
Sekarang semuanya berbalik. Giliran pihak si Tongkat Seribu Bayangan yang terkepung oleh orang-orang Pendekar Tanpa Nama.
Malam semakin larut. Kentongan kedua sebentar lagi akan terdengar. Angin berhembus liriu laksana golok tajam yang menyayat kulit. Hawa sangat dingin. Tapi perasaan si Tongkat Seribu Bayangan dan orang-orangnya lebih dingin lagi.
Nyali mereka pergi entah ke mana. Puluhan orang itu, saat ini tak lebih seperti kawanan singa yang sudah ompong giginya.
"Selain membual, ternyata kau pun pintar menyusun rencana. Ternyata kau sudah menyiapkan bala bantuan," kata si Tongkat Seribu Bayangan sambil tersenyum mengejek ke arah Pendekar Tanpa Nama.
"Aku kemari tidak menyiapkan bala bantuan apapun. Selain rencana untuk membuka kedok manusia berhati iblis yang ada di Istana Kerajaan, rasanya aku tidak menyiapkan rencana lainnya,"
"Tapi buktinya sekarang apa? Bala bantuanmu sudah tiba di sini. Dan kau masih mau menyangkal?"
Si Tongkat Seribu Bayangan mulai kesal dengan segala jawaban yang diberikan oleh Pendekar Tanpa Nama. Di matanya, pemuda itu benar-benar pemuda yang sangat licin seperti belut. Tidak bisa dipegang, tidak mudah ditangkap.
"Kau jangan terus mendesaknya. Semua rencana ini memang diluar pengetahuan Pendekar Tanpa Nama. Terhadap kehadiran kami semua, dia sama sekali tidak tahu menahu," kata Dewi Bercadar Merah tiba-tiba angkat bicara.
Sebelas tokoh pilih tanding di pihak lawan keget bukan kepalang. Mereka tidak habis pikir, bagaimana mungkin pihak musuh bisa mengetahui semua rencana yang sudah disusun dengan matang ini? Padahal orang-orang tersebut yakin kalau rencana ini tidak akan gagal. Mereka juga percaya bahwasannya Pendekar Tanpa Nama pasti bakal mampus malam ini.
Tak nyana, ternyata semuanya gagal total. Rencana yang disangka matang, buktinya malah mentah. Bukannya mereka yang membunuh Pendekar Tanpa Nama, malah yang bakal terjadi mungkin saja pihak mereka sendiri yang bakal dibunuh oleh orang-orang Cakra Buana.
Hati mereka mencelos. Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuh orang-orang aliran hitam tersebut.
Sekarang kalau sudah seperti ini, lalu apa yang dapat mereka lakukan?
"Bagaimana kau bisa tahu semua rencana kami?" tanya tokoh pilih tanding yang lain.
Dia berjuluk si Tangan Halilintar. Rambutnya sebahu. Sepasang matanya menyala cemerlang. Warna pakaiannya biru terang. Orang ini cukup terkenal di bagian Utara sana. Jurus tangan kosongnya sangat mengerikan. Menurut kabar yang tersiar, pada saat tangannya melancarkan pukulan, maka suara menggelegar bagaikan halilintar bakal terdengar.
Di daerah Utara sana, tidak banyak tokoh-tokoh yang sanggup bertahan lebih dari lima belas jurus pukulannya.
"Kalau kalian saja bisa tahu rencana orang lain, kenapa kami tidak bisa?" tanya balik Dewi Bercadar Merah.
Sejauh ini, dia hanya menjawab pertanyaan yang sebelumnya diajukan oleh pihak lawan. Ling Ling memang gadis cerdas. Pengalamannya dalam dunia persilatan Tionggoan membuatnya menjadi tokoh wanita muda yang ditakuti lawan disegani kawan.
__ADS_1
"Hemm, sombong betul ucapanmu," jengek ai Tangan Halilintar.
"Aku bicara sejujurnya. Memangnya kalian kira hanya kalian saja yang mempunyai mata-mata handal? Jangan lupa, mata-mata handal itu sangat banyak. Siapa tahu mata-mata yang kami miliki jauh lebih handal daripada milik kalian," jawab Dewi Bercadar Merah membalas senyuman ejekan itu.
Mulut si Tangan Halilintar langsung terkancing. Dia tidak bisa menjawab ucapan gadis cantik itu.
Memang benar, ucapan Ling Ling barusan tak dapat dipungkiri lagi. Di dunia ini, segala macam kemungkinan bisa terjadi kepada siapa saja, di mana saja, dan apa saja.
"Baiklah. Sudah cukup kita bicaranya. Sekarang sudah tiba waktunya," ucap Dewi Bercadar Biru menyambung.
"Malam ini sangat cocok untuk membunuh orang," kata Pendekar Tanpa Nama dengan dingin.
Dia bicara serius. Oleh sebab itulah semua musuh yang mendengarnya merasa jantung mereka berdebar lebih keras. Siapapun tahu, kalau Pendekar Tanpa Nama sudah bicara, maka hal yang dibicarakannya itu pasti sanggup dia lakukan.
Dewi Bercadar Merah memberikan aba-aba kepada orang-orang yang dibawanya. Begitu pula dengan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti.
Wushh!!! Wushh!!!
Puluhan anak panah melesat dengan sangat cepat. Belasan pisau juga sudah dilayangkan secara bersamaan.
Slebb!!! Slebb!!! Slebb!!!
Suara seperti itu terus terdengar. Hanya sesaat saja, korban jiwa mulai berjatuhan. Tubuh orang-orang itu jatuh ke bawah sehingga menimbulkan suara berdebum cukup keras.
Tidak kurang dari lima belas prajurit lawan telah mampus.
Suasana langsung berubah. Hutan yang tadinya sepi, sekarang mulai ramai oleh teriakan orang-orang tersebut.
Di tengah suara-suara menyayat hati itu, si Tongkat Seribu Bayangan tampak bicara kepada rekan di sisinya. Entah apa yang mereka bicarakan.
Hanya saja, setelah selesai perbincangan di antara mereka, terlihat rekan si Tongkat Seribu Bayangan mengangguk. Setelah itu orang tersebut langsung membalikkan tubuhnya lalu segera melompat ke dalam kegelapan.
Di sisi lain, pertempuran sudah mulai berlangsung. Semua prajurit yang dibawa oleh lawan telah tewas lebih dari setengahnya karena keganasan anggota di pihak Pendekar Tanpa Nama.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, para tokoh pilih tanding juga segera turun ke arena.
Pertempuran yang bakal berjalan sengit dan hebat sebentar lagi akan terjadi.
Wushh!!! Wushh!!!
Pendekar Tanpa Nama meluncur ke depan. Si Tongkat Seribu Bayangan juga melakukan hal serupa.
Keduanya belum berhadapan, tapi serangan jarak jauh sudah dilayangkan oleh keduanya.
Blarr!!! Blarr!!!
Benturan keras terdengar. Debu mengepul tinggi. Dedaunan berterbangan terbawa gelombang kejut yang tercipta.
Si Tongkat Seribu Bayangan tidak mau membuang waktu lebih lama lagi. Tongkat bambu kuning yang lain daripada lainnya itu langsung digerakkan.
Suara mendengung terdengar memekakkan telinga. Lima sodokan tongkat dilancarkan dengan segenap kemampuan. Sebelum serangan utamanya tiba, angin berhawa panasnya malah telah tiba lebih dulu.
Pendekar Tanpa Nama belum mengeluarkan pedang pusaka miliknya. Dia hanya menggeser tubuh ke samping kanan untuk menghindari serangan lawan.
Berbarengan dengan dimulainya pertarungan Cakra Buana, tidak jauh di sebelahnya juga ada pertempuran lainnya.
Dewi Bercadar Biru sudah bertempur sengit melawan pria tua yang dipenuhi oleh jambang. Wajahnya sangat angker. Sepasang matanya sangat tajam. Orang tersebut menggunakan dua batang golok kembar sepanjang setengah depa.
Golok itu bukan golok biasa, sebab begitu digerakkan, hawa panas dan dingin segera terasa merangsang tubuh Dewi Bercadar Biru.
Tubuh gadis itu sudah tergulung dalam serangan lawan. Keduanya berada dalam posisi yang sama. Mereka sama-sama menyerang.
Trangg!!!
Benturan nyaring menggema. Tubuh pria tua itu terdorong dua langkah ke belakang. Sedangkan Dewi Bercada Biru hanya terdorong satu setengah langkah. Di tangan kanannya sudah terdapat sebatang pedang berwarna biru muda.
Pedang Cantik dari Khayangan.
__ADS_1
Pedang pusaka itu ternyata sudah keluar.