Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Bibi Guru


__ADS_3

Cio Hong tidak menjawab. Dia langsung membangunkan Cakra Buana lalu memeluknya dengan erat. Orang tua itu menangis sedih bercampur bahagia dengan semua kejadian ini.


Dia tidak perlu bertanya seperti halnya Cakra Buana. Sebagai tokoh tua yang sudah kenyang akan pengalaman hidup, Cio Hong tentunya tahu dan dapat membedakan mana orang yang berbohong dan tidak berbohong.


Keduanya menangis haru. Daun-daun kering rontok jatuh ke tanah lali tertiup angin. Keadaan di sana mendadak lebih sunyi. Seolah alam semesta juga merasakan kesedihan mereka berdua.


Setelah beberapa saat berpelukan, Cio Hong melepaskan Cakra Buana. Dia memandanginya dengan penuh kekaguman. Tiba-tiba pria tua itu menepuk pundaknya.


"Ternyata kau benar-benar murid kakak seperguruanku,"


Cakra Buana hanya tersenyum sambil mengangguk perlahan.


"Paman guru, sebenarnya kedatanganku ke Tionggoan juga ingin menjalankan amanah dari guru. Aku ingin menyerahkan Kitab 18 Rajawali Sakti kepadamu," ujar Cakra Buana lalu menyerahkan sejilid kitab pusaka yang mulai usang dari buntelannya.


Kedua orang itu telah duduk kembali di posisinya semula.


"Aii, ternyata kau orang yang dipilih untuk mewariskan ilmu kakak seperguruanku yang sangat dahsyat. Tapi, bagaimana kau bisa menjadi muridku?" tanya Cio Hong penasaran.


Cakra Buana mulai menceritakan kisahnya saat dia kalah bertarung melawan Dewa Trisula Perak dan Dewa Racun di pinggir sebuah goa. Di mana saat itu dia hampir mati, untungnya dirinya memilih untuk masuk ke dalam goa sehingga singkatnya terperosok jatuh ke bawah.


"Lantas apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Cio Hong merasa penasaran.


"Pendeknya, aku berhasil mendapatkan teman. Dua ekor kera dan seekor harimau menjadi sahabat baikku di sana. Mereka menjagaku dengan penuh kasih sayang, mereka juga merawat lukaku hingga sembuh. Bahkan mereka juga mengenalkan aku kepada keluarganya. Setelah beberapa waktu bersama, mereka membawaku ke sebuah goa lainnya. Kera itu menyuruhku untuk menggali sebuah tanah, aku sendiri awalnya tidak mengerti,"


"Namun setelah digali lebih dalam, aku menemukan sebuah kotak kayu yang sudah sangat tua. Para kera menyuruhku untuk membukanya. Aku menemukan tiga jilid kitab pusaka. Aku membuka lembaran demi lembaran hingga akhirnya menemukan sepucuk wasiat di bagian paling belakangnya. Dua di antara adalah kitab yang harus aku pelajari, dan satu lagi adalah kitab yang harus aku serahkan kepada maha guru atau Ciangbunjin Perguruan Rajawali Sakti, yaitu kepada paman guru sendiri,"


"Lalu?"


"Lalu para kera itu melatihku, aku disuruh berendam di sebuah danau yang mempunyai warna air berbeda. Setelah semua proses selesai aku lakukan, barulah aku diperbolehkan mempelajari kitab warisan guru. Lalu saat semua jurus berhasil aku pelajari, aku langsung memutuskan pergi dari sana dan menjalankan tugas yang terkahir dari guru. Karena alasan itulah aku bisa sampai di Tionggoan," ucap Cakra Buana mengakhiri ceritanya.


Cio Hong kagum dengan pengalaman hidup Cakra Buana. Dari orang yang hampir mati, sekarang justru malah menjadi orang yang hampir tidak bisa mati. Walaupun pemuda itu tidak bercerita lebih jauh, tapi Cio Hong yakin bahwa Cakra Buana yang sekarang sudah menjadi pendekar pilih tanding.

__ADS_1


Dengan jurus warisan Pendekar Tanpa Nama, selain tokoh yang benar-benar sudah kelas atas, siapa lagi yang mampu menghadapinya?


Nasib manusia memang tidak pernah ada yang tahu secara pasti. Di dunia ini, apapun bisa terjadi tanpa disangka dan tidak pernah menyangka sebelumnya.


"Tetapi, sebenarnya sekelompok kera dan harimau itu peliharaan siapa?" tanya Cio Hong masih penasaran dengan binatang-binatang itu.


"Mereka adalah sekelompok binatang yang merupakan sahabat guru dan ditugaskan untuk menjaga kitab warisannya hingga bertemu dengan pewaris selanjutnya," jawab Cakra Buana.


Cio Hong mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekarang dia sudah mengerti semuanya.


"Setelah mendapatkan kitab ini, apa yang akan paman guru lakukan selanjutnya?" tanya Cakra Buana lebih jauh.


"Apa lagi? Tentu saja aku akan mengibarkan bendera Perguruan Rajawali Sakti. Aku juga akan membela kebenaran lebih jauh lagi, dan yang terpenting, aku akan membalaskan dendam kematian kakak seperguruanku,"


"Kalau menyangkut dendam kematian guru, aku juga tidak akan tinggal diam. Kebetulan menurut Huang Pangcu, di dekat sini ada dua tokoh yang dulunya sempat ikut memburu guruku,"


"Kau akan menantang mereka bertarung?"


"Kau tidak takut mati?"


"Jika aku masih takut mati, maka aku tidak pantas menjadi murid Pendekar Tanpa Nama," tegas Cakra Buana dengan semangat yang menggelora.


"Hahaha, bagus, bagus. Ternyata kau memang sangat tepat menjadi murid Pendekar Tanpa Nama. Semangatmu, keberanianmu, semuanya sangat mirip dengan dirinya. Kagum, sungguh kagum," ujar Cio Hong memuji Cakra Buana.


Cakra Buana hanya tersenyum. Mulutnya memang tidak berkata apa-apa, tetapi batinnya sejak tadi tidak diam. Selalu bicara tanpa henti.


'Guru, murid sudah selesai menjalankan tugas terakhirmu, sekarang tugas utamaku sudah selesai. Tinggal satu lagi yang belum, aku harus membalaskan dendam kematianmu,' batin Cakra Buana.


Sepasang matanya menerawang jauh ke depan. Kerinduan akan kampung halaman kembali mendera. Entah kapan kerinduan ini akan berakhir, dia hanya bisa berharap bahwa dirinya segera pulang ke tanah kelahirannya.


Wushh!!!

__ADS_1


Segulung angin dahsyat menerjang ke arah kedua orang tersebut. Sesaat kemudian, satu sosok telah berdiri di hadapan mereka.


Seorang wanita tua bertubuh sedikit bungkuk. Siapa lagi kalau bukan Nenek Tua Bungkuk?


"Dari mana kau tahu kami ada di sini?" tanya Cio Hing kepada adik seperguruannya itu.


"Sejak tadi aku melihat apa yang telah kalian lakukan. Bahkan aku juga menyaksikan pertarungan kalian,"


Baik Cio Hong maupun Cakra Buana tidak terkejut. Keduanya tidak aneh lagi dengan hal semacam ini. Sebagai tokoh tua, sudah pasti Nenek Tua Bungkuk mampu melakukan apapun.


"Bagaimana pendapatmu?"


"Sekarang aku semakin yakin bahwa dia memang murid kakak seperguruan kita, Pendekar Tanpa Nama,"


Cio Hong mengangguk perlahan.


"Dia sudah memberikan apa yang harus diberikan kepadamu?"


"Sudah. Sesuatu itu sudah ada di tanganku,"


"Bagus. Kita hanya memerlukan sedikit waktu untuk membalaskan dendam ini,"


"Benar,"


Cakra Buana langsung maju dan bersujud di hadapan Nenek Tua Bungkuk seperti yang dilakukan sebelumnya kepada Rajawali Petir Pengoyak Sukma.


"Maafkan aku bibi guru. Aku tidak bisa melihat agungnya gunung Thai San, aku juga tidak dapat membedakan mana air jernih dan mana air keruh sehingga tidak bisa melihat siapakah dirimu sebenarnya," ujar Cakra Buana dengan suara tertahan. Rasa haru dan bangga kembali bercampur dalam dirinya.


"Kau tidak perlu menyesal sampai seperti ini nak. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Yang jelas kita harus bersyukur karena Thian (langit) telah mempertemukan kita 'sekeluarga'," kata Nenek Tua Bungkuk sambil membangunkan Cakra Buana.


Siapapun tidak akan yang percaya bahwa maha guru Perguruan Rajawali Sakti ternyata mempunyai hubungan istimewa dengan Pendekar Tanpa Nama. Lebih-lebih lagi si Nenek Tua Bungkuk.

__ADS_1


__ADS_2