Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Wanita Yang Berbahaya


__ADS_3

Cakra Buana membawa wanita yang kini sudah pingsan dalam pelukannya itu ke bawah sebuah pohon.


Wanita tersebut dibaringkan. Wajahnya semakin pucat. Nafasnya juga mulai lemah. Tapi walaupun wajahnya pucat, justru kecantikannya malah lebih memancar.


Seperti seorang Dewi yang turun dari Khayangan.


Tubuhnya ramping padat berisi. Dua buah bukit kembar menonjol. Mau tak mau Cakra Buana harus menahan hasratnya. Bagaimanapun juga, dia seorang pria. Rasanya wajar saja jika sedikit menelan ludah.


Siapa yang dapat menahan gejolak dalam diri jika berhadapan dengan wanita secantik Dewi? Bahkan wanita itu sekarang terbaring lemah tak berdaya.


Namun, dia bukanlah pria tak bermoral. Meskipun sedikit kurang ajar, setidaknya tahu mana sata untuk menolong, mana saat untuk 'beraksi'.


Wanita cantik itu terluka dibagian pundak sebelah kirinya. Cakra Buana terpaksa harus membuka sedikit pakaiannya supaya bisa mengobati.


Begitu dibuka sedikit, terlihat sebuah kulit yang sangat halus. Sehalus belaian kekasih dan kulit yang putih seperti salju. Cakra Buana menahan sebisa mungkin gejolak dalam dirinya.


Kemudian dia mengambil serbuk penawar racun dari balik saku bajunya. Begitu ditaburkan, serbuk itu langsung bekerja.


Tetapi saat ingin menutup kembali kainnya, mendadak wanita cantik itu bangun terperanjat.


"Heii, pria kurang ajar. Bisa-bisanya kau mencari kesempatan dalam kesempitan," teriak wanita tersebut kaget.


Dia berteriak sekencang mungkin. Tidak berapa lama, sepuluh orang berlompatan dari semak-semak. Semuanya bertampang seram.


Sekali lihat saja, Cakra Buana sudah dapat menebak bahwa mereka ini bukanlah pendekar sembarangan. Mungkin mereka terhitung jago kelas satu.


Si wanita tadi kembali membetulkan pakaiannya yang sempat dibuka. Dia berdiri dengan tenang. Tidak terlihat sama sekali bahwa dia baru saja keracunan.


Sekarang Cakra Buana baru sadar bahwa dirinya telah terkena jebakan.


Mau pergi sudah tanggung. Mau bertahan, pasti pertarungan tidak bisa terhindarkan lagi.


Hanya saja sekarang dia berpikir, masalah yang akan menimpa dirinya pasti akan bertambah banyak. Apalagi dia mengenal beberapa orang bahwa mereka merupakan tokoh ternama di sungai telaga (dunia persilatan) Tionggoan.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Pendekar Tanpa Nama kepada wanita cantik tersebut. Matanya menatap tajam, dia merasa gemas kepada wanita tersebut.


Dia tidak langsung menjawab. Wanita itu tertawa nyaring. Suaranya sangat merdu, seperti alunan seruling kerinduan. Deretan gigi yang putih bersih dan rapi tampak jelas.


Wanita itu berjalan gemulai ke arahnya. Saat berjalan, seolah seluruh tubuhnya melambai-lambai meminta dibelai. Dia mengelilingi Cakra Buana sambil mengelus wajah pemuda itu dengan jari-jarinya yang lentik.


"Nanti kau akan tahu siapa aku. Sekarang, berikan kitab yang ada padamu," katanya sambil berbisik.

__ADS_1


"Kitab apa?"


"Kau jangan berpura-pura bodoh,"


Pemuda itu tertegun. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa kedatangannya ke Tionggoan justru bakal mendapat banyak masalah. Yang lebih mengherankan lagi, dari mana wanita itu tahu bahwa dia membawa kitab pusaka?


Seingatnya, belum banyak orang yang mengetahui bahwa dia membawa kitab pusaka. Hanya beberapa orang saja yang tahu. Apakah si Toga Tosu Sesat? Atau Huang Pangcu?


Tidak, tidak mungkin Huang Pangcu membocorkan rahasianya. Yang paling mungkin adalah Tiga Tosu Sesat.


"Dari mana kau tahu?" tanyanya heran.


"Dari mana aku tahu, bukan urusanmu. Sekarang lebih baik serahkan kitab tersebut,"


"Kalau aku tidak mau?"


"Terpaksa aku akan bertindak. Dan mungkin kau akan mendapatkan masalah yang tak terduga," ujar si wanita.


Saat dia bicara, bibirnya hampir menempel ke telinganya. Bau harum nafasnya membuat jantung Pendekar Tanpa Nama berdetak tidak karuan.


Dalam situasi seperti ini, bagaimana mungkin dia bisa bertindak?


"Kalau aku memberikannya kepadamu, apa keuntunganku?"


"Kau akan mendapatkan kesenangan. Apapun yang kau inginkan, akan aku kabulkan. Terlebih lagi, kau bisa tidur denganku sepuasnya,"


Suaranya bertambah berat dan manja. Persis seperti suara rintihan sepasang pengantin di saat malam pertama.


Tergetar juga hati pemuda itu. Dia masih muda. Tentu darah mudanya bergolak lebih hebat lagi.


Sepuluh orang pendekar kelas satu masih berdiri memandanginya dengan sorot mata menyeramkan. Seolah mereka sedang menunggu jawaban apa yang akan dia berikan.


Mereka tinggal menunggu perintah. Saat si wanita berkata untuk bergerak, sepuluh pendekar itu pasti bergerak hanya dalam satu kedipan mata.


Tapi hati Cakra Buana telah menetapkan. Walaupun taruhannya nyawa, dia tidak akan sudi untuk memberikan kitab tersebut kepadanya. Sekilas saja pemuda itu sudah mengerti bahwa kitab tersebut sangat penting.


Terbukti sekarang bahwa dirinya sudah menjadi incaran sebagian tokoh persilatan.


Bagi orang-orang seperti mereka, memperebutkan barang pusaka sudah menjadi hal lumrah. Semua pendekar tahu akan hal ini.


Mereka tidak segan untuk mengeluarkan harta yang sangat banyak atau bahkan berkorban nyawa hanya demi sebuah barang pusaka.

__ADS_1


Apalagi jika barang pusaka itu sangat langka. Walau harus berjalan di tengah lautan api sekalipun, meraka rela melakukannya.


Seperti si wanita itu. Dia tidak segan untuk memberikan tubuhnya hanya demi sebuah kitab pusaka.


Hanya saja, pemuda yang sedang dia rayu saat ini bukanlah pemuda atau pria yang sama seperti orang lain. Dia merupakan pengecualian. Walaupun tawarannya sangat menggiurkan, tetapi dia tetap tidak akan tergoda.


Apapun alasannya. Tugas dari seorang guru harus dijalankan dengan segenap kemampuan.


"Kalau begitu, aku memilih pilihan yang kedua," kata Cakra Buana dengan tenang dan penuh percaya diri.


"Kau yakin tidak ingin menikmati keindahan tubuhku? Tidak ingin kedudukan terhormat?"


Wanita tersebut semakin bertambah manja. Bahkan dia tak segan untuk merangkul Cakra Buana sambil menempelkan buah dadanya yang padat berisi.


'Sialan. Untung aku tidak mabuk. Coba kalau mabuk, mungkin kau sudah tidak berdaya olehku. Wanita yang berbahaya,' batinnya berusaha untuk tetap menguasai diri.


"Sangat yakin. Walaupun sekarang tidak bisa, tapi aku yakin suatu saat bisa,"


"Maksudmu?"


"Kau yang tadi menyebutkan, berarti kau sudah paham,"


"Aku bukan wanita yang mudah terbuai rayuan pria. Justru pria yang bertekuk lutut di depanku," katanya penuh percaya diri.


"Aku percaya. Tapi kau juga harus tahu, bahwa aku adalah seorang kucing yang mempunyai banyak akal. Bahkan aku bisa membuat seseorang memberikan lauknya kepadaku tanpa imbalan," ucapnya memberikan kiasan.


Wanita itu paham. Dia tidak perlu penjelasan lagi, sebab dia sudah tahu artinya.


Sedangkan Cakra Buana, selesai berkata, dia langsung mencium pipi si wanita sebelum akhirnya menarik diri.


Ciumannya amat lembut dan penuh penghayatan. Wanita itu tergetar juga. Darahnya langsung panas.


"Aku pergi dulu," kata Cakra Buana.


Tetapi sebelum dia melangkah lebih jauh, sepuluh orang tersebut telah melompat secara bersamaan. Mereka segera mengurung Pendekar Tanpa Nama.


"Apakah kau kira bisa datang dan pergi seenaknya?" seorang pengepung berkata dengan nada sinis.


"Daerah ini bukan daerah kekuasaanmu. Mau datang atau pergi, terserah diriku,"


"Kalau tadi mungkin bisa, tetapi sekarang sudah tidak bisa. Sebab daerah ini sekarang sudah menjadi kekuasaanku,"

__ADS_1


__ADS_2