Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Penampilan Baru Sian-li Bwee Hua


__ADS_3

Satu minggu berlalu. Hari ini suasana sore hari. Matahari yang sebentar lagi akan terbenam sudah melancarkan sinar jingganya ke bumi. Sinar itu memancar lewat celah-celah daun pohon.


Burung-burung kembali ke sarangnya masing-masing. Para warga juga mulai pulang ke rumahnya masing-masing.


Angin sepoi-sepoi berhembus mengibarkan pakaian seorang pemuda berwarna merah. Pendekar Tanpa Nama sedang duduk di atas sebuah batu hitam di pinggir sebuah sungai. Airnya jernih. Warnanya biru muda. Saking jernihnya air sungai tersebut sampai-sampai ikan yang berenang pun terlihat.


Daun maple jatuh ke air sungai lalu segera terbawa arusnya. Cakra Buana duduk termenung seorang diri. Di tangan kanannya ada satu guci arak wangi yang didatangkan dari kota ternama.


Pemuda itu melihat daun maple tadi dengan seksama. Entah apa yang sedang dia pikirkan.


Apakah pemuda itu memikirkan tentang kehidupan? Benarkah hidup di dunia sama dengan daun yang tumbuh di dahan pohon? Sebegitu sebentarnya hidup ini?


Daun pohon hari ini hijau. Besok tiba-tiba kuning, lalu jatuh ke bawah terbawa angin.


Bukankah hidup juga begitu? Sekarang sehat luar dalam, siapa tahu besoknya malah pergi meninggalkan dunia.


Bukankah hampir mirip? Apa bedanya di antara dua kejadian itu?


Hawa sejuk mulai mendera tubuh pemuda itu. Pada dasarnya dia memang sedang berdiam di sebuah hutan yang berdekatan dengan Gunung Hua Sun. Semenjak setelah kejadian di sana, Pendekar Tanpa Nama belum kembali lagi bersama rekan-rekannya.


Cakra Buana memilih untuk tinggal di tempat tersebut. Entah kenapa alasan pastinya.


Namun pada saat ditanya oleh para sahabatnya, dia hanya menjawab beberapa patah kata saja.


"Aku hanya ingin menenangkan diri. Kalau sudah selesai, aku akan menemui kalian," kata Pendekar Tanpa Nama sewktu ditanya alasannya.


Sinar matahari sore perlahan mulai lenyap. Mataharinya sendiri perlahan menghilang di balik bukit nun jauh di depan sana.


"Kalau sudah datang, kenapa tidak segera menampakkan diri?" tanya Cakra Buana entah kepada siapa.


Suasana di sana masih sepi sunyi. Tapi kenapa Cakra Buana berkata demikian?


Wushh!!!


Segulung angin tiba-tiba datang menerjang. Dua batang daun maple meluncur dengan deras dari arah belakangnya.


Crapp!!! Crapp!!!


Dua batang daun itu tertangkap di sela-sela jari Pendekar Tanpa Nama. Disusul kemudian oleh meluncurnya satu sosok yang tiba-tiba sudah duduk di sisinya.


Siapa lagi kalau bukan Sian-li Bwee Hua?


"Sedang apa kau di sini?" tanya gadis cantik itu.


Sekarang penampilannya berbeda. Ling Ling memakai pakaian merah muda. Dia tidak lagi memakai cadar. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai. Sebagian rambut itu dijepit oleh jepitan yang terbuat dari batu kemala. Beberapa helai anak rambut juga tampak di pinggir pelipisnya.


Bau harum keluar dari tubuh yang putih mulus itu. Ling Ling memakai sedikit bedak pada wajahnya, juga memakai gincu merah yang tidak terlalu tebal.


Penampilan seperti ini membuat siapapun bakal terkagum-kagum. Setiap pria mungkin bakal bergetar kalau melihat penampilan dirinya yang sekarang.

__ADS_1


Sian-li Bwee Hua benar-benar berubah total. Dari yang tadinya sosok misterius, menyeramkan dan angker. Sekarang malah menjadi sosok terbuka, anggun, dan pastinya sangat cantik.


Dia seperti bunga bwee. Anggun. Mempesona. Dan membuat betah setiap mata yang memandangnya.


Julukan Dewi Bunga Bwee sepertinya tidak salah.


Dia benar-benar mirip dengan bunga cantik itu.


"Aku hanya sedang menenangkan pikiran," jawaban yang sama seperti sebelumnya kembali dilemparkan oleh pemuda itu.


Sian-li Bwee Hua mengangguk tanda mengerti. Dia tidak ingin bertanya lebih jauh, sebab sejatinya setiap orang pasti mempunyai jalan pikiran tersendiri.


"Apakah ini penampilan baru dirimu?" tanya Cakra Buana kepada Ling Ling.


"Emm …" gadis itu mengangguk. "Apakah ada yang salah?"


"Tidak. Justru kau semakin cantik,"


Ling Ling tersipu malu seperti biasanya. Dia menundukkan kepala seperti sebelumnya.


"Kau selalu saja bercanda,"


"Aku tidak bercanda. Aku serius, kau semakin terlihat cantik,"


Gadis itu semakin malu. Jantungnya kembali berdebar dengan keras.


Apakah setiap wanita akan selalu merasakan hal itu jika dipuji cantik oleh setiap pria?


"Karena bunga bwee juga merah muda. Dan julukan yang aku pakai adalah Sian-li Bwee Hua. Tentu saja sedikit banyak aku harus menyerupai bunga itu,"


"Apakah kau menyukai bunga bwee?"


"Sangat suka malah. Kau lihat, jepitan yang aku pakai juga bermotif bunga bwee," ucap Ling Ling sambil mencabut jepitan di rambutnya.


Ternyata benar. Jepitan itu bermotif bunga indah tersebut.


Cakra Buana hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Ah iya, ini ada sepucuk surat dari Tiang Bengcu yang dia titipkan kepadaku untukmu,"


Sian-li Bwee Hua kemudian memberikan sepucut surat yang dimaksud kepada Pendekar Tanpa Nama.


Cakra Buana menerima surat itu lalu segera membukanya.


"Kalau kau jadi pulang tiga harian lagi, kemarilah lebih dulu. Semua sahabatmu sudah menunggu di Bulim Bengcu,"


"Tiang Bengcu …"


Cakra Buana melipat kembali surat tersebut. Dia memasukkan suratnya ke dalam saku baju.

__ADS_1


"Apa yang dia katakan?" tanya Ling Ling penasaran.


"Tiang Bengcu menyuruhku untuk datang ke gedung Bulim Bengcu sehari sebelum aku pulang ke Tanah Pasundan,"


"Kau akan kesana?"


"Tentu. Karena semua sahabatku sudah menunggu. Kau juga harus ikut,"


"Aku harus ikut?" tanya Ling Ling sambil menunjuk wajahnya sendiri.


Cakra Buana mengangguk tanpa menjawabnya.


"Kenapa aku harus ikut? Apakah kau menganggap aku sebagai sahabatmu juga?"


"Nanti kau akan tahu sendiri,"


Ling Ling merasa sekujur tubuhnya mendadak hangat saat melihat senyuman Cakra Buana yang begitu manis dan menawan.


"Baiklah, aku pasti ikut," jawabnya perlahan sambil menahan perasaan senang di tubuhnya.


Malam telah tiba. Kegelapan mulai menyelimuti bumi. Kelelawar keluar dari sarangnya, suara jangkrik mulai ramai di sana.


"Sudah malam, kau pulanglah. Tubuhmu perlu istirahat," kata Cakra Buana kepada Ling Ling.


"Aku tidak mau pulang,"


"Kenapa?"


"Kalau kau tidak pulang, aku tidak akan pulang," jawabnya bersikeras.


"Jadi kalau aku tetap di sini, kau pun sama?"


"Tentu saja,"


"Kau tidak takut?"


"Kenapa pula aku mesti takut?"


Cakra Buana tidak bicara lagi. Dia langsung mengunci mulutnya rapat-rapat.


Kalau kau sedang menghadapi seorang wanita yang teguh kepada pendiriannya, lebih baik kau jangan memaksanya. Sebisa mungkin jangan memaksa. Apapun yang terjadi, pokoknya jangan.


Sebab pada dasarnya, seorang wanita tidak suka terhadap suatu paksaan. Apalagi kalau dalam masalah pendirian.


"Tunggu di sini, tidak lama aku akan kembali lagi," kata Cakra Buana.


Dia tidak perlu khawatir terhadap keselamatan gadis cantik itu. Memangnya apa pula yang harus dia khawatirkan?


"Baik, aku akan tetap disini,"

__ADS_1


Wushh!!!


Cakra Buana langsung melesat menuju ke kedalaman hutan. Kecepatannya dalam bergerak tidak bisa disamakan dengan apapun. Terbukti sekarang, baru sekejap saja dirinya sudah tidak terlihat lagi bayangan tubuhnya.


__ADS_2