Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Pendekar Tanpa Nama dan Naga Terbang Ketiga


__ADS_3

Naga Terbang Kedua tewas sambil tersenyum. Meskipun benar bahwa mulutnya dipenuhi oleh darah kental, tapi senyumannya pun dapat terlihat dengan jelas.


Selain darah di mulut itu, rasanya tidak ada lagi luka yang terlihat lainnya. Semuanya masih utuh, anggota tubuhnya tidak ada yang hilang.


Apakah dia tewas karena diserang organ dalamnya?


"Pisau mati orangnya pun ikut mati," gumam si Buta Yang Tahu Segalanya sambil menghela nafas


Pisau belati si Naga Terbang Kedua mati. Tapi bukan mati seperti layaknya manusia. Mati yang dimaksudkan adalah patah. Ya, pisau belati itu dua-duanya telah patah menjadi dua bagian.


Senjatanya patah, orangnya tiada.


Apakah itu artinya mereka telah satu tubuh dan satu nyawa?


Selama pertarungan barusan berlangsung, semua pasang mata teralihkan ke sana. Semuanya menahan nafas. Semuanya tidak ada yang berani bicara.


Para tokoh kelas atas dunia persilatan Tionggoan ingin sekali berteriak kegirangan, namun hal itu mereka urungkan karena dikhawatirkan dapat mengundang kemarahan pihak Organisasi Naga Terbang.


Tapi meskipun begitu, siapapun tahu bahwa mereka sedang merasa bahagia. Sangat bahagia.


Manusia mana yang tidak bahagia kalau musuh besarnya mampus?


Anggota Organisasi Naga Terbang tidak ada yang bicara. Mereka juga tidak ada yang bergerak.


Benarkah mereka akan diam saja? Ataukah semua anggota organisasi rahasia itu sedang menunggu waktu yang tepat untuk bergerak?


Pertarungan masih terus berlanjut.


Di arena pertempuran, Pendekar Tanpa Nama tampak sedang bertarung sengit melawan Naga Terbang Ketiga.


Orang-orang pasti menyangka bahwa keduanya bertarung sangat serius. Padahal sebenarnya tidak.


Selama jalannya pertarungan, dua orang itu justru sedang berbicara melalui ilmu mengirimkan suara yang bisa disalurkan ke pikiran orang yang dituju.


Sebenarnya, apakah di antara mereka ada hubungan istimewa? Ataukah keduanya telah saling kenal? Siapa sebetulnya Naga Terbang Ketiga?


Sian-li Bwee Hua.


Naga Terbang Ketiga yang dimaksud memang wanita maha cantik itu.

__ADS_1


Alasan tadi kenapa dia menyerang Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding dengan sangat serius mungkin dikarenakan dirinya membalaskan sedikit dendam Pendekar Tanpa Nama pada saat pemuda itu berada di Perkampungan Harimau Sakti beberapa waktu yang lalu.


Walaupun Dewi Bunga Bwee tidak terlibat pertarungan sengit di sana, tapi dia dapat mengetahui semua yang sudah terjadi.


Terkait bagaimana wanita itu bisa tahu, siapapun tidak ada yang mengerti kecuali dia sendiri.


"Apakah kau sanggup menahan semua jurus yang aku keluarkan?" tanya Pendekar Tanpa Nama.


"Yang bertanya seperti itu harusnya aku," jawab si Naga Terbang Ketiga.


"Aku tentu sanggup menahan semua jurusmu," jawab Pendekar Tanpa Nama.


"Baiklah, tapi kau harus ingat, jangan sampai ada yang menjadi korban di antara kita,"


"Kenapa?"


"Karena aku tidak ingin kau mati di tanganku," jawab Sian-li Bwee Hua.


"Aku pun berharap demikian kepadamu,"


Wushh!!! Wushh!!!


Pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan, dilancarkan oleh keduanya silih berganti. Jurus yang dikeluarkan oleh mereka terbilang jurus kelas atas. Tapi tenaga dan hawa sakti yang keluar tidak setinggi biasanya.


Sebuah tendangan cukup keras mendarat di pangkal lengan pemuda Tanah Pasundan itu.


Orang-orang yang berada di pihaknya dibuat terkejut. Mereka menyangka bahwa pemuda asing itu tidak sanggup mengalahkan Naga Terbang Ketiga.


Mereka mulai cemas saat melihat Cakra Buana terus digempur. Beberapa saat lamanya, pemuda kekar itu berada di posisi yang tidak diuntungkan.


Huang Mei Lan, Nenek Tua Bungkuk dan Liu Bing juga cemas. Mereka adalah wanita. Dan setiap wanita pasti gampang cemas. Apalagi kalau melihat orang yang diharapkan berada di posisi terdesak.


Ketiganya mengepalkan tangan. Mereka mengigit lidah cukup keras.


"Jangan seperti itu. Pemuda keparat dari Tanah Pasundan pasti tidak akan kalah," kata Tian Hoa si Iblis Tua Langit Bumi.


"Benar, aku tahu pemuda itu belum serius," ucap si Harimau Sakti Tiada Tanding membenarkan perkataan Tian Hoa.


"Kalau dia kalah, aku tidak sudi lagi menjadi sahabatnya. Hihh," si Orang Tua Menyebalkan yang sejak tadi banyak diam pun bahkan ikut angkat bicara.

__ADS_1


Huang Pangcu melirik tajam ke arahnya. Seketika juga orang tua yang mempunyai watak aneh dan kadang menyebalkan itu langsung terdiam kembali.


Dia segan kepada Huang Pangcu. Apalagi kalau Ketua Kay Pang Pek itu sudah mengacungkan tongkat hijau kemala miliknya.


"Sekali lagi kau bicara seenak jidat, aku pastikan tongkatku menggepruk kepalamu," katanya dengan nada mendalam.


"Aii, iya, iya. Aku diam," jawabnya lalu memalingkan wajah.


Para sahabatnya melirik pula ke arah Orang Tua Menyebalkan. Mereka ingin tertawa, tapi tidak bisa. Apalagi dalam situasi seperti sekarang ini.


Di antara semua orang yang cemas, yang masih tampak tenang dan santai hanyalah si Buta Yang Tahu Segalanya dan Huang Pangcu si Kakek Tua Tongkat Hijau.


Alasan mereka berlaku demikian karena keduanya sudah tahu di balik alasan Pendekar Tanpa Nama terlihat terdesak itu kenapa.


"Bocah ingusan itu ternyata pintar juga kalau menghadapi seorang wanita," kata Huang Pangcu bicara melalui pikiran Li Guan.


"Hahaha … kalau tidak begitu, berarti dia sudah bukan Pendekar Tanpa Nama," jawab si Buta Yang Tahu Segalanya.


"Benar juga, aii, pria tampan selalu seperti itu. Menurutmu, apakah semuanya akan berjalan lancar?" tanya Huang Pangcu.


"Tidak. Pertempuran sebenarnya baru akan dimulai. Tapi kau diam saja, jangan bergerak sebelum pihak lawan bergerak. Menunggu dengan segala persiapan matang adalah jalan terbaik," kata Li Guan.


"Baik, aku mengerti,"


Plakk!!!


Semua pasang mata teralihkan kembali ke arena pertarungan. Pendekar Tanpa Nama dan Naga Terbang Ketiga beradu telapak tangan. Keduanya terdorong mundur ke belakang sejauh dua langkah.


Pertarungan sempat berhenti. Tapi beberapa helaan nafas kemudian, keduanya segera melanjutkan kembali.


Di arena pertarungan lain ada Tiang Bengcu si Naga Kebenaran Dari Nirwana dan Cio Hong si Rajawali Petir Pengoyak Sukma yang sedang melawan Dewi Cantik Tujuh Nyawa.


Kedua tokoh pilih tanding itu bertempur dengan sengit. Mereka juga sangat serius. Meskipun lawannya hanya seorang wanita, namun keduanya tahu bahwa wanita itu lain dari pada wanita lainnya.


Tiang Bengcu bergerak sangat cepat. Pedang lemas andalannya telah merobek udara, cahaya yang menyilaukan mata segera berkilat di tengah udara hampa.


Tubuhnya berputar. Pedangnya menyerang dengan brutal. Manusia dan pedangnya sama-sama berbahaya.


Dua belas tusukan dan sepuluh tebasan hebat dilayangkan dengan serentak. Hawa panas menyeruak ke seluruh penjuru pertarungannya.

__ADS_1


Cio Hong tidak mau kalah. Walaupun dia lebih suka bertarung dengan tangan kosong, tapi jangan pernah memandang remeh kepadanya. Terlebih lagi kepada sepuluh jari tangannya.


Konon kata orang, sepuluh jari tangan tersebut bahkan dapat melubangi tembok beton yang demikian tebalnya.


__ADS_2