
Cakra Buana tidak menjawab. Dia malah menenggak guci arak lalu langsung menghabiskannya. Setelah arak dalam guci habis, pemuda itu langsung melemparkan guci arak begitu saja ke arah semak belukar.
Prakk!!!
Guci arak pecah. Tapi suara pecahan itu bukan satu, melainkan ada satu lagi.
Pecahan apa itu? Apakah ada guci arak lain? Atau ada batu yang juga dibuat pecah?
Sian-li Bwee Hua tidak bertanya apa-apa lagi. Karena sejatinya, dia sudah mengetahui apa yang baru saja terjadi.
"Sungguh orang yang tidak tahu kepada kemampuan diri sendiri," desis wanita itu sambil tersenyum sinis.
"Di dunia ini memang banyak manusia-manusia yang seperti itu. Hanya mereka yang belum damai bersama diri sendiri yang belum tahu sampai di mana kemampuannya pribadi,"
Dewi Bunga Bwee mengangguk. Dia tidak menampik ucapan pemuda itu karena pada dasarnya apa yang diucapkan oleh Cakra Buana memang benar adanya.
"Ah iya, saat aku berada di ruang bawah tanah, aku bertemu dengan seorang kakek tua misterius. Keadaan kakek tua itu sungguh memprihatinkan, tubuhnya hanya dibalut oleh kulit tanpa daging. Sekilas dia mirip seperti tengkorak hidup," kata Cakra Buana yang baru mengingat satu pengalaman ganjil saat di ruangan bawah tanah ketika mencari Ginseng Seribu Tahun.
Sian-li Bwee Hua tampak terkejut sekali. Wajahnya memperlihatkan kegelisahan. Dia cemas. Tapi terkait apa alasannya, Cakra Buana sendiri tidak tahu.
"Kau bertemu dengan seorang kakek tua misterius?" tanyanya menegaskan.
"Benar. Dia menyebut dirinya sebagai Kakek Tua Aneh,"
Sampai di sini, Ling Ling semakin terkejut lagi. Seluruh tubuhnya langsung bergetar. Wajahnya mulai pucat.
"Apakah dia menyampaikan sesuatu kepadamu?"
Cakra Buana hanya mengangguk tanpa menjawab.
"A-apa yang dia katakan kepadamu?" tanyanya sedikit tersendat dengan suara bergetar pula.
"Dia suruh aku menyampaikan pesan kepadamu bahwa dirinya sudah menjalankan semua tugas. Dia sudah melakukan apa yang harus dilakukan. Sekarang tinggal giliranmu yang harus menjalankan tugas sampai selesai," ucap Cakra Buana dengan serius.
"Apakah dia masih mengatakan sesuatu lainnya?"
"Tidak. Setelah itu dia menyuruhku pergi,"
Wanita itu tidak bertanya lagi. Dia sudah mengetahui apa yang terjadi selanjutnya.
__ADS_1
Sepasang matanya mulai mengembang. Air mata tampak ingin sekali menetes ke pipinya yang mulus, namun Ling Ling berusaha untuk menahannya.
Wushh!!!
Tiba-tiba dia pergi. Pergi dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai tingkatan sempurna. Wanita itu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Cakra Buana.
Hanya sesaat, bayangan tubuhnya telah lenyap dari pandangan mata.
Pendekar Tanpa Nama kebingungan. Tapi dia memutuskan untuk tidak mengejarnya. Walau pemimpin ketiga Organisasi Naga Terbang itu tidak bercerita apapun, namun pemuda tersebut sudah mengetahui bahwa di balik semua ini ada sesuatu yang sulit untuk diceritakan.
###
Matahari baru saja tenggelam di balik bukit yang hijau nun jauh di sana. Malam mulai datang menyelimuti muka bumi. Suara burung berdecit yang pulang ke rumah mereka mulai terdengar tiada henti.
Hawa dingin merasuki satu sosok tubuh yang sedang berdiri tegak di pinggir sebuah tebing tinggi. Tebing yang curam. Tebing yang gelap dan menyeramkan.
Siapakah sosok tersebut? Apa yang sedang dilakukan olehnya?
Gaun biru yang terang berkibar dengan anggun. Bau harum dari tubuhnya tercium hingga jarak cukup jauh. Kain cadar yang menutupi setengah mukanya seperti melambai-lambai.
Ling Ling.
Sosok yang berdiri di tebing itu memang dialah orangnya.
Dewi Bunga Bwee menangis? Benarkah? Apa yang membuat dia menangis?
Saat ini wanita cantik itu memang sedang menangis. Suara tangisannya sangat pelan, tapi di balik suara perlahan itu siapapun bakal tahu bahwa dirinya menanggung sebuah kesedihan yang sangat mendalam.
Sedalam lautan? Atau sedalam cintamu kepadanya?
Ucapan Cakra Buana yang menceritakan tentang seorang yang mengaku bernama Kakek Tua Aneh masih terngiang-ngiang di telinganya.
Sampai detik ini dia masih mengingatnya dengan jelas semua perkataan pemuda itu.
"Ayah, tenanglah kau di sana. Aku berjanji akan menyelesaikan semua tugas dan kewajiban yang harus aku lakukan. Demi dendam ini, aku akan membalaskan semuanya. Beristirahatlah dengan tenang, sekarang sudah tiba waktunya untuk aku memulai semuanya," gumamnya sambil menahan isak tangis.
Ayah? Si Kakek Tua Aneh adalah ayah Sian-li Bwee Hua?
Siapapun tidak akan ada yang percaya bahwa wanita yang berilmu sangat tinggi itu ternyata mempunyai ayah yang demikian menyedihkan. Terlebih lagi, tak akan ada seorangpun yang percaya bahwa dia masih bisa menangis.
__ADS_1
Ling Ling masih berdiri di sana. Sepasang tangan yang putih mulus itu mengepal dengan kencang. Hawa kematian mendadak menyelimuti tempat tersebut. Nafsu ingin membunuh juga tiba-tiba keluar dari tubuhnya.
Wushh!!! Blarr!!!
Segulung hawa sakti keluar secara tak terduga. Hawa itu di arahkan ke semak belukar yang ada di belakangnya.
Berbarengan dengan suara ledakan barusan, tiba-tiba dari semak belukar itu mendadak muncul lima sosok berjubah hitam yang berjumpalitan di tengah udara.
Mereka mendarat tepat tujuh tombak di depan Sian-li Bwee Hua.
"Bajingan yang sudah bosan hidup. Berani sekali kalian mengintip nonamu," bentak Dewi Bunga Sakura dengan amarah yang sudah memuncak.
Saat ini dia sedang marah besar. Hatinya sedang kalut. Seperti juga pikirannya.
Sekarang ada lima orang pria tak dikenal berani mengintip dirinya, meskipun yang di posisi Ling Ling adalah orang lain, tentu saja dia juga tidak akan terima bukan?
Wushh!!!
Tubuhnya melesat ke depan dalam kecepatan diluar nalar manusia. Tangan kanan yang putih mulus itu mendadak merah membara seperti lahar di gunung berapi.
Prakk!!!
Darah menyembur ke segala arah. Satu sosok dari lima orang berjubah hitam tadi langsung terlempar. Dia tewas. Kepalanya pecah berantakan.
Kejadian itu berjalan sangat singkat. Bahkan keempat rekannya sendiri masih tidak percaya.
Mereka langsung panik. Keempatnya dengan sigap segera mengambil posisi kuda-kuda.
Sayang, semuanya terlambat.
Sebelum senjata mereka terhunus, sebelum jurus mereka dikeluarkan, Sian-li Bwee Hua yang sedang marah besar sudah muncul kembali di hadapannya.
Wutt!!!
Bayangan biru tiba dengan segulung kekuatan dahsyat. Empat tamparan dan pukulan dilayangkan dengan sangat cepat.
Sebelum orang-orang itu mengetahui apa yang sebenarnya sudah terjadi, nyawa mereka telah dibuat melayang lebih dulu. Empat tubuh terlempar ke empat arah berbeda.
Semuanya telah tewas. Organ dalam mereka dibuat hancur hanya dalam beberapa kali gebrak.
__ADS_1
Sebenarnya kelima orang tadi merupakan tokoh kelas atas. Tapi di hadapan Sian-li Bwee Hua, ternyata orang-orang itu tak lebih hanya seperti lalat yang mencari mampus.
Darah masih mengucur dari setiap tubuh bernasib malang itu. Tanpa memperdulikan bahkan tanpa menoleh lagi, Sian-li Bwee Hua segera beranjak pergi dari sana.