
"Eh, sebentar. Kalian enak, aku bagaimana? Kan aku tidak mengetahui di mana letak gedung Bengcu," kata Cakra Buana sedikit tidak terima.
Huang Pangcu dan Li Guan tertawa terbahak-bahak. Sepertinya kedua orang itu sangat senang mengerjai Cakra Buana.
"Kau punya mulut?" tanya Huang Pangcu.
"Punya"
"Kau punya mata?" sambung Li Guan.
"Tentu saja,"
"Nah, kalau begitu kenapa mesti bingung? Kau tinggal tanyakan kepada orang-orang yang ditemui di jalan dan melihat apakah tempat yang nanti ditunjukkan oleh orang itu, betul atau tidaknya," ucap Li Guan sambil tersenyum polos.
"Tepat. Memang harusnya seperti itu. Untuk apa ada mata dan mulut kalau tidak digunakan? Betul tidak?" ucap Huang Pangcu menimpali.
"Tepat sekali," jawab Li Guan sambil tertawa.
Cakra Buana sangat kesal mendengar semua ucapan dua orang yang ada di hadapannya kali ini.
"Sialan. Belum saja aku tampar wajah kalian," katanya sangat kesal.
Dua orang itu tertawa lagi. Bahkan tawa yang sekarang lebih kencang daripada sebelumnya.
Cakra Buana hanya bisa menahan rasa kesalnya. Lagi pula, dia kesal hanya sebatas hiburan sematas. Mana mungkin pemuda itu benar-benar kesal kepada dua orang sahabat baiknya. Bagaimanapun juga, Cakra Buana tahu bahwa mereka hanya ingin menguji apakah dia mampu menemukan gedung Bengcu atau tidak.
Dia mengambil satu guci arak milik Huang Pangcu yang masih utuh. Setelah itu dirinya bangkit berdiri lalu segera membalikan badan.
"Mau ke mana kau?" tanya Li Guan.
"Kau punya kaki?"
"Punya,"
"Kalau punya, kenapa tidak kau ikuti aku saja?"
Cakra Buana terus melangkah sambil meneguk guci arak. Li Guan hanya bisa memandanginya sambil menahan rasa ingin tertawa.
"Menurutmu, ke mana dia akan pergi?" tanya Huang Pangcu.
__ADS_1
"Ke mana lagi? Paling dia akan mencari tempat atau kalau tidak langsung mencari alamat gedung Bengcu," jawabnya sambil tertawa.
"Hahaha, kalian ini. Jika aku bersama kalian berdua, rasanya seperti kembali lagi ke masa muda. Dulu, aku juga punya sahabat seperti kalian berdua. Hanya saja, sekarang mereka sudah tiada," ucap Huang Pangcu sambil menerawang jauh.
Orang tua itu seketika membayangkan waktu masa mudanya. Membayangkan saat-saat bercanda tawa bersama para sahabatnya, menjalani suka duka bersama, semuanya mendadak terlintas dalam bayangannya.
Apakah kenangan seperti bayangan? Selalu mengikuti dan menghantui manusia hingga akhir hayat?
"Pangcu, aku juga mau pamit. Masih ada urusan yang harus aku selesaikan dengan segera," ujar Li Guan kepadanya.
"Baiklah kalau begitu. Aku tunggu seminggu lagi kau di gedung Bengcu,"
"Sudah tentu,"
Li Guan bangkit berdiri lalu segera melangkahkan kakinya. Entah ke mana tujuannya. Karena setiap gerak-gerik pemuda itu, sangat susah untuk ditebak dan diikuti.
Seolah dia tidak bergerak sama sekali. Tapi segala macam informasi, segala macam kejadian di muka bumi, pasti dia tidak akan ketinggalan beritanya.
Di dunia ini, mungkin hanya dia saja yang mampu melakukan hal demikian.
###
Entah kenapa, pemuda itu merasakan bakal terjadi sesuatu besar. Tapi entah suatu hal apa, dia sama sekali tidak dapat mengetahuinya secara pasti.
Arak dalam guci tinggal sisa sedikit. Matanya mulai sayu. Langkahnya sedikit gontay. Kalau orang lain, mungkin ditendang sedikit juga akan roboh.
Tapi hal itu tidak berlaku bagi Cakra Buana. Justru di saat seperti inilah, tubuhnya sangat peka terhadap segala macam kemungkinan yang akan terjadi.
Jauh di depan sana, terdengar sebuah langkah kaki kuda yang berlari dengan sangat kencang. Kudanya masih jauh, bahkan sama sekali belum terlihat. Tetapi suaranya justru sudah sampai dan menggema di sekitar jalanan sepi tersebut.
Suara kuda semakin dekat. Sekarang Cakra Buana justru mendengar langkah kuda itu bukan hanya satu. Tetapi seperti ada beberapa kuda lainnya.
Setelah beberapa saat kemudian, dia melihat seekor kuda berwarna cokelat sedang berlari sangat kencang ke arahnya. Si penunggang kuda sepertinya sengaja mempercepat langkah ketika melihat ada orang lain.
Suara ringkik kuda terdengar memekakkan telinga. Sekali lirik saja, Cakra Buana sudah dapat menebak bahwa kuda itu pasti bukanlah kuda sembarangan. Kuda itu adalah kuda jempolan yang mempunyai tenaga besar.
Terlihat tubuhnya sangat besar dan kekar. Walaupun sudah berlari menempuh jarak jauh dengan kecepatan tinggi, namun kuda itu tidak kelihatan capek sama sekali.
Kuda tersebut justru langsung berjalan ke samping lalau kemudian segera merumput. Sepertinya binatang itu sudah lapar.
__ADS_1
Seorang penunggang kudanya ternyata pria berusia sekitar lima puluh tahunan. Dia memakai pakaian serta jubah putih. Di punggungnya terselip sebatang pedang antik.
Nafasnya tersengal-sengal. Wajahnya juga menggambarkan ketakutan. Tadi begitu dia baru turun dari kudanya, pria tua tersebut langsung bersembunyi di balik tubuh Cakra Buana.
"Tuan siapa?" tanya Cakra Buana keheranan.
"Nanti akan aku beritahu. Sekarang tolonglah aku yang tua ini Tuan. Sembilan orang sedang mengejarku," kata pria tua itu sambil sedikit ketakutan.
Cakra Buana semakin merasa kebingungan. Dia belum mengerti jelas masalah apa yang sedang menimpa orang itu.
Pemuda itu ingin bertanya, namum sebelum dia mengajukan pertanyaan, sembilan orang yang dibicarakan barusan sudah tiba di hadapannya.
Debu mengepul tinggi. Pakaian Cakra Buana dan pria tadi tertiup angin yang dihasilkan dari berhentinya kuda-kuda tersebut.
Sembilan orang tak dikenal sudah berdiri di hadapannya. Mereka memakai pakaian biru tua. Seorang yang memakai ikat kepala berwarna biru, maju selangkah kaki kuda.
"Tuan siapa?" tanyanya garang kepada Cakra Buana.
"Tuan sendiri siapa?" tanya balik pemuda itu.
"Ditanya malah balik bertanya," katanya sedikit membentak.
"Karena aku sendiri tidak merasa mengenal Tuan. Dan aku juga tidak merasa ada masalah,"
"Apakah kau rekannya orang itu?" tanyanya sambil menunjuk ke si pria tadi.
"Sama sekali bukan. Bahkan aku baru bertemu dan tidak mengetahui dia sebenarnya siapa,"
"Kau tidak tahu dia siapa?" tanyanya kaget.
Cakra Buana menggeleng kepalanya beberapa kali.
"Aii, dia adalah Walet Putih yang katanya pendekar gagah perkasa. Tapi sekarang setelah dia bertemu denganku, malah dia tidak berani menghadapiku. Hemm, aku baru tahu ternyata nama besarnya hanya omong kosong saja," katanya menahan amarah.
Orang yang ada di belakang Cakra Buana mendengus dingin.
"Kalau kau tidak menaruh racun dalam makanan, sudah sejak tadi aku menghajarmu. Bagaimana aku bisa bertarung jika tubuhku sudah keracunan? Kalau memang kau ingin bertarung denganku, sembuhkan dulu luka ini," katanya sambil menggertak gigi.
Keringat dingin sudah menetes dari keningnya. Wajahnya juga sedikit pucat. Terlihat jelas sekali bahwa orang itu sedang menahan rasa sakit.
__ADS_1
"Hahaha, kalau itu aku tidak bisa mengabulkannya. Lagi pula itu kesalahanmu sendiri karena makan tidak hati-hati," ejek orang tersebut.