Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama
Racun Salapan Sato


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, racun dalam arak yang sebelumnya sudah mengeram dalam tubuh Pendekar Tanpa Nama, sekarang sudah berhasil ditawarkan. Racun itu benar-benar punah dari dalam tubuhnya, malah sekarang menjadi tambahan tenaga bagi pemuda itu.


Cakra Buana tidak tahu itu racun apa. Yang jelas dia sangat yakin, kalau bukan dirinya, mungkin korbannya akan langsung mampus begitu minum beberapa teguk arak tadi.


Racun aneh, racun ganas. Juga racun yang sangat langka.


Racun tidak berwarna dan tidak berbau memang banyak. Tapi dia baru menemukan racun sejenis ini. Biasanya Pendekar Tanpa Nama selalu dapat mengetahui apakah dalam suatu makanan atau minuman ada racunnya atau tidak.


Tapi kenapa sekarang tidak?


Alasannya karena pikirannya kacau. Saat seseorang sedang memikirkan banyak masalah, biasanya ketelitian dan kecerdasannya berkurang. Siapapun manusia itu, pasti pernah mengalami situasi demikian.


Dan Cakra Buana juga manusia. Walaupun dirinya sakti, pendekar tanpa tanding, tapi hakikatnya dia tetap manusia hidup. Sebagai orang hidup, sudah tentu punya banyak persoalan yang sedang dihadapi. Apalagi sekarang persoalan itu jauh lebih rumit lagi.


Pemuda itu masih berada dalam posisi bersila dan memejamkan mata. Dia ingin membukanya, namun sebelum itu, ada suara langkah kaki yang terdengar menghampiri kamarnya.


Langkah yang amat ringan. Jumlahnya dua atau tiga orang. Dari atas genteng juga terdengar pula.


Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Pintu jendela juga terbuka pada saat bersamaan. Dari pintu, tiga orang masuk kamarnya. Dari jendela, dua orang masuk juga.


Lima orang. Lima orang yang pastinya mempunyai niat buruk, sekarang sudah berada dalam kamar itu.


Mereka terdiri dari tiga pria dan dua wanita. Pakaian mereka beragam. Umurnya juga beragam.


Pendekar Tanpa Nama masih memejamkan matanya. Dia berlagak seolah tidak tahu kedatangan orang-orang itu. Atau juga dia pura-pura keracunan hebat sehingga dirinya seperti sekarat dalam keadaan demikian. Nafasnya dibuat pelan. Seolah-olah pemuda itu sedang menderita rasa sakit yang hebat.


"Sepertinya dia terluka sangat parah," kata seorang yang memakai ikat kepala merah. Pakaiannya hitam kelam, seperti juga golok yang ada di pinggangnya. Sarung golok hitam, gagangnya pun hitam.


"Kalau tidak terluka parah, mana mungkin dia akan diam saja seperti orang mampus?" seorang pria tua sedikit bungkuk menimpali. Orang itu memakai pakaian hijau tua, di pinggangnya terselip sebatang tombak setengah depa.


"Racun itu sungguh ganas," sambung pria yang lebih muda. Wajahnya tampan, kumis tipisnya mampu membuat wanita terpesona. Di punggungnya terdapat sebatang pedang pendek.


"Racun Salapan Sato sungguh tiada tandingan. Racun buatan Ki Darto Darsana memang keampuhannya tidak diragukan lagi," sambung gadis cantik jelita. Senyumannya amat manis, tapi di balik itu ada kekejaman yang sulit dibayangkan.


Kalau Pendekar Tanpa Nama membuka matanya, niscaya dia bakal mengenal gadis itu. Sebab dialah yang sebelumnya mengantarkan makanan malam.

__ADS_1


"Sekarang tunggu apa lagi? Kita harus segera membunuhnya. Sebab kesempatan paling baik tidak akan datang dua kali," lanjut seorang wanita cantik yang satu lagi. Dia adalah pelayan penginapan yang menyambut para tamu.


Kelima orang itu sudah siap untuk bergerak. Masing-masing dari mereka telah bersiap untuk mencabut nyawa Cakra Buana. Sayang, pada saat itu tiba-tiba terdengar suara orang bicara.


"Kalian terlambat …" suaranya pelan. Tapi setiap perkataannya diucapkan dengan amat lambat dan penuh penekanan.


Lima orang asing yang berniat membunuh Pendekar Tanpa Nama kaget setengah mati. Seluruh tubuhnya bergetar. Kulit mukanya mengejang keras.


Mereka melotot dengan tajam ke arah asal suara barusan.


Cakra Buana telah membuka mata. Pemuda itu memandangi kelima orang tersebut sambil melemparkan sebuah senyuman hangat.


"Ka-kau … bagaimana kau bisa baik-baik saja?" tanya si orang yang memakai ikat kepala merah tergagap.


"Sejak semula aku memang baik-baik saja," jawab Pendekar Tanpa Nama kalem.


"Kau sama sekali tidak terluka?"


Cakra Buana hanya menggelengkan kepalanya sambil tetap tersenyum.


"Apa yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain, kadang aku justru bisa melakukannya,"


Jika orang lain yang bicara, niscaya lima orang itu tidak akan percaya. Tapi situasi sekarang berbeda. Bagaimanapun juga mereka harus percaya. Selain tidak mati, korbannya juga masih hidup segar bugar. Sedikitpun tidak ada tanda-tanda keracunan.


Wajah lima orang yang tadinya bersinar itu, sekarang telah redup. Wajahnya kelam. Sekelam malam ini. Harapan mereka sirna. Kesempatan untuk menghabisi Pendekar Tanpa Nama takkan ada lagi. Sampai kapanpun mereka tidak bakal menjumpai kembali.


Lagi pula, entah nanti mereka itu masih hidup atau tidak.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya si wanita yang tadi bertugas sebagai penerima tamu.


"Pendekar Tanpa Nama …"


Mereka saling pandang. Nama itu seperti pernah tersiar di dunia persilatan beberapa waktu silam. Tapi di antara mereka tidak ada yang berhasil mengingatnya dengan jelas.


"Apakah kau sudah tahu semua rencana ini?"

__ADS_1


"Aku baru saja tahu,"


"Kau tidak ingin tanya siapa kami?"


"Aku sudah tahu kalau kalian adalah orang-orang Tuan Gandrung Kalapati …"


Mereka kembali terbengong. Sekarang orang-orang itu baru sadar kalau pemuda di hadapannya saat ini benar-benar bukan pemuda biasa.


Wushh!!!


Tiba-tiba saja sebatang golok dicabut lalu diayunkan ke depan ke arah batok kepala. Orang yang memakai ikat kepala merah sudah tidak sabar, tugas utamanya untuk membunuh. Bukan untuk bicara.


Selamanya dia tidak mau basa-basi. Perduli lawannya itu siapa, masa bodoh apakah dia sakti atau tidak, kalau tugasnya untuk membunuh orang itu, maka dia akan membunuhnya secepat mungkin.


Dalam keadaan seperti ini, yang bicara bukan mulut. Melainkan senjata.


Golok itu sudah hampir tiba ke arah sasaran. Pendekar Tanpa Nama hanya perlu mengacungkan dua jari tangan kirinya saja.


Crapp!!!


Ujung golok tertangkap di kedua jepitan jari tangannya. Lawannya ingin menarik senjata, tapi sayangnya sia-sia. Goloknya seperti tertancap di celah batu yang sangat keras sehingga sukar sekali untuk ditarik kembali.


Clangg!!!


Golok telah patah menjadi dua bagian. Kutngan ujung mata golok yang dijepit oleh Pendekar Tanpa Nama segera dilemparkan begitu saja.


Lemparannya seperti asal-asalan. Tapi sebenarnya amat cepat. Tiada orang yang sanggup membayangkan bagaimana cepatnya lemparan itu.


Slebb!!!


Dengan telak kutungan golok itu amblas ke dalam jantung orang tersebut. Suara erangan menahan rasa sakit terdengar sangat memilukan. Darah keluar dari luka itu. Sedetik kemudian dia ambruk ke belakang dengan mata terbelalak.


Sampai tiba kematiannya, orang itu pasti tidak akan menyangka kalau dirinya bisa dibunuh dengan sangat mudah.


Hanya sekali serangan, nyawanya melayang kembali ke asal.

__ADS_1


__ADS_2