dia langsung bangkit berdiri lalu sujud tepat di hadapan Cio Hong. Air matanya membasahi sepasang pipi Cakra Buana.
"Paman guru, maafkan aku yang telah berlalu tidak sopan kepadamu," kata Cakra Buana dengan suara bergetar hebat.
Cio Hong tidak menjawab. Dia sendiri merasa bingung. Paman guru? Memangnya siapa pemuda itu? Apakah benar bahwa dia murid dari kakak seperguruannya?
Sampai beberapa waktu lamanya, orang tua itu tidak memberikan sepatah jawaban apapun. Sedangkan Cakra Buana sendiri tetap bersujud di hadapan Rajawali Petir Pengoyak Sukma.
Angin berhembus lirih membawa rasa nyaman. Kerinduan akan masa lalu tiba-tiba terbayang di benak Cio Hong. Entah kenapa, saat sepasang matanya menatap Cakra Buana, dia justru seperti melihat kakak seperguruannya, Pendekar Tanpa Nama.
"Ka-kau, apakah kau benar murid dari Pendekar Tanpa Nama?" tanyanya dengan nada sedih.
"Benar Paman guru. Aku murid dari beliau," jawab Cakra Buana masih dalam posisi bersujud.
__ADS_1