Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Kemampuan si Walet Putih


__ADS_3

"Awas …" jerit Walet Putih tertahan.


Walaupun tidak diberitahu olehnya, Cakra Buana sebenarnya sudah tahu. Maka oleh sebab itu, dia bergerak lebih cepat dan lebih tangkas dari pada si Walet Putih.


Wutt!!! Wutt!!!


Keduanya menghindari semua serangan rahasia itu dengan lincah. Semua senjata rahasia yang dilemparkan tidak ada satupun yang mengenai tubuh mereka.


Cakra Buana dan Walet Putih berdiri saling membelakangi. Kedua pasang mata mengawasi seluruh keadaan sekitar.


"Kita sudah tercium oleh musuh," ujar si Walet Putih perlahan.


"Aku sudah tahu," jawab Cakra Buana dengan santai.


Senyuman menyelimuti wajahnya. Dia selalu santai dalam keadaan apapun. Walau menghadapi Malaikat Maut sekalipun, dia akan selalu berlaku santai.


"Apa yang akan kita lakukan?"


"Apalagi? Tentu saja kita akan menghadapi mereka. Sudah tercebur ke dalam lumpur, mengapa tidak sekalian berenang saja di dalamnya?"


"Kau yakin bisa menghadapi mereka?"


"Kenapa tidak? Aku selalu yakin dan percaya terhadap diriku sendiri,"


Keyakinan memang modal paling utama. Begitu juga dengan rasa percaya diri. Saat kau mempunyai niat untuk melakukan sesuatu, asal kau sudah yakin dan percaya kepada diri sendiri, hal itu sudah lebih dari pada cukup.


Apapun yang terjadi, kau harus tetap percaya kepada dirimu sendiri. Walaupun di muka bumi ini sudah tidak ada orang yang percaya kepada dirimu, tapi kau tetap harus merasa percaya. Kalau kau sendiri sudah tidak yakin terhadap dirimu sendiri, lantas untuk apalagi kau hidup?


"Bagus. Aku suka terhadap orang yang mempunyai rasa percaya diri tinggi sepertimu," puji si Walet Putih.


"Dari dulu aku selalu seperti ini," jawab Cakra Buana.


Baru saja ucapannya selesai, desingan angin tajam kembali terdengar menyayat telinga. Keduanya segera bersiap. Tubuh mereka berloncatan ke sana kemari seperti seekor kera.


Kibasan demi kibasan tangan dilancarkan. Bergulung-gulung angin dahsyat keluar dari setiap kibasan. Puluhan senjata rahasia rontok dan berjatuhan di depan keduanya.


Senjata rahasia itu bermacam-macam bentuknya. Mulai dari jarum, hingga senjata rahasia berbentuk bintang segi enam yang terbuat dari besi hitam.


"Mainan kecil jangan diperlihatkan di depan kami. Sebanyak apapun kalian melakukannya, hasilnya akan tetap sama," ejek si Walet Putih sambil tersenyum sinis.


Cakra Buana hanya tersenyum simpul. Dia juga kagum terhadap keberanian Walet Putih. Walaupun usianya sudah tidak bisa dibilang muda, namun semangatnya untuk menghancurkan kejahatan masih berkobar seperti api yang selalu membara.

__ADS_1


Si Walet Putih berdiri dengan tegak. Seperti sebuah gunung yang berdiri kokoh. Apapun yang terjadi, tidak akan bisa dirubuhkan.


Wuttt!!! Wuttt!!!


Dua puluhan bayangan berkelebat. Hanya dalam waktu sekejap mata, kini di hadapan keduanya telah berdiri puluhan orang. Puluhan pasang mata memandang tajam. Tatapan mereka beringas seperti serigala kelaparan.


Dua puluhan orang itu memakai pakaian serba hitam. Wajahnya juga tertutup oleh cadar warna hitam. Berbagai macam senjata sudah diacungkan, siap untuk menguliti tubuh Cakra Buana dan Walet Putih.


Aura pembunuhan seketika terasa sangat pekat. Udara di sana langsung terasa sesak. Hanya dalam waktu singkat, halaman itu penuh dengan orang.


"Ternyata kebesaran nama Tuan tanah bukan cuma omong kosong," gumam Cakra Buana.


"Ini belum seberapa. Semua ini hanyalah awal dari yang sesungguhnya,"


"Aku tahu. Tapi ini saja, setidaknya sudah mampu untuk membunuh penyusup yang berilmu tinggi,"


"Betul. Kerja sama mereka memang patut diacungi jempol. Aku rasa kau sudah siap,"


"Aku selalu siap,"


Keadaan menjadi hening. Tidak ada satupun yang mengeluarkan suara. Kilatan cahaya senjata tajam terlihat seperti bayangan Malaikat Maut yang setiap saat bisa mencabut nyawa.


Wushh!!!


Trangg!!! Trangg!!!


Dentingan nyaring terdengar. Si Walet Putih sudah mengeluarkan senjatanya yang berupa pedang. Tajamnya bukan main. Walaupun terlihat tidak ada yang istimewa dari pedang itu, tapi siapapun tahu bahwa senjata tersebut merupakan pusaka yang sangat berbahaya.


Si Walet Putih sudah bertarung melawan sepuluh orang. Permainan pedangnya sangat cepat. Sangat ganas dan sangat mematikan.


Pendekar Tanpa Nama juga sudah bertarung. Kedua tangannya dikibaskan. Sesekali dia memberikan pukulan dan tendangan kilat ke arah lawan.


Untuk menghadapai orang-orang kelas rendahan seperti mereka, pemuda itu tidak perlu menggunakan Pedang Naga dan Harimau.


Wutt!!!


Segulung angin dahsyat datang menerjang. Datangnya seperti ombak yang mengamuk.


Tubuhnya melancarkan beberapa serangan kelas atas. Hanya dalam beberapa kejap, tubuhnya telah diselimuti oleh puluhan senjata lawan.


Clangg!!!

__ADS_1


Terdengar sepuluh kali bunyi yang sama. Sepuluh batang senjata dibuat patah menjadi dua bagian olehnya.


Tangan kanan dan kiri melancarkan serangan tapak. Dia langsung mengeluarkan jurus Tapak Dewa Naga yang merupakan jurus pertama.


Sepuluh orang itu terpental lima belas langkah ke belakang. Mereka tewas seketika. Mulutnya memuntahkan darah segar.


Di sisinya, si Walet Putih juga sama. Orang tua itu melancarkan jurus pedang yang dahsyat. Dengan jurus Pedang Berputar di Atas Awan, dia melibas habis sepuluh orang lawannya.


Hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit, dua puluh nyawa telah melayang di tangan Walet Putih dan Pendekar Tanpa Nama.


Bau amis darah tercium. Semilir angin berhembus meniupkan kabar kematian. Pendekar Tanpa Nama dan si Walet Putih kembali ke posisi semula. Seolah keduanya tidak mengalami pertempuran apapun. Sebab pakaian kedua orang itu masih bersih suci. Tidak ada noda darah sedikitpun di pakaiannya.


Wushh!!!


Tiga bayangan berkelebat dan tahu-tahu sudah berdiri di hadapan kedua orang tersebut.


"Siapa kalian?" tanya salah seorang di antara mereka.


"Siapapun kami tidaklah penting,"


"Justru sangat penting,"


"Kenapa?" tanya si Walet Putih.


"Supaya kami bisa meletakan papan nama di atas kuburan kalian,"


"Hemm, jangan hanya omong kosong saja. Lebih baik buktikan ucapan kalian," tantang Walet Putih.


"Baik,"


Begitu ucapannya selesai, tiga bayangan itu langsung menyerang ganas. Tiga batang golok diayunkan mengincar berbagai macam titik penting di tubuh.


Si Walet Putih bergerak lebih cepat. Pedangnya kembali memperlihatkan taringnya. Setiap ayunan pedang yang dia layangkan mendatangkan deru angin tajam yang mampu merobek kulit.


Dia melawan satu orang. Tapi keadaannya langsung berada di atas angin.


Dua orang sisanya menyerang Cakra Buana. Walaupun mereka tidak tahu siapa pemuda itu, namun keduanya tahu, justru yang berbahaya adalah dirinya.


Clapp!!!


Kedua tangan Cakra Buana menjepit dua batang golok. Jepitannya sangat kuat. Walaupun mereka mengerahkan tenaga untuk menarik kembali goloknya, tapi golok itu tetap tidak bergerak sedikitpun.

__ADS_1


Jepitan Cakra Buana sangat kuat. Seolah tiada satupun kekuatan yang mampu melepaskan jeritannya.


Dua orang lawannya saling pandang. Rasa gentar mulai menghantui benaknya. Seumur hidup, mereka baru melihat ada seorang pemuda yang memiliki kemampuan sedemikian tingginya.


__ADS_2