
Sekarang di arena pertempuran itu telah bertambah lagi tokoh-tokoh lainnya.
Dua Dewi.
Ya, Dewi Bercadar Biru dan Dewi Bercadar Merah sudah berdiri tepat di samping Pendekar Tanpa Nama. Satu di kanan, dan satu di kiri.
Dalam keadaan seperti ini saja, ketiga pemuda pemudi tersebut sangatlah serasi. Siapapun bakal mengatakan hal yang sama, kalau ketiganya sangatlah cocok.
Pendekar Tanpa Nama ibarat seorang Dewa dari khayangan. Sedangkan keduanya jelas ibarat dua orang Dewi.
Dari masing-masing tubuh mereka sudah keluar selapis hawa pembunuh yang sangat kental. Ketiganya saat ini sedang berada dalam kemarahan besar. Saking besarnya, sampai-sampai tiada satu orangpun yang dapat membayangkannya.
Jangankan para prajurit yang ada, bahkan para datuk dunia persilatan, Ratu Ayu dan orang-orang penting Kerajaan lainnya merasakan hal serupa. Mereka merasa bahwa tiga pemuda pemudi itu tidak mirip dengan manusia.
Orang-orang tersebut justru merasa kalau Pendekar Tanpa Nama dan Dua Dewi lebih mirip dengan tiga ekor harimau yang sedang berada di puncak kemarahan. Bila seekor Raja hutan sedang marah, sudah pasti seluruh hutan sanggup dia getarkan. Pepohonan pun bisa dia goyangkan hanya dengan raungannya saja.
"Bagus, akhrinya kalian keluar menampakkan diri juga. Kalau begitu, tebakanku tidak salah," kata Cakra Buana dengan suara mendalam.
"Apa yang kau tebak?" tanya pengawal pribadi yang ada di hadapannya. Dia memakai dua pedang. Pedang kembar yang teramat sangat tajam.
"Jauh sebelum kemari, si Gadis Sumber Informasi sudah memberitahu bahwa Penguasa Kegelapan dan muridnya, Empat Dewa Sesat ada di dalam Istana Kerajaan. Dia bercerita kalau murid-murid Penguasa Kegelapan berbagi tugas. Mereka menyamar di tempat berbeda, namun yang pasti masih dalam wilayah Istana,"
Tiada orang yang bicara. Tidak ada pula yang menjawab. Mereka hanya tetap diam dan menantikan Cakra Buana meneruskan ucapannya.
"Tetapi aku tidak percaya akan semua itu. Sebab setahuku, Penguasa Kegelapan dan empat muridnya tidak pernah berpisah. Perduli di mana pun, kapan pun, guru dan murid itu pasti selalu bersama. Oleh karena itulah, setelah aku mengetahui kalau yang tadi aku bunuh adalah Dewa Trisula Perak, aku menjadi semakin yakin jika kalian adalah Dewa Tapak Racun, Dewa Tombak dan Dewa Pedang Kembar," jelas Cakra Buana panjang lebar.
"Sedangkan yang menjadi Prabu Katapangan Kresna adalah guru kalian sendiri. Penguasa Kegelapan," katanya dengan tegas setelah dia menghela nafas beberapa kali.
Hawa semakin dingin. Seolah mereka sedang berada di tempat bersalju. Berada di tempat yang mempunyai suhu sangat rendah. Akan tetapi meskipun hawa dingin, darah tetaplah darah. Selamanya, darah itu hangat. Malah ada yang panas membara.
__ADS_1
Seperti perasaan dendam yang berada dalam benak Pendekar Tanpa Nama.
"Hahaha, bagus, bagus. Ternyata kau memang benar-benar pintar. Sudah berapa lama kita tidak bertemu?" tanya Prabu Katapangan Kresna yang ternyata adalah Penguasa Kegelapan. Orang yang paling dicari-cari oleh Cakra Buana selama ini.
"Hampir dua tahun," jawabnya singkat.
"Dua tahun … waku yang singkat, tapi juga terbilang lama. Selama dua tahun ini, apakah kau mengalami kemajuan dalam ilmu silatmu?"
"Kau bisa mencobanya kembali,"
"Hemm, kalau begitu kau sudah banyak berubah. Haishh, aku juga telah banyak berubah pula,"
Jangankan dalam waktu dua tahun, dalam waktu satu atau dua bulan sekalipun, perubahan pada diri seseorang tentu bakal ada. Masalah perubahan itu baik atau buruk, yang pasti perubahan bakal tetap ada.
Entah itu perubahan umurnya, wajahnya, atau bahkan keadaannya.
"Sekarang telah tiba waktunya. Semua penantianku akhirnya tidak sia-sia. Semua penderitaan yang telah aku lewati selama ini juga tidak percuma. Aku sudah menemukanmu, malah membasmi pula antek-antek yang kau suruh untuk membunuhku. Waktunya sudah datang. Pembalasan ini akan segera dimulai. Bersiaplah!" Cakra Buana bicara penuh dengan keyakinan. Sedikitpun tidak ada keraguan dalam nada bicaranya.
Kalau seseorang sepertinya sudah menentukan langkah, siapapun jangan harap bisa menghentikannya. Selama nyawa masih dikandung badan, maka langkah itu akan terus maju. Tidak akan mundur meski satu langkah sekalipun.
Tiga Dewa Sesat sudah bersiap di posisinya masing-masing. Mereka tahu, pertarungan yang sesungguhnya baru saja akan dimulai. Tak bisa dipungkiri lagi, orang-orang itupun merasa sedikit gentar.
Alasannya bukan lain adalah karena mereka merasakan ***** membunuh yang teramat kental terpancar dari tiga sosok tokoh muda di hadapannya saat ini.
Sebagai orang-orang yang sudah kenyang akan pengalaman, sudah tentu mereka tahu bahwa hanya orang yang sudah banyak membunuh saja yang mempunyai hawa membunuh sekental ini.
Jadi, berapa banyak manusia yang sudah dibunuh oleh Dua Dewi dan Pendekar Tanpa Nama?
Wushh!!! Wushh!!! Wushh!!!
__ADS_1
Dua belah pihak langsung bergerak secara bersamaan. Gerakan mereka cepat. Hanya sesaat saja ketiganya sudah berada di hadapan pilihan lawannya masing-masing.
Kedua belah pihak segera mengeluarkan seluruh kekuatan yang dimiliki. Jika sudah seperti ini, maka pertempuran yang bakal berlangsung tentunya akan jauh lebih hebat daripada sebelumnya.
Dewi Bercadar Merah bertarung menggunakan tangan kosong. Sebab lawannya saat ini adalah dua si Dewa Tapak Racun.
Tapak bertemu tapak, racun melawan racun, kira-kira seperti apa jadinya?
Dewa Tapak Racun sudah melancarkan serangan pertama. Jurus kelas atas miliknya langsung dikeluarkan. Sepasang tangan itu berubah warna menjadi sedikit keunguan. Bau busuk yang lebih kentara daripada sebelumnya mulai tercium.
Sian-li Bwee Hua tahu akan keliahaian lawan. Oleh sebab itulah gadis Tionggoan tersebut langsung menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh untuk melindunginya.
Jurus-jurus tapak kelas atas sudah dilayangkan. Benturan antara dua tapak manusia berkekuatan tinggi sudah beradu di tengah udara. Ling Ling berusaha untuk tetap menerjang lawan. Begitu pula dengan si Dewa Tapak Racun sendiri.
"Tapak Dewi Kwan Im …"
Wushh!!!
Jurus kedua dari Kitab Tapak Sejagad keluar. Kedua tangan Dewi Bercadar Merah langung menggempur lawan. Serangannya tidak bisa dibayangkan. Kekuatan yang terkandung dalam jurus itu sangatlah besar.
Meskipun seorang ahli racun, namun jika menghadapi jurus seperti sekarang ini, tanpa sadar hati si Dewa Tapak Racun tergetar juga.
Jurus gadis itu amatlah aneh. Dia melihat ada dua buah tangan halus dsn bercahaya putih menyilaukan yang menyerangnya. Tangan itu tampak sangat indah. Tapi juga menakutkan.
Pertempuran keduanya sudah berlangsung hingga sepuluh jurus. Posisi Dewa Tapak Racun semakin terdesak hebat. Seluruh jurus racunnya tidak bisa digunakan dengan maksimal karena Sian-li Bwee Hua selalu menyerangnya tanpa jeda.
"Dua Naga Utusan Raja Akhirat …"
Di tengah pertempurannya yang makin lama makin sengit, mendadak Ling Ling membentak nyaring mengeluarkan jurus terakhir dari Kitab Tapak Sejagad.
__ADS_1