
"Aku tidak bisa menjamin ataupun memastikannya. Tapi aku dapat membuktikan, tidak semudah itu untuk membunuhku," kata Cakra Buana dengan tenang sambil tersenyum di balik cadar hitamnya.
Pemuda itu tidak mau mengaku siapa dirinya langsung. Dalam hatinya, Cakra Buana sendiri ingin mengetahui sampai di mana kekuatan Nenek Tua Bungkuk.
Bukan karena sombong ataupun ingin pamer ilmu, tetapi pemuda itu memang hanya ingin mengujinya. Tidak kurang dan tidak lebih. Selain itu, dia juga ingin melihat sejauh mana si Nenek Tua Bungkuk membela kebenaran.
"Bagus. Kalau begitu, sekarang juga aku ingin membuktikan apakah ucapanmu itu dapat dipercaya atau tidak," ejek si Nenek Tua Bungkuk.
Dia langsung menyerang Cakra Buana. Walaupun tubuhnya bungkuk, namun ternyata kenyataan itu tidak mengganggu kecepatannya dalam bergerak. Ilmu meringankan tubuh wanita tua itu benar-benar tinggi. Sedikit lagi hampir mencapai tingkatan sempurna.
Nenek Tua Bungkuk memberikan sodokan ke arah perut dengan tongkatnya yang sedikit aneh itu. Gerakannya sangat cepat sehingga sulit diikuti mata.
Cakra Buana menarik sedikit tubuhnya ke belakang. Serangan pertama si Nenek Tua Bungkuk hanya berhasil menyodok udara kosong.
Tapi belum sempat Cakra Buana menempati posisinya lagi, si Nenek Tua Bungkuk telah melancarkan serangan lainnya kembali. Tongkat yang meliuk-liuk seperti ular itu bergerak memukul ke arah batang leher Pendekar Tanpa Nama.
Cakra Buana menangkisnya dengan tangan kiri.
Plakk!!!
Si Nenek Tua Bungkuk tergetar mundur satu langkah. Begitu juga dengan Pendekar Tanpa Nama.
Dari kejadian ini saja mereka berdua sudah dapat menilai sampai di mana kemampuan lawannya masing-masing. Si Nenek Tua Bungkuk tidak menyangka bahwa orang asing itu berani menangkis pukulan tongkatnya barusan.
Wanita tua tersebut lebih tidak menyangka bahwa setelah orang asing itu menangkis pukulan tongkatnya, ternyata dia tidak mengalami luka apa-apa. Bahkan dengan tenangnya dia masih berdiri kokoh seperti sedia kala.
"Pantas kau berani berkata seperti tadi. Ternyata bekalmu memang cukup lumayan," puji Nenek Tua Bungluk dengan tulus kepada Pendekar Tanpa Nama.
"Terimakasih. Kau pun juga begitu, ternyata nama Nenek Tua Bungkuk bukan nama kosong belaka. Sekarang aku baru tahu bahwa kau benar-benar tokoh ternama," kata Cakra Buana juga memuji wanita tua itu.
Si Nenek Tua Bungkuk terkejut. Dia belum memperkenalkan dirinya kepada orang asing itu, tetapi kenapa dia bisa tahu julukannya?
Padahal, julukan Nenek Tua Bungkuk hanya diketahui oleh orang-orang terdekatnya saja. Orang luar tidak terlalu banyak yang tahu terkait julukan itu. Sedangkan untuk julukan umumnya, dia biasa dikenal dengan sebutan Wanita Tua Tongkat Ular.
Bagaimana orang asing itu tahu? Dari mana pula dia bisa tahu? Siapa dia sebenarnya?
__ADS_1
Nenek Tua Bungkuk tidak mampu menjawab berbagai macam pertanyaan yang merasuki benaknya itu. Sekeras apapun dia memeras otaknya, jawabannya tetap tidak ditemukan.
"Katakan siapa kau sebenarnya?" tanya Nenek Tua Bungkuk tidak tahan lagi.
"Sebentar lagi kau akan tahu,"
Selesai Pendekar Tanpa Nama berkata demikian, dia langsung melancarkan sebuah pukulan keras ke arah Nenek Tua Bungkuk. Arah tujuannya ke iga, datangnya pukulan juga sangat cepat.
Jika pendekar kelas bawah, jangan harap dia bisa menghindari pukulan tersebut. Untungnya Nenek Tua Bungkuk bukan pendekar seperti itu, dia menggerakan tongkatnya ke bawah lalu menangkis pukulan lawan.
Tetapi wanita tua itu salah menduga. Dia telah tertipu oleh Cakra Buana. Tujuan Pendekar Tanpa Nama yang sebenarnya bukan iga, melainkan bawah ketiak.
Plakk!!!
Benturan terjadi. Meskipun telah melakukan satu kesalahan, ternyata wanita tua itu mampu menyongsong serangan lawan dengan gerakan lainnya yang tidak pernah diduga sebelumnya.
Dua tokoh kelas atas itu sata ini sedang bertarung sengit. Nenek Tua Bungkuk melancarkan berbagai macam serangan dengan tingkat dan hantaman tapak lengannya.
Pendekar Tanpa Nama bertarung dengan tangan kosong. Dia tidak mau mengeluarkan Pedang Naga dan Harimau, apalagi pertarungan kali ini hanya sebatas uji coba saja.
Hantaman dan sodokan dia layangkan secepat mungkin. Tetapi kejadian itu hanya terjadi sesaat saja. Karena baru saja jurus tersebut menyerang beberapa kali, Nenek Tua Bungkuk malah melompat mundur ke belakang secara aneh sehingga dia dapat membebaskan dirinya.
Padahal jika orang lain, tidak mungkin bisa membebaskan diri semudah itu.
Secara tiba-tiba tubuhnya melesat sangat cepat sekali. Tangan kanannya terjulur ke depan lalu secara mendadak menarik cadar yang menutupi sebagian wajah Cakra Buana.
Brett!!!
Cadar itu lepas dan kini sudah ada di genggaman tangan si Nenek Tua Bungkuk.
Pertarungan berhenti saat itu juga. Keduanya berdiri mematung. Mereka saling pandang untuk beberapa saat.
Dua orang murid penjaga gerbang yang telah melihat Cakra Buana sebelumnya, secara tiba-tiba mereka melesat dan berniat melancarkan serangan dahsyat ke arahnya.
Untungnya sebelumnya hal itu terjadi, si Nenek Tua Bungkuk langsung berteriak.
__ADS_1
"Berhenti!!!" teriaknya.
Dua murid penjaga gerbang langsung berhenti seketika. Keduanya menatap ke arah Nenek Tua Bungkuk dengan tatapan kebingungan.
"Kembali ke tempat kalian masing-masing," katanya memberikan perintah.
"Tapi, dia …"
"Aku bilang kembali, jangan membantah lagi," tegas si nenek tua itu.
Keduanya langsung mundur dan kembali ke tempat semula tanpa berkata apa-apa lagi.
Nenek Tua Bungkuk tertawa, Pendekar Tanpa Nama juga sama. Keduanya berjalan menghampiri. Wajah dingin di antara keduanya telah lenyap dan digantikan dengan wajah ramah. Senyuman sinis mereka sudah berganti menjadi senyuman hangat yang bersahabat.
Saat dua sahabat bertemu, kebahagiaan pasti akan mereka perlihatkan saat itu juga.
"Aku sudah menduga bahwa kau lah orangnya," kata Nenek Tua Bungkuk.
"Benarkah?"
"Tentu saja. Yang mengetahui julukan Nenek Tua Bungkuk hanya orang-orang yang dekat denganku saja. Lagi pula aku tahu siapa kau sebenarnya setelah mengeluarkan jurus Naga Terbang di Angkasa. Jika bukan Cakra Buana si Pendekar Tanpa Nama, siapa lagi yang mempunyai jurus itu?"
Cakra Buana tertawa lantang. Dia tidak menyangka bahwa si Nenek Tua Bungkuk ternyata mempunyai ingatan yang kuat. Padahal dirinya tidak pernah bertarung dengan wanita tua itu sebelumnya. Cakra Buana hanya mengingat bahwa Nenek Tua Bungkuk pernah melihat dirinya menggunakan jurus tersebut.
Tak disangka, ternyata dia belum melupakan nama dan gerakannya.
"Kau sudah menduga, aku yang tidak pernah menduga,"
"Oh?"
"Aku tidak menduga akan bertemu denganmu di sini,"
"Hahaha, nanti kau akan tahu kenapa aku bisa ada di sini. Apa tujuanmu melakukan hal seperti tadi?"
"Aku ingin bertemu sengan maha guru Perguruan Rajawali Sakti, tetapi dua murid penjaga gerbang tidak mengizinkannya. Karena itulah secara terpaksa aku menempuh jalan ini,"
__ADS_1
"Hemm, memang tidak setiap orang bisa berjumpa dengannya. Sekarang, mari kita ke sana,"