
Keadaan mendadak hening untuk sesaat. Setan Tombak Halilintar bersama satu rekannya masih mematung di tempatnya masing-masing.
Pendekar Tanpa Nama memandangi kedua tokoh tersebut dengan tatapan dingin. Jika dia sedang berhadapan dengan tokoh kelas atas seperti mereka berdua, pemuda itu memang selalu berlaku demikian.
Dia akan menatap lawan sedingin mungkin.
"Jurus yang hebat dan cepat," puji si Setan Tombak Halilintar.
"Memang, ternyata matamu sangat tajam," jawab Pendekar Tanpa Nama sengaja menyombongkan diri.
"Mataku bahkan lebih tajam dari mata elang,"
"Aku percaya,"
Cakra Buana memang percaya. Ketajaman mata Setan Tombak Halilintar tidak bisa dibandingkan dengan mata manusia. Mata itu sangat tajam seperti mata burung elang. Bahkan mungkin lebih tajam dari burung pemangsa itu sendiri.
"Sekarang aku yang akan menjadi lawanmu," ucap rekan Setan Tombak Halilintar yang berdiri di sampingnya.
Orang itu sudah cukup tua. Usianya mungkin hampir mencapai lima puluh tahunan, dia memakai pakaian warna abu-abu. Pakaiannya sudah lusuh. Rambut panjangnya juga kusut. Di punggungnya ada sepasang pedang kembar.
Sarungnya hitam. Gagangnya juga hitam. Siapapun sudah dapat menduga bahwa pedang itu adalah pedang pusaka kelas atas.
Dialah si Pedang Kembar Hitam.
Orang tua itu merupakan tokoh terkenal. Dia sangat terkenal dengan jurus pedang kembarnya yang jarang menemukan tandingan. Kecepatannya dalam memainkan pedang kembar sulit untuk dicari lawan yang seimbang. Ketepatannya saat menyerang sulit dicari yang setara dengannya.
Begitu ucapan tadi selesai dikatakan, si Pedang Kembar Hitam langsung bergerak menerjang ke depan. Kakinya menjejak ke tanah, sekali pijak, tubuhnya sudah meluncur deras hingga tiba di hadapan Pendekar Tanpa Nama.
Trangg!!!
Cakra Buana mengangkat Pedang Naga dan Harimau. Tiga batang senjata pusaka bertemu sehingga terjadi sebuah benturan dahsyat.
Si Pedang Kembar Hitam merasakan getaran hebat dari telapak tangan hingga ke pangkal lengannya. Dia merasakan ngilu dan sakit yang sulit dikatakan.
Wushh!!!
Pendekar Tanpa Nama mundur dua langkah untuk mengambil posisi. Setelah mendapatkan posisi itu, dia langsung menerjang kembali dengan ganas.
Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk kembali dikeluarkan dengan delapan bagian tenaga dalam.
__ADS_1
Jika sudah seperti ini, maka artinya Pendekar Tanpa Nama sudah tidak main-main lagi. Pemuda berjubah merah itu bergerak dengan sangat cepat.
Pedang Naga dan Harimau mendadak lenyap dari pandangan mata. Cahaya merah berkilat di tengah gelapnya malam.
Suara dentingan benda keras yang beradu kembali terdengar beberapa kali. Dua sosok pendekar terbungkus dalam sinar yang mereka ciptakan masing-masing.
Pusaran angin terbentuk karena besarnya gelombang yang mereka hasilkan dari pertarungannya.
Beberapa saat kemudian, cahaya merah mendadak lenyap. Bayangan abu-abu dan sinar hitam juga menghilang.
Semuanya kembali berhenti. Semuanya tampak seperti semula. Tapi dengan keadaan yang sudah jauh berbeda.
Senjata pusaka si Pedang Kembar Hitam terbelah menjadi dua bagian. Entah bagaimana Pendekar Tanpa Nama sanggup melakukan hal tersebut. Namun yang jelas, apa yang dilakukan oleh pemuda itu, tidak selalu bisa dilakukan oleh orang lain.
Sepasang pedang kembar tersebut terbelah tepat di tengah-tengahnya mulai dari ujung pedang hingga pangkal pedang.
Si Setan Tombak Halilintar tersentak kaget. Jika jantungnya tidak mempunyai urat-urat, mungkin jantung itu sudah jatuh ke tanah saking kagetnya. Seumur hidup, selama pengembaraan di dunia persilatan, bari sekarang dirinya menyaksikan ada seorang pendekar yang sanggup membelah senjata lawan dengan sangat-sangat rapi.
Kalau memotong senjata lawan mungkin sudah umum. Tapi jika membelah senjata merupakan kebalikannya. Kejadian itu adalah kejadian paling langka dari yang terlangka. Kejadian tersebut sudah tentu diluar perkiraan semua orang.
Pendekar Tanpa Nama masih berdiri dengan tenang. Pedang Naga dan Harimau masih digenggam dengan erat. Dari ujung pedang, masih menetes darah segar lawan.
Tenggorokannya telah ditembus oleh pedang pusaka milik Pendekar Tanpa Nama.
Sesaat kemudian, tokoh kelas atas itu ambruk ke tanah. Dia benar-benar tewas.
Setan Tombak Halilintar terpaku. Kejadian yang sekarang ternyata tidak bisa di lihat olehnya dengan jelas. Dia tidak tahu apa-apa. Yang dia tahu hanya ada gulungan sinar yang menyatu. Selanjutnya, dia hanya menyaksikan kejadian yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidupnya.
Dugaan bahwa pemuda itu bisa dikalahkan ternyata keliru besar. Yang terjadi justru sebaliknya, kini semua rekan Setan Tombak Halilintar telah bertemu dengan Raja Akhirat.
"Ternyata aku telah keliru menilaimu," ucap Setan Tombak Halilintar.
"Kau memang sudah keliru besar,"
"Sekarang aku percaya bahwa kemampuanmu memang di atas rata-rata,"
"Terlambat. Percaya tidak percaya, kau tetap harus percaya. Karena berikutnya, giliranmu akan tiba," tegas Pendekar Tanpa Nama.
"Aku justru menunggu saat itu,"
__ADS_1
"Baiklah. Sekarang aku tidak akan membuatmu menunggu lagi,"
Wushh!!!
Pendekar Tanpa Nama melesat cepat. Dia menyerang lebih dulu ke arah Setan Tombak Halilintar.
Pedang Naga dan Harimau kembali lenyap dari pandangan mata. Pedang itu menyatu dalam kegelapan. Pedang pusaka tersebut menyatu dengan kematian.
Setan Tombak Halilintar sedikit terkejut saat melihat serangan musuhnya yang ternyata berbeda dari sebelumnya. Serangan kali ini jauh lebih cepat, lebih dahsyat dan lebih berbahaya.
Trangg!!! Trangg!!!
Benturan dua senjata pusaka terjadi untuk beberapa kali. Setan Tombak Halilintar mengambil langkah mundur. Setelah itu dia segera melancarkan serangan balasan.
Tombaknya menusuk dengan sangat cepat. Sinar hitam melesat secara mengerikan. Serangan ini serangan hebat. Sebab jurusnya juga jurus yang sangat dahsyat.
Jurus Menusuk Rembulan Menanti Cahaya Terang telah dikeluarkan.
Jika Setan Tombak Halilintar sudah mengeluarkan jurus tersebut, itu artinya dia sudah bertarung dengan sangat serius.
Cahaya hitam dan cahaya merah menyatu dalam kegelapan. Bayangan merah dan bayangan abu-abu terus melesat ke sana kemari tanpa henti.
Slebb!!!
Semuanya berhenti. Sinar hitam menghilang. Sinar merah juga tidak nampak lagi.
Darah menyembur deras. Mulut si Setan Tombak Halilintar telah dipenuhi oleh darah segar itu.
Jantungnya tertusuk dengan telak dan sangat dalam. Saat Pendekar Tanpa Nama mencabut senjatanya, saat itu juga si Setan Tombak Halilintar menghembuskan nafas terakhir.
Sekarang tempat tersebut telah dipenuhi oleh puluhan manusia tanpa nyawa. Darah segar membanjiri seluruh bekas arena pertarungan. Bau amis darah mulai tercium menusuk hidung Pendekar Tanpa Nama.
Puluhan tokoh itu tewas ditangan seorang pendekar muda dari Tanah Pasundan. Jika kejadian sekarang ada yang menyaksikannya, sudah pasti kabar beritanya akan cepat tersebar ke seluruh penjuru.
Pendekar Tanpa Nama menjejakkan kakinya ke tanah. Dia langsung pergi dari sana tanpa menguburkan lebih dulu puluhan mayat tersebut.
Ilmu meringankan tubuh Pendekar Tanpa Nama sudah hampir mencapai tahap sempurna. Karena itulah, hanya sesaat saja dirinya sudah tidak terlihat lagi.
Burung pemakan bangkai telah berputar-putar mengelilingi puluhan mayat tersebut. Tinggal menunggu beberapa saat, dipastikan kawanan burung pemakan bangkai itu pasti turun menyambar mangsa.
__ADS_1