
Malam.
Malam telah tiba. Kebetulan sekarang adalah malam bulan purnama. Rembulan tergantung di atas seperti sebuah cermin yang memantulkan cahaya terang.
Suara serigala terdengar di kejauhan sana. Burung hantu berbunyi membuat bulu kuduk berdiri. Keadaan di kota masih lumayan ramai meskipun hari sudah gelap.
Cakra Buana dan Li Guan sedang berjalan berdampingan. Keduanya tampak sangat tenang. Setiap langkah kakinya terlihat sangat ringan.
Seolah kedua sahabat itu tidak takut atas apa yang akan mereka hadapi nanti. Seolah tidak ada satupun sesuatu yang membuat keduanya merasa takut.
Padahal kalau orang lain, mungkin akan sangat takut. Bisa saja dia tidak berani untuk memenuhi undangannya. Tentu saja, siapa yang begitu bodoh untuk berani mendatangi sarang harimau?
Seorang datuk dunia persilatan sendiri pastinya akan sangat hati-hati dan waspada sekali. Tetapi Cakra Buana dan Li Guan merupakan pengecualian.
Mereka merasa masa bodoh. Ada yang mengundang, mereka tentu akan datang. Walaupun badai halilintar, keduanya tetap datang.
Sebab mereka adalah pria sejati. Bukan pria pengecut.
Seorang pria sejati biasanya akan selalu menepati janji walau apapun yang terjadi.
Jalanan di pasar mulai agak sepi. Orang-orang yang berlalu lalang tidak sebanyak siang hari. Warung arak berjejer di pinggir jalan. Warung makan dan penginapan juga berjejer di seberangnya.
Lentera di setiap tempat usaha sudah menyala mengurangi kegelapan.
Keduanya berjalan memahami sebuah gang sempit. Rumah bordil tampak sangat ramai. Suara erangan dan suara tawa seorang wanita, terdengar sangat merdu.
Mereka berjalan melewatinya lalu menuju ke gang lain.
Setiap markas cabang Kay Pang Hek, pasti berada di belakang pasar. Ini sudah menjadi tradisi, bahkan sesuatu yang wajib bagi mereka.
Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya mereka tiba juga di sana.
Empat pengemis sedang berjaga sambil menikmati arak hasil dari meminta belas kasihan orang.
"Siapa kalian?" tanya seorang pengemis.
"Aku ingin bertemu dengan ketua cabang kalian. Aku di undang olehnya," jawab Cakra Buana dingin.
Menghadapi orang-orang seperti mereka, baginya tidak perlu terlalu sopan. Tentu saja, sebab mereka juga tidak mengenal kesopanan kepada seorang yang tak dikenal.
"Ketua sedang sibuk,"
__ADS_1
"Aku tetap akan masuk,"
Empat penjaga langsung mendengus dingin. Tanpa bicara terlebih dahulu, empat batang tongkat melayang kepada Cakra Buana dan Li Guan.
Tapi hanya dengan sentilan tangan yang sangat cepat, empat batang tongkat itu langsung patah hingga separuhnya.
Mereka terbengong. Sebelum keduanya tersadar, Cakra Buana dan Li Guan telah masuk ke dalam lagi.
Di halaman, terlihat di sebelah kiri para anggota Kay Pang Hek sedang berkumpul. Sedangkan di sebelah kiri, ada puluhan anggota dari Tujuh Perampok Berhati Kejam.
Saat melihat kedatangan Cakra Buana dan Li Guan, mereka langsung berdiri dan memandang keduanya dengan tatapan sengit. Tapi kedua sahabat itu tidak menghiraukan sama sekali.
Barulah saat mereka hampir tiba di pintu, seseorang tiba-tiba menyerang Cakra Buana dari dalam. Empat pukulan berantai langsung dilancarkan orang tersebut. Pukulannya kejam, sebab orang itu merasa sangat marah.
Tetapi Cakra Buana hanya menghindari setiap serangan dengan mudah. Begitu ada kesempatan, telapak tangan kanannya segera menghantam dada orang itu.
Dia langsung terpental dan muntah darah.
Ternyata yang menyerangnya adalah orang yang tadi siang dia pentalkan juga karena beradu tenaga dalam.
Sepertinya orang tersebut masih merasa sangat penasaran dan menyimpan kebencian di hatinya. Dia percaya bahwa kejadian siang tadi yang membuatnya muntah darah, hanyalah suatu ketidaksengajaan karena dirinya tidak waspada.
Karena itulah barusan menyerang lagi. Sayangnya, dia telah bertemu dengan orang yang salah saat ini.
"Sejak kapan kau berani kurang ajar terhadap tamu yang aku undang?" suaranya dingin dan menyeramkan.
Anggota tersebut langsung terdiam. Tubuhnya gemetaran.
"Bukk …" tubuhnya terpental ke belakang ketika seseorang memukulnya.
Cakra Buana dan Li Guan tidak menghiraukan. Keduanya terus masuk ke dalam ruangan.
"Selamat datang pendekar muda, maafkan anggota kami yang tidak tahu sopan santun," kata seorang yang sudah tua dan wajahnya bengis. Bajunya hitam, matanya berkilat tajam.
"Tidak masalah,"
"Silahkan duduk dan kita minum dulu beberapa cawan," katanya sambil mempersilakan duduk.
Ruangan tersebut cukup besar. Di sana ada tiga orang yang sedang duduk. Satu ketua cabang Kay Pang Hek. Dan dua lagi pemimpin dari Tujuh Perampok Berhati Kejam. Keduanya merupakan pemimpin kedua dan keempat. Lam Qiu dan Jim Si.
Cakra Buana dan Li Guan duduk di kursi yanh sudah di sediakan.
__ADS_1
"Mari kita minum dulu," kata ketua cabang Kay Pang Hek.
Cakra Buana memandang Li Guan seperti sedang meminta pendapat.
"Aku bukan pengecut yang menaruh racun dalam arak," kata si ketua cabang.
Cakra Buana tertawa mendengarnya. "Aku tahu bahwa ketua cabang Kay Pang Hek bukanlah lelaki seperti itu,"
Mereka segera meminum araknya masing-masing.
"Ada apa kalian mengundangku?" tanya Cakra Buana langsung ke inti masalah.
"Ada sesuatu yang ingin kami tanyakan," jawab si ketua cabang.
Cakra Buana tahu bahwa kapan saja, pertarungan bisa terjadi tanpa diduga. Apalagi terlihat sepuluh orang anggota Tujuh Perampok Berhati Kejam sudah siap siaga. Karena itulah, dirinya juga diam-diam membuat persiapan.
"Silahkan,"
"Lima belas orang anggota kami tewas saat malam kemarin. Menurut seorang anggota yang selamat, dia dibunuh olehmu tanpa sebab yang jelas,"
"Malam kemarin, tidak berapa lama setelah setelah kematian lima bekas anggota Kay Pang Hek, sebelas anggota kami juga tewas mengenaskan. Menurut anggota yang selamat, dia juga mengatakan bahwa kau pelakunya,"
Cakra Buana masih tenang mendengarkan mereka bicara. Dia sudah mengira bahwa pertanyaan ini yang akan diajukan pertama kali.
"Semua yang kalian katakan, aku merasa tidak melakukannya. Malam kemarin aku mabuk hingga pagi hari. Bahkan juga ada sepuluh orang yang mencoba membunuhku, menurut pengakuannya, sebagian dari mereka merupakan anggota kalian,"
"Kentut. Kami tidak pernah mengirim anggita untuk menyerangmu kemarin," kata si ketua cabang mulai marah.
"Aku tidak tahu apa yang kau katakan benar atau tidak. Yang jelas mereka bicara sendiri,"
"Kau jangan membalikan fakta," kata Jim Si.
"Seumur hidup, aku tidak pernah melakukan hal rendahan ini,"
"Jadi apa kau tidak mau mengaku bahwa kemarin malam kau telah membunuh anggota kami dan Kay Pang Hek?" tanya Lam Qiu.
"Sekali aku mengatakan tidak merasa, sampai mati pun jawabannya akan sama,"
"Apapun yang terjadi?"
"Bahkan jika kalian menodongkan pisau di leherku, aku tetap akan mengatakan tidak,"
__ADS_1
Tentu saja, sekali Cakra Buana berkata tidak, maka jawabannya akan tetap tidak. Apapun yang terjadi. Apalagi dia sama sekali tidak merasa berbuat. Rasanya hanya orang bodoh yang mengakui perbuatan yang tidak dia lakukan.
Semua orang langsung menatap tajam kepadanya. Suasana di sana seketika menjadi lebih tegang.