Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Tian Hoa


__ADS_3

Tanpa banyak berkata lagi, tiga Tosu tua itu langsung pergi dari tempat tersebut. Mereka tidak lagi berminat untuk merebut pusaka yang ada dalam genggaman pemuda itu.


Yang terpenting untuk sekarang adalah menyelamatkan dirinya. Pergi sejauh mungkin supaya tidak bisa dilacak. Dengan begitu, orang-orang tersebut sudah pasti bisa memulihkan kondisinya kembali.


Masalah balas dendam, urusan belakangan. Yang terpenting adalah mengobati luka. Bukankah kalau sudah pulih, mereka bisa kembali lagi mencari Cakra Buana?


Dengan ketenaran nama besarnya, bukan hal yang sulit jika hanya disuruh untuk mencari satu orang bocah asing.


Bukankah nyawa lebih penting daripada benda pusaka?


Benda pusaka ada tetapi kalau nyawa tidak ada, untuk apa? Sedangkan jika nyawa ada tapi benda pusaka tidak ada pun, mereka masih bisa mencarinya kembali. Bukankah begitu?


Hanya dalam sekilas saja, Tiga Tosu Sesat telah hilang ditelan bumi. Entah ke mana perginya mereka.


###


Cakra Buana sedang duduk bersandar di bawah pohon bunga bwee. Nafasnya terengah-engah seperti mau mati. Sebagian pakaiannya telah berubah warna menjadi merah pekat.


Darah. Warna merah itu memang darahnya.


Ternyata tadi begitu dia melancarkan serangan terakhir, Pendekar Tanpa Nama juga mengalami luka yang terbilang parah. Namun secepat kilat dia segera pergi dari sana ketika ada kesempatan.


Sekarang kondisinya sudah membaik. Walaupun nafasnya masih terputus-putus, tetapi dipastikan dia masih bisa bertahan hidup.


Meskipun luka dalamnya belum pulih sepenuhnya, namun sebagian luka ringan sudah berhasil dia sembuhkan. Tetapi tenaga dalamnya belum bisa kembali secara sempurna.


Sebab efek jurus gabungan Tiga Tosu Sesat terlampau hebat. Sekarang dia tahu alasannya kenapa tokoh-tokoh dunia persilatan Tionggoan ngeri kepadanya.


Ternyata memang mereka tidak bisa dipandang remeh.


Untung bahwa gabungan jurus tadi tidak mengandung racun. Kalau mengandung racun, mungkin dirinya sekarang sudah mati.


Tapi tentu saja dia tidak akan mati. Selama dia belum mau mati, maja Cakra Buana yakin tidak akan mati.


Pula, kalau dia mati, pasti kisah ini akan selesai sampai di sini. Siapa yang akan melanjutkan ceritanya nanti jika dia mati?


Karena itulah Pendekar Tanpa Nama tidak mati.


Setelah beberapa saat istirahat, Cakra Buana berusaha untuk berjalan kembali setelah kondisinya kembali normal.


Dia tidak peduli arah mana yang sekarang ditempuh. Mau nyasar seperti sebelumnya, atau apapun itu, dia sama sekali tidak peduli.


Tetapi baru saja beberapa ratus meter dia berjalan, dari arah berlawanan terlihat seorang kakek tua berpakaian hitam sedang berjalan pula.

__ADS_1


Tatapan matanya memandang dia sendiri. Tatapan mata yang penuh senyuman dan kehangatan. Seolah pemuda itu merasa kenal dengan kakek tua tersebut. Padahal jelas dia baru pertama kali berjumpa.


Tanpa sadar dia berhenti. Si kakek tua juga sudah berada di hadapannya. Dia turut berhenti.


"Kau yang bernama Cakra Buana?" tanyanya dengan suara lembut.


"Benar Tuan, kenapa Tuan bisa tahu namaku?" jawab pemuda itu sambil merasa kebingungan.


Kakek tua itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum kembali.


"Kita bicara saja di kediamanku. Di sini tidak aman, apalagi aku melihat kau sedang terluka,"


Tanpa banyak berkata, Cakra Buana menuruti perkataan kakek tersebut.


Keduanya berjalan lagi di hutan itu. Mereka mengambil arah sebelah Selatan. Yang ditemui oleh Cakra Buana hanya hutan dan hutan lagi.


Sepertinya dunia ini memang penuh dengan hutan. Hampir sehari semalam dia menembus hutan ini, tetapi tetap tidak bisa keluar dari dalamnya.


Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya mereka tiba di sebuah gubuk yang berada di atas bukit. Keadaan di sana sangat sunyi sekali. Juga tampak nyaman. Di pinggir gubuk ada sebuah goa yang cukup besar.


Selain itu, goa tersebut juga tampak cukup besar dan usianya sudah tua. Terlihat dari kondisinya, lumut hijau sudah memenuhi seisi goa.


Keduanya duduk di atas dipan bambu hijau. Si kakek masuk ke dalam gubuk lalu keluar sambil membawa arak dan daging rusa bakar.


"Walaupun aku bukan setan arak, tapi aku suka minum arak," jawab Cakra Buana sambil tersenyum.


"Hahaha, bagus, bagus. Kalau begitu aku akan minum tiga cawan arak untuk menghormati dirimu anak muda,"


Dia benar-benar minum tiga cawan arak. Lalu kemudian mengambil daging rusa untuk dimasukkan ke mulutnya.


Cakra Buana tidak langsung meminum arak. Dia memandangi arak tersebut dengan seksama.


Pengalaman sebelumnya telah melekat dalam hati. Dia harus memastikan apakah arak ini mengandung racun atau tidak.


"Kau takut aku menaruh racun di arak itu?"


Cakra Buana hanya tersenyum kecut. Dia sama sekali tidak bicara.


"Kau jangan khawatir. Aku bukan kakek tua licik yang beraninya menaruh racun dalam arak. Kalau memang di dalam arak itu ada racunnya, sudah pasti aku juga akan mati keracunan. Sebab kita minum dalam wadah yang sama," katanya sambil tertawa.


Cakra Buana ikut tertawa. Dia baru menyadari akan hal tersebut. Kalau memang arak itu beracun, sudah pasti orang tua itu kini sudah tewas.


Tapi buktinya? Kakek tua itu masih terlihat baik-baik saja. Justru wajahnya mulai sayu. Pertanda bahwa arak ini keras dan dia mulai mabuk.

__ADS_1


Setelah merasa yakin, maka Cakra Buana langsung meminum dua cawan. Arak itu memang keras. Saat masuk ke tenggorokan juga terasa sedikit panas.


Mereka tertawa bersama sambil menikmati daging rusa.


"Ngomong-ngomong, nama Tuan siapa?" tanya Cakra Buana karena belum tahu siapa nama orang tua itu.


"Ahh, benar, aku lupa. Sungguh tidak sopan karena tidak memperkenalkan diri, maafkan aku. Maklum sudah tua," dia tertawa dulu sebelum melanjutkan perkataannya. "Perkenalkan, namaku Tian Hoa,"


"Ah, salam kenal Tuan Hoa,"


"Kau jangan terlalu sungkan padaku. Bagaimana dengan lukamu? Apakah sudah pulih?"


"Belum pulih seluruhnya. Hanya saja sudah cukup jika untuk bertahan hidup,"


"Kau harus hati-hati anak muda. Dunia persilatan Tionggoan lebih kejam daripada dunia persilatan di negerimu. Cara yang digunakan di sini sungguh licik. Mereka suka berpura-pura bersahabat, padahal aslinya akan menusuk dari belakang. Aku hanya mengingatkanmu saja, terlepas percaya atau tidak, semua kembali kepadamu,"


Tentu saja Cakra Buana percaya. Sebab dia sudah mengalami beberapa kali kejadian serupa. Dia memang belum mengenal banyak tentang rimba hijau di sini. Apalagi tokoh-tokohnya.


"Terimakasih atas peringatan Tuan Hoa. Aku pasti akan mengingatnya selalu,"


"Sesama sahabat memang harus saling mengingatkan,"


"Betul, memang harus seperti itu. Tuan, apakah goa itu kau pakai juga?"


"Tidak, goa itu tidak pernah aku pakai. Sehingga kondisinya jauh lebih buruk daripada gubuk tempat tinggalku. Kau ingin melihat ke dalamnya?"


"Kalau tidak keberatan, tidak masalah. Aku merasa penasaran,"


Tian Hoa langsung mengajak Cakra Buana untuk mendekati goa. Bocah itu berada di bagian depan. Mereka mulai masuk ke mulut goa.


Saat Tian Hoa menerangkan sejarah goa tersebut, tangan kananya mulai bergerak.


Tenaga sakti yang dahsyat dia himpun secara penuh. Begitu terkumpul, kakek tua tersebut langsung memukul punggung Cakra Buana sekuat tenaganya.


"Bukk …"


###


Yang sudah berkomentar di pengumpan kemarin, sudah saya balas satu-satu ya. Tolong dibaca dengan teliti supaya mengerti maksudnya, ini novel wuxia. Wuxia lebih menerangkan kepada kejadian dunia nyata.


Karena itu, yang terjadi di dalamnya kadang-kadang mirip dengan kejadian nyata. Semua yang terjadi mungkin masih masuk logika hehe.


Terimakasih yang sudah mendukung ya, nantikan kejutan lainnya.

__ADS_1


Sampurasun


__ADS_2