
Gggrrr!!! Gelegar!!!
Tanah berguncang dengan hebat. Seluruh keadaan di sana mendadak berubah. Jeritan kematian terdengar sangat kompak. Seluruh lawan Cakra Buana tewas saat itu juga.
Jika Jurus Tanpa Bentuk sudah keluar, adakah manusia yang mampu menahan kedahsyatannya?
Lima puluh manusia telah terkapar tanpa nyawa.
Seorang pemuda berdiri di tengah mayat yang bergelimang itu. Tubuhnya tegak dan kokoh. Sebatang pedang yang membawa hawa kematian pekat masih digenggam erat di tangan kanannya. Darah segar masih menetes di ujung pedang itu.
Suara tawa menggema di tengah udara. Suara itu dibarengi dengan tenaga dalam sehingga membuat seisi halaman sedikit bergetar. Dedaunan kering berjatuhan ke bawah.
"Hebat, hebat. Nama Pendekar Tanpa Nama ternyata benar-benar sesuai dengan kemampuannya. Baru kali ini aku melihat ada pendekar setangguh dirimu. Sayangnya kau telah melakukan satu kesalahan besar,"
Cakra Buana masih diam. Mulutnya diam seribu bahasa.
"Semua ini hanya permulaan saja. Asal kau tahu, sepanjang berdirinya Perkampungan Kong We, tidak pernah ada seorang pun penyusup yang dapat selamat setelah memasukinya. Siapapun yang berani membuat kekacauan di wilayah kekuasaanku, orang itu pasti tidak akan bisa kembali hidup-hidup,"
Suara tawa kembali terdengar menggelegar memenuhi cakrawala. Suara tawa lainnya menyusul kembali.
Angin tajam berhembus menerbangkan segala yang ada. Secara tiba-tiba, di depan Cakra Buana telah berdiri enam orang tak dikenal.
Yang paling depan memiiki postur tubuh tinggi dan sedikir gemuk. Kulitnya putih, matanya sipit. Usianya sekitar empat puluhan tahun. Pakaiannya sangat mewah, warnanya biru tua, dia memakai tiga kalung emas yang mahal.
Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Kong We si Tuan tanah sendiri. Di punggungnya ada tombak yang dibungkus dengan kain berwarna putih.
Di belakangnya ada orang dengan penampilan yang berbeda. Yang tiga memakai baju longgar seperti para biksu agama budha. Dua orang lainnya memakai pakaian berwarna merah dan kuning. Yang satu bersenjatakan seruling, satu lagi bersenjatakan trisula.
Semuanya laki-laki yang telah berusia tua. Di lihat sekilas saja siapapun dapat menebak bahwa mereka mempunyai kekuatan yang tidak rendah.
Kelima orang tersebut sudah siap untuk bertarung hidup dan mati dengan Pendekar Tanpa Nama. Wajahnya menampakkan kekejaman. Hawa pembunuhan yang keluar dari tubuh kelima orang itu terasa pekat.
"Kau tahu siapa mereka?" tanya Kong We si Tuan tanah kepada Cakra Buana.
Pemuda itu menggelengkan kepalanya perlahan. Matanya masih menatap tajam orang-orang tersebut.
"Tiga orang ini adalah para biksu. Mereka Tiga Biksu Iblis Neraka, yang ini adalah Dua Setan Tidak Mengenal Ampun,"
"Oh," jawab Cakra Buana sangat singkat.
__ADS_1
"Kau tidak terkejut mendengar nama mereka?"
"Untuk apa terkejut? Aku tidak mengenal mereka sama sekali. Bahkan mendengar namanya saja baru kali ini,"
Kelima ornag itu mendengus dingin. Tidak disangkanya ternyata lawan mereka tak pernah mendengar kebesaran namanya.
Tiga Biksu Iblis Neraka sangat terkenal di daerah Timur sana. Tidak ada yang tidak pernah mendengar namanya. Semua pendekar yang sudah malang melintang di dunia persilatan, pasti pernah mendengar tentang mereka.
Sepak terjangnya sangat kejam. Bahkan mungkin melebihi para iblis sendiri. Ketiga orang tua itu sebenarnya merupakan murid dari Siau Lim Pay, hanya saja mereka melakukan kesalahan. Sehingga perguruan Siau Lim Pay mengusirnya.
Setelah di usir dari perguruan, ketiganya memutuskan untuk bergabung dan menjadi pembunuh bayaran.
Tidak semua orang bisa menyewa mereka karena tarifnya sangat mahal. Hanya orang-orang seperti si Tuan tanah saja yang berani menarik ketiganya.
Sedangkan si Dua Setan Tidak Mengenal Ampun sangat terkenal di bagian Tenggara. Mereka juga pembunuh bayaran. Selama menjalankan tugasnya, belum pernah melakukan kesalahan sedikitpun. Jika tuan yang menyuruhnya menginginkan kepala calon korban, maka mereka akan benar-benar membawakannya.
Pokoknya pelanggan mereka tidak pernah merasa kecewa dengan hasil kerja orang itu.
Pendekar Tanpa Nama sudja menyiapkan tenaganya secara diam-diam. Dia tahu, pertarungan kali ini akan berjalan lebih dahsyat lagi.
Bahkan bakal lebih hebat dari pada pertarungannya dengan si Tubuh Pedang.
"Kami," jawab seorang di antara Dua Setan Tidak Mengenal Ampun.
"Silahkan,"
Wushh!! Wushh!!!
Dua bayangan mendadak melesat sangat cepat ke arah Pendekar Tanpa Nama. Keduanya langsung mencabut senjata mereka masing-masing. Satu seruling dan satu trisula berkilat di tengah malam.
Suara seruling mendadak terdengar. Suaranya sayup-sayup menggetarkan sukma. Pada awalnya suara tersebut mengalun merdu, nadanya seperti nada kerinduan. Tetapi sesaat kemudian, suara itu justru berubah menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan telinga.
Orang itu menyalurkan tenaga dalamnya lewat suara seruling. Melalui getaran nada sehingga jika si pendengar tidak memiliki pondasi yang kuat, bisa dipastikan telinganya akan mengucurkan darah segar.
Belum habis nada seruling itu, bayangan perak bergerak menusuk ke lehernya. Trisula milik lawan telah tiba di hadapan Pendekar Tanpa Nama.
Sebuah jurus dahsyat segera dikeluarkan oleh lawannya. Trisula itu mengubah arah sasarannya menjadi ke bagian jantung. Ujung trisula yang tajam sudah siap untuk merobek tubuh Cakra Buana.
Wutt!!! Wutt!!!
__ADS_1
Untungnya di saat senjata sakti itu melesat, tubuh Cakra Buana telah lebih dahulu menghindar sehingga dirinya selamat dari maut.
Suara serulint tadi tiba-tiba lenyap. Sekejap berikutnya, dari arah belakang, Cakra Buana merasakan ada hawa dingin menusuk tulang.
Trangg!!!
Pedangnya diangkat ke belakang sehingga membentur sebuah benda keras yang juga terbuat dari logam.
Ternyata orang tadi berniat untuk membokong Pendekar Tanpa Nama. Dia melancarkan sebuah totokan maut menggunakan seruling giok miliknya. Sayang sekali usahanya gagal, sehingga dia harus beradu tenaga dalam dengan Cakra Buana.
Trangg!!!
Api memercik ke tengah udara. Satu dari Dua Setan Tidak Mengenal Ampun terpental ke belakang.
Si setan trisula menyerang lebih dulu sebelum Pendekar Tanpa Nama menyerang kepada suadaranya. Trisula itu berputar, satu sinar merah meluncur keluar.
Blarr!!!
Tanah berlubang akibat tembakan sinar merah yang merupakan bentuk lain dari hawa sakti itu.
Cakra Buana berdiri sekejap. Detik berikutnya dia telah menghilang dari pandangan lawan.
Plakk!!!
Si setan trisula terpelanting ke samping kiri. Dia sama sekali tidak tahu bagaimana pemuda itu bisa tiba-tiba ada di sisinya. Rasa kaget dan rasa sakit bercampur menjadi satu. Bibirnya meringis menahan sakit karena iganya dihantam lawan.
Wushh!!!
Bukk!!! Bukk!!!
Cakra Buana melayangkan tiga kali pukulan keras ke tubuh lawan. Pukulan itu sangat cepat dan dahsyat sehingga si setan trisula terpental sepuluh langkah ke belakang.
Dia marah. Seluruh kekuatan yang dimilikinya dikeluarkan.
Sayangnya sebelumnya niatnya tersebut terkabul, sebuah sambaran angin dahsyat telah lebih dahulu menerjangnya. Debu mengepul menutupi pandangan mati.
Prakk!!!
Terdengar suara sesuatu yang pecah. Begitu debu menghilang, semua orang terkejut melihat kejadian yang baru saja terjadi itu.
__ADS_1