
"Lepas …" bentak Cakra Buana saat berhasil menangkap tongkat kayu milik lawan.
Si ketua cabang segera melompat mundur ke belakang karena tangannya yang memegang tongkat terasa sangat panas. Ada hawa panas yang menjalar dari tongkatnya.
Belum sempat mengambil posisi kembali, Lam Qiu telah menyabetkan pedangnya ke arah leher.
"Trakk …"
Pedang itu ditahan oleh tongkat rampasan Pendekar Tanpa Nama. Setelah mengadu tenaga dalam, dia langsung menghentakkannya sehingga pedang itu tersentak ke belakang bersama dengan pemiliknya.
Pertarungan berhenti sejenak. Pendekar Tanpa Nama melemparkan tongkat itu kembali kepada pemiliknya.
"Bagus, Pendekar Tanpa Nama memanglah Pendekar Tanpa Nama. Aku sangat senang jika malam ini bisa tewas di tanganmu," kata Lam Qiu berseru penuh semangat.
"Baik, aku akan mengabulkan permintaanmu," tegas Cakra Buana dengan mata berkilat tajam.
Keempat tokoh itu bertatapan penuh dendam. Mereka sedang mempersiapkan tenaga dalam dengan jumlah besar untuk membunuh lawannya.
"Wushh …"
"Wushh …"
Tiga bayangan melesat mirip bayangan setan. Pukulan dan tendangan dilancarkan dengan segenap kemampuan sehingga mengeluarkan suara mengaum seperti raungan harimau yang sedang marah.
Mereka menyerang secara bersama. Setiap serangannya mampu menghancurkan benteng yang kokoh sekalipun.
Tapi walaupun begitu, Pendekar Tanpa Nama masih tetap berdiri dengan tenang. Dia sangat tenang, setenang air di tengah danau.
Desingan angin tajam mengibarkan pakaiannya yang merah darah. Pukulan dan tendangan mengancam beberapa titik penting di seluruh tubuhnya. Tapi dia belum membalas semua serangan itu.
Cakra Buana hanya menghindar dan terus melakukan hal yang sama untuk beberapa jurus ke depan. Begitu dia menemukan kesempatan baik, dia bergerak.
"Wushh …"
Sekalinya bergerak, kecepatannya lebih cepat daripada kilat. Lebih menyeramkan daripada kekasih yang cemburu.
"Bukk …"
"Ahhh …"
Tiga suara berbeda dengan bunyi mengerikan terdengar. Entah apa yang sudah terjadi, tahu-tahu Lam Qiu, Jim Si dan si ketua cabang Kay Pang Hek telah terpental sejauh sepuluh langkah ke belakang.
Mereka mengalami luka dalam yang sangat parah. Darah segar terus keluar dari setiap lubang di tubuhnya. Kondisi mereka benar-benar mengkhawatirkan. Ketiganya sedang menanti saat-saat kematian tiba.
__ADS_1
Semua orang yang hadir di sana tidak mampu berkata apa-apa. Karena pada dasarnya memang meraka tidak tahu harus berkata apa.
Sebab bagaimana ketiga pemimpin itu bisa dibuat demikian dalam waktu sangat singkat, tidak ada yang tahu pasti. Tidak ada yang melihatnya.
Seperti Malaikat Maut saat mencabut nyawa manusia. Dia tidak terlihat, tapi semua orang yang ada di sana akan merasa sangat takut. Begitu juga dengan kejadian sekarang.
Semua orang memandang Cakra Buana dengan perasaan ngeri. Tak bisa dibayangkan lagi bagaimana ngerinya.
Terlebih lagi tiga pemimpin yang menjadi korban. Seumur hidupnya, mereka tidak pernah membayangkan akan tewas dengan cara yang sangat aneh.
Jangankan orang lain, mereka sendiri tidak tahu secara pasti bagaimana pemuda tersebut melakukannya.
Ketiganya hanya merasa ada segulung tenaga dalam yang sangat dahsyat menyedot dirinya tanpa bisa memberikan perlawanan sedikitpun. Kemudian mereka merasakan ada sebuah benda yang menghantam seluruh tubuhnya.
Seperti seekor semut yang mendapat pukulan dari kepalan tangan manusia. Tentu saja mereka tidak dapat melakukan apa-apa.
Setelah mengalami kejadian tersebut, semuanya nampak gelap. Dunia terasa gelap. Gelap, seperti harapan mereka sekarang untuk meneruskan hidup.
Hatinya langsung jatuh ke jurang tanpa dasar. Jelas, tidak ada harapan untuk hidup walau hanya diperpanjang satu jam sekalipun.
Si Buta Yang Tahu Segalanya tersenyum, senyuman yang melukiskan perasaan bangga.
Walaupun orang lain tidak bisa melihat bagaimana dia melakukannya, tetap dirinya melihat. Melihat dengan sangat jelas.
Cakra Buana berjalan ke arah tiga korban yang sekarang dalam keadaan sekarat.
"Aku sudah mengabulkan permintaan kalian, apakah kalian sudah bahagia sekarang?" tanyanya tenang.
"Su-sudah. Te-terimakasih. Tapi, ka-kami ingin tahu, ju-jurus apa yang baru saja kau gunakan?" tanya Lam Qiu.
Bicara seperti itu saja dia harus mengerahkan segenap kemampuan, saat bicara, seluruh tubuhnya terasa sangat sakit. Sakitnya tidak bisa dibayangkan lagi.
"Supaya kalian tidak mati penasaran, maka aku akan memberitahukannya kepada kalian. Jurus yang baru saja aku gunakan, adalah Jurus Tanpa Nama,"
"Ju-jurus Ta-tanpa Na-nama, he-hebat,"
Lam Qiu langsung tewas. Begitu juga dengan Jim Si dan si ketua cabang Kay Pang Hek.
Mereka tewas tanpa penyesalan. Sebab keinginan untuk mati di tangan Pendekar Tanpa Nama telah terkabul. Ketiganya membawa tiga kata ke alam kematian.
Jurus Tanpa Nama.
Kalau mereka bisa hidup kembali, mungkin ketiganya akam bertanya lebih jauh tentang jurus tersebut. Sayangnya, harapan itu tidak akan pernah bisa terwujud. Sebab nyawa mereka sudah melayang.
__ADS_1
Melihat tiga pemimpin mereka tewas mengenaskan, semua anggota yang ada di sana langsung bergerak maju mengurung Cakra Buana dan Li Guan.
"Mau apa kalian?" bentak Cakra Buana sambil memandang semua orang itu dengan tatapan bengis.
"Kau sudah membunuh pemimpin kami, maka kau juga harus mati," teriak seorang anggota.
"Dia yang menginginkannya sendiri. Aku sudah bermurah hati untuk memberi kalian hidup, tapi kalau sampai kalian memaksa, jangan katakan bahwa aku kejam," tegas Pendekar Tanpa Nama.
Semua anggota dari dua perkumpulan saling pandang. Sepuluh anggota pilihan dari Tujuh Perampok Berhati Kejam dan lima anggota pilihan Kay Pang Hek, sudah bangkit berdiri.
Walaupun mereka mengalami luka dalam, tapi mereka memaksakan diri untuk bertindak.
"Siapapun yang membunuh pemimpin kita, nyawa orang itu tidak pantas untuk di ampuni," teriak seseorang.
"Benar,"
"Bunuh!!"
"Habisi,"
Teriakan menggema ke seluru area. Tongkat, golok dan pedang sudah diacungkan. Mereka segera berlari ke arah Cakra Buana dan Li Guan.
"Orang-orang ini benar-benar sudah tidak peduli nyawanya," gumam Cakra Buana.
"Setidaknya kau jangan banyak membunuh. Cukup berikan pelajaran saja kepada mereka," ucap Li Guan mengingatkan.
"Baik,"
Cakra Buana bersiap. Begitu semua orang sudah mendekat ke arahnya, dia langsung menghimpun tenaga dalam besar.
"Wushh …"
Pendekar Tanpa Nama memberikan hantaman jarak jauh kepada mereka. Seketika puluhan orang terpental.
Secara diam-diam, tanpa sepengetahuan Cakra Buana sendiri, Li Guan si Buta Yang Tahu Segalanya menghentakkan kakinya ke tanah. Tidak keras, tapi itu saja sudah cukup untuk mementalkan dua puluh orang.
Semua anggota tersebut terpental sehingga menimpa tubuh rekan mereka masing-masing. Semuanya muntah darah, mereka terluka dalam.
Setelah menghentakkan kakinya, dia kembali diam dan memandang ke sekeliling.
Jurus yang dia gunakan bukanlah jurus sembarangan. Sebab hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melakukan hentakkan pelan tapi menimbulkan akibat besar sepertinya.
Lantas, siapakah Li Guan sebenarnya?
__ADS_1