
Diam-diam Sian-li Bwee Hua melangkahkan kakinya secara perlahan. Ke depan. Ke pinggir sebuah tebing yang bahkan dasarnya saja tidak terlihat.
Dia duduk di situ. Kakinya ke bawah. Kalau saja ada orang yang mendorong dari belakang, niscaya gadis itu bakal langsung jatuh tanpa terkecuali.
Apakah benar Ling Ling ingin mati? Mungkinkah dia sudah bosan hidup?
Sepasang matanya menatap rembulan yang bertaburan di angkasa. Rembulan bersinar terang. Bintang juga gemerlapan dengan indah.
Tapi wajah Sian-li Bwee Hua tidak seterang rembulan. Sepasang matanya juga tidak gemerlapan layaknya bintang.
Dua titik air mata yang bening perlahan jatuh menetes ke pipinya yang selembut salju. Dia ingin menangis sekencang-kencangnya, ingin berteriak sekeras-kerasnya. Sayang, Ling Ling tidak bisa melakukannya.
Bagaimanapun juga, hatinya terasa sakit. Seperti ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum beracun yang sering dia gunakan.
Semua itu tidak lain adalah karena cinta.
Sedalam dan sesakit itukah kekuatan cinta?
Siapapun orangnya, kalau dia berada di posisi seperti Sian-li Bwee Hua sekarang, mungkin akan merasakan hal yang sama.
Memangnya manusia mana yang sanggup melihat orang yang dicintai memeluk orang lain tepat di depan matanya?
Ling Ling terus duduk di situ. Dia tidak menghiraukan apapun di sekitarnya. Mungkim kalau ada orang yang berniat padanya saat ini juga tidak akan ketahuan. Sebab sekarang gadis itu tidak bisa merasakan apa-apa kecuali rasa sakit. Konsentrasi terganggu. Pikirannya benar-benar kacau. Sekacau perasaannya saat ini.
Sementara itu, cukup lama juga Sinta berpelukan dengan Cakra Buana. Keduanya benar-benar melepaskan rindu yang sudah terpendam selama ini. Mereka berdua sangat menantikan saat-saat seperti ini.
Saat yang paling bahagia. Saat yang paling gembira.
Kalau seseorang sedang berada di posisi demikian, benarkah dia akan ingat keadaan di sekitarnya?
Sampai sekian lamanya, kedua pasangan bahagia itu baru melepaskan pelukannya masing-masing. Bidadari Tak Bersayap melihat-lihat keadaan di sekitar.
Tadi, dirinya seperti melihat satu sosok lain. Tapi sekarang di mana sosok itu?
Setelah memandang ke sekeliling, akhirnya dia berhasil menemukannya. Sosok itu sedang duduk sendirian di pinggir tebing.
Matanya memandangi sosok tersebut lekat-lekat. Sosok itu berambut panjang. Bertubuh padat dan berkulit putih. Lengannya lentik.
Wanita.
Bidadai Tak Bersayap yakin bahwa sosok itu adalah wanita.
"Siapa dia Kakang Cakra?" tanyanya kepada Cakra Buana dengan suara lembut tapi mengandung rasa penasaran.
__ADS_1
Cakra Buana gelagapan. Beberapa kali dirinya ingin menjawab, tapi saat sudah membuka mulut, mulutnya justru tidak mau bersuara. Cukup lama juga dia berada di posisi seperti ini.
Bidadari Tak Bersayap sedikit curiga. Ada apa dengan Cakra Buana? Kenapa kekasihnya tidak mampu menjawab?
Sebagai wanita, perasaannya langsung peka. Pada umumnya, perasaan wanita memang selalu peka. Terhadap apapun selalu seperti itu.
"Ehemm, apakah ucapanku dulu benar terbukti? Benarkah dia calon istrimu lagi?" tanyanya dengan tatapan mata penuh selidik.
Cakra Buana semakin gelagapan. Sesakti apapun dirinya, sekejam dan sebengis apapun seorang pria, biasanya dia tidak berani dan terkadang tunduk jika dihadapan orang yang dicintainya.
Ada dua macam manusia yang biasanya ditakuti oleh pria. Pertama adalah orang tuanya. Kedua adalah orang yang dicintainya.
Apakah wanita juga seperti ini?
"Ini … a-anu …" pemuda itu tidak dapat berkata lagi.
Rasanya, seluruh perkataan telah pergi menjauh. Mulutnya juga tidak bisa diajak kompromi lagi.
"Iya apa tidak?" tanya Bidadari Tak Bersayap sedikit membentak.
Cakra Buana terperanjat. Dia mendadak seperti orang latah. Matanya langsung berkedip-kedip. Mulutnya terus terbuka tanpa susara.
Tampangnya saat ini tidak lebih seperti orang bodoh dari yang terbodoh.
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi? Kenapa kau malah mendiamkannya? Kenapa kau tidak memperkenalkan dia kepadaku? Kenapa …"
Bidadari Tak Bersayap tidak meneruskan perkataannya lagi. Sebab jari telunjuk Cakra Buana telah menempel di bibirnya yang mungil.
"Baik, baik, aku salah. Sekarang bebas mau kau apakan aku ini," katanya mengeluh.
"Minggir kau," katanya seperti seorang kekasih yang sedang marah.
Cakra Buana langsung minggir. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Selain diam seperti orang bodoh, memangnya apalagi yang sanggup dia lakukan sekarang?
Sinta berjalan mendekat ke arah Ling Ling berada. Jalannya amat pelan. Seperti seseorang yang sedang menikmati.
'Mati aku …' batin Cakra Buana sambil memandangi punggung gadis itu dengan cemas.
Sinta sudah tiba di tempat Ling Ling. Dia berjongkok lalu menepuk pundaknya.
"Hei …"
Sian-li Bwee Bua kaget. Hampir saja dirinya terjatuh. Untung Bidadari Tak Bersayap segera memegani tangannya lalu mengajaknya berdiri.
__ADS_1
"Namaku Sinta Putri Wulansari, siapa nama Nyimas ini?" katanya sambil tersenyum.
"Na-namaku Ling Ling," jawabnya gugup.
"Nama yang bagus. Namanya juga cantik. Secantik orangnya,"
Ling Ling tersipu malu. Wajahnya langsung merah padam saling malunya.
"Apakah Nyimas Ling Ling juga kekasih Kakang Cakra Buana?" tanya Sinta tetap memberikan senyumannya.
Ling Ling tidak menjawab. Dia hanya mengangguk tanda membenarkan. Bagaimanapun juga, dia takut Sinta bakal marah.
"Haishh, kalau begitu sama. Aku juga kekasihnya. Tapi aku lebih dulu dari pada dirimu. Kalau begitu, kau harus menyebutku Nyimas Sinta Putri Wulansari. Dan aku akan memanggilmu Rai. Rai Ling Ling," katanya gembira.
"Nyi-mas, nyimas …" Ling Ling terus menggumamkan nama itu. Sepertinya di sedang mengingat-ingat agar tidak lupa.
"Apakah kau tidak marah kalau Kakang Cakra Buana mempunyai istri dua orang?"
"Ti-tidak. Selama dia bisa berlaku adil, rasanya aku dapat menerima," katanya gugup.
Jawabannya sana persis dengan Sinta pada waktu dulu bicara. Secara tidak langsung, mereka tipe wanita yang sama.
Apakah ini kebetulan?
Memang, di dunia ini kadang terlalu banyak sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Percaya atau tidak, kau tetap harus percaya. Sebab itu adalah nyata.
"Kita ternyata wanita yang sama. Akupun sepertimu, tidak masalah jika Kakang Cakra Buana mempunyai istri lagi. Bahkan keadaan seperti ini sudah aku bicarakan sebelum dia pergi ke Tionggoan sana. Siapa sangka, ternyata malah benar-benar terjadi," ucapnya menjelaskan sedikit.
"Jadi, Nyi-nyimas tidak marah?"
"Sama sekali tidak. Bahkan aku bersyukur karena mempunyai adik perempuan sepertimu … hihihi," Sinta tertawa pelan sambil menutup mulut dengan telapak tangannya.
Ling Ling masih gugup. Namun karena melihat Sinta yang begitu ramah, akhirnya kegugupan itu perlahan mulai lenyap dengan sendirinya.
"Bagaimana kalau kita kerjai Kakang Cakra Buana?" usul Bidadari Tak Bersayap.
"Baik, baik sekali. Apa idemu?"
"Kita pura-pura bertengkar di depannya. Aku marah, kau juga marah. Dengan begini kita akan membuatnya pusing tujuh keliling. Bagaimana, kau setuju?" tanya Sinta meminta pendapat Ling Ling.
"Usul yang bagus. Baik, aku setuju. Selanjutnya bagaimana?"
"Kita pura-pura bertarung. Aku ingin lihat bagaimana ekspresi pria hidung belang itu," kata Sinta tertawa senang.
__ADS_1