Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Tokoh Lihai


__ADS_3

Sebelas Setan Hijau merasa sakit di bagian tubuh yang terkena hantaman telapak tangan Pendekar Tanpa Nama barusan. Mereka melihat bahwa hantaman itu amat pelan. Bahkan seperti tidak menggunakan tenaga sama sekali.


Tak nyana, akibatnya justru malah begitu mengerikan. Hati sebelas perampok yang mengaku ulung itu langsung ciut seketika. Mereka baru sadar telah salah memilih calon korbannya.


Pemimpin Sebelas Setan Hijau benar-benar dibuat ketakutan. Sekarang dia yakin bahwa pemuda di hadapannya ini merupakan tokoh kelas atas. Bukan katanya lagi, tapi malah faktanya. Sebab baru saja dia juga telah merasakannya sendiri.


Kalau hanya sekali hantaman pelan saja bisa membuat anggota mereka kesakitan, lantas bagaimana kalau hantaman itu keras?


Dia tidak sanggup membayangkan hal itu. Lebih tepat lagi, dirinya tidak bisa membayangkannya.


Tiba-tiba dia merangkak ke hadapan Pendekar Tanpa Nama. Sambil terbungkuk-bungkuk dirinya meminta ampunan.


"Gunung Tilu Dewa amat tangguh, tapi mataku lapur sehingga tidak dapat melihatnya dengan jelas (perumpamaan). Hamba mohon pengampunanmu Kisanak …" katanya dengan kepala tertunduk.


"Pergilah dan jangan kembali lagi. Kalau suatu saat nanti bertemu denganku dan kalian masih seperti ini, jangan harap bakal mendapat pengampunanku lagi. Ambil keping emas itu untuk modal usaha," ucap Cakra Buana sambil membalikkan badannya ke belakang. Dia langsung beranjak masuk kembali ke dalam goa.


Sebelas Setan Hijau merasa amat girang. Tanpa banyak berkata lagi, orang-orang itu langsung beranjak pergi dari sana.


Tapi belum sampai Cakra Buana ke tempat di mana dua kekasihnya tidur, telinganya yang tajam kembali mendengar suara.


Bukan suara langkah kaki. Melainkan suara jeritan kematian. Jeritan dari Sebelas Setan Hijau.


Tubuhnya melesat sangat cepat keluar goa. Dia memburu ke arah suara. Begitu tiba di sana, tebakannya ternyata benar.


Sebelas Setan Hijau yang baru saja mendapat ampunan darinya, kini telah terkapar tanpa nyawa. Darah segar masih mengalir dari luka di tubuh orang-orang itu. Luka yang sama.


Luka sebuah sabetan pedang.


Pendekar Tanpa Nama berjongkok untuk memeriksa mayat sebelas perampok tersebut. Dia mengerutkan kening. Tapi tidak ada kata yang terucap. Cakra Buana hanya mampu menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kenapa Kakang?"


Baru saja dirinya bangkit dan ingin kembali, di lihatnya Sian-li Bwee Hua dan Bidadari Tak Bersayap telah berdiri di belakangnya.


"Sebelas Setan Hijau yang baru saja berniat merampok kita telah mati," jawab Pendekar Tanpa Nama.


"Siapa yang membunuhnya?" tanya Bidadari Tak Bersayap.

__ADS_1


"Aku sendiri tidak tahu. Begitu tiba di sini, mereka semua keburu tewas,"


Di lain sisi, Sian-li Bwee Hua melangkah mendekati mayat itu. Dia mendekati satu mayat Sebelas Setan Hijau lalu jongkok kemudian memeriksanya. Persis seperti apa yang dilakukan oleh Pendekar Tanpa Nama barusan.


"Kau sudah bicara dengan mereka?" tanya Cakra Buana.


"Sudah,"


"Apa yang dibicarakan oleh mayat itu?"


"Seorang tokoh lihai telah membunuhnya dalam waktu yang sangat-sangat singkat. Cara dia membunuh Sebelas Setan Hijau sungguh keji, tapi juga sangat hebat. Luka tebasannya kecil, tapi dia membunuh tepat di bagian tubuh yang mematikan," tetang Sian-li Bwee Hua.


"Dia menggunakan pedang, atau golok?" tanya Pendekar Tanpa Nama lebih lanjut.


"Pedang,"


Sementara itu, Bidadari Tak Bersayap tampak kebingungan. Meskipun dia cukup pintar, tapi kalau dalam hal memecahkan suatu masalah seperti ini, dirinya masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Sian-li Bwee Hua.


Apalagi kalai diingat kembali, Sian-li Bwee Hua adalah tokoh pilih tanding di negerinya sendiri. Jangan lupa, dia bekas pemimpin Organisasi Naga Terbang.


"Memangnya mayat bisa diajak bicara?" tanyanya kebingungan.


"Cara bagaimana dia bicara?"


"Dengan jejak. Tubuhnya bicara. Lukanya juga bicara,"


Bidadari Tak Bersayap menganggukkan kepalanya. Meskipun dia masih bingung, tapi sedikit banyak dia pun sudah mulai mengerti.


"Lantas bagaimana Rai bisa tahu kalau orang itu membunuh menggunakan pedang?"


"Karena luka tebasannya rapat. Kalau orang itu membunuh dengan golok, pasti lukanya tidak serapat itu," kata Sian-li Bwee Hua menjelaskan.


Bidadari Tak Bersayap akhirnya mengerti. Diam-diam gadis itu memuji ketajaman mata dan ketelitian Sian-li Bwee Hua dalam cara kerjanya.


"Rai sungguh hebat," pujinya.


"Nyimas terlalu memuji," kata Sian-li Bwee Hua agak malu.

__ADS_1


Pendekar Tanpa Nama hanya tersenyum menanggapi pembicaraan dua orang kekasihnya tersebut. Suasana di sana segera diliputi oleh hawa mencekam. Hutan menjadi sunyi. Suara binatang tidak terdengar lagi. Entah ke mana perginya mereka.


Apakah binatang-binatang itu lari terbirit-birit karena ketakutan melihat apa yang baru saja dilakukan oleh manusia? Ataukah karena dia pun tidak ingin menjadi korban berikutnya?


"Pembunuhnya pasti satu orang," desis Sian-li Bwee Hua.


"Tepat, pasti satu orang. Tapi siapa?" Pendekar Tanpa Nama berpikir lebih serius lagi. Tapi dia tidak menemukan jawabannya.


"Sinta, apakah kau tahu siapa pendekar pedang terlihai di Tanah Pasundan?" tanya Cakra Buana setelah menyerah dalam mencari tahu siapa pelakunya.


"Pendekar pedang yang lihai di negeri kita ini sangat banyak Kakang. Aku sendiri tidak tahu secara pasti,"


"Hemm …" Pendekar Tanpa Nama hanya mendehem. Masalah yang sekarang mereka hadapi sangat rumit.


"Di balik ini pasti ada tujuan lainnya lagi," kata Sian-li Bwee Hua.


"Pasti ada. Mungkinkah ini merupakan suatu peringatan bagi kita?" Bidadari Tak Bersayap angkat bicara pula.


"Tepat. Memang ini merupakan peringatan bagi kita bertiga. Tidak mungkin orang itu membunuh tanpa alasan kuat. Tapi … kenapa dia memberi peringatan kepada kita? Padahal kita tidak melakukan apa-apa," ujar Pendekar Tanpa Nama masih bingung.


"Apapun alasannya, hal ini tidak bisa kita jawab sekarang. Lebih tepatnya, kita tidak dapat menyimpulkan kalau belum menemukan bukti-bukti yang kuat. Hemm, sepertinya sesuatu yang besar benar-benar telah terjadi," sambung Sian-li Bwee Hua.


Ketiganya segera terdiam. Masing-masing dari mereka sedang bergelut dengan pikirannya masing-masing. Kejadian tengah malam ini benar-benar penuh misteri. Juga penuh tantangan.


Apakah itu artinya petualangan yang penuh darah akan dimulai kembali? Apakah ini akan menjadi awal perjalanan mereka dalam menjunjung tinggi keadilan?


"Kita harus pergi sekarang," kata Sian-li Bwee Hua dengan serius. Gadis itu sepertinya menyadari sesuatu yang penting.


"Kenapa tidak besok saja kita pergi dari sini?" tanya Bidadari Tak Bersayap.


"Tidak bisa. Kita harus pergi sekarang Sinta. Aku yakin, masih ada peringatan lain yang diberikan oleh orang itu," sambung Pendekar Tanpa Nama.


Sian-li Bwee Hua mengangguk. Ternyata kekasihnya satu pemikiran dengan dirinya.


"Baiklah kalau begitu. Mari,"


Tiga orang itu segera melesat pergi dari sana. Tapi sebelum turun gunung, ketiganya sempat kembali ke goa untuk mengambil barang-barang. Setelah itu, tiga pasangan tersebut segera berlalu pergi ke bawah.

__ADS_1


Wushh!!! Wushh!!! Wushh!!!


Tiga bayangan manusia melesat secepat kilat di bawah gelapnya malam. Baru beberapa helaan nafas saja, bayangan tubuh ketiganya sudah tidak terlihat oleh mata.


__ADS_2