
Dua orang dari lawannya semakin merasa terdesak hebat. Posisi mereka benar-benar tidak diuntungkan. Sampai sekarang, keduanya masih belum percaya seutuhnya.
Benarkah ada jurus pedang yang seperti itu di dunia ini? Apakah sedemikian dahsyatnya sehingga bentuk serangannya baik sabetan maupun tusukannya tidak terlihat?
Sampai mati sekalipun, mereka tentu tidak akan pernah percaya ada kejadian seperti yang terjadi sekarang ini.
Dua Belas Siluman Berdarah Dingin sudah malang melintang di dunia persilatan. Puluhan pertarungan hidup dan mati, besar dan kecil, semuanya sudah pernah mereka lalui.
Baik melawan tokoh kelas atas ataupun kelas teri, semuanya sudah mereka lewati. Tapi belum pernah mereka melihat jurus pedang seperti yang dimainkan oleh Pendekar Tanpa Nama.
Jurus itu benar-benar aneh. Tapi juga benar-benar dahsyat dan mengerikan sekali. Bahkan mungkin lebih mengerikan dari pada kematian itu sendiri.
Siapapun mungkin akan sama kebingungan seperti mereka. Jurus itu aneh, karena tidak terbaca sama sekali ke mana gerakannya. Juga tidak terlihat ke mana perginya pedang yang sebelumnya digenggam erat.
Yang mereka lihat hanyalah tangan pemuda itu bergerak ke sana kemari. Pedangnya tidak ada. Tapi rasa sakitnya ada. Bahkan lebih sakit dari pada apapun.
Jurus tersebut dahsyat dan mengerikan. Karena setiap kali bergerak, selalu tidak pernah luput dari sasarannya. Apapun yang terjadi.
Pikiran orang berpakai kuning dan biru tidak tenang. Sepanjang jalannya pertarungan berlangsung, keduanya terus menerus memikirkan hal itu. Mereka ingin tahu apa dan kenapa bisa terjadi hal yang tidak masuk akal ini.
Sayangnya, meskipun sudah memeras otak, keduanya tetap tidak berhasil menemukan sebuah jawaban.
Yang mereka temukan bukan jawaban. Tapi justru malah kematian.
Slebb!!!
Dua kali bunyi yang sama terdengar di keheningan malam. Dua nyawa juga telah melayang.
Mereka roboh tanpa mengucapkan sepatang kata apapun. Bahkan keduanya juga roboh dalam waktu yang bersamaan.
Luka yang sama, waktu yang sama.
Lehernya berlubang pipih. Darah segar segera menyembur dari leher tersebut. Bau amis tercium terbawa angin malam.
Rambut panjang Pendekar Tanpa Nama beriak terkena hembusan angin malam. Begitu juga dengan jubahnya.
Pemuda itu baru pertama kali menggunakan jurus pedang tersebut. Karena memang belum lama ini dia memahami intisarinya.
__ADS_1
Ternyata saat menggunakan jurus tersebut, tenaga dalamnya cepat terkuras habis. Bahkan beberapa kali lebih besar dari pada saat dia mengeluarkan Jurus Tanpa Nama ataupun Jurus Tanpa Bentuk.
"Sepertinya aku tidak boleh terlalu sering menggunakan jurus itu jika tenaga dalamku belum sempurna. Kalau aku ingin menggunakannya, maka setidaknya aku harus mendapatkan ginseng seribu tahun itu. Kalau tidak begitu, bisa-bisa nyawaku melayang tanpa diduga sebelumnya," gumam Pendekar Tanpa Nama di tengah mayat yang mulai kaku.
Setelah beberapa saat berdiri termenung, pada akhirnya pemuda itu melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana.
Dia tidak menguburkan lebih dulu mayat-mayat itu. Dia sengaja. Karena sudah tahu, di sekitar tempat tersebut, sudah ada orang-orang mereka yang memang ditugaskan untuk menguburkan mayatnya.
Walaupun dia tidak melihatnya sendiri, tetapi dia sangat yakin. Instingnya berkata seperti itu. Lagi pula, dirinya juga merasakan kehadiran orang lain di sana.
Cakra Buana melangkah ke tempat yang lebih terang. Semakin lama semakin menjauh dari tempat kejadian. Dia sengaja tidak mencari di mana sahabatnya atau juga di mana Huang Pangcu dan Orang Tua Menyebalkan.
Orang-orang sepertinya tidak perlu khawatir satu sama lain. Karena mereka mempunyai sebuah kepercayaan yang tidak akan tergoyahkan.
Keadaan di kota sudah mulai sepi. Walaupun masih terlihat ada orang berlalu-lalang, itupun hanya beberapa saja. Kalau bukan petugas ronda, paling para pria hidung belang yang baru pulang dari tempat perjudian ataupun rumah bordil.
Meskipun tahu bahwa fajar akan tiba, tetapi Cakra Buana sudah memutuskan untuk mencari sebuah penginapan. Dia butuh istirahat. Walaupun hanya tidur barang satu dua jam, tapi dia tetap harus tidur.
Tubuhnya sudah lelah. Tenaganya juga banyak berkurang. Kalau tidak dipaksakan untuk istirahat, maka itu sama saja bunuh diri. Sekarang dirinya secara tidak langsung sudah menjadi buronan setiap kaum dunia persilatan.
Entah karena apa awalnya, dia sendiri tidak tahu. Tetapi memang begitulah kehidupan. Selalu saja ada hal-hal terjadi menimpa diri yang bahkan kita sendiri tidak tahu sama sekali.
Entah. Cakra Buana tidak berminat untuk memikirkan segala macam.
Yang jelas untuknya saat ini adalah tidur.
Setelah berjalan beberapa saat, di depan sana terlihat ada sebuah penginapan. Tidak besar, namun tidak bisa juga jika dibilang kecil.
Dia melangkahkan kakinya untuk ke sana. Seorang pelayan menyambutnya di muka pintu.
Tanpa banyak berkata, Cakra Buana segera memesan kamar. Lalu segera masuk ke dalam.
Seorang pelayan wanita mengantarnya menuju kamar yang masih kosong.
Dia langsung membuka pintu kamar kemudian merebahkan diri di kasur.
Anehnya, setelah merebahkan diri, justru dia sulit untuk tertidur. Tadi padahal sudah sangat ngantuk, sudah merasa sangat lelah. Tapi sekarang semua itu lenyap tanpa jejak.
__ADS_1
Apakah rasa ngantuk dan rasa lelah sama dengan perasaan rindu? Selalu datang dan pergi sesukanya?
Baru saja berusaha untuk memejamkan matanya kembali, entah sejak kapan, seseorang sudah duduk di jendela kamarnya.
Orang itu memakai pakaian biru muda. Pakaiannya tampak mewah. Tampak mahal dan halus. Orang tersebut duduk membelakangi dirinya. Rambutnya tergerai dibiarkan tertiup angin musim semi.
Seorang wanita.
Benar, orang itu adalah wanita. Bentuk tubuhnya sempurna. Walaupun di lihat dari belakang, tetap tidak ada bedanya. Terlihat sangat cantik, lebih cantik dari pada bunga mawar yang mekar di malam hari.
Cakra Buana tetap dalam posisi berbaring. Dia tidak ada minat untuk bangun dari posisinya.
"Ternyata kau datang lagi. Bagaimana kabarmu?" tanya pemuda itu.
"Baik. Kau sendiri?"
"Aku juag baik. Tapi sekarang sangat kelelahan,"
"Aku tahu,"
"Tentu saja kau tahu. Karena aku sudah tahu, sejak tadi kau sudah berada di sana,"
"Bahkan setiap saat, aku selalu mengawasi gerak-gerikmu,"
"Aku tahu,"
"Bagus, aku memang berharap agar kau tahu, hihihi,"
Gadis itu tertawa. Tawa yang sangat lembut. Sangat merdu. Lebih lembut dari pada kain sutera, lebih merdu dari alunan suara seruling.
Ketika dia bicara, seolah waktu terhenti seketika. Satu detik terasa satu jam. Satu menit terasa sepuluh jam.
Jantung pemuda itu tiada hentinya berdetak dengan kencang. Bagaimanapun juga, dia merupakan pemuda. Pemuda yang masih berdarah panas.
Melihat sesosok tubuh yang indah terpampang di depan matanya, bagaimana mungkin dia tidak mendapatkan suatu perasaan aneh?
"Kau tidak ingin kemari?" tanyanya.
__ADS_1
"Memangnya boleh?"
"Aku takut kau kedinginan. Jadi lebih baik mengajakmu kemari saja,"