Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Duel Istimewa


__ADS_3

Seorang pria berpakaian serba hitam baru saja keluar dari kedai makan. Orang itu usianya sudah sangat tua. Rambutnya panjang. Perawakannya meskipun terbilang kurus, tapi kegagahan dan ketampanan waktu masa mudanya masih bisa terlihat dengan jelas. Sorot matanya masih tajam. Seolah-olah tatapan matanya mampu menembus apapun yang dia lihat.


Dia berjalan dengan santai. Setiap orang yang melihat dirinya pasti membungkuk menaruh hormat. Para warga selalu tersenyum ramah saat berpapasan dengannya.


Di punggung orang tua itu ada sebatang senjata pusaka yang dibungkus dengan kain berwarna merah. Merah pekat. Merah darah.


Meskipun tidak ada yang dapat melihat bentuk pusakanya, tapi setiap orang tahu bahwa itu pasti pusaka tingkat tinggi. Sebuah senjata pusaka yang pernah menggetarkan dunia persilatan Tanah Jawa.


Sebatang tombak. Ujung mata tombak berwarna emas.


Memang itulah tombak emas. Siapapun bakal tahu siapa pemiliknya. Kecuali Raja Tombak Emas dari Utara, rasanya tiada lagi orang lain yang memiliki pusaka seperti itu.


Meskipun Raja Tombak Emas dari Utara berjalan santai, namun ternyata baru sekejap saja dia sudah jauh dari kedai makan tadi. Sekarang kakek tua itu sedang berlari menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang telah mencapai tahap sempurna.


Kakek tua tersebut mempunyai janji. Dia sudah berjanji akan datang ke Perguruan Tunggal Sadewo sebelum matahari di atas kepala.


Meskipun saat ini matahari baru sepenggalah, tapi selamanya dia tidak mau terlambat. Baginya, datang lebih awal jauh lebih baik daripada datang terlalu lama. Selamanya dia tidak suka dibuat menunggu, oleh sebab itulah dirinya juga tidak mau membuat orang lain menunggu.


Bayangan hitam melesat di antara kerumunan warga. Kecepatannya seperti angin. Tiada seorangpun yang dapat melihatnya dengan jelas.


###


Di pendopo itu Pendekar Tanpa Nama dan yang lainnya masih menunggu dengan sabar. Tidak ada yang ragu di antara mereka, sebab semuanya tahu betul bagaimanakah sifat asli Raja Tombak Emas dari Utara.


"Dia datang," kata Pendekar Tanpa Nama sambil bangkit dari duduknya.


"Dia siapa, Kakang?" tanya Sian-li Bwee Hua.


"Raja Tombak Emas dari Utara …"


"Di mana dia?" tanya Bidadari Tak Bersayap ikut nimbrung.


Pendekar Tanpa Nama tidak memberikan jawaban dengan mulut. Tapi pemuda itu segera menengadah ke atas genteng. Tiga orang yang bersamanya juga melakukan hal yang sama.


"Hahaha, tajam betul telingamu,"

__ADS_1


Seseorang tertawa lantang. Kemudian hanya dengan gerakan sederhana, orang itu langsung melompat lalu turun di depan Tuan Santeno dan tiga orang lainnya.


Ternyata benar, sang datuk dunia persilatan dari Utara telah datang. Dia mengulum senyum hangat. Senyuman khas seorang sahabat yang merindukan sahabatnya sendiri.


"Kau tampak semakin tua," ucap Raja Tombak Emas kepada Tuan Santeno.


"Hahaha, umur manusia kan memamg bertambah tua," jawabnya jenaka.


Kedua orang itu kemudia berpelukan hangat.


"Aii, siapa dua gadis jelita ini?" tanya kakek tua tersebut sambil memandangi Cakra Buana dan Tuan Santeno.


"Dia pengawal Cakra Buana," bisik guru besar itu.


Kedua orang tua tersebut kemudian tertawa lantang. Tawa bahagia, tawa gembira.


"Beberapa waktu tidak bertemu, ternyata dia sudah seperti kita waktu muda dulu. Sangat pintar memilih harimau betina. Aii, hebat, hebat," tukasnya sambil beberapa kali menepuk pundak Cakra Buana.


Pemuda itu tidak menjawab. Dia hanya tersenyum sambil sedikit malu. Meskipun hatinya memang sedikit gemas, tapi di hadapan tokoh besar seperti Raja Tombak Emas ini, Cakra Buana lebih memilih untuk merendah.


"Mari, mari, silahkan duduk dulu. Kita habiskan waktu ini untuk makan dan minum tuak bersama," ujar Tuan Santeno dengan ramah.


Raja Tombak Emas setuju, dia langsung melangkah ke pendopo lalu menuang tuak untuk kemudian segera meminumnya.


Lima orang itu segera berpesta. Mereka ingin menghabiskan detik-detik terakhir sebelum tiba pertarungan dahsyat nanti. Pertarungan yang akan menentukan hidup dan matinya seorang pendekar.


Siapa yang nanti bakal mati? Apakah Pendekar Tanpa Nama? Atauka Raja Tombak Emas dari Utara?


Tiga orang yang ada di sana diam-diam merasa sayang, walaupun ketiganya ingin duel nanti tidak terjadi, tapi mau bagaiamana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Lagi pula, dalam duel ini tiada seorangpun yang memaksa.


Semuanya berkat persetujuan dua belah pihak bersangkutan.


"Seharusnya kalau mau duel jangan minum tuak Tuan. Sebab hal itu bisa mengurangi daya konsentrasi saat terjadinya pertarungan nanti," kata Sian-li Bwee Hua tiba-tiba angkat bicara.


"Tidak masalah. Kalau bagi orang lain tuak adalah sesuatu yang memabukan, bagiku justru sesuatu yang dapat menambah semangat. Tapi kalau belum terbiasa, lebih baik jangan tiru kebiasaanku ini," jawabnya sambil tertawa.

__ADS_1


Yang lain hanya bisa tertawa getir. Tiga orang pria di sana sudah mulai mabuk. Mereka tahu, mabuk hendak melangsungkan duel memang bukan hal baik. Tapi yang namanya kebiasaan, selamanya susah untuk diubah. Apalagi kalau kebiasaan yang sudah mendarah daging.


"Ngomong-ngomong kenapa kau tiba cukup lama?" tanya Tuan Santeno kepada Raja Tombak Emas.


"Aku sekalian mampir ke toko di pojok sana, setahun lalu aku sudah memesan satu peti mati,"


"Untuk siapa?"


"Untuk yang kalah. Duel ini adalah duel istimewa, aku sengaja membeli peti mati dari kayu jati,"


Semua orang yang ada di sana sedikit terkejut. Ternyata kakek tua itu sudah mempersiapkan segalanya sejak lama.


Memang benar, Raja Tombak Emas dari Utara telah merencanakan duel ini beberapa tahun sebelumnya ketika Pendekar Pedang Kesetanan masih hidup. Mereka telah mempersiapkan segalanya.


Sayang, Sang Hyang Widhi berkata lain sehingga sahabatnya itu malah tewas lebih dulu. Untungnya ada sahabat lain yang rela menggantikan posisinya.


Diam-diam Raja Tombak Emas sendiri memuji kesetiaan persahabatan Pendekar Tanpa Nama. Walaupun belum kenal lama dengan Pendekar Pedang Kesetanan, ternyata dia rela mempertaruhkan nyawanya sendiri.


"Selain mempersiapkan peti mati, apalagi yang kau persiapkan?" tanya Tuan Santeno lebih lanjut.


"Tombak emas miliku,"


"Memangnya kenapa?"


"Tepat setelah kepergian Pendekar Tanpa Nama dari sini, sejak saat itu aku tidak keluar dari kediamanku. Sekalipun keluar, aku tidak membawa tombakku ini. Tombak ini sudah memakan terlalu banyak nyawa manusia, oleh sebab itulah, kalau memakan lagi, maka itu santapan yang terakhir,"


"Jadi maksudmu, tombak ini dikhususkan pula untuk duel nanti? Selama kurang lebih setahun, kau rela tidak menggunakannya hanya demi menunggu saat-saat duel nanti?" tanya Tuan Santeno kaget.


"Tepat sekali. Sudah aku katakan, duel ini adalah duel istimewa. Oleh sebab itulah, segalanya sudah aku perhitungkan," jawab Raja Tombak Emas dengan kalem.


Mau tidak mau orang-orang di hadapannya harus memuji. Jarang ada orang seperti kakek tua itu.


Dia rela menyimpan senjata pusaka anadalannya hanya untuk menentukan sebuah duel penentuan. Padahal bagi setiap pendekar, menggunakan senjata lain —meskipun bentuknya sama—, tidaklah mudah. Sebab bisa saja hilang kepercayaan diri atau bahkan kekuatan sendiri.


"Bukan hanya duel saja yang istimewa. Ternyata kau pun sangat istimewa," puji Pendekar Tanpa Nama penuh hormat.

__ADS_1


__ADS_2