Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Dewa Trisula Perak


__ADS_3

Pendekar Tanpa Nama tidak memberikan kesempatan bagi lawan untuk membalas serangannya. Begitu melihat Dua Pendekar Bertopeng kalah tenaga, Cakra Buana lantas berjumpalit satu kali ke belakang.


Kemudian tubuhnya segera meluncur deras ke bawah, tepat ke arah dua orang lawannya berdiri.


Pedang Naga dan Harimau bergetar hebat. Ribuan titik pedang mendadak terlihat. Sinarnya menyilaukan mata setiap orang yang menyaksikan pertarungan sengit tersebut.


Pedang pusaka itu melancarkan satu tusukan hebat yang teramat cepat.


Hawa pedang langsung menyelimuti jagat raya. ***** membunuh menyebar ke segala penjuru mata angin.


Trangg!!! Trangg!!!


Dua Pendekar Bertopeng menggerakkan masing-masing pedangnya tepat pada waktu yang menentukan hidup dan matinya. Percikan api kembali terlihat mempesona.


Taburan bunga api bagaikan bintang-bintang yang terdapat di atas sana. Begitu indah. Sangat menawan. Namun di sisi lain, justru sangat menakutkan.


Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk segera dikeluarkan oleh Pendekar Tanpa Nama begitu melihat ada kesempatan emas. Pedang Naga dan Harimau langsung lenyap dari pandangan mata.


Tubuh Cakra Buana menghilang. Tiada seorangpun yang dapat melihatnya. Orang-orang di sana hanya sanggup menyaksikan bayangan merah yang terus berkelebat ke sana kemari dalam kecepatan cahaya.


Dua Pendekar Bertopeng semakin terdesak hebat. Keduanya sudah tidak sanggup lagi melancarkan serangan. Mereka benar-benar dibuat mati kutu karenanya. Posisinya semakin kritis.


Menurut perhitungan, setidaknya dalam dua atau tiga jurus kemudian, dapat dipastikan kalau dua orang pengawal pribadi yang berlatarbelakang misterius itu bakal mampus.


Wushh!!!


Pada saat-saat yang amat kritis tersebut, tiba-tiba selarik sinar perak mendadak membelah udara hampa. Kejadian itu berjalan teramat sangat cepat.


Trangg!!!


Pendekar Tanpa Nama terdorong mundur satu langkah ke belakang. Pedang Naga dan Harimau sedikit bergetar. Kekuatan yang membentur pedangnya barusan begitu hebat.


Dia tidak pernah menduga kalau kejadian seperti ini bakal terjadi di tengah detik-detik yang menentukan tersebut.


Pertarungan itu segera berhenti. Dua Pendekar Bertopeng menghela nafas lega. Akhirnya maut tidak menghampirinya. Untuk sementara waktu, setidaknya mereka masih bisa bernafas.

__ADS_1


Pertarungan tersebut, meskipun hanya berjalan sesaat, akan tetapi ketegangan yang dirasakan benar-benar kentara. Selama pertempuran berlangsung, tiada seorangpun yang berani buka suara. Malah sebagian dari mereka tidak berani bernafas dengan jelas.


Sekarang di arena pertempuran sudah berdiri seorang yang lain. Dia bukan lain adalah satu di antara tiga pengawal pribadi Prabu Katapangan Kresna.


Orang tersebut memakai pakaian biru tua. Wajahnya mulai dipenuhi keriput. Namun tidak bisa dipungkiri kalau orang itu terbilang tampan.


Cakra Buana tidak mengenal wajah yang ada di hadapannya saat ini. Akan tetapi, begitu sepasang matanya menatap kepada senjata yang digenggam olehnya, jantung Pendekar Tanpa Nama langsung berdetak sangat kencang.


Senjata itu. Kilatan yang terpancar darinya. Aura yang dihasilkan karenanya.


Tidak salah lagi. Senjata itu bukan lain adalah Trisula Perak.


Tirusla Perak, apakah pemiliknya si Dewa Trisula Perak pula?


Jawabannya sudah pasti iya. Pendekar Tanpa Nama tidak mungkin salah menduga. Dia sangat yakin dengan tatapan mata dan ingatannya. Pemuda itu masih ingat pertempuran di pinggir goa dulu sebelum dirinya menemukan Lembah Tak Bernama. Malah sebelumnya, dia juga masih dapat mengingat betapa hebatnya pertempuran dia dan pihaknya pada saat terjadi perang besar Kerajaan beberapa tahun lalu.


Berbagai macam ingatan yang sudah lama berlalu mendadak bermunculan kembali di benaknya. Ingatan menyedihkan. Bayangan silam yang memilukan.


Seluruh tubuhnya bergetar. Bukan karena takut. Tapi justru karena tidak kuat menahan amarah.


"Kau …" katanya dengan suara bergetar. Cakra Buana tidak sanggup meneruskan ucapannya.


"Sangat kenal. Malah kita pernah bertarung beberapa tahun lalu,"


"Di mana? Kapan? Memangnya kau siapa? Benarkah kau Cakra Buana?"


"Sebentar lagi kau akan mengetahuinya," bentak Cakra Buana.


Begitu ucapannya selesai, Pendekar Tanpa Nama langsung segera meluncur ke depan sana. Pedang Naga dan Harimau segera menampakkan taringnya kembali. Cahaya pedang masih sama. Hawa dan aura yang terasa juga serupa.


Bedanya, kali ini semuanya lebih hebat. Lebih dahsyat. Dan pastinya jeuh lebih menakutkan.


Wushh!!!


Belum sempat Dewa Trisula Perak mengetahui apa yang terjadi, tahu-tahu sebatang pedang tajam sudah mengancam tenggorokannya. Untunglah dia dapat bertindak dengan cepat. Begitu jarak pedang dengan tenggorokannya hanya terpaut dua inci, orang itu lantas mengambil tindakan.

__ADS_1


Trisula Perak yang digenggam olehnya diangkat ke atas lalu segera menangkis pedang milik Pendekar Tanpa Nama.


Benturan pusaka kelas atas kembali terdengar oleh semua orang. Pertarungan yang terjadi sekarang jauh lebih dahsyat. Sebab kedua belah pihak sudah mengeluarkan kemampuannya hingga ke titik maksimal.


Sementara itu, pada saat Dewa Trisula Perak bicara tadi, di sisi lain Ratu Ayu kaget setengah mati.


Benarkah Pendekar Tanpa Nama adalah Cakra Buana, keponakannya sendiri?


Dia ingin percaya, tapi sayangnya tidak ada bukti jelas yang mampu membuatnya yakin. Ratu Ayu tidak ingin percaya, akan tetapi dia sendiri tahu dan malah melihat bahwa Dewa Trisula Perak bicara sangat serius. Dari sini saja dapat ditebak kalau orang itu tidak berbohong.


Kalau sudah seperti ini, apa yang bisa dia lakukan?


###


Pendekar Tanpa Nama mengeluarkan tenaga hingga sembilan bagian. Pedang Naga dan Harimau kembali menghilang. Begitu juga dengan dia sendiri.


Dewa Trisula Perak amat kaget dengan kenyataan ini. Dia sungguh tidak menyangka kalau lawannya saa ini sangat hebat. Semua serangan yang diberikan olehnya ternyata bisa dimentahkan dengan sangat mudah.


Jurus trisula andalannya seakan tidak berarti apa-apa. Jurus yang biasanya mampu mencabut nyawa seseorang dengan mudah, tak disangka saat ini justru seperti tidak berguna sama sekali.


"Mampus kau!!!" di tengah pertempuran yang berjalan semakin sengit itu, Pendekar Tanpa Nama terdengar berteriak lantang.


Disusul kemudian dengan serangan berupa tusukan pedang yang tidak bisa ditangkap oleh mata


Slebb!!!


Suara seperti babi disembelih terdengar cukup keras. Pertarungan sudah berhenti. Di arena pertempuran, saat ini tampak Pendekar Tanpa Nama dan Dewa Trisula Perak sedang berdiri dalam jarak yang sangat dekat. Mungkin tidak lebih dari setengah langkah.


Dewa Trisula Perak melotot. Sepasang matanya seperti hendak keluar. Tubuhnya terasa lemas. Wajahnya sangat pucat pasi.


Tenggorokannya ternyata sudah ditembus oleh Pedang Naga dan Harimau.


Begitu pedang dicabut, orangnya langsung ambruk jatuh ke tanah.


Pertarungan yang singkat. Namun mampu membetot sukma setiap orang yang hadir.

__ADS_1


Dua Pendekar Bertopeng Ssendiri hanya bisa menelan ludahnya. Kedua orang itu baru sadar kalau tadi pada saat bertarung dengannya, Pendekar Tanpa Nama ternyata tidak mengeluarkan kemampuan yang sesungguhnya.


Kalau pemuda itu berlaku sangat serius, dapat dipastikan jika sekarang nyawa mereka sudah melayang. Nasibnya mungkin tidak berbeda jauh dengan nasib Dewa Trisula Perak.


__ADS_2