Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Jurus Tapak Api Neraka


__ADS_3

Poh Kuan Tao si Harimau Sakti Tiada Tanding!!!


Tubuh yang dimaksudkan memang tubuh datuk dari Utara itu. Dia tewas setelah menerima satu jurus dahsyat yang dilancarkan oleh Sian-li Bwee Hua.


Entah jurus apa yang dia gunakan barusan, namun yang pasti, semua orang dapat melihatnya bahwa jurus itu memang satu jurus yang sangat mengerikan.


Selama sepak terjang Dewi Bunga Bwee di padang rumput Gunung Hua Sun, baru sekarang saja semua orang dibuat demikian terpukaunya. Tadi orang-orang yang ada di sana sudah kagum. Tapi sekarang mereka jauh lebih kagum lagi.


Si Harimau Sakti Tiada Tanding tewas mengenaskan. Tidak ada darah yang keluar dari tubuh tua renta itu. Hanya saja, seluruh wajahnya pucat pasi. Lebih parah lagi, sepasang matanya melotot seakan tak percaya. Lidahnya terjulur kaku.


Kejadian mengerikan lainnya tiba-tiba terjadi. Tubuh yang pucat pasi itu mendadak menghitam seperti terbakar. Tubuh Harimau Sakti Tiada Tanding gosong. Di dadanya terdapat bekas lima jari dan mengepulkan asap putih.


Semua orang tercekat. Terlebih lagi mereka yang merupakan angkatan tua.


Semuanya tahu jurus apakah itu. Mereka tidak menyangka bahwa jurus dahsyat yang katanya sudah menghilang dari dunia persilatan selama puluhan tahun tersebut, ternyata masih ada. Namun, orang-orang itu lebih tidak menyangka bahwa jurus tersebut ternyata berhasil dikuasai oleh seorang gadis muda yang bahkan umurnya belum mencapai dua puluh lima tahun.


Siapa yang akan percaya akan kejadian ini kalau tidak melihatnya secara langsung?


Selepas tewasnya musuh besar Sian-li Bwee Hua itu, dia sendiri langsung jatuh berlutut. Darah segar meleleh di sudut bibir sebelah kanannya. Wajahnya pucat.


Jelas, mantan anggota Organisasi Naga Terbang itu kelelahan. Dia terlalu memaksakan diri.


Wushh!!!


Bayangan merah melesat seperti sukma gentayangan. Secara tiba-tiba Pendekar Tanpa Nama telah berada di sisi Sian-li Bwee Hua.


"Duduk bersila, pejamkan matamu. Jangan buka mata sebelum aku menyuruhmu untuk membukanya," kata pemuda itu dengan cepat.


Nada suaranya terdengar sangat mengkhawatirkan keadaan gadis tersebut.


"Baik, aku mengerti," jawab Ling Ling dengan lirih.


Dia langsung melakukan posisi seperti apa yang diperintahkan oleh Pendekar Tanpa Nama.

__ADS_1


Cakra Buana segera menempelkan kedua telapak tangannya di punggunga Sian-li Bwee Hua. Dia mulai menyalurkan hawa murni kepadanya.


Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh Sian-li Bwee Hua. Rasa nyaman juga mulai dia rasakan.


Pendekar Tanpa Nama terus menempelkan telapak tangannya untuk beberapa waktu. Sepeminum teh kemudian, secara tiba-tiba Ling Ling memuntahkan dara segar kehitaman.


Meskipun sepasang matanya masih terpejam, namun dia dapat mengetahui bahwa darah itulah yang menjadi penyebabnya.


"Buka matamu …" perintah Cakra Buana.


Ling Ling langsung membuka matanya. Gadis itu menghembuskan nafas panjang. Sekarang keadaan tubuhnya mulai membaik. Wajah cantik yang tadinya pucat, sekarang telah kembali seperti sedia kala secara perlahan.


Dia merasa tubuhnya kembali ringan. Tidak berat seperti sebelumnya.


"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Cakra Buana sambil berusaha membantunya berdiri.


"Sudah jauh lebih baik," jawabnya sambil tersenyum.


"Syukurlah, kalau begitu mari kita kembali,"


"Kau tidak perlu seperti itu kepadaku," jawabnya sambil melemparkan satu senyuman yang memberikan perasaan nyaman kepada gadis itu.


Sian-li Bwee Hua langsung tertunduk malu. Entah kenapa, setiap Pendekar Tanpa Nama melemparkan senyuman hangat seperti itu, dia selalu merasakan hal lain. Hatinya selalu diselimuti oleh suatu perasaan yang sulit untuk diungkapkan.


Bahkan jantungnya langsung berdetak dengan kencangnya.


Sepasang muda-mudi itu segera berjalan kembali ke barisannya di mana para sahabatnya sudah menunggu sejak tadi.


Sementara itu, para tokoh pilih tanding dan mereka yang merupakan angkatan tua mulai ramai membicarakan terkait jurus dahsyat yang baru saja dilancarkan oleh Sian-li Bwee Huan hingga berhasil merenggut nyawa Harimau Sakti Tiada Tanding.


"Tak kusangka Jurus Tapak Api Neraka masih ada," kata Tian Hoa sambil menghela nafas.


Salah satu datuk dunia persilatan itu berkata sambil memperlihatkan rasa kagumnya karena dia telah kembali melihat jurus yang melegenda tersebut.

__ADS_1


"Aii, akupun demikian. Tapi aku lebih tidak menyangka lagi kalau yang memilikinya ternyata hanya seorang gadis. Bahkan lebih tak menyangka kalau dia sudah berhasil menguasainya hingga ke tahap sempurna," sambung Huang Pangcu yang sama-sama dibuat kagum.


"Jadi, apakah kitab pusaka Tapak Sejagad itu sebenarnya warisan dari Pendekar Tapak Dewa?" tanya Nenek Tua Bungkuk kepada orang-orang yang ada di dekatnya.


"Sedikit banyak mungkin iya. Tapi yang terpenting sekarang adalah kita harus bersyukur bahwa orang yang menguasai jurus legenda itu, ternyata orang-orang kita sendiri," ujar si Buta Yang Tahu Segalanya ikut angkat bicara.


Para sahabat mengangguk setuju. Mereka pun merasa demikian, andai saja yang berhasil menguasai kitab itu adalah musuh besarnya, bisa dipastikan bahwa dunia persilatan Tionggoan akan jauh lebih kacau lagi.


Pendekar Tanpa Nama dan Sian-li Bwee Hua sudah tiba di hadapan para tokoh. Kedatangan mereka disambut baik oleh semua orang.


Akhirnya pertempuran panjang yang berlangsung di padang rumput Gunung Hua Sun selesai juga. Meskipun ada yang menjadi korban, namun mereka tetap harus bersyukur.


Sebab kalau saja tidak demikian, mungkin korban yang akan jatuh malah lebih banyak lagi.


Matahari sudah meninggi. Hawa panas semakin menerpa tubuh semua orang yang ada di sana. Para tokoh itu mulai berpulang ke tempatnya masing-masing. Mereka pulang dengan membawa kabar gembira dalam hatinya.


Akhirnya dunia persilatan Tionggoan selamat dari malapetaka besar. Kelak, akan lahir kembali para pendekar yang menjadi penerus mereka.


"Apa yang akan kita lakukan sekatang?" tanya Orang Tua Menyebalkan.


"Apalagi? Tentunya kita harus rayakan kemenangan ini," sahut Tian Hoa sambil tertawa lantang.


"Hehehe, benarkah kau mau merayakan bersama kami semua?" tanya Huang Pangcu sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Iblis Tua Langit Bumi itu.


"Hemm, setidaknya untuk saat ini kita lupakan saja perselisihan di antara kita. Kau sudah tua, akupun sama. Apa salahnya kalau kita minum arak bersama barang sejenak?" Tian Hoa tertawa semakin lantang. Huang Pangcu pun demikian.


Akhirnya kedua orang datuk rimba hijau itu segera berlalu dari sana. Mereka berjalan beriringan satu sama lain.


Sebelum semua orang benar-benar pergi, Tiang Bengcu sempat menyuruh para tokoh kelas atas untuk menguburkan puluhan jasad manusia yang terdapat di sana.


Terutama sekali para anggota Organisasi Naga Terbang dan jasad Poh Kuan Tao si Harimau Sakti tiada tanding.


Awalnya mereka enggan, tapi setelah melihat keseriusan wajah Tiang Bengcu saat bicara, mau tidak mau orang-orang tersebut harus menuruti perintahnya.

__ADS_1


Bagaimanapun juga, Tiang Bengcu tetaplah pemimpin mereka. Dialah Kaisar dunia persilatan.


Belasan tokoh kelas atas bahu membahu membuat sebuah lubang besar untuk menguburkan para jasad itu. Mereka bekerja sama demi mempersingkat waktu yang dibutuhkan.


__ADS_2