
Rasa sakit yang tidak dapat dibayangkan dan dilukiskan sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Bajing Terbang memandang ke bawah. Hampir saja dia menjerit karena saking kagetnya. Ternyata darah tadi berasal dari tubuhnya.
Semula kaki dan tangannya masuh utuh. Tapi sekarang setelah dia menggerakkan tubuhnya sedikit saja, kaki kiri sebatas lutut dan tangan kiri sebatas sikut telah jatuh ke bawah. Dua anggota tubuh itu ternyata sudah terpotong.
Apakah kejadian ini nyata? Benarkah bukan mimpi?
Bajing Terbang menggertak giginya sekencang mungkin. Dia juga mengigit lidahnya hingga berdarah. Rasa sakit itu benar-benar tiada duanya. Seumur hidupnya, baru sekarang saja dia merasakan sakit seperti ini.
Darah masih mengucur dari kaki dan tangannya. Wajahnya yang semula merah karena marah, sekarang malah pucat karena ketakutan sekaligus kesakitan.
Keringat dingin semakin membasahi tubuhnya. Sekarang matahari bersinar terik, tapi dia tidak merasa panas. Justru sebaliknya, Bajing Terbang merasa dingin.
Apakah rasa dingin ini datang karena dirinya ketakutan?
Pendekar Tanpa Nama tersenyum dingin ke arahnya. Senyuman itu semakin bengis, juga tampak semakin kejam.
"Apakah sekarang kau percaya?"
Bajing Terbang tidak sanggup bicara. Dia hanya menjawab dengan anggukan kepala saja. Tadi dia memang tidak percaya kalau pemuda itu mampu mengutungi kaki dan tangannya, tapi sekarang setelah terbukti, bagaimana mungkin dirinya tidak percaya?
"Sekarang aku memberikan kesempatan lagi kepadamu, katakan siapa yang memberikan tugas untuk membunuhku?"
Bajing Terbang menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan terpaksa. Sepertinya dia masih berpikir dua kali untuk memberitahukan siapa yang sudah menyuruhnya.
"Baik kalau begitu. Jangan sebut aku kejam jika kaki dan tangan kananmu aku buntungi juga,"
Pemuda itu langsung menggengam kembali Pedang Naga dan Harimau.
Dia melangkah perlahan ke arah Bajing Terbang. Batang pedang yang tajamnya luar biasa sudah tampak di depan mata. Di bawah tempaan sinar matahari, senjata pusaka itu justru malah terlibat jauh lebih kejam lagi.
Tak bisa dipungkiri kalau Bajing Terbang lebih takut lagi. Dia mundur ke belakang dengan kaki kanannya.
Pendekar Tanpa Nama mengangkat pedang pusaka itu. Seolah-olah dirinya serius akan mengutungi satu kaki dan tangannya lagi.
"Tahan!!!" katanya setelah berpikir beberapa kali.
Bajing Terbang bicara tepat sebelum Pedang Naga dan Harimau semakin dekat dengan tubuhnya.
Pendekar Tanpa Nama menghentikan gerakannya. Dia menarik kembali pedang itu.
"Apakah sekarang kau akan memberitahukan siapa yang telah menyuruhmu?"
__ADS_1
"Ba-baik, baik. Aku akan mengatakannya,"
"Katakan siapa?"
"Ma-majikan Bertudung Hitam …" jawabnya sambil terus berusaha menahan rasa sakit.
Pendekar Tanpa Nama mengerutkan keningnya. Seingat pemuda itu, rasanya di Tanah Pasundan tidak ada orang yang mempunyai julukan Majikan Bertudung Hitam.
Nama itu sangat asing. Bahkan baru pertama kali ini saja dia mendengarnya. Benarkah di Pasundan ada julukan seperti yang disebutkan Bajing Terbang barusan?
"Apakah kau tidak berbohong?" tanyanya dengan tatapan menyelidik.
"Kondisiku sudah seperti ini. Berbohong pun tidak ada gunanya lagi," jawabnya pasrah.
Cakra Buana memandangi lekat-lekat orang serba hitam di hadapannya itu. Sedikit banyaknya dia tahu sekaligus bisa membedakan mana orang yang berbohong dan mana yang tidak.
Ternyata benar, Bajing Terbang tidak sedang berbohong. Pada saat bicara, wajahnya memperlihatkan kesungguhan, matanya juga menatap balik tatapan yang dia berikan. Kedua pundaknya juga diam.
Padahal kalau orang berbohong pada umumnya tidak seperti itu. Biasanya bola mata mereka tidak bisa diam, kalau ditatap tidak berani menatap kembali. Dan lagi, kedua pundaknya pasti tidak bakal diam.
Lantas benarkah semua ucapannya dapat dipercaya?
"Terimakasih,"
Selesai berkata, dia langsung pergi begitu saja. Walaupun satu tangan dan kakinya sudah kutung, ternyata ilmu meringankan tubuhnya masih lumayan juga.
Mau tidak mau Pendekar Tanpa Nama memuji juga ketinggian ilmunya. Sebab tidak banyak orang yang memiliki ketangguhan seperti Bajing Terbang itu.
Tepat setelah perginya Bajing Terbang, —orang yang mengaku suruhan Majikan Bertudung Hitam—, pada saat itulah terlihat Sian-li Bwee Hua dan Bidadari Tak Bersayap muncul dswri depan sana.
Dua orang gadis itu berjalan dengan santai. Sepertinya mereka berdua tidak terlalu terburu-buru. Mungkin karena keduanya percaya kalau kekasihnya pasti dapat mengejar mangsanya.
Wajah keduanya tampak tenang, tapi begitu menyadari kalau ada sesuatu mengerikan yang baru saja terjadi, wajah cantik mereka justru berubah hebat.
Hampir saja Bidadari Tak Bersayap menjerit sekencang mungkin karena dia melihat ada kutungan tangan dan kaki manusia.
"Kakang, apa yang sebenarnya terjadi? Tangan dan kaki siapakah ini?" tanyanya gugup karena takut.
"Tangan dan kaki orang yang ingin membunuhku tadi pada saat kita berjalan," jawabnya tenang sambil berjalan menyambut dua kekasihnya.
Bidadari Tak Bersayap masih kebingungan. Sebab dirinya tidak tahu menahu apa yang menimpa kekasihnya tersebut.
__ADS_1
"Tadi waktu kita berjalan di tengah kerumunan warga, seseorang telah melemparkan senjata rahasia kepadanya, untung bahwa Kakang Cakra Buana selalu waspada. Setelah dirinya berhasil menangkap senjata itu, dia langsung lari memburu pelakunya," ucap Sian-li Bwee Hua angkat bicara.
"Jadi itulah alasan kenapa Kakang lari?"
"Tepat sekali," jawabnya tersenyum.
"Tapi kalau Rai sudah mengetahuinya, kenapa tadi kau hanya diam saja?" tanya Sinta lebih lanjut.
"Karena aku tahu kalau Kakang kita ini tidak bakal melepaskan orangnya begitu saja,"
Sinta langsung terdiam. Dia semakin memuji kemampuan Ling Ling. Sedangkan Cakra Buana sendiri hanya tersenyum saja menanggapi percakapan di antara dua gadis itu.
Keduanya ternyata saling melengkapi. Yang satu pintar, pendiam dan ramah. Sedangkan satu lagi selalu waspada, cerdik, dan sedikit ketus jika kepada orang tak dikenal.
Tapi terlepas dari semua itu, keduanya tetap sama. Sama-sama menakutkan.
"Sinta, apakah di Kotaraja ada yang menjual informasi?" tanya Pendekar Tanpa Nama secara tiba-tiba.
"Aku kurang tahu Kakang, memangnya kenapa?" tanyanya penasaran.
"Orang tadi mengaku suruhan Majikan Bertudung Hitam, tapi aku belum pernah mendengar julukan itu. Oleh sebab tersebut aku ingin mencari informasi tentangnya,"
"Hemm, kalau begitu jangan bertanya kepada orang lain. Kita tanyakan saja kepada sahabat mendiang guruku," usul Bidadari Tak Bersayap.
"Siapa yang kau maksudkan?"
"Sepasang Kakek dan Nenek Sakti,"
"Bagaimana caranya agar kita bisa bertemu mereka?"
"Aku punya ide," jawabnya sambil tersenyum penuh arti.
"Baiklah. Aku percayakan kepadamu,"
Bidadari Tak Bersayap mengangguk. Dia sangat gembira kalau bisa membantu kekasihnya dalam menghadapi sebuah persoalan.
Pendekar Tanpa Nama sendiri langsung melamun. Mendengar dua nama yang sangat dekat dengannya, tanpa sadar timbul juga rasa rindu dalam hatinya.
Sudah setahun lebih Cakra Buana tidak bertemu dengan Sepasang Kakek dan Nenek Sakti. Apakah keduanya masih ingat kepada dirinya? Sekarang, bagaimana kabar mereka?
"Hahh … sudah setahun lebih," gumamnya setelah menghela nafas dalam-dalam.
__ADS_1