Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Alasan Nenek Tua Bungkuk


__ADS_3

Cakra Buana bangkit berdiri. Kedua tangan Nenek Tua Bungkuk masih memegangi pundaknya.


"Kau benar-benar pemuda yang gagah perkasa. Kakak seperguruan tidak salah memilih murid sepertimu," puji wanita tua itu sambil tersenyum.


Cakra Buana juga tersenyum. Cio Hong menganggukan kepalanya.


Cio Hong dan Nenek Tua Bungkuk merasa bahagia, mereka bersyukur karena telah dipertemukan dengan penerus kakak seperguruannya. Itu artinya, harapan untuk membalaskan dendam dan harapan untuk mewujudkan impian Pendekar Tanpa Nama yang ingin menciptakan perdamaian, sepertinya sebentar lagi akan terwujud.


Mereka bertiga segera duduk kembali. Nenek Tua Bungkuk menuangkan arak ke dalam cawan yang sudah tersedia. Ketiganya segera bersulang arak tersebut sebagai rasa syukur karena sudah dipertemukan.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Cio Hong kepada Cakra Buana.


"Mungkin aku akan segera pergi lagi. Masih banyak tugas yang belum aku selesaikan,"


"Apakah salah satunya membalas dendam kematian gurumu?" tanya Nenek Tua Bungkuk.


"Tentu saja. Aku akan segera menyelesaikan dendam berdarah ini. Menurut Huang Pangcu, disekitar tempat ini, ada dua tokoh yang termasuk dalam daftar orang yang harus dibunuh,"


"Memang ada. Tapi kemampuan masing-masing di antara mereka sungguh tinggi, bahkan aku sendiri belum tentu sanggup untuk menang darinya,"


"Sanggup tidak sanggup, aku akan tetap mencari mereka,"


"Nampaknya kau terburu-buru sekali. Apakah karena kau ingin kembali ke kampung halaman?"


Ditanya seperti itu, Cakra Buana termenung sesaat. Manusia mana yang tidak ingin kembali lagi ke kampung halaman dengan segera? Selama orang itu punya kampung halaman, siapapun pasti ingin segera kembali. Bukankah begitu? Apalagi di sana masih banyak sanak saudara.


"Benar. Aku ingin segera kembali ke sana,"


"Kau sudah berjanji kepada seseorang?"


"Sudah,"


"Berapa lama kau berkata akan kembali lagi?"


"Satu atau dua tahun kemudian,"


Nenek Tua Bungkuk mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia cukup mengerti seseorang itu, jadi nenek tua tersebut tidak banyak bicara.

__ADS_1


"Masih tersedia banyak waktu. Kau berada di Tionggoan ini belum mencapai enam bulan. Lagi pula, kau tidak akan bisa kembali dengan mudah,"


"Aku tahu," jawab Cakra Buana.


Pemuda Tanah Pasundan itu memang sudah tahu. Apalagi beberapa saat yang lalu, Nenek Tua Bungkuk sendiri yang memberikan informasi bahwa para tokoh kelas atas dunia persilatan Tionggoan mengincar nyawanya.


Cakra Buana mendadak teringat sesuatu di hari lalu, dia langsung berniat untuk menanyakannya kepada Nenek Tua Bungkuk.


"Bibi guru, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu. Entah kau mau menjawab dengan jujur atau tidak," kata Cakra Buana.


Nenek Tua Bungkuk hanya tersenyum simpul. "Katakanlah, aku akan menjawab dengan jujur,"


"Kenapa kau berbohong saat ingin mengambil Liu Bing sebagai murid? Waktu itu kau berkata lain tentang latar belakangmu,"


Cakra Buana masih ingat tentang hal itu, di mana saat Nenek Tua Bungkuk menceritakan latar belakangnya yang sangat persimpangan dengan latar belakang sesungguhnya.


Meskipun wanita tua itu tidak bicara terus terang, tetapi Cakra Buana tahu bahwa di balik semua ini ada sebuah tujuan tertentu.


Nenek Tua Bungkuk justru tertawa setelah mendengarkan pertanyaan Cakra Buana. Suara tawanya terdengar bahagia, tetapi sesaat kemudian suara tawa itu terdengar sangat pilu. Suara tawanya mengandung beban kesedihan yang mendalam.


"Maksud bibi guru?" tanya Cakra Buana belum mengerti sepenuhnya.


"Aii, aku sudah sangat tua Cakra. Kau tahu, usia kami berdua hampir sama dengan Huang Pangcu? Bahkan kami merupakan satu generasi. Setiap manusia pasti akan mati, bukankah kematian semakin dekat jika usia semakin tua? Bagaimana kalau aku mati sebelum mempunyai murid? Siapa yang akan membalaskan dendam berdarah Pendekar Tanpa Nama lima puluhan tahun yang lalu?"


Cakra Buana tertegun. Apa yang dikatakan oleh Nenek Tua Bungkuk sangat berasalan. Semakin manusia tua, semakin mungkin juga bahwa dirinya akan kembali ke Sang Hyang Widhi.


Bahkan, kematian tidak memandang umur. Kapan pun, di mana pun, kematian selalu mengikuti dan setiap saat bisa menghampiri.


Dalam hatinya, Cakra Buana merasa sangat bangga mempunyai paman dan bibi guru seperti kedua tokoh tua itu. Ternyata mereka tidak pernah melupakan kakak seperguruannya meskipun kematiannya telah berlangsung selama puluhan tahun lalu.


"Tapi, kenapa Liu Bing juga mau menganggap bahwa kau memang ibunya?"


"Jangan lupa, kami sama-sama wanita. Sesama wanita, kamu bisa mengerti perasaan masing-masing,"


Cakra Buana terdiam. Dia tidak mampu menyangkal. Yang mampu mengerti perasaan seorang wanita, adalah mereka yang sesama wanita. Bukankah begitu?


"Sekarang, kau sudah mengerti bukan, kenapa aku berbohong pada saat itu?" tanya kembali si Nenek Tua Bungkuk.

__ADS_1


"Sangat mengerti. Tak disangka, ternyata tujuan di balik kau berbohong sungguh diluar dugaanku," jawab Cakra Buana.


"Kelak jika Liu Bing sudah berhasil mewarisi seluruh ilmu silatku, dia akan menjadi teman seperjalananmu. Kalian akan menjadi sahabat baik, seperti juga aku dan gurumu,"


"Baik bibi guru. Aku akan menjaganya dengan baik jika kelak sudah melakukan perjalanan bersama,"


"Terimakasih. Semoga saja hal itu bisa terjadi sesuai dengan harapanku,"


Hari sudah sore, tanpa terasa Cakra Buana hampir dua hari berada di Perguruan Rajawali Sakti. Saat pertama kali dia datang, padahal waktu menunjukkan tengah malam.


Begitu cepatnya waktu berlalu. Tapi kenapa masih ada saja yang menyia-nyiakan waktu?


"Paman, bibi, aku harus pergi sekarang juga. Aku ingin menuntaskan segalanya dengan segera,"


"Kau akan pergi sekarang juga? Apakah kau tidak ingin tinggal di sini beberapa hari lagi?" tanya Cio Hong.


"Terimkasih paman guru. Suatu saat nanti semoga saja aku bisa kembali lagi ke sini,"


"Baiklah. Kapan pun itu, jika kau ingin kembali kemari, kemarilah. Aku bukan orang lain, jadi perguruan ini adalah rumahmu juga,"


"Terimakasih paman guru. Semoga saja aku bisa selamat dari semua musibah yang sudah menanti di depan mata,"


"Kau pasti selamat. Jangan khawatir, paman tidak akan tinggal diam. Siapapun, tidak boleh ada yang berlaku seenaknya kepadamu,"


Cakra Buana mengangguk. Dia tersenyum hangat kepada kedua orang tua tersebut.


Pemuda itu kemudian bangkit berdiri. Dia bersoja sebelum akhirnya membalikan tubuh lalu segera pergi dari sana.


Hanya dalam sesaat saja, bayangan tubuh Cakra Buana telah lenyap dari pandangan mata Cio Hong dan Nenek Tua Bungkuk.


Kedua orang tua itu menghela nafas perlahan, mereka minum arak lagi.


"Apakah kau merasakan perasaan yang sama?" tanya Cio Hong.


"Tentu saja. Akhirnya penantian kita tidak sia-sia. Kita harus segera menyelesaikan urusan ini, setelah itu, kita segera mengundurkan diri dari dunia persilatan,"


"Kau benar. Aku juga sudah mempunyai niat seperti itu. Rasanya, sudah tiba waktunya untuk kita istirahat dalam kedamaian," timpal Nenek Tua Bungkuk.

__ADS_1


__ADS_2