Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Tiba di Gunung Tilu Dewa


__ADS_3

Beberapa ratus tombak di depan sana ada sebuah gunung. Gunung hijau yang tinggi dan berdiri dengan kokoh. Dari jauh saja gunung tersebut tampak indah, apalagi kalau dari dekat?


Pendekar Tanpa Nama dan Sian-li Bwee Hua berhenti sejenak di sawah milik para warga setempat. Keduanya memandangi gunung itu sekian lamanya.


"Gunung itu benar-benar indah," gumam Ling Ling memuji keindahan gunung tersebut.


"Ya, memang indah. Namanya Gunung Tilu Dewa," jawab Cakra Buana.


"Gunung Tilu Dewa?" tanya Ling Ling menegaskan.


"Benar, gunung itulah yang akan menjadi tempat tujuan kita,"


"Benarkah?" tanya gadis itu antusias.


"Tentu saja benar,"


"Baik, baik sekali. Kalau begitu mari kita lanjutkan perjalanan dengan segera," katanya penuh semangat.


Dia ingin melihat lebih dekat gunung tersebut. Apakah Gunung Tilu Dewa akan lebih indah jika diperhatikan dari jarak dekat?


Ling Ling tidak tahu, namun dia sangat ingin tahu. Oleh sebab itulah dirinya sudah tidak sabar ingin segera ke sana.


Cakra Buana membalasnya dengan anggukan kepala. Dia kembali membedal tali kekang kuda. Kuda jempolan berkeringat merah langsung lari kencang seperti sebelumnya.


Keduanya menambah kecepatan lari kuda. Sesekali mereka tampak seperti orang yang sedang balapan kuda.


Seharian dua orang itu terus melarikan kuda-kuda mereka. Keduanya tidak berhenti selain hanya untuk melakukan hal-hal pokok saja.


Menjelang senja, Pendekar Tanpa Nama dan Sian-li Bwee Hua telah tiba di kaki Gunung Tilu Dewa.


Keadaan di sana ternyata sedikit menyeramkan. Pohon yang menjulang tinggi bergoyang karena tertiup angin senja yang cukup kencang. Udara terasa sejuk. Tapi kesejukan ini mampu membangkitkan rasa takut. Terutama bagi Ling Ling.


Baru sekarang dirinya menyadari bahwa di tempat itu seperti ada hawa magis yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Bulu kuduknya berdiri. Gadis itu sempat menengok ke tempat sekitarnya.


Pohon bambu berbunyi karena bergesekan. Beberapa helai daun jati jatuh ke bumi setelah tidak tahan tertiup angin kencang.


"Apakah kita akan naik ke atas sana?" tanyanya kepada Cakra Buana.


"Ya, kita akan naik ke sana,"


"Kapan?"


"Sekarang,"


"Sekarang juga kita akan naik ke sana?"

__ADS_1


"Benar, kau takut?" tanya Cakra Buana sambil memperhatikan wajah Ling Ling yang memperlihatkan sedikit perasaan takut.


"Se-sedikit," jawabnya agak gugup.


Cakra Buana sempat tertawa. Dia tidak menyangka bahwa gadis itupun akan merasa takut.


"Aku kira tokoh sakti sepertimu tidak mempunyai rasa takut lagi," katanya dengan nada bercanda.


"Aku masih manusia. Sesakti apapun, selama dia masih manusia, pasti mempunyai rasa takut tersendiri. Begitu pula dengan aku,"


Setiap manusia memang mempunyai ketakutannya tersendiri. Bohong kalau tidak ada yang ditakuti oleh yang namanya manusia. Sebab rasa takut adalah sifat dasar dari manusia itu sendiri.


"Hahaha, kau tenang saja. Di sini tidak ada setan yang berani memakanmu,"


"Hemm, baik. Mari kita berangkat sekarang juga," katanya sambil menggertak gigi.


Sebagai tokoh kelas atas, pastinya Ling Ling juga merasa gengsi. Meskipun memang terhadap Cakra Buana. Rasa gengsi pada umumnya tidak memandang siapapun dan kepada siapapun. Bahkan kepada orang sendiri, perasaan gengsi sering pula menghampiri.


"Nah, itu baru betul,"


"Bagaimana dengan kuda kita?" tanya Ling Ling.


"Simpan saja di sini. Kasihan mereka, lebih baik suruh menunggu di tempat yang aman,"


"Usul yang bagus,"


"Untuk apa?"


"Untuk minum kuda kita," katanya tersenyum.


Tanpa menoleh lagi, pemuda itu langsung pergi ke perdesaan untuk mencari arak ataupun tuak. Di perjalanan, dia juga sempat membeli semacam wadah untuk minum kudanya nanti.


Setelah semuanya didapat, dia lantas segera kembali ke tempat di mana Ling Ling berada.


"Dapat?" tanyanya begitu melihat kedatangan Cakra Buana.


"Dapat,"


Keduanya kemudian berjalan ke dalam hutan. Mereka menyimpan kuda jempolan itu di tempat yang banyak menyediakan rumput. Cakra Buana lalu menuangkan arak ke wadah yang sudah dia beli sebelumnya.


Kuda mereka sudah mendapatkan tempat yang nyaman dan amah. Segala persiapan sudah disiapkan, sekarang waktunya untuk naik ke atas.


Wushh!!! Wushh!!!


Dua bayangan manusia melesat dengan kecepatan tinggi. Dengan ilmu meringankan tubuh keduanya yang sudah mencapai tahap sempurna, menaiki sebuah gunung bukanlah hal yang sulit.

__ADS_1


Begitu malam hampir tiba, Cakra Buana dan Ling Ling baru saja tiba di atas gunung.


Mereka dibuat terbengong untuk beberapa saat lamanya. Pemandangan di sana benar-benar jauh lebih indah lagi.


Tampak sungai berair jernih mengalir dengan anggun. Di sebelah hulu ada juga air terjun cukup tinggi. Ikan-ikan berenang dengan nyaman. Beberapa batang daun kering terbawa arus air sungai itu.


Di sekelilingnya ada pohon-pohon tinggi yang berjejer. Pohon bambu kuning doyong ke sungai. Hal ini menambah keindahan di tempat tersebut.


"Apakah kita sudah sampai?" tanya Ling Ling setelah sekian lama termangu karena keindahan alam.


"Sudah. Tinggal jalan ke depan sedikit, kita akan segera tiba,"


Cakra Buana bicara sambil berjalan. Ling Ling mengikuti di belakangnya.


Sepanjang perjalanan, dua orang itu tidak banyak bicara. Mereka benar-benar dibuat bungkam oleh keindahan yang tersaji di depan matanya.


Puluhan bunga tumbuh subur. Bau harum di senja hari ini membuat hidung mereka tidak berhenti menciumnya dengan dalam. Semilir angin sepoi-sepoi membuat bunga mekar bergoyang-goyang.


Suara burung terdengar nyaring. Sepertinya mereka baru pulang ke sarangnya setelah seharian mencari makan.


Setelah berjalan selama beberapa puluh menit, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan utama. Cakra Buana menghentikan langkah. Dia melolos pedang lalu segera digunakannya untuk membabat rumput ilalang yang sudah setinggi dada.


Tepat setelah selesai membabat rumput ilalang itu, keduanya sudah sampai pula di depan sebuah goa. Goa yang cukup besar dan angker. Lumut hijau telah memenuhi dinding goa. Beberapa rumput liar juga sudah terlihat di sana sini.


Mulut goa sebagian tertutup oleh rumput yang menjalar.


Cakra Buana memperhatikan ke sekelilingnya. Dia menghela nafas karena melihat masih ada bekas jejak kaki di bawah mulut goa itu.


Jejak kaki yang tidak beraturan, jejak kaki yang sama sama persis seperti orang bolak-balik.


"Sepertinya di dalam goa itu ada orang," gumam Ling Ling dengan lirih.


"Memang ada,"


Pemuda itu kembali berjalan ke depan dengan langkah yang tenang dan santai.


Hatinya berdebar-debar. Bagaimanapun juga, tak dapat dipungkiri kalau dia sangat gembira.


Setelah sekian lama memendam kerinduan yang semakin mendalam, pada akhirnya dia dapat juga melampiaskan kerinduan itu.


Manusia mana yang tidak akan gembira dan bahagia kalau akan bertemu dengan kekasih pujaan hatinya?


Cakra Buana perlahan melangkah masuk ke dalam goa.


Namun baru saja dia masuk, tiba-tiba ada segulung angin kencang yang datang menerjang ke arahnya.

__ADS_1


Wushh!!!


__ADS_2