
Sekarang gantian, giliran Cakra Buana yang mengerutkan keningnya. Semula pemuda itu menduga kalau dua nenek tersebut merupakan utusan dari Majikan Bertudung Hitam.
Baru sekarang dugaannya itu keliru besar. Tidak cuma bukan utusannya saja, malahan keduanya tidak mengenal sama sekali siapakah Majikan Bertudung Hitam.
Apa artinya ini? Apakah ada orang lain lagi yang menginginkan nyawanya juga?
"Apakah kalian tidak mengenal Majikan Bertudung Hitam?" tanya Pendekar Tanpa Nama untuk memastikan.
"Bukan saja tidak mengenal, malah kami belum pernah mendengar namanya. Baru sekarang saja kami tahu ada seorang bernama Majikan Bertudung Hitam,"
Tubuh Cakra Buana bergetar. Antara percaya dan tidak percaya. Di dunia ini, ternyata masih ada orang lain yang sanggup memerintahkan tokoh kelas atas layaknya Majikan Bertudung Hitam, kira-kira, siapakah orangnya?
"Kalau begitu, siapa yang sebenarnya telah menyuruh kalian untuk membunuhku?"
"Seseorang yang pastinya tidak pernah kau sangka sebelumnya,"
"Apakah kalian tidak akan memberitahukannya kepadaku?"
"Selamanya tidak akan,"
Pendekar Tanpa Nama langsung diam. Seumur hidupnya, dia tidak pernah memaksa orang. Kalau orang itu tidak mau bicara jujur, maka Cakra Buana tidak akan memaksanya.
Kalau kau tidak mau dipaksa, maka lebih baik kau jangan memaksa orang.
"Kalian ingin membunuhku? Kalau hanya dua orang, rasanya belum cukup," ujar Cakra Buana.
Ucapan itu bukan merupakan kesombongan. Justru sebuah kenyataan. Kalau hanya mengandalkan tenaga dua orang tua seperti mereka, bagaimana mungkin bakal sanggup membunuh seorang tokoh seperti Pendekar Tanpa Nama?
"Siapa bilang kami hanya berdua?"
Selesai berkata demikian, tiba-tiba saja seorang nenek bertepuk tangan perlahan. Hanya tiga tepukan saja. Tapi yang tiga tepukan itu justru sanggup mengubah segalanya.
Wushh!!! Wushh!!!
Bayangan manusia melesat dari balik semak belukar tiada hentinya. Kecepatan dari masing-masing bayangan itu sungguh sulit dibayangkan. Siapapun dapat menebak kalau mereka pasti para pendekar kelas satu dalam dunia persilatan.
Hanya beberapa kejap saja, tempat yang tadinya sepi sunyi itu tiba-tiba menjadi ramai. Tak kurang dari lima belas tokoh persilatan sudah hadir di sana.
Mereka berdiri berjajar. Semuanya memandang tajam ke arah Pendekar Tanpa Nama. Kelima belas tokoh itu memakai senjata pusakanya masing-masing.
Tombak, golok, keris, pedang, trisula, segala macam bentuk benda pusaka terdapat di sana pada saat ini.
__ADS_1
Cakra Buana terkejut setengah mati. Ternyata dia telah terkepung. Sekeliling tempat itu sepertinya sudah dipenuhi oleh musuh-musuh yang tidak bisa dipandang rendah.
"Apakah sekarang sudah cukup?" tanya si nenek tadi sambil tersenyum dingin.
"Bisa sudah, bisa belum,"
"Sombong,"
Wushh!!!
Tiba-tiba dia melesat ke depan dengan kecepatan tinggi. Tubuhnya meluncur bagaikan anak panah, dua pukulan jarak jauh dilayangkan dengan segenap kemampuan.
Cahaya kuning berkelebat. Dua serangan hebat itu langsung menerjang Pendekar Tanpa Nama dengan telak. Kepala dan perut menjadi sasarannya.
Namun pada saat yang bersamaan, Cakra Buana juga melakukan sebuah gerakan. Tubuhnya tiba-tiba lenyap dari pandangan semua orang.
Bukk!!!
Si nenek tua yang memiliki suara cempreng itu tiba-tiba terdorong ke depan. Hampir saja dirinya jatuh tersungkur.
Bukk!!!
Sebelum mendapatkan posisi, ternyata serangan lainnya telah tiba. Tubuhnya kembali dihajar orang. Kalau sebelumnya tersungkur ke depan, maka sekarang malah terdorong ke belakang.
"Bocah busuk. Aku hajar kau …"
Wushh!!!
Dia menyerang lagi. Tapi kali ini tidak sendiri, sebab rekannya yang sama-sama nenek tua berwajah burik juga sudah turun tangan langsung ke lapangan.
Dua orang tokoh tua sungai telaga telah menggempur Pendekar Tanpa Nama. Meskipun mereka merupakan pendekar bertangan kosong, namun kekuatan tangannya itu tidak bisa dipandang sebelah mata.
Dari sekian banyak orang yang hadir, Cakra Buana justru merasa kalau dua nenek tua inilah yang paling menakutkan. Dari belasan macan senjata tajam, menurutnya, dua pasang tangan inilah yang justru paling tajam.
Plakk!!! Plakk!!!
Benturan pertama terjadi. Tiga pasang tangan itu bertemu di tengah jalan. Dua nenek tersebut terdorong enam tombak jauhnya. Tubuh mereka bergetar. Darah dalam dirinya bergolak hebat.
Sedangkan Pendekar Tanpa Nama hanya terdorong empat tombak saja. Keadaannya lebih baik daripada dua orang musuhnya.
"Kenapa kalian masih diam saja? Bunuh pemuda itu!!!" kata seorang nenek tersebut memberikan perintah.
__ADS_1
"Baik …"
Wutt!!! Wushh!!!
Senja yang seharusnya dinikmati dengan ubi rebus dan tembakau ini, sekarang justru malah dinikmati dengan pertarungan hebat.
Pendekar Tanpa Nama sedikit menyesalkan hal ini. Hanya saja, dia tidak mau berlarut-larut. Amarah yang sebelumnya berkobar hebat, kemarahan yang tadi mencuat, sekarang dia lampiaskan kepada belasan orang tersebut.
Sringg!!!
Pedang Naga dan Harimau telah dicabut dari sarungnya. Cahaya merah menyeruak bercampur dengan cahaya hingga sang surya.
Hawa kematian mendadak terasa kental. Pedang itu segera mengeluarkan pamornya yang tiada tanding. Cahaya merah menyelimuti seluruh batang pedang.
Amarah Cakra Buana berkobar kembali. Pedangnya juga sudah tidak sabar ingin memakan korban.
Wushh!!!
Pendekar Tanpa Nama bergerak. Dia sudah bertekad akan menghabisi semua orang yang ingin membunuhnya.
Jurus Pedang Kilat Tak Berbentuk kembali diperlihatkan hingga titik maksimal.
Tubuhnya lenyap. Begitu juga dengan pedang pusaka miliknya. Tiada seorangpun yang dapat melihat bagaimana pedang itu bergerak. Pun tidak ada yang bisa menyaksikan seperti apa serangan Pendekar Tanpa Nama.
Serangan yang terkandung dalam jurus ini teramat sangat cepat. Malah mungkin lebih cepat dari kilat yang menyambar bumi. Sehingga siapapun tidak ada yang sanggup menyaksikan bagaimana bentuk serangannya.
Oleh sebab itulah jurus ini diberi nama Pedang Kilat Tak Berbentuk.
Cepat melebihi kilat. Cepat sehingga tiada bentuk.
Crashh!!! Crashh!!!
Dua orang tokoh kelas atas menjadi korban pertama Pedang Naga dan Harimau. Darah menyembur deras dari kutungan lehernya. Kepala mereka sendiri terpental jauh entah ke mana.
Tubuhnya ambruk ke tanah di tengah pertarungan hebat itu. Tiga belas rekannya menjerit tertahan. Meskipun orang-orang itu merupakan pendekar sesat, tapi mereka juga masih manusia yang sama seperti umumnya.
Belum habis semburan darah dari dua korban itu, sekarang semburan darah lainnya telah terulang lagi. Tiga nyawa melayang hanya dalam waktu yang sangat singkat. Ketiganya terbabat kutung di bagian leher pula.
Tiga tubuh kembali ambruk. Tiga kepala manusia terlempar lagi. Pertarungan hebat masih terus berlanjut. Tapi nyali semua musuh Pendekar Tanpa Nama tidak sebesar tadi.
Jika sebelumnya orang-orang itu buas seperti kawanan serigala yang ganas. Maka yang terjadi sekarang adalah sebaliknya. Mereka persis seperti kawanan serigala yang kehilangan taringnya.
__ADS_1
Padang rumput yang seharusnya dibasahi oleh embun, sekarang justru malah dibasahi oleh darah. Darah segar. Darah manusia.
Tanpa sadar, di belakang sana, dua nenek tadi juga merasa ngeri melihat pemandangan ini. Hampir saja keduanya muntah-muntah karena bau darah yang sangat kentara itu.