
Tanpa menunggu jawaban kedua orang yang sedang ketakutan itu, Pendekar Tanpa Nama langsung turun ke bawah. Dia kemudian berjalan dengan santai. Cakra Buana berniat untuk segera pergi dari sana.
Meskipun benar Perguruan Bawah Tanah berada di tempat yang sangat tersembunyi, meskipun betul bahwa perguruan itu mempunyai jalan berliku-liku, tetapi Pendekar Tanpa Nama tidak peduli.
Dia yakin dirinya bisa keluar dari perguruan tersebut. Cakra Buana sudah beberapa kali tersesat, baik itu di sebuah hutan maupun di tempat lainnya.
Secara tidak langsung, dirinya sudah mempunyai pengalaman dalam hal mencari jalan keluar. Karena itulah, pemuda itu yakin dirinya bisa keluar tanpa merasa kesulitan.
Cara berjalan Cakra Buana sangat santai. Sekalipun dia tidak tahu sedang berada di mana saat ini, tapi pemuda itu tidak merasa khawatir.
Untuk apa mengkhawatirkan sesuatu yang belum pasti?
Dia amat menikmati pemandangan yang ada di hutan tersebut. Ternyata di sana terdapat banyak sekali pemandangan indah.
Semilir angin berhembus lirih. Rembulan purnama bersinar terang kembali. Suasana seperti ini sangat nikmat jika dilalui bersama kekasih.
Sayangnya, kekasih hati Cakra Buana berada di tempat yang jauh sekali.
Wushh!!!
Tiba-tiba Pendekar Tanpa Nama menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Hanya sesaat, pemuda itu telah menghilang ditelan hutan yang gelap.
###
Di tempat kejadian, Yiu Fang dan tunangannya masih saja termenung. Keduanya seperti sedang membayangkan kejadian yang baru saja berlangsung itu.
Mereka tidak pernah membayangkan bahwa hal seburuk itu akan menimpa perguruannya.
"Pendekar Tanpa Nama ternyata sesuai dengan berita yang tersiar," kata tunangan Yiu Fang sambil sedikit merasa ketakutan.
"Benar, sekarang aku paham kenapa orang-orang persilatan banyak yang menginginkan kematiannya," jawab Yiu Fang.
Tunangan Yiu Fang mengangguk perlahan. Sekarang dia juga sudah mengerti.
"Apakah kau akan membalas dendam?" tanyanya.
"Pasti. Tapi aku harus menunggu kesempatan,"
Belum sempat tunangannya menjawab, tiba-tiba suara lain terdengar menyahut di belakangnya.
"Sayangnya kesempatan itu tidak akan pernah ada," kata suara tersebut.
Satu sosok mendadak muncul. Dia memakai pakaian sederhana. Wajahnya sangat cantik, hanya berbeda sedikit dengan kecantikan Yiu Fang sendiri.
Yiu Fang sangat mengenal siapa sosok tersebut. Karena sosok yang dimaksud, adalah dayangnya sendiri.
"Apa yang kau maksud?" tanya Yiu Fang dengan tatapan mata menyelidik.
"Kau tidak mengerti maksudku? Kesempatan yang kau harapkan tidak akan tiba," kata datang tersebut.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Karena nyawamu akan segera melayang. Dan aku sendiri yang akan mencabut nyawamu,"
Yiu Fang terkejut. Tunangannya juga sama. Sepasang mata mereka sedikit melotot kepada dayang tersebut.
"Kau serius?"
"Aku selalu serius,"
Yiu Fang tertawa lantang. Suara tawanya sangat keras sehingga menggugurkan dedaunan dari pepohonan sekitar. Suara tawa itu mewakili dua perasaan.
Perasaan dendam dan perasaan pilu.
"Ternyata kau pengkhianat itu," tegas Yiu Fang sambil menunjuk dayang tersebut.
"Hahaha, kau baru sadar? Memang aku pengkhianat itu. Aku yang memberikan obat penawar kepada Pendekar Tanpa Nama. Aku juga yang melemparkan pedang pusaka miliknya,"
"Bagus, bagus, akhirnya kau muncul tanpa perlu aku pancing. Sekarang, terimalah akibat dari apa yang kau perbuat,"
Wushh!!!
Yiu Fang mendadak menerjang dengan ganas. Meskipun pedangnya telah kutung, tapi semangatnya belum kutung. Sesaat sebelum tubuhnya tiba di hadapan dayang tersebut, Yiu Fang telah menyambar lebih dulu sebatang pedang milik murid perguruan yang tewas.
Trangg!!!
Dua batang perang bertemu sehingga menimbulkan dentingan nyaring.
Ternyata si dayang juga merupakan pendekar pedang.
Wushh!!!
Pedangnya bergerak.
Pedang itu menusuk dengan cepat dan ganas. Seperti seekor ular kobra yang akan mematuk mangsanya. Gerakannya tidak diduga, serangannya tanpa disangka.
Untungnya Yiu Fang bukan wanita sembarangan. Meskipun ilmunya belum setinggi seperti sang ayah, tapi kepandaian dalam permainan pedangnya tidak bisa dipandang remeh.
Dengan tenang dia menangkis serangan si dayang tersebut. Gerakannya sangat gemulai. Seperti seorang gadis penari yang telah ahli dalam bidangnya.
Dua pendekar wanita tersebut mulai bertarung dengan sengit. Jurus demi jurus telah dilancarkan dengan segenap kekuatan.
Tunangan Yiu Fang tidak tinggal diam. Sekarang pria itu turut menerjang setelah melihat bahwa kekasihnya hampir kewalahan.
Wushh!!!
Sebatang pedang lainnya datang dengan cepat dari penjuru lain.
Sekarang si dayang harus menghadapi dua batang pedang sekaligus.
Dua serangan orang itu sangat hebat. Seluruh ruang geraknya telah ditutup oleh sinar pedang. Semua jalan keluarnya dihadang dengan rapat.
Si dayang menggertak gigi, dengan jurus Menari di Atas Bukit Hijau, dia mulai membalas semua serangan dua lawannya.
__ADS_1
Gerakan serangannya berubah. Kecepatannya juga bertambah. Tubuhnya berputar dengan cepat. Pedangnya menyerang dengan ganas.
Trangg!!! Srett!!!
"Ahhh …"
Suara teriakan tertahan terdengar.
Srett!!!
"Ahhh …"
Belum habis suara pertama, sekarang telah muncul suara teriakan tertahan lainnya lagi.
Yiu Fang dan tunangannya telah tumbang. Sepasang kekasih itu terluka di bagian leher. Darah segar menyembur, dari masing-masing mulutnya juga keluar darah segar cukup banyak.
Sepasang kekasih itu telah ambruk ke tanah. Mereka ambruk bersama. Tewas juga bersama.
Suasana kembali hening. Si dayang telah menghilang entah ke mana.
Sekarang yang ada di sana hanyalah puluhan manusia tanpa nyawa. Seorang pun, tidak ada manusia yang hidup.
Suara lolongan serigala terdengar menyeramkan. Beberapa burung gagak telah berputar-putar di atas tempat tersebut. Kawanan burung gagak itu terus berputar tanpa mau pergi.
Seolah mereka sedang menunggu waktu yang tepat untuk turun ke bawah.
Bau amis darah semakin tercium menusuk hidung. Jika ada orang lain, mungkin orang itu akan muntah karena tidak tahan mencium bau amis tersebut.
Wushh!!!
Segulung angin berhembus kencang mengepulkan debu dan bebatuan.
Dua sosok asing telah berdiri di tengah-tengah mayat yang bergelimpangan itu.
"Mereka mampus," kata seorang berpakaian dan bercadar hitam. Suaranya serak parau, saat dia bicara, matanya memandang ke sekeliling. Sepasang mata itu memancarkan sinar tajam, seperti tajamnya mata elang pemburu.
"Benar, itu artinya rencana yang telah disusul gagal lagi," jawab rekannya yang berada di pinggir. Dia memakai pakaian berwarna merah muda, dia juga memakai cadar.
Keduanya memakai pakaian yang sama. Yang membedakan hanyalah warna pakaian dan suaranya.
Jika suara sebelumnya serak parau, maka suara yang barusan terdengar sangat lembut. Lembut seperti suara panggilan seorang kekasih.
Wushh!!!
Orang yang mempunyai suara serak parau mengibaskan tangannya. Hanya sekali kibasan, puluhan mayat manusia yang berserakan itu langsung bertumpuk menjadi satu.
Orang yang memiliki suara lembut maju ke depan. Dia juga mengibaskan tangannya satu kali. Setelah itu, api mendadak muncul lalu berkobar hebat membakar puluhan mayat tersebut.
"Kita pergi," kata orang yang serak parau.
Rekannya mengangguk. Keduanya segera menggunakan ilmu meringankan tubuh yang telah mereka kuasai dengan sempurna. Hanya sesaat, dua sosok manusia asing itu telah menghilang dari pandangan.
__ADS_1