
Lama juga gadis cantik itu berdiri sambil mengawasi keadaan sekitar. Tapi tidak ada sesuatu apapun yang mencurigakan. Orang yang tadi melemparkan pisau terbang itupun tidak memunculkan dirinya.
Masa iya kalau pisau-pisau itu melesat dengan sendirinya? Bukanlah hal itu sangat mustahil?
Dengan sabar Ling Ling terus menunggu. Sayang sekali, yang ditunggu justru tak kunjung datang. Hingga bunyi kentongan ketiga dia tetap berdiri seperti tadi, tapi sebuah bayangan manusia pun tidak ditemukan olehnya.
Wushh!!!
Gadis itu melentingkan tubuhnya lalu melesat turun dan memasuki kamar di mana Pendekar Tanpa Nama sedang mengobati Ratu Ayu.
Dia takut kalau orang tadi telah mengganggu proses penyembuhan itu. Untunglah begitu dia masuk ke dalam, tiada suatu apapun yang berubah. Cakra Buana masih tetap di posisinya semula sambil terus menyalurkan tenaga dalam kepada Ratu Ayu.
Begitu Dewi Bercadar Merah yakin semuanya bakal baik-baik saja, dia kembali melenting lalu duduk di atas atap penginapan.
Selama dua hari dua malam dirinya terus melakukan hal yang serupa. Hingga pada akhirnya hari terakhir tiba.
Sekarang tengah malam. Lolongan anjing dan serigala terdengar hampir bersamaan. Bau bunga mawar dan melati menyerbak menusuk hidung Dewi Bercadar Merah.
Beberapa ekor kelelawar saling kejar bersama rekannya di atas sana. Suara jangkrik menambah sepinya suasana.
"Tokk …"
Di kejauhan sana terdengar suara kentongan dibunyikan satu kali. Orang-orang yang meronda seperti biasanya selalu terlihat setiap malam.
Entah kenapa, malam ini terasa lebih sepi daripada malam-malam kemarin. Bahkan Dewi Bercadar Merah pun merasakan bulu kuduknya sedikit berdiri. Dia masih duduk di atap penginapan yang sama. Tempat yang sama. Dan guci arak yang sama.
Apakah gadis itu tidak pernah bergerak?
Tidak, tentu saja tidak. Hanya saja Ling Ling selalu berada di posisi demikian.
Sesuai dengan perhitungan, malam ini adalah malam terakhir pengobatan Ratu Ayu. Kemungkinan besar esok pada saat hari terang tanah, Ratu Ayu sudah bisa kembali ke posisi semula.
Dalam beberapa hal serupa, biasanya hari terakhir adalah hari yang paling berat. Di hari penentuan ini, sering terjadi berbagai macam hal yang tentunya diluar dugaan semua orang.
__ADS_1
Lantas apakah hal itu berlaku untuk saat ini?
Kentongan kedua sudah lewat. Suasana semakin sepi dan terasa menyeramkan.
Ling Ling tiba-tiba merasakan sesuatu tidak beres. Dia merasa ada kehadiran orang lain di sekitar penginapan itu.
Wushh!!!
Segulun angin dingin berhawa panas tiba-tiba menerjang ke arahnya dari samping kanan.
Mengetahui adanya bahaya, gadis itu langsung bertindak cepat. Tubuhnya melompat ke atas lalu berjumpalitan sati kali. Tapi belum lagi mendarat, angin berhawa dingin seperti es menerjang pula dari samping kirinya.
Dia kembali melakukan hal yang sama. Lagi-lagi, sesuatu diluar dugaan kembali terjadi.
Tapi kali ini bukan angin. Melainkan senjata rahasia. Senjata rahasia berupa jarum bambu kuning yang sampai sekarang pemiliknya masih menjadi misteri itu nampak lagi.
Dewi Bercadar Merah bersikap lebih hati-hati lagi. Kalau sampai pemilik jarum itu benar-benar hadir di sini, maka kemungkinan yang terjadi pasti bakal lebih hebat dari dugaannya.
Meskipun dia pendekar tanpa tanding, namun bukan berarti tidak bisa dikalahkan. Pendekar tanpa tanding juga bisa kalah. Di atas langit masih ada langit. Di bawah bumi juga masih ada lapisan bumi lainnya lagi.
Ling Ling bertindak tepat pada waktunya. Begitu jarum bambu kuning tinggal beberapa tombak dari tubuhnya, bekas pemimpin ketiga Organisasi Naga Terbang itu pun menyambitkan pula jarum hitam andalannnya.
Benturan dua senjata rahasia beradu. Kedua senjata itu dilumuri tenaga dalam tinggi. Oleh sebab itulah pada saat terjadi benturan, percikan api dan ledakan kecil terdengar beberapa kali.
Sian-li Bwee Hua sudah menjejakkan kakinya di atap penginapan. Namun baru saja mendapatkan posisi, tujuh orang tak dikenal yang memakai pakaian serba hitam dan bercadar sudah menyerang dirinya.
Tujuh batang golok tajam sudah melayang-layang di udara. Warna putih keperakan seperti menyatu dalam satu gumpalan.
Tujuh serangan kerja sama yang mematikan menerjang telak ke arah tubuhnya.
Pada saat-saat yang berbahaya seperti ini, Ling Ling tentunya tidak bisa menyembunyikan kemampuannya lagi. Seluruh bagian tenaga dalam langsung dia kerahkan dalam waktu singkat.
Salah satu jurus dari Kitab Tapak Sejagad akan dia keluarkan dengan sempurna.
__ADS_1
"Tapak Dewi Kwan Im …"
Sian-li Bwee Hua berteriak keras. Suaranya memang nyaring dan merdu. Namun bagi tujuh orang tak dikenal itu, suara barusan persis seperti jeritan seorang Dewi yang sedang marah besar.
Dua gelombang tenaga sakti membentuk tapak keluar dari kedua telapak tangannya. Hawa panas dan dingin bercampur menjadi satu. Siapapun tidak ada yang bisa membayangkan bagaimana cepat dan dahsyatnya jurus tersebut.
Blarr!!!
Ledakan besar terjadi. Jurus golok yang bersatu padu seperti angin puyuh menggulung itu tiba-tiba sirna tanpa jejak. Tujuh orang bercadar hitam tadi tahu-tahu sudah terlempar ke bawah. Semuanya langsung mampus.
Tiada satupun yang selamat. Masing-masing dari mereka mengalami luka parah. Darah segar kehitaman keluar dari seluruh lubang yang ada pada tubuhnya.
Hanya satu kali jurus, tujuh nyawa pendekar kelas atas langsung melayang. Kejadian ini kalau sampai diketahui oleh orang luar tentunya bakal mengundang keramaian. Bukan hal mustahil kalau semua orang mendadak membicarakannya.
Jurus Tapak Dewi Kwan Im memang bukan jurus rendahan. Jurus itu berasal dari Kitab Tapak Sejagad. Sebuah kitab pusaka sakti yang menggetarkan hati setiap pendekar Tionggoan.
Kalau tokoh pilih atau tanpa tanding saja belum tentu bisa menahannya, lalu bagaimana mungkin para pendekar kelas atas bisa bertahan dari kehebatan jurus itu?
Semua kejadian itu berlangsung dalam waktu singkat. Tiada seorangpun yang dapat menjelaskannya.
Ling Ling sudah berdiri kembali. Dia masih waspada. Bahkan jauh lebih waspada lagi. Sebab dirinya tahu kalau di sekitar sana masih ada beberapa orang lagi yang hadir.
Dan firasatnya kembali benar.
Baru saja hatinya mengatakan demikian, dua orang berpakaian merah dan abu-abu tiba-tiba muncul dari samping kanan serta kirinya. Mereka lantas menyerang dengan segenap kemampuannya masing-masing.
Tombak berantai dan cambuk sepanjang tiga depa telah meluncur deras ke arahnya. Dua senjata pusaka itu membawa hawa panas dan dingin. Kedua serangannya sangat keji sekaligus dahsyat.
Tiada seorangpun yang bisa selamat darinya.
Tapi Dewi Bercadar Merah merupakan pengecualian. Dengan gesit tubuhnya melenting ke atas lalu dia menghindarkan diri dari dua serangan maut tersebut. Gerakannya lincah bagaikan burung walet yanh terbang di kala hujan deras.
Dua serangan ganas dapat dia hindarkan dengan mudah. Tapi belum lagi dirinya mendapatkan posisi, kedua serangan itu kembali menghunjam tubuhnya.
__ADS_1
Cambuk yang panjang itu meliuk-liuk di udara bagaikan seekor ular berbisa mengincar mangsa. Tombak berantai juga sudah mencecarnya. Senjata yang lemas itu tiba-tiba mengeras karena pengerahan tenaga dalam pemiliknya.