Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Melepas Kerinduan


__ADS_3

Huang Pangcu membalas pelukan cucu kesayangannya itu. Dia tersenyum, senyuman yang membayangkan sejuta kerinduan. Walaupun mereka tidak bertemu baru beberapa bulan, namun rasanya sudah setahun lamanya.


Mei Lan juga merindukan Huang Pangcu. Tapi kakek tua itu lebih merindukannya lagi. Dia rindu akan sifat manja cucunya, rindu akan tarikan janggutnya, dia rindu Mei Lan segalanya.


Selama ini, Huang Pangcu telah merawat dan menyayanginya sepenuh hati. Hubungan antara keduanya sudah bukan seperti kakek dan cucu. Melainkan sudah seperti orang tua dan anak.


Orang tua dan anak adalah hubungan paling dekat dan paling erat. Selain hubungan itu, memangnya ada lagi hubungan yang lebih dekat daripadanya?


"Bagaimana mungkin Yaya tidak datang? Yaya sudah sangat merindukanmu, walaupun badai menghadang, Yaya akan tetap berusaha datang kemari hanya karena ingin bertemu denganmu," kata Huang Pangcu sambil mencubit hidung Mei Lan.


Gadis itu tersenyum. Dia amat bahagia. Selama ini, hanya Huang Pangcu saja yang dapat mengerti tentangnya. Selama ini pula, hanya kakek tua itu saja yang selalu ada di sisinya.


Mei Lan menambah erat pelukannya. Dia tidak malu di lihat banyak orang. Sekalipun ada sebagian orang yang mencibirnya, gadis itu tetap tidak akan malu.


'Sekarang cucuku sudah bertambah dewasa, kau juga semakin cantik. Makin dewasa, ternyata kau makin mirip dengan ibumu. Andai dia masih ada, sudah pasti dirinya akan bahagia melihat anak gadisnya sudah sebesar ini,' batin Huang Pangcu sambil mengelus-elus kepala Mei Lan yang sekarang sedang bersandar di pundaknya.


Sepasang mata yang sudah tua itu menatap jauh ke depan. Kesedihan dan penderitaan hidup terbayang sangat jelas di bola matanya. Huang Pangcu menghela nafas. Helaannya nafasnya sedikit, tapi penderitaan hidupnya sangat banyak.


Apakah semua manusia mengalami penderitaan hidup tersendiri? Apakah setiap manusia mengalami hal tersebut?


Huang Pangcu bersama Mei Lan dan Cakra Buana kemudian duduk kembali di atas batu hitam itu. Ketiganya duduk berhadapan satu sama lainnya.


Semilir angin dingin musim semi terasa sangat menyegarkan. Seluruh jiwa dan raga telah dibuat terbuai oleh perasaan nyaman yang disediakan alam.


Sebelum Huang Pangcu bicara, Cakra Buana si Pendekar Tanpa Nama telah bicara lebih dulu.


"Tunggu sebentar, aku akan pergi dulu," ujarnya tanpa basa-basi.


Baru saja perkataannya selesai, tubuhnya telah melayang lima enam tombak jauhnya. Hanya sesaat, Cakra Buana telah menghilang dari pandangan mata keduanya.


Huang Pangcu tertegun. Kakek tua itu semakin kagum kepada pemuda Tanah Pasundan tersebut. Beberapa bulan lalu, dirinya sangat tahu bahwa ilmu meringankan tubuh Cakra Buana tidak setinggi itu.

__ADS_1


Siapa sangka, ternyata beberapa bulan kemudian, kemampuannya sudah naik beberapa kali lipat. Tanpa sadar dia menghela nafas kembali. Wajahnya menggambarkan kebingungan dan kegembiraan.


"Apakah selama ini dia baik kepadamu?" tanya Huang Pangcu kepada Mei Lan dengan penuh kasih sayang.


"Dia sangat baik kepadaku Yaya,"


"Selama mengembara bersama, apakah dia pernah melakukan hal-hal kurang ajar kepadamu?"


"Tidak pernah,"


"Sedikitpun tidak?"


"Tidak sama sekali,"


Huang Pangcu memandangi Mei Lan dengan tatapan penuh selidik. Dia tahu kalau cucunya tidak berani berbohong kepadanya. Setiap apa yang dia ucapkan, orang tua itu yakin bahwa cucunya selalu jujur. Dan memang kenyataannya seperti itu. Selama ini, Mei Lan diajarkan untuk selalu jujur kepada siapapun. Terlebih lagi kepada Huang Pangcu sendiri.


Meskipun kakek tua itu yakin kepada cucunya, tapi dia tidak sepenuhnya yakin kepada Cakra Buana. Bicara masalah wanita, ketua perkumpulan Kay Pang Pek itu memang tidak terlalu percaya kepada Pendekar Tanpa Nama.


"Coba kau ingat-ingat kembali, barangkali kau lupa. Mungkin saja dia pernah melakukan sesuatu hal yang tidak sopan kepadamu," ucap Huang Pangcu dengan suara lemah lembut.


Untuk membuat seseorang jujur, terkadang kita dipaksa harus bersikap dan bicara sebaik serta selembut mungkin. Apalagi terhadap wanita. Kebetulan pula, cucunya seorang wanita. Wanita yang cantik jelita.


"Tidak pernah Yaya. Aku ingat semuanya, dia tidak pernah melakukan apapun. Jangankan melakukan perbuatan tak senonoh, bahkan membentak atau bicara kasar kepadaku pun rasanya tidak pernah," tegas Mei Lan kepada Huang Pangcu.


Gadis itu tahu alasan kenapa kakeknya berkata demikian. Dia tidak menyalahkannya, sama sekali tidak. Mei Lan hanya menyayangkan, kenapa kakeknya tidak langsung percaya terhadap semua ucapannya?


Apakah sekarang dia sudah dianggap berbeda, tidak seperti dahulu? Atau memang kakeknya sudah tidak percaya terhadap setiap ucapannya?


"Baguslah. Yaya senang mendengarnya. Kau jangan salah menilai, Yaya bukan tidak percaya lagi kepadamu atau apapun itu, Yaya bertanya sedemikian jauhnya karena Yaya tahu, bagaimanakah watak pemuda itu terhadap perempuan. Apalagi perempuan cantik sepertimu," kata Huang Pangcu seolah mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh cucunya tersebut.


Mei Lan tidak menjawab. Dia tidak bicara apapun. Setelah mendengar penjelasan barusan, gadis itu baru mengerti sepenuhnya.

__ADS_1


"Setelah belakangan ini selalu bersama, apa saja yang kau dapatkan?" tanya kakek tua itu kembali.


"Banyak sekali. Aku mendapatkan banyak pelajaran hidup, aku mengerti tentang kenyataan hidup, aku juga mengerti bagaimana menjalani hidup,"


"Selain itu?"


"Selain itu, Mei Lan juga mendapat pelajaran bagaimana caranya bahagia di dalam penderitaan,"


Bahagia di dalam penderitaan, apa yang dimaksud oleh perkataan tersebut? Benarkah ada manusia yang bisa bahagia dalam penderitaan? Kalau memang ada dan bisa, bagaimana cara melakukannya?


"Bagus. Berarti dia benar-benar menjalankan semua tugas dari Yaya," ucap Huang Pangcu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Tugas? Yaya memberikan tugas apa kepadanya?"


"Kau tidak akan mengerti. Selamanya kau tidak akan tahu,"


Mei Lan langsung membukam mulut, kalau kakeknya memutuskan tidak akan memberitahu, maka sampai kapanpun dia tidak akan memberitahu.


Pada saat keduanya melanjutkan pembicaraan, mendadak ada seorang kerdil yang menghampirinya. Orang itu memakai pakaian ketat, warnanya hijau muda, mukanya tampak lucu. Lebih-lebih lagi anggota tubuhnya yang lain.


Orang tersebut berjalan semakin mendekat ke arah Huang Pangcu dan Mei Lan.


"Ada titipan dari seorang kawan Huang Pangcu, dia ingin memberikan arak dari Kanglam ini sebagai tanda persahabatan. Dan juga, dia memberikan teh hijau ini untuk Nona Huang sebagai tanda perkenalan," ujar si kerdil sambil menjulurkan kedua tangannya memberikan arak dan teh hijau.


Mei Lan masih terbilang polos, begitu si kerdil menyodorkan dua macam guci itu kepadanya, dia lantas menerimanya begitu saja.


"Terimakasih," jawabnya lembut sambil tersenyum pula.


Mei Lan segera membuka tutup guci tersebut. Dia lantas berniat untuk segera meminumnya, sedangkan si kerdil masih menunggu di depannya.


Wuttt!!! Pyarrr!!!

__ADS_1


Guci arak di tangan Huang Pangcu dan Mei Lan mendadak hancur berkeping-keping. Arak dan teh hijau yang ada dalam guci langsung jatuh menimpa batu hitam tempat mereka berdiri.


__ADS_2