
Semua orang yang hadir merasakan hal serupa. Mereka terkejut, tercengang, sekaligus tidak menyangka sama sekali.
Dulu, sosok Ratu Kencana Wulan dikenal sebagai seorang wanita yang sangat baik kepada semua orang. Meskipun suaminya telah melakukan berbagai macam tindak kejahatan dan merugikan seluruh rakyat Tanah Pasundan, namun wanita itu tetap pada pendiriannya.
Dia tetap menjadi Ratu Kencana Wulan yang dikenal seluruh rakyat. Beliau tetap baik, tetap welas asih dan tetap selalu mengingatkan suaminya ketika melakukan kesalahan besar.
Semua orang tahu akan hal tersebut. Ini bukan cuma cerita, melainkan sebuah kejadian yang benar-benar nyata.
Tetapi siapa sangka? Begitu Kerajaannya hancur, begitu suaminya tewas ketika perang besar berlangsung, semuanya langsung berubah. Bukan cuma keadaan yang berubah, malah pribadi Ratu Kencana Wukan sendiri benar-benar berubah. Berubah total seratus delapan puluh derajat.
Dia yang tadinya sangat baik, begitu memunculkan dirinya kembali, ternyata telah berubah jahat. Wanita yang dikenal welas asih tersebut, belakangan ini justru dikenal karena kekejamannya.
Bagaimana tidak? Semua kekacauan yang terjadi di Tanah Pasundan beberapa waktu lalu, semua itu adalah ulah dari dirinya. Akibat dari kekejamannya.
Kekejaman seperti ini, mungkin hanya dapat dilakukan oleh iblis yang tidak kenal belas kasihan. Bukan oleh manusia.
"Sudahlah, yang telah terjadi, semuanya sudah berlalu. Sekarang mereka telah tewas, orang-orang itu sudah mendapatkan balasannya sendiri. Untuk sekarang, lebih baik kita urus saja mayat mereka. Bagaimanapun juga, orang-orang ini memberikan pelajaran kepada kita semua. Jangan dilihat sisi negatifnya saja, tapi lihat juga sisi positifnya. Setiap kejadian yang berlangsung, pasti terselip pelajaran berharga di dalamnya," kata Prabu Katapangan Kresna dengan wibawanya yang selalu terpancar.
Akhirnya semua orang mengangguk setuju. Mereka tidak lagi membahas hal-hal yang tidak penting.
Puluhan prajurit utama Istana Kerajaan langsung disuruh untuk membereskan mayat-mayat tersebut. Selain daripada itu, prajurit lainnya juga disuruh untuk membereskan halaman Istana Kerajaan yang porak poranda karena pertempuran hebat yang baru saja berlangsung itu.
Malam semakin larut. Rembulan sudah berada di ufuk barat. Sebentar lagi, sepertinya fajar akan segera menyingsing. Hari baru akan datang. Harapan baru juga akan tiba.
Selama hari baru masih ada. Maka selama itu pula harapan selalu muncul.
__ADS_1
###
Peristiwa semalam menjadi sejarah terkelam kedua dalam perjalanan Kerajaan Kawasenan di Tanah Pasundan. Semua orang akan selalu mengingat kejadian yang menggetarkan kolong langit ini.
Peristiwa itu akan selalu terkenang dan dicatat dalam sejarah peradaban Kerajaan Kawasenan.
Saat ini hari sudah pagi.
Mentari pagi bersinar sangat terik sekali. Tiada gumpalan awan yang menutupinya. Hal itu menjadikan panasnya sinar mentari terasa lebih menyengat beberapa kali.
Sekarang adalah hari yang berbeda. Sebab mulai hari ini, tiada lagi kekacauan di dalam Istana Kerajaan. Semuanya sudah kembali seperti semula. Apapun itu, kini telah kembali seperti sedia kala.
Di ruangan besar, para tokoh yang semalam hadir dalam pertempuran, sekarang telah hadir pula di sana.
Orang-orang itu baru saja menyelesaikan sarapan paginya masing-masing. Sekarang mereka sedang duduk santai dengan kegiatannya sendiri-sendiri. Di atas meja makan yang besar dan panjang itu terdapat banyak sekali hidangan mewah dan lezat.
Selain daripada itu, tentunya juga ada arak. Arak harum berkualitas tinggi.
Pendekar Tanpa Nama sedang minum arak bersama dua orang kekasihnya. Sedangkan sisanya sedang bergelut dengan lamunannya masing-masing.
Suasana di ruangan besar itu masih hening. Kecuali suara arak yang dituang ke cawan atau arak yang masuk ke dalam tenggorokan, rasanya tiada suara apapun lagi yang dapat terdengar.
Pada saat demikian, tiba-tiba Bidadari Tak Bersayap menghela nafas dalam-dalam. Setelah itu dia mulai bicara untuk memecah keheningan.
"Aku heran, sebenarnya harimau yang terlihat kemarin itu, harimau siapa? Dari maka dia datang dan ke mana dia pergi?" tanyanya kepada Pendekar Tanpa Nama.
__ADS_1
Keningnya berkerut. Hal ini menandakan bahwa gadis cantik itu merasa keheranan. Malah bukan saja dirinya, semua orang yang ada di ruangan besar itu juga sama. Begitu mereka mendengar pertanyaan Sinta barusan, sepasang mata para tokoh itu langsung menatap ke arah Cakra Buana.
Ditatap seperti demikian, sekalipun tidak sudi menjawab, maka terpaksa, mau tak mau pemuda itu harus menjawabnya juga.
Karena kalau sampai tidak memberikan jawaban, itu sprtinya secara tidak langsung Cakra Buana sudah menyinggung banyak orang.
"Hahh …" dia menghela nafas berat sebelum menjawab pertanyaan kekasihnya.
"Harimau yang kemarin kalian lihat itu merupakan jelmaan dari Pedang Naga dan Harimau. Dia adalah sahabatku ketika dulu berada di Lembah Tanpa Nama. Dia pula yang telah merawatku ketika aku kalah bertarung dan hampir mati di tangan Dewa Tapak Racun serta Dewa Trisula Perak,"
"Masalah sudah terlanjur, jadi terpaksa aku harus memberitahukannya kepada kalian. Sebenarnya pedang pusaka yang aku bawa ini adalah warisan dari seorang pendekar ternama puluhan tahun lalu. Dia berasal dari Tionggoan, dan dikenal dengan julukan Pendekar Tanpa Nama. Aku mewarisi semua kepandaian beliau lewat kitab pusaka yang sengaja ditinggalkan. Alasan kenapa aku tidak ada kabar adalah karena beberapa waktu lalu, aku berada di Tionggoan. Dan Ling Ling sebagai buktinya, dia adalah gadis asli keturunan Daratan Tionggoan,"
Pemuda itu mulai bercerita kisahnya kepada semua orang yang hadir. Cakra Buana cuma menceritakan hal-hal terpentingnya saja. Mulai dari berbagai macam peristiwa yang terkait dengan dirinya, bagaimana perjalanan hidupnya dan lain sebagainya.
Pada saat bicara demikian, tiada seorang pun yang berani memotong ucapannya. Semua tokoh itu diam seribu bahasa. Mereka senantiasa mendengarkan cerita Cakra Buana dengan seksama.
Hampir sepeminum teh lamanya pemuda tersebut bercerita, setelah ceritanya selesai, Cakra Buana segera menenggak arak kembali dengan tujuan agar dirinya merasa lebih tenang dan nyaman.
"Aii, pantas, pantas saja kau tidak ada kabar sama sekali. Jujur saja, pada awalnya Paman mengira bahwa kau mungkin telah tiada. Sebab begitu lamanya kau tidak memberikan kabar kepada siapapun. Sungguh tak disangka, ternyata kau telah melewati berbagai macam peristiwa menarik dalam pengembaraan kemarin. Semoga dengan semua pengalaman yang telah diperoleh itu, bisa mengubahmu menjadi sosok pria dewasa. Paman hanya berharap agar kau bisa lebih baik dari kami semua," kata Prabu Katapangan Kresna bicara panjang lebar.
Dia sangat gembira. Terlebih lagi karena sekarang dirinya tidak melihat adanya kesedihan dalam wajah keponakannya itu.
Wajah kelam Cakra Buana beberapa tahun lalu yang disebabkan karena kematian Ling Zhi, sekarang telah sirna sudah.
'Sepertinya dia sudah mulai melupakan kematiannya,' batin Prabu Katapangan sambil menahan perasaan perih.
__ADS_1