
Diam-diam Sian-li Bwee Hua juga semakin menghormatinya. Datuk dunia persilatan memang banyak, tokoh angkatan tua pun sama. Tapi di antara mereka semua, jarang ada orang seperti Raja Tombak Emas dari Utara ini.
Sementara itu, pada saat mendengar pujian dari Pendekar Tanpa Nama, orang tua tersebut hanya tersenyum saja. Banyak orang sudah memujinya, tapi jarang ada yang tulus seperti pemuda di hadapannya saat ini.
Dua orang yang akan berduel ternyata saling memuji satu sama lain, bukankah hal ini sangat menarik?
###
Waktu terus berjalan merangkak perlahan. Senja telah tiba. Cahaya kemerahan menyapu alam mayapada. Rumput yang hijau tampak memerah karena sinar itu. Bau harum bunga mekar menyatu dengan alam.
Lima tokoh kelas atas dunia persilatan sudah berdiam di dekat pusara Pendekar Pedang Kesetanan. Sebentar lagi waktu yang dinantikan akan tiba.
Satu buah peti mati ada di belakang orang-orang itu. Peti mati yang hitam mengkilap, peti mati lain daripada yang lain.
Pendekar Tanpa Nama dan Raja Tombak Emas dari Utara sudah berhadapan satu sama lain. Keduanya masih berdiri dengan tenang. Namun meskipun begitu, masing-masing senjata kebanggaannya sudah digenggam di tangan mereka.
"Tadinya aku ingin menggunakan Pedang Haus Darah untuk berduel nanti, sayang sekali, pedang itu telah lenyap dibawa lari seseorang," ucap Pendekar Tanpa Nama mengawali pembicaraan untuk menjelaskan.
"Kau tidak usah khawatir. Aku sudah mendengar berita itu pula, aku tidak menyalahkanmu," jawab Raja Tombak Emas.
"Oleh sebab itulah, terpaksa aku harus menggunakan pedangku sendiri,"
"Tidak masalah. Pedang apapun kalau sudah di tanganmu akan sama. Apalagi pedangmu tentu lebih baik daripada milik sahabatku. Untuk hal ini aku merasa beruntung, pada akhirnya aku bisa melihat kehebatan Pedang Naga dan Harimau milik Pendekar Tanpa Nama. Tapi di sisi lain, aku juga memohon kepadamu agar kau sudi mencari Pedang Haus Darah,"
"Terimakasih, hal itu sudah pasti akan aku usahakan sebisa mungkin. Kalau begitu, mari kita mulai," ucap Pendekar Tanpa Nama mengakhiri bicaranya.
Raja Tombak Emas mengangguk sekali. Dia langsung mengambil posisi kuda-kuda. Tombak emas kebanggaannya digenggam semakin kencang lagi. Cahaya emas tipis menyelimuti seluruh batang tombak. Sepertinya kakek tua itu langsung mengerahkan seluruh kekuatannya.
Tuan Santeno si Tangan Tanpa Belas Kasihan, Sian-li Bwee Hua dan Bidadari Tak Bersayap berdiri tegang. Mereka menahan nafas untuk sesaat.
Walaupun pertarungannya belum terjadi, tapi hawanya sudah terasa.
Hawa pembunuhan menyelimuti tempat di sekitar pusara Pendekar Pedang Kesetanan. Hawa kematian terasa amat kental.
Pedang Naga dan Harimau memancarkan cahaya kemerahan.
Dua pusaka kelas atas memperlihatkan pamornya. Masing-masing pemiliknya juga sudah mengeluarkan seluruh kekuatannya.
__ADS_1
Waktu terasa berhenti. Seolah-olah dunia tidak berputar lagi.
Daun kering berwarna kuning di pinggir sungai gugur terbawa angin. Daun tersebut jatuh ke permukaan air lalu terbawa arus yang lumayan deras.
Wushh!!! Wushh!!!
Bayangan merah dan bayangan hitam melesat secara bersamaan. Kecepatan mereka melebihi sambaran kilat di tengah malam. Sinar merah dan sinar emas beradu. Dentingan nyaring untuk yang pertama kalinya terdengar.
Duel istimewa akhirnya dimulai. Pertarungan penentuan hidup dan mati telah digelar.
Raja Tombak Emas dari Utara tidak mau main-main. Dia langsung berlaku serius.
Benturan pedang dan tombak terus terjadi. Cahaya emas dan merah bersatu padu seperti dua ekor naga yang saling lilit. Bentakan demi bentakan terdengar keluar dari mulut keduanya.
Seumur hidupnya, baru kali ini saja Raja Tombak Emas merasa puas karena dia akhirnya dapat menemukan lawan setimpal. Perlu diketahui, sepulang dari Perguruan Tunggal Sadewo dulu, kakek tua itu sebenarnya menggembleng kembali dirinya sendiri.
Dia berlatih tombak lebih keras daripada waktu dulu. Hal itu dimaksudkan agar kemampuannya meningkat pesat. Sebab menurut perhitungannya, kemampuan Pendekar Tanpa Nama kelak bakal melebihi semua pendekar lainnya.
Dan kenyataan itu terbukti sekarang. Pemuda tersebut benar-benar jauh lebih hebat. Kemampuannya memainkan pedang jauh lebih dahsyat daripada waktu dulu.
Pendekar Tanpa Nama juga merasakan hal yang sama. Duel istimewa ini mengingatkan dirinya kepada pertarungan pada saat melawan anggota Organisasi Naga Terbang.
Kalau saja dia tidak mendapatkan kekuatan peleburan dari semua jurusnya dan kekuatan tambahan dari air rebusan ginseng seribu tahun, niscaya, tidak sampai lima belas jurus, dapat dipastikan kalau dirinya saat ini sudah berubah menjadi mayat.
Alasannya tentu karena jurus Raja Tombak dari Utara sudah jauh lebih hebat. Semua jurus yang dia keluarkan sudah sangat sempurna. Cakra Buana yakin, Tuan Santeno sendiri belum tentu sanggup untuk mengalahkannya.
Trangg!!!
Pedang dan tombak terbentur sangat keras. Percikan api membumbung tinggi ke udara lalu lenyap terbawa hembusan angin. Dua sosok pendekar terdorong mundur beberapa langkah ke belakang.
Mereka terengah-engah. Namun walaupun begitu, mulut keduanya tampak tersenyum.
Wushh!!!
Dua bayangan melesat jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Keduanya sudah berniat untuk mengakhiri duel ini. Raja Tombak Emas segera mengeluarkan jurusnya yang paling dahsyat.
"Tombak Emas Meruntuhkan Langit …"
__ADS_1
Cahaya emas menyelimuti alam semesta. Langit dan bumi berubah warna menjadi keemasan. Mata tombak yang hanya satu batang itu mendadak berubah menjadi ribuan banyaknya.
Segala tempat telah terkepung rapat. Sedikitpun tidak ada celah bagi Pendekar Tanpa Nama untuk meloloskan diri.
Pada saat itulah perubahan yang sangat diluar dugaan telah terjadi.
Pedang Naga dan Harimau mendadak lenyap dari pandangan mata semua orang. Bentuk pedang menghilang begitu saja. Yang ada tinggal cahaya merah lalu segera menutupi cahaya keemasan tadi.
Semuanya berjalan sangat cepat dan singkat.
Wutt!!!
Slebb!!!
Semuanya langsung berhenti. Dunia terasa berhenti berputar. Waktu juga seperti diam. Angin menghilang. Suara burung yang tadi ramai, sekarang lari entah ke mana.
Pertarungan dahsyat itupun sudah usai. Sosok dua pendekar yang tadi lenyap sekarang sudah terlihat lagi.
Senjata pusaka milik Raja Tombak Emas dari Utara telah menusuk dan menggoreskan luka di leher Pendekar Tanpa Nama. Tapi Pedang Naga dan Harimau miliknya malah sudah melesak masuk ke jantung kakek tua itu hingga tembus ke belakang.
Darah mengucur membasahi batang pedang hingga ke pangkalnya. Jarak tubuh keduanya sangat berdekatan.
Semuanya terjadi hanya dalam waktu singkat. Siapapun tidak akan ada yang dapat menggambarkannya dengan jelas.
Tuan Santeno terpaku di tempatnya berdiri. Dia tidak habis pikir bagaimana pemuda itu dapat menusukkan pedangnya ke jantung lawan.
Pelan-pelan Pendekar Tanpa Nama mencabut kembali senjatanya. Tombak lawan juga sudah ditarik.
"Ju-jurus yang hebat. Jurus apakah itu?" tanya Raja Tombak Emas dari Utara dengan susah payah.
"Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk. Jurus pedang intisari dari Kitab 3 Ilmu Pedang Kilat," jawabnya bangga.
"Ju-jurus yang luar biasa. Akhirnya kau bisa mencapai tingkat tertinggi dalam ilmu pedang. A-aku sangat senang karena bisa tewas di bawah Ju-jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk …"
Raja Tombak Emas dari Utara langsung batuk darah. Luka di dadanya semakin terasa sakit. Sekujur badannya lemas. Tombak emasnya jatuh. Berbarengan dengan itu, tubuhnya juga ikut jatuh.
Nyawa Raja Tombak Emas dari Utara telah melayang bersamaan dengan jatuhnya senjata kebanggaannya.
__ADS_1