
"Baik, lihat serangan …"
Suara Abikama lantang dan tegas. Selamanya, dia tidak mau main-main. Kalau tadi siang memandang remeh kepada Dewi Bercadar Merah, maka sekarang beda lagi. Tapak Mega tahu kalau pemuda berjuluk Pendekar Tanpa Nama itu bukanlah orang sembarangan.
Apalagi pemuda itu sanggup menghancurkan jurusnya dan jurus Dewi Bercadar Merah dalam waktu sekaligus. Oleh sebab itulah begitu memulai serangan pertama, dia tidak main-main.
Jurus andalannya yang diberi nama Tapak Mega Menggetarkan Jagad langsung dikeluarkan dengan segenap kemampuan. Kedua telapak tangannya berubah warna menjadi merah kehitaman.
Ada hawa kematian pekat di balik telapak tangan tersebut. Wajah Abikama sendiri berubah bengis seperti iblis yang sedang gusar.
Tanpa tedeng aling-aling, dia langsung mengarahkan seluruh bagian tenaga dalamnya. Kenyataan ini menjadikan serangannya jauh lebih hebat lagi. Andai saja kedua telapak tangannya memukul batu karang, niscaya batu itu akan hancur lebur menjadi pasir.
Tapi yang sekarang menjadi targetnya bukanlah batu karang. Bukan saja tidak akan hancur, bahkan tidak akan tinggal diam pula.
Pendekar Tanpa Nama memasang wajah serius. Dia menarik langkah ke belakang untuk mengambil persiapan. Begitu serangan lawan tinggal satu jengkal di hadapannya, barulah dia bertindak.
Tubuhnya mendadak lenyap begitu saja. Serangan tapak yang dilancarkan oleh Abikama sudah sangat cepat, namun nyatanya Pendekar Tanpa Nama mampu berkelit jauh lebih cepat lagi.
Wutt!!!
Angin berhembus. Hembusannya terasa pelan. Tapi akibatnya mampu membuat siapapun terkejut. Serangan si Tapak Mega hilang begitu saja. Dia merasa seperti memukul air di tengah samudera. Bukan saja tidak menimbulkan efek apa-apa, bahkan dia merasa seluruh tenaga yang dikerahkan juga hilang tanpa jejak.
Tapak Mega hampir jatuh tersungkur. Namun tepat pada saat itu sebuah tangan menariknya dengan keras lalu segera melemparkan tubuhnya ke atas setinggi tiga tombak.
Wushh!!!
Bayangan merah menyongsong ke atas dengan satu serangan.
Bukkk!!!
Sebuah pukulan keras berhasil mengenai dadanya dengan telak. Abikama semakin terbang tinggi lalu jatuh lebih cepat lagi. Pada saat itulah serentetan pukulan datang menghujani tubuhnya tanpa berhenti sedetikpun.
__ADS_1
Brugg!!!
Tubuh si Tapak Mega jatuh berdebum ke tanah. Tubuhnya sedikit masuk ke dalam. Dia mengalami luka dalam yang sangat parah. Darah segar bercampur dengan darah kehitaman keluar dari setiap lubang yang terdapat di seluruh tubuhnya.
Dia tidak akan menyangka akan semua ini. Membayangkannya pun belum pernah kalau dia akan tewas mengenaskan. Sebelum kematian itu, sepasang matanya melotot sehingga hampir keluar. Mulutnya ingin bicara, sayangnya Sang Hyang Widhi tidak memberikannya kesempatan untuk berkata.
Abikama si Tapak Mega mampus hanya dalam waktu yang sangat singkat.
Jurus Tapak Mega Menggetarkan Jagad yang sangat digdaya itu ternyata sanggup dipatahkan oleh Pendekar Tanpa Nama hanya beberapa kali gebrakan saja. Padahal siapapun tahu betapa dahsyat dan hebatnya jurus yang satu itu.
Sayang sekali kenyataan berkata lain. Dia harus rela pergi ke alam baka sambil membawa setumpuk pertanyaan dan rasa keheranan.
Cakra Buana menghela nafas. Sebenarnya dia tidak ingin membunuh Abikama demi mendapatkan sebuah keterangan. Tapi kalau dia tidak membunuhnya, maka bukan tidak mungkin kalau si Tapak Mega sendiri yang bakal mendahului membunuh dirinya.
Semilir angin menebarkan bau busuk. Darah mulai kering. Mayat si Tapak Mega juga mulai kaku. Mayat itu semakin pucat, tampangnya bertambah mengerikan.
Tapi ke mana perginya Pendekar Tanpa Nama? Kenapa dia tidak terlihat? Padahal barusan masih ada di sana.
###
Berbarengan dengan kejadian tadi, di dalam kamar sang Ratu itu, Dewi Bercadar Merah dan Dewi Bercadar Biru sedang duduk di samping kanan kiri dirinya.
Dua gadis maha cantik itu merasa ganjil dengan penyakit yang diderita oleh Ratu Ayu Kencana Nirmala Putri. Kalau diperhatikan lebih mendalam lagi, wajahnya masih cantik. Sama seperti namanya. Wajah itu tidak pucat seperti orang yang sakit pada umumnya.
Cahaya kehidupan masih bisa terlihat dengan jelas. Bahkan denyut nadi serta jantungnya juga normal.
Tapi kenapa dia bisa terbaring lemah tanpa daya seperti sekarang ini? Sebenarnya penyakit apa yang dia derita? Apakah tidak ada tabib yang bisa mengobati dirinya?
Dua Dewi sangat kebingungan. Terutama sekali Dewi Bercadar Merah. Sedikit banyaknya dia pandai dalam ilmu pengobatan. Apa yang tidak bisa dilakukan oleh para tabib di Tionggoan, biasanya dapat dilakukan dengan mudah olehnya.
Lalu apakah sekarang dia dapat melakukan sesuatu untuk Ratu Ayu?
__ADS_1
"Rai, coba kau periksa lagi keadaan Ratu Ayu. Aku tidak yakin kalau beliau tak dapat disembuhkan. Menurutku, segala penyakit di dunia ini pasti dapat disembuhkan jika kita mau berusaha keras," kata Dewi Bercadar Biru masih tidak percaya dengan kenyataan ini.
"Baik, Nyimas. Aku akan mencoba memeriksanya kembali," jawab Dewi Bercadar Merah sambil menganggukkan kepalanya.
Selesai berkata demikian, gadis itu langsung memeriksa kembali keadaan Ratu Ayu. Seluruh jalan darah di tubuhnya diperiksa dengan seksama. Ilmu pertabibabannya yang mampu membuat semua tabib Tionggoan kebingungan mulai dikeluarkan kembali.
Dia mengerahkan segala macam daya dan upaya, dia mencoba dan terus mencoba.
Keringat mulai membasahi seluruh tubuhnya. Dari keningnya menetes keringat sebesar biji kacang kedelai. Kiranya Dewi Bercadar Merah sudah mengerahkan seluruh tenaganya demi untuk memeriksa Ratu Ayu.
Setelah sepeminum teh kemudian, akhirnya dia selesai. Gadis tersebut kemudian menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuhnya. Begitu keadaannya kembali normal, dia kemudian mulai bicara.
"Ada orang yang menaruh racun, entah itu dalam makanan maupun minumannya. Kebetulan Ratu Ayu mengkonsumsinya, sehingga racun itu terus mengendap dalam tubuhnya. Racun itu sangat berbahaya, juga sangat langka. Aku sendiri tidak tahu bagaimana cara mengeluarkan ataupun menawarkannya. Selain itu, seluruh jalan darah dan tenaga dalamnya dilumpuhkan. Ternyata Ratu Ayu telah dikerjai oleh seseorang yang berilmu sangat tinggi. Aku tidak bisa menyembuhkannya," kata Dewi Bercadar Merah sambil menjelaskan hasil pemeriksaannya barusan.
Dewi Bercadar Biru yang mendengar penuturan itu langsung merasa seluruh tubuhnya lemas. Keduanya hanya dapat menghela nafas karena ketidaksanggupannya.
Mereka adalah wanita. Ratu Ayu juga wanita. Sebagai orang yang sama-sama wanita, tentunya mereka saling mengerti satu sama lain.
Yang mengerti wanita hanyalah bagian dari mereka sendiri.
"Apakah tidak ada cara untuk menyembuhkannya?" tanyanya penuh harap.
Dewi Bercadar Biru tidak mau menyerah begitu saja. Sekali dia berkata ingin berjuang, maka selamanya akan seperti itu.
Dewi Bercadar Merah tampak merenung sejenak. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Sepertinya ada,"
"Jadi Ratu Ayu masih ada harapan untuk sembuh kembali?" tanyanya antusias.
"Bisa. Tapi aku tidak tahu apakah cara ini bakal berhasil atau tidak," jawab Dewi Bercadar Merah dengan lirih.
__ADS_1