
Bangunan di depan sana terbilang besar dan luas. Halaman depannya juga luas. Sekeliling bangunan dikelilingi oleh tembok yang kokoh. Di zaman ini, hanya orang-orang yang benar kaya saja yang bisa membuat dinding seperti itu.
Sedangkan rumahnya sendiri cukup mewah, hanya saja tampak sudah berumur sangat tua sekali. Hal ini bisa dilihat dari sekeliling rumahnya yang sudah sedikit bobrok.
Malam telah semakin larut. Rembulan bersinar sangat terang. Saat ini sedang bulan purnama. Bintang yang jumlahnya sangat banyak bertaburan di angkasa raya. Angin berhembus sepoi-sepoi. Dedaunan kering rontok tertiup oleh angin itu.
Pendekar Tanpa Nama dan si Tangan Berbisa sedang berdiri di depan bangunan tua tadi. Pakaian keduanya berkibar pelan. Rambutnya juga riap-riapan.
Sampai sekarang, Cakra Buana belum mengetahui sebenarnya bangunan itu milik siapa. Dia pun tidak mengerti kenapa si Tangan Berbisa membawanya ke sana.
"Mari kita masuk," katanya sambil melangkahkan kaki.
Cakra Buana tidak menjawab. Tapi langkah kaki pemuda itu mengikuti langkah kaki si Tangan Berbisa dari belakangnya.
Suasana di sana sangat sepi. Kentongan kedua baru saja lewat. Di luar sana, beberapa orang peronda lewat sambil bercerita dan bercanda bersama rekannya.
Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya dua orang itu sudah tiba di hadapan pintu utama. Si Tangan Berbisa memandangi pintu itu untuk sesaat. Setelah menghela nafas beberapa kali, akhirnya dia membuka pintu tersebut.
Di dalam ternyata kosong melompong. Tiada seorang manusia pun yang terlihat. Hanya saja, pemuda itu dibuat terbengong, sebab meskipun benar tidak ada siapa-siapa, ternyata keadaan di sana cukup terawat.
Di tengah ruangan itu ada sebuah meja dan empat kursi. Semuanya terbuat dari kayu jati murni dan kayu pilihan.
Di atas meja ternyata tersedia beberapa macam makanan yang enak dan lezat. Makanan itu masih hangat, asap putih tipis mengepul dan menyeruak ke seluruh ruangan. Bau harum tercium jelas oleh hidung Cakra Buana.
Tak lupa juga, di sana ada dua guci arak wangi yang masih tersegel. Hidung Cakra Buana bekerja dengan cepat, hanya sekilas mencium saja, dia sudah dapat mengetahui kalau arak itu adalah arak mahal.
Si Tangan Berbisa berjalan ke sana. Dia lantas duduk lalu segera membuka segel arak. Setelah itu, orang tersebut langsung menuangkannya ke dalam cawan yang terbuat dari perak.
"Kenapa kau masih berdiri di situ? Kemarilah dan duduk. Kita minum arak barang dua cawan," kata si Tangan Berbisa sambil tersenyum simpul kepada Cakra Buana.
"Baik, baik sekali," pemuda itu bicara sambil berjalan mendekati ke meja tersebut.
Cakra Buana lantas menarik kursi lalu segera duduk di hadapan si Tangan Berbisa.
Keduanya tertawa. Mereka segera bersulang.
Dua orang itu langsung menikmati suguhan mewah tersebut. Mereka makan dan minum dengan riang gembira.
__ADS_1
"Arak baik, makanannya juga sangat enak," puji Cakra Buana sambil tersenyum.
"Ternyata selain seorang pendekar yang tangguh, kau juga merupakan orang yang pandai menilai makanan," jawab si Tangan Berbisa tertawa.
"Hahaha, kau bisa saja,"
Mereka terus tertawa sambil tetap menikmati semua suguhan itu.
Prang!!!
Tiba-tiba satu cawan arak jatuh ke lantai karena tersenggol oleh sikut si Tangan Berbisa. Pecahan cawan segera berceceran ke mana-mana. Tapi karena hal itu sepele, Cakra Buana tidak mau mempermasalahkannya.
Diluar sana, malam semakin sepi lagi. Seolah tiada kehidupan apapun. Alam mayapada seperti tanah kosong melompong. Kehidupan bagaikan lenyap begitu saja.
"Sebenarnya tempat apa ini?" tanya Cakra Buana setelah mereka selesai bersantap.
"Nanti kau akan tahu sendiri," jawab si Tangan Berbisa.
"Apakah tempat ini kosong?"
"Kosong. Tiada seorangpun yang tinggal di sini,"
Cakra Buana tidak habis pikir. Benarkah semua hidangan itu datang begitu saja dari atas langit?
Tidak. Tidak mungkin. Hal seperti itu hanya terjadi dalam dongeng-dongeng sebelum tidur. Sedangkan dalam dunia nyata tidak akan pernah terjadi.
"Semua hidangan ini sudah disiapkan oleh seseorang khusus untuk kita berdua," jawab si Tangan Berbisa dengan tenang.
Semakin di pikir, Cakra Buana semakin tidak mengerti. Sekarang pemuda itu baru menyadari kalau orang di hadapannya saat ini adalah manusia misterius.
Si Tangan Berbisa seperti mempunyai rahasia dan maksud tersendiri. Tapi entah apakah itu, karena Cakra Buana sendiri belum mengetahuinya.
"Sebenarnya di mana Penguasa Kegelapan dan Empat Dewa Sesat itu?" tanya Cakra Buana setelah terdiam berapa lama.
Alasan pemuda itu mengikuti si Tangan Berbisa adalah karena dia menduga kalau orang itu mengetahui di mana keberadaan guru dan murid tersebut. Tapi tidak disangka kalau hingga saat ini, dia belum memberitahu tentang keberadaan mereka.
"Ada di sebuah tempat. Di sini tidak ada siapapun di antara mereka,"
__ADS_1
"Lantas kenapa sebenarnya kau membawaku kemari?"
"Karena aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu,"
"Sesuatu apakah itu?"
"Sekarang coba saja kau lihat ke sekelilingmu,"
Cakra Buana langsung menoleh ke seluruh tempat di ruangan tersebut. Pemuda itu awalnya tidak melihat apa-apa. Tapi sedetik kemudian, dia dibuat kaget.
Dari berbagai macam sudut ruangan, tiba-tiba mendadak keluar sekelompok orang. Setiap detik bertambah satu orang. Hingga kurang dari sepuluh menit, seluruh ruangan itu sudah dipenuhi oleh orang-orang tersebut.
Malah di luar juga sepertinya sudah bertambah kehadiran orang lain pula. Hal itu dapat diketahui karena di sana terdengar suara ribut-ribut seperti orang bicara.
Pendekar Tanpa Nama mulai mengawasi setiap orang yang tiba-tiba muncul itu. Mereka memakai pakaian berbeda-beda. Di dalam ruangan, tak kurang dari sepuluh orang sudah hadir.
Sekilas pandang saja pemuda itu telah mengetahui kalau orang-orang tersebut pastinya bukan manusia sembarangan. Setidaknya mereka merupakan tokoh kelas atas dunia persilatan.
Siapa mereka? Apa tujuannya? Kenapa pula orang-orang itu bisa mendadak hadir di sana? Dan juga, sejak kapan tempat itu dipenuhi oleh para tokoh tersebut?
Semua orang sedang menatap tajam ke arah Pendekar Tanpa Nama. Setiap pasang mata yang menatapnya terselip perasaan dendam tersendiri.
"Aku rasa pada saat datang tadi, di tempat ini tiada orang lain kecuali kita," katanya sambil memandang ke arah si Tangan Berbisa.
"Memang tidak. Mereka datang tepat pada saat kita menyantap makanan,"
"Benarkah?"
"Tentu saja. Apakah kau masih ingat kejadian pada saat satu cawan arak jatuh?"
Cakra Buana manggut-manggut. Sekarang dia tahu, ternyata jatuhnya cawan arak itu adalah pertanda.
"Jadi kau menjatuhkan cawan arak tadi sebagai tanda agar mereka meluruk kemari?"
"Tidak salah lagi. Ternyata kau cukup pintar juga," kata si Tangan Berbisa sambil tersenyum.
Sejauh ini, orang itu masih saja tenang. Wajahnya kalem. Tatapan matanya teduh. Sedikitpun tidak terlihat kalau dia adalah orang jahat yang mirip iblis.
__ADS_1
Tapi sejatinya bukankah memang kadang seperti itu? Sesuatu yang tak diduga, justru suka datang dari yang tidak disangka-sangka.