
Setelah selesai merencanakan sesuai untuk mengerjai Cakra Buana, akhirnya kedua gadis itu perlahan berjalan kembali. Mereka berjalan bersama. Tapi selama perjalanan menuju ke tempat Cakra Buana, keduanya terlihat adu mulut.
Bahkan semakin dekat semakin jelas pula pertengkaran di antara dua gadis itu.
"Apa maksudmu merebut kekasihku?" tanya Ling Ling sambil membentak keras.
"Heh dasar kau gadis tidak tahu malu. Yang harusnya bicara seperti itu aku, bukan kau. Justru kau yang telah merebut kekasihku. Sudah tahu dia punya kekasih, kau masih saja berani mendekatinya. Dasar tidak punya muka," bentak Bidadari Tak Bersayap sambil menunjuk muka Ling Ling.
"Siapa bilang aku tahu? Justru aku sama sekali tidak tahu. Dia tidak pernah bicara mempunyai kekasih di Tanah Pasundan. Bahkan bukan aku saja yang mendekatinya, dia pun mendekati aku. Bahkan mengajak menikah kepadaku,"
Cakra Buana semakin kebingungan. Dia benar-benar tidak tahu harus bersikap bagaimana. Pemuda itu terus memandangi dua gadis yang sedang memperebutkan dirinya.
"Hei, Sinta. Sudah, sudah. Aku kan sudah bilang, aku salah. Aku minta maaf, dulu kau bilang boleh kalau aku mempunyai calon istri lagi. Kenapa sekarang kau malah marah?" Cakra Buana berkata sambil memeluknya dengan erat.
"Oh, bagus, bagus. Di depan mataku ternyata kau berani bermain gila? Hebat betul. Ternyata setiap pria memang sama bajingannya. Menyesal aku ikut kemari," Ling Ling membanting kaki lalu melangkah pergi.
Pendekar Tanpa Nama berniat mengejarnya. Bidadari Tak Bersayap tidak terima, dia lantas marah-marah. Keadaan seperti itu terus berlangsung hingga sekian waktu lamanya.
Seumur hidup, belum pernah dia mengalami kejadian seperti sekarang. Baru kali ini saja dirinya dibuat bingung setengah mampus.
"Pergi kau gadis tak tahu malu," bentak Sinta dengan keras.
"Kau saja yang pergi gadis jelek,"
"Sudah, sudah. Aku bilang cukup," tegas Cakra Buana.
Dia langsung berdiri di tengah-tengah kedua kekasihnya. Wajahnya terlihat serius. Tapi bagaimanapun juga, dia tidak bisa bertindak lebih keras lagi.
"Baik, sekarang aku tanya kepadamu. Kau pilih aku atau pilih gadis sialan ini?" tanya Sinta membentak sambil menuding ke arah Sian-li Bwee Hua.
"Aku, aku …" Cakra Buana tidak bisa berkata lagi.
Ketegasan yang dia perlihatkan sebelumnya langsung sirna. Pendekar Tanpa Nama yang dikenal dengan kecerdikannya dalam menghadapi berbagai macam persoalan, sekarang dibuat seperti orang bodoh.
Dia yang biasanya bersikap tegas, sekarang mendadak linglung.
Kalau orang persilatan ada yang melihat akan hal ini, niscaya semua orang bakal mentertawakan dirinya.
"Nah, kau tidak bisa menjawab kan? Baik, kalau begitu biarkan aku bertarung dengannya sampai di antara kita ada yang mampus. Siapa yang hidup, berarti dia yang akan mendampingi hidupmu," tegas Bidadari Tak Bersayap.
__ADS_1
Belum sempat Cakra Buana menjawab, di lihatnya gadis itu sudah melancarkan serangan tapak ke arah Sian-li Bwee Hua.
Serangannya ini dilancarkan dengan sungguh-sungguh sehingga tercipta angin tajam yang menderu.
Tubuh gadis itu melesat cepat ke arah Sian-li Bwee Hua. Hembusan anginnya datang lebih dulu sebelum serangan sebenarnya tiba.
Plakk!!!
Sian-li Bwee Hua tidak tinggal diam. Benturan tapak terjadi. Keduanya terdorong dua langkah ke belakang.
Wushh!!!
Gadis Tionggoan itu menyerang lebih dulu. Pukulan berantai dia layangka mengincar ke seluruh tubuh Bidadari Tak Bersayap.
Namun gadis itupun tidak mau kalah. Dia turut serta mengeluarkan jurus-jurusnya yang ampuh.
Keduanya sudah terlibat dalam pertarungan sengit. Mereka bertarung seperti sungguh-sungguh. Bebatuan dan ranting kering berterbangan ke segala arah.
Belassn jurus mereka bertarung. Sampai detik ini belum ada yang kalah di antara keduanya.
Pendekar Tanpa Nama benar-benar bingung melihat kenyataan ini. Kejadian seperti sekarang sungguh jauh diluar dugaannya.
Mereka akan bersdu jurus kelas atas. Masing-masing dari keduanya tahu bahwa kemampuan mereka tidak berbeda jauh. Oleh sebab itulah dua gadis itu yakin tidak akan ada yang terluka di antara mereka.
"Mampus kau wanita siluman …" bentak Bidadari Tak Bersayap.
"Tutup mulutmu gadis jelek …" teriak Sian-li Bwee Hua tidak mau kalah.
Wushh!!! Wushh!!!
Dua bayangan manusia melesat secara berbarengan. Kalau sampai kedua jurus itu benar-benar bertemu, maka kejadian hebat pasti akan segera terjadi.
Pendekar Tanpa Nama tahu akan hal itu. Oleh sebab itulah dirinya memutuskan untuk bergerak. Dia tidak bisa diam saja. Cakra Buana harus menghentikan pertarungan dua kekasihnya.
Wushh!!!
Bayangan merah melesat ke arah pertarungan.
Blarr!!!
__ADS_1
Bentura terjadi. Dua sosok terdorong satu langkah ke belakang. Pendekar Tanpa Na berdiri sambil merentangkan kedua tangannya.
"Sekali lagi kalian bertindak bodoh di depanku, jangan salahkan aku kalau sampai berbuat kasar," katanya dengan serius.
Melihat ini, Sian-li Bwee Hua dan Bidadari Tak Bersayap tiba-tiba tertawa. Suara tawa keduanya sangat lantang dan merdu.
Tiba-tiba mereka berjalan dengan arah berlawanan. Setelah berdekatan, keduanya segera saling rangkul.
"Apakah Rai terluka?" tanya Sinta dengan suara lembut.
"Tidak, Nyimas sendiri, bagaimana?"
"Aku baik-baik saja. Kau pasti lapar, mari, kebetulan di dalam goa masih ada satu ekor ayam bakar yang masih hangat," ujar Sinta lalu berjalan ke arah goa.
Ling Ling mengikuti. Keduanya terus berjalan saling rangkul.
Sementara itu, Cakra Buana dibuat jengkel. Sekarang dia tahu, ternyata keduanya hanya berpura-pura saja. Dua kekasihnya hanya ingin mengujinya saja.
"Sialan. Berani sekali mereka mempermainkan aku," gerutu Pendekar Tanpa Nama sambil memandangi punggung dua gadis itu.
Sinta dan Ling Ling sudah ada di dalam goa. Ternyata benar, di sana ada seekor ayam bakar yang masih hangat. Bara api juga masih menyala. Cuaca yang dingin menjadi hangat karena keberadaan bara tersebut.
Keduanya sedang makan ayam bakar dengan lahap sambil diselingi suara tawa yang merdu.
Cakra Buana tidak ada di sana. Pemuda itu berada di dalam dekat mulut goa. Dia sedang mendengarkan pembicaraan di antara dua wanita itu.
"Hihihi, ternyata rencana kita berhasil Rai. Kakang Cakra Buana sepertinya sangat khawatir karena melihat kita bertarung," ucap Sinta tertawa karena rencananya berjalan dengan mulus.
"Hihi, Nyimas benar. Dia benar-benar khawatir. Buktinya tadi sampai turun tangan segala," jawab Ling Ling sambil tertawa pula.
"Biarkan saja dia tahu rasa. Memangnya enak kita kerjai,"
Mereka makan sambil terus bicara karena niatnya untuk mengerjai Cakra Buana berjalan sukses.
Sementara itu, Cakra Buana tiba-tiba berjalan masuk setelah dia mendengarkan semua pembicaraan dua gadis yang merupakan calon istrinya tersebut.
Dia gemas. Juga kesal. Tapi apa daya, Cakra Buana tidak bisa marah.
Bagaimana mungkin dia marah kepada dua gadis calon istrinya?
__ADS_1
Ya, marah betul memang tidak bisa. Namun bukan berarti diapun tidak bisa pura-pura marah.