
Pertarungan dahsyat itu berhenti sebentar. Semua orang terpaku di tempatnya masing-masing. Mereka mempertanyakan dalam hatinya tentang bagaimana cara pemuda itu bisa meloloskan diri dari kepungan yang sangat rapat tersebut?
Padahal siapa pun tahu, sangat jarang sekali ada seseorang yang mampu lolos dari kepungan mereka dengan begitu mudahnya.
Tokoh dunia persilatan sekalipun akan merasa kesulitan dan membutuhkan waktu cukup lama untuk bebas. Lantas, bagaimana seorang pendekar muda yang belum lama muncul di dunia persilatan, tapi sudah bisa lolos dengan sangat singkat?
Siapapun tidak ada yang tahu jawabannya. Mereka juga tidak bertanya. Karena semua orang sudah tahu jawabannya. Tentu Pendekar Tanpa Nama tidak akan memberitahukan caranya kepada lawan.
Sebenarnya Pendekar Tanpa Nama bisa bebas dari kepungan Dua Belas Siluman Berdarah Dingin hanya karena dia bermata jeli.
Pemuda itu memperhatikan segala hal yang menurutnya penting. Bahkan setiap gerakan lawan, dia perhatikan dengan seksama tanpa sepengetahuan mereka.
Ketka sudah hapal dan sudah melihat sedikit ada celah, maka pada saat itulah dia bergerak sangat cepat lalu keluar sambil melancarkan serangan.
Dalam pertarungan tingkat tinggi, mengandalkan otot saja tidak cukup. Mengandalkan jurus-jurus ampuh juga masih kurang sempurna. Karena yang paling penting adalah mengandalkan kecerdasan. Mengandalkan otak.
Kalau hal itu sudah berhasil dikuasai, maka segala persiapan baru bisa disebut sempurna.
Dua orang lawannya masih menahan sakit. Mereka menotok jalan darah di sekitar luka untuk menghentikan pendarahan yang hebat itu.
Perihnya bukan main.
Sekarang mereka baru percaya terhadap kabar yang beredar bahwa pedang milik Pendekar Tanpa Nama, ternyata benar-benar berbeda dengan yang lainnya.
Wujudnya mungkin sama. Tapi keistimewaannya jelas berbeda.
"Hebat, Pendekar Tanpa Nama ternyata bukan nama kosong. Baru kali ini ada orang yang mampu keluar dari Kepungan Dua Belas Setan dalam waktu yang sangat singkat," puji orang berpakaian kuning dengan tulus.
"Terimakasih atas pujianmu. Mungkin aku juga akan menjadi orang yang pertama kali,"
"Dalam hal?"
"Dalam hal membunuh Dua Belas Siluman Berdarah Dingin," jawab Cakra Buana sambil tertawa dingin.
Mendengar ucapan yang demikian sombongnya, jelas, mereka sangat tidak terima sekali. Ingin rasanya mencabik-cabik mulut yang pedas itu. Namun orang yang berpakain kuning yang ternyata pemimpinnya, menahan mereka dengan segera.
Dia tahu bahwa lawannya, walaupun masih muda, ternyata mempunyai kemampuan yang jauh di atas rata-rata. Karena itulah, dia tidak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kalinya.
"Ku akui kau memang hebat dalam hal memancing emosi lawan,"
"Dari dulu mulutku memang seperti ini,"
"Aku tahu. Itu sudah menjadi kebiasaanmu. Sebelum kau bertarung, pasti kau akan membuat musuh dikuasai oleh emosinya sendiri. Jika kau berhasil, maka kemenangan pasti akan berpihak di tangannmu,"
__ADS_1
"Untungnya selama ini aku selalu berhasil,"
"Kau benar. Tapi mungkin, sekarang adalah kegagalanmu yang pertama dalam hal memancing emosi lawan. Aku sudah berusia tua, pengalamanku juga lebih banyak dari pada dirimu. Jadi, memancing supaya aku dikuasai emosi, adalah hal yang percuma,"
"Kalau begitu bagus. Emosi atau tidak emosi sama saja. Pada akhirnya, kalian tetap akan mati di ujung pedangku," ujar Cakra Buana penuh keyakinan.
"Apakah kau sangat yakin dengan pedangmu?"
"Tentu. Karena pedangku tidak pernah mengecewakan. Dan aku juga tidak pernah mengecewakannya,"
"Menarik, kalau begitu, kita lihat sekarang. Apakah pedangmu masih bisa dipercaya?"
Wushh!!!
Orang berpakaian kuning segera melesat kembali. Diikuti oleh dua belas orang lainnya. Gerakan mereka yang sekarang jauh lebih cepat dan lebih ganas dari pada sebelumnya.
Pendekar Tanpa Nama harus mengakui bahwa serangan gabungan Dua Belas Siluman Berdarah Dingin memang dahsyat.
Jika mereka mengatakan jarang ada musuh yang selamat, maka Cakra Buana akan mempercayainya. Sebab dia sendiri telah melihat langsung bagaimana kehebatan jurus-jurus mereka.
Sekarang dua belas serangan kembali dilancarkan. Dengan jurus berbeda, tenaga berbeda, dan gaya yang berbeda.
Mereka berlompatan satu sama lainnya. Kadang-kadang saling mendahului, kadang-kadang saling terdiam sesaat. Kerja sama yang sekarang, jauh lebih sulit dibaca dari sebelumnya.
Jika menghadapi bahaya semacam ini, maka jalan satu-satunya adalah melawan menggunakan ketenangan.
Jika melawan menggunakan emosi, maka nyawanya pasti akan melayang.
Wushh!!! Wushh!!!
Wuttt!!! Wuttt!!!
Desiran angin tajam terasa menghujani seluruh bagian tubuh. Serangan demi serangan mulai tiba menghantam tubuhnya. Pendekar Tanpa Nama berhasil berkelit dari semua serangan lawan.
Sesekali pedangnya diangkat untuk menangkis atau melancarkan sedikit serangan balasan.
Hawa pembunuhan di sekitar tempat itu berubah sangat pekat. Malam yang sunyi, berubah menjadi malam berisik yang menyeramkan.
Dentingan senjata pusaka beradu terdengar seperti sebuah tabuhan suara yang saling susul menyusul. Semuanya mengeluarkan kemampuan hingga ke titik sempurna.
Werr!!!
Wushh!!
__ADS_1
Sebuah gelombang tenaga dalam dahsyat menyapu keadaan di sekitar. Debu dan daun kering berterbangan terhempas ke segala arah.
Cahaya berwarna merah berkelebat. Cahaya putih menyusul.
Crashh!!!
Seorang yang tadi terluka, kini menjadi korban pertama lagi. Dadanya robek besar. Darah menyembur keluar. Dia tewas saat itu juga.
Gerakan Pendekar Tanpa Nama ternyata lebih cepat dari pada sambaran kilat di tengah malam. Setiap kali pedangnya berkelebat, pasti ada suatu kejadian.
Entah bagian tubuh mana yang terluka, yang jelas pasti ada.
Pedang Naga dan Harimau bergerak kembali. Tapi kali ini pedang itu seperti menghilang karena saking cepat gerakannya.
Sambaran pedang datang seperti gelombang di tengah laut yang menerpa. Seperti segulung angin dahsyat yang menerbangkan sesuatu yang ada di dekatnya.
Satu persatu lawannya mulai terpental ke belakang. Mereka yang terpental, pasti sudah dalam keadaan tanpa nyawa.
Jeritan demi jeritan terdengar memilukan. Suara lolongan serigala di kejauhan menemani kematian mereka.
Hanya tinggal enam orang yang masih tersisa. Agaknya mereka ini mempunyai kepandaian lebih tinggi daripada para korban sebelumnya.
Tusukan dan bacokan senjata tajam sudah mengarah ke seluruh tubuh Pendekar Tanpa Nama. Sayangnya yang terluka bukan pemuda itu. Justru mereka sendiri.
Crashh!!!
Slebb!!!
Satu orang, dua orang, tiga orang, empat orang sudah terpental dalam waktu yang hampir bersamaan. Semuanya tewas.
Kondisi mereka tidak ada yang lebih baik. Jika bukan terluka di bagian tenggorokan, pasti lukanya di bagian dada ataupun perut.
Jeroan berhamburan di tanah. Darah merah yang kental dan bau amis sudah menggenang seperti banjir.
Ini juga banjir. Tapi bukan banjir air. Melainkan banjir darah.
Dua orang yang terakhir adalah si orang tua berpakaian kuning dan orang berpakaian biru yang memakai senjata dua tombak.
Sepertinya mereka masih berusaha untuk bertahan lebih lama sebisa mungkin. Sayangnya, mereka tidak akan sanggup untuk membunuh Pendekar Tanpa Nama.
Karena jurus yang dikeluarkan oleh pemuda itu, bukanlah jurus seperti biasanya.
Ini adalah jurus intisari dari Kitab 3 Jurus Pedang Kilat.
__ADS_1
Dia menamakannya Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk.