Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Kecurigaan


__ADS_3

"Baiklah kalau begitu. Terimakasih karena saudara sekalian mau bicara denganku untuk beberapa saat. Sekarang, aku pamit undur diri," kata Cakra Buana dengan lembut.


Dua murid penjaga itu kembali saling pandang. Mereka menjadi bingung. Sesaat sebelumnya, pemuda asing itu sangat 'keukeuh' ingin bertemu dengan maha guru dari Perguruan Rajawali Sakti.


Tetapi sekarang, secara mendadak, dia justru berubah lembut dan malah ingin pamit begitu saja. Bukankah ini adalah kejadian aneh?


Dua murid penjaga tersebut sudah pengalaman. Mendapati kejadian ini, mereka bertambah curiga kepada Cakra Buana.


"Apa yang akan kau lakukan sebenarnya?" tanyanya dengan tatapan mata tajam dan penuh selidik.


"Tidak ada. Aku hanya ingin pamit undur diri, itu saja. Kalian jangan memandangku terlalu curiga," ujarnya sambil tertawa.


"Aku tidak yakin. Beberapa saat lalu kau sangat memaksa ingin bertemu dengan maha guru, tapi sekarang secara tiba-tiba kau seolah tidak ingin bertemu. Bukankah ini sangat ganjil?" kata seorang murid penjaga.


"Menurutku tidak ganjil. Sudahlah, aku tidak bisa berlama-lama lagi," jawab Cakra Buana.


Dia langsung membalikkan badan dan melangkahkan kakinya perlahan.


"Tunggu!!!" cegah salah seorang murid penjaga.


Cakra Buana membalikkan badannya. "Ada apa lagi?"


"Siapa kau sebenarnya?"


"Aku adalah pemuda dari negeri yang sangat jauh, datang kemari untuk menjalankan tugas dari guruku," jawab Cakra Buana sambil memberikan sedikit senyuman.


Selesai berkata, dia membalikkan badannya kembali lalu segera melangkahkan kakinya untuk pergi. Cakra Buana berjalan dengan santai. Dia tidak mau terburu-buru dalam melakukan sesuatu.


Apalagi sekarang. Dia ingin menikmati segala macam keindahan yang ada di sekeliling.


Sementara di pintu gerbang, dua murid penjaga itu masih merasa kebingungan. Cakra Buana berhasil membuat keduanya merasa sangat penasaran.


"Apakah kau percaya dengan ucapannya?" tanyanya kepada murid penjaga yang satu lagi.


"Apakah kau akan percaya kepada ucapan orang asing?" tanya balik murid penjaga itu.


"Tentu saja tidak,"


"Itulah jawaban yang paling tepat,"


"Menurutmu, apa yang akan dia lakukan?"

__ADS_1


"Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Tetapi apapun yang terjadi, kita harus selalu bersikap waspada,"


"Benar,"


Keduanya kembali menjalankan tugas seperti sebelumnya. Mereka langsung melupakan masalah membingungkan yang baru saja datang menghampiri itu.


###


Cakra Buana sedang berada di dalam warung arak. Sudah beberapa hari ini dia belum minum arak, kerongkongannya terasa sangat merindukan minuman yang membawa kebahagiaan tersendiri itu.


Dia rindu arak. Dia juga rindu kekasih utamanya.


Apa kabar Bidadari Tak Bersayap? Apa kabar Tanah Pasundan? Apakah semuanya baik-baik saja? Apakah semuanya masih sama seperti dulu?


Entah kenapa dia mendadak rindu semua hal. Apakah rindu selalu seperti itu? Selalu datang tanpa diduga dan tanpa disangka sebelumnya?


Kerinduan.


Sebuah rasa yang selalu hadir dalam diri manusia. Siapapun orangnya, dia pasti mengalami yang namanya kerinduan. Entah apa yang di rindukannya, yang jelas, setiap manusia pasti pernah ada dalam fase seperti itu.


Kekuatan rindu hampir serupa dengan kekuatan cinta. Sama besar, sama kuat. Karena cinta, seseorang rela melakukan apa saja. Begitu juga dengan rindu. Karena rindu, seseorang bisa melakukan apapun.


Keduanya selalu beriringan dalam diri manusia. Seperti bayangan yang selalu mengikuti ke mana pun kau pergi


Cakra Buana memesan dua guci arak yang paling harum. Tidak lupa juga dia memesan satu krat daging sapi.


Suasana di warung arak lumayan ramai. Suara tawa menggema di berbagai penjuru. Cakra Buana diam seorang diri mendengarkan pada pengunjung bercerita dengan rekannya masing-masing.


Pesanan telah tiba. Dua guci arak dan satu krat daging sudah di depan mata. Pemuda itu langsung menyambarnya.


Tapi baru saja minum beberapa tenggak arak, pundaknya mendadak di tepuk oleh seseorang dari arah belakang.


Cakra Buana membalikkan badannya. Seorang nenek yang bungkuk tersenyum hangat kepadanya.


Nenek Tua Bungkuk. Dia langsung duduk di depan Cakra Buana. Tanpa berkata lebih dulu, wanita tua itu langsung menyambar guci arak yang masih utuh.


Pemuda itu tidak berkata apa-apa. Dia hanya tertawa menyaksikan sikap si nenek tua. Hanya saja Cakra Buana merasa heran, Nenek Tua Bungkuk datang seorang diri. Lantas, ke mana Liu Bing?


"Kau datang seorang diri?" tanyanya tidak bisa menahan rasa penasaran.


"Apakah kau lihat aku datang berdua?" nenek tua itu malah balik bertanya.

__ADS_1


"Di mana Liu Bing?"


"Dia sedang berlatih di tempat pertapaanku. Kau jangan khawatir, Liu Bing baik-baik saja,"


"Aku percaya kepadamu,"


Nenek Tua Bungkuk mengangguk. Dia minum arak kembali lalu memasukkan beberapa potong daging ke mulutnya.


"Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Nenek Tua Bunfkuk.


"Aku ada sedikit urusan, kau sendiri sedang apa di sini?"


"Aku sedang menanti seseorang. Dia merupakan sahabat lama, kami berjanji akan bertemu di sekitaran sini. Tak disangka malah bertemu denganmu,"


Cakra Buana tidak banyak bertanya lagi. Pemuda itu tidak pernah ingin terlalu mengetahui tentang urusan orang lain. Apalagi itu merupakan urusan pribadi. Jika orangnya tidak bercerita sendiri, maka Cakra Buana tidak akan mau bertanya lebih jauh lagi.


Keduanya kembali bercerita terkait berbagai macam hal dunia persilatan. Nenek Tua Bungkuk mengatakan bahwa dunia rimba hijau sedang mengalami gejolak kembali. Apalagi sekarang semakin dekat ke waktu pertemuan para tokoh yang akan memperebutkan benda pusaka.


Terkait hal tersebut, pemuda itu tidak terlalu memikirkannya, meskipun memang dia berniat untuk memiliki ginseng yang berusia seribu tahun.


Yang menjadi pikiran Cakra Buana adalah bahwa dirinya sekarang sedang menjadi incaran kaum sungai telaga (dunia persilatan). Pemuda Tanah Pasundan itu sebenarnya sudah mengetahui hal tersebut sejak beberapa waktu lalu, tetapi berita yang disampaikan Nenek Tua Bungkuk kali ini sangat diluar dugaannya.


"Apakah kau serius?" tanya Cakra Buana masih tidak menyangka.


"Aku sangat serius. Empat datuk sesat mencarimu saat ini. Bahkan mereka mengerahkan seluruh anak buahnya untuk membunuhmu,"


Cakra Buana tidak menjawab. Dia hanya bisa menghela nafas dalam-dalam.


Kalau urusannya sudah sejauh ini, bagaimana mungkin dia bisa kembali secepatnya ke Tanah Pasundan?


"Baiklah, terimakasih atas informasi berharga ini. Suatu saat aku akan membalasnya," ucap Cakra Buana tersenyum.


"Kau tidak perlu khawatir. Kami akan selalu membantumu dalam hal apapun. Yang lain pun sama, jadi kau tenang saja," Nenek Tua Bungkuk tertawa hangat.


Tawa yang khas dari sahabat dan untuk sahabat.


"Terimakasih banyak. Aku tidak khawatir, masalah apapun, aku akan menghadapinya dengan santai," kata pemuda itu sambil tertawa pula.


Nenek Tua Bungkuk melakukan hal yang sama.


Jika dua orang sahabat sedang berkumpul bersama, untuk apa memikirkan berbagai macam hal? Pikirkan saja kebahagiaan. Jangan pernah memikirkan kesedihan ataupun hal lainnya.

__ADS_1


Sahabat adalah keluarga kedua yang dapat mengerti dan memahami dirimu.


__ADS_2