
Sepasang Kakek dan Nenek Sakti tertawa gembira. Keduanya benar-benar bahagia. Akhirnya rencana untuk membongkar misteri ini akan dimulai. Dia pun merasakan hal yang sama seperti Ratu Ayu. Sudah sejak lama dirinya ingin melakukan hal itu.
Hanya saja, dua orang tua tersebut cukup menyadari bagaimana posisinya saat ini. Mereka tidak lebih hanyalah dua manusia yang mengabdikan seluruh hidupnya kepada Kerajaan tanpa membalas imbalan apapun.
Selama ini, semua hal yang mereka lakukan tak lebih hanyalah merupakan sumpah dan bukti kesetiaannya sebagai orang-orang Istana.
"Kalau begitu, kapan kita akan memulainya?" tanya Nenenk Sakti antusias.
"Secepatnya. Lebih cepat, tentunya lebih baik," jawab Ratu Ayu sambil tersenyum simpul.
Semua orang mengangguk setuju. Masalah ini memang jangan dilama-lamakan lagi. Kalau tidak segera dijalankan, bisa jadi semuanya bakal kacau balau.
"Tapi kita jangan bicara di sini," ucap Pendekar Tanpa Nama tiba-tiba bicara.
"Memangnya kalau di sini kenapa?" tanya Kakek Sakti.
"Yang akan kita bahas adalah tentang Istana Kerajaan ini. Tentunya kita tidak boleh bicara di sini. Selain tempatnya kurang cocok, di sini juga pasti terdapat banyak mata-mata. Malah bukan tidak mungkin kalau mereka sudah mencium keanehan di dalam kamar ini,"
"Hemm, masuk akal juga," sahut Nenek Sakti.
Memang harusnya demikian. Kalau kita akan membicarakan sesuatu menyangkut sebuah tempat, tentunya jalan terbaik adalah jangan membahasnya di tempat yang bersangkutan.
Ucapan Pendekar Tanpa Nama memang sangat masuk logika. Oleh sebab itulah tiada seorangpun yang menampiknya.
"Kalau begitu di mana tempat yang cocok?" tanya Dewi Bercadar Merah.
"Aku tahu di mana. Sekarang juga kita akan pergi ke tempat itu. Hanya saja sebelumnya, kita harus melakukan penjagaan di luar kamar ini dengan sangat ketat. Tiada seorangpun yang boleh masuk ke dalam kamar," Ratu Ayu tiba-tiba bicara lantang di tengah kebingungan orang-orang tersebut.
"Hal itu bisa diatur. Ratu jangan khawatir, kami akan membuat pagar ghaib agar tiada seorangpun yang mau sekaligus bisa masuk ke kamar ini," kata Dewi Bercadar Merah.
"Baiklah kalau begitu. Silahkan lalukan sekarang juga,"
__ADS_1
Gadis cantik itu mengangguk. Dewi Bercadar Merah langsung bergerak dengan cepat. Dia tidak mau memperlambat waktu. Bukankah sudah disebutkan di atas kalau lebih, cepat jauh lebih baik?
###
Tempat itu cukup besar. Ornamen yang terdapat di dalamnya terbilang mahal. Semuanya barang antik. Barang-barang yang langka dan bernilai tinggi.
Meskipun hanya ada satu ruangan saja, namun setidaknya ruangan itu cukup untuk menampung sekitar sepuluh orang. Segalanya sudah disediakan. Termasuk juga makanan, buah-buahan dan sebagainya. Bahkan ada juga beberapa guci arak.
Semua orang yang ikut ke ruangan tersebut sudah mendapatkan tempat duduknya masing-masing. Pendekar Tanpa Nama duduk sambil minum arak.
Sebagai setan arak, bagaimana mungkin dia tidak minum kalau barang sudah berada di depannya?
"Sebenarnya ini adalah ruangan khusus rapat Istana Kerajaan. Bahkan sesekali, aku dan suamiku juga sering menghabiskan waktu di sini sekedar untuk membicarakan hal-hal penting yang sukar dicari jalan keluarnya," kata Ratu Ayu tiba-tiba bercerita kepada semua orang di sana.
Pada saat bicara, wajahnya yang cantik dan agung itu memperlihatkan ekspresi bangga dan bahagia. Tatapan matanya memancar. Seulas senyuman itu mampu menggetarkan sukma setiap orang yang memandangnya.
"Tapi …" katanya melanjutkan cerita tadi. Sampai di sini, semua ekspresi yang baru saja disebutkan itu mendadak hilang lenyap entah ke mana.
Wajahnya menjadi kelam. Wajah itupun menggambarkan kalau dirinya sedang merasakan semua perasaan yang bercampur aduk itu. Sedih, kesal, marah, dendam, semuanya bertumpuk menjadi satu.
"Dia benar-benar telah mengubah segalanya. Semenjak kedatangan wanita itu, Prabu Katapangan berubah total. Dia yang biasanya selalu bermanja kepadaku, semenjak itu tidak lagi. Malah seingatku, aku sangat jarang sekali disentuhnya. Malah bisa dibilang tidak pernah disentuh lagi,"
Setiap wanita memang butuh kenyamanan dan kehangatan dari prianya. Siapapun wanitanya, pasti dia sangat membutuhkan hal diatas.
Wanita mana yang tidak ingin diperlakukan layaknya wanita pada umumnya?
Siapapun pasti ingin.
Ratu Ayu adalah seorang wanita. Wanita agung nan cantik. Sudah tentu dirinya sangat mau dibuat nyaman dan hangat oleh suami yang sangat dia cintai itu. Tapi sayang sekali, semua harapannya sirna karena kehadiran seorang perempuan lain dalam kehidupan mereka.
"Benar-benar kejam. Perbuatan rendahan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang Raja. Padahal Raja itu harusnya bisa berlaku adil," kata Dewi Bercadar Merah yang tiba-tiba angkat bicara.
__ADS_1
Dia sangat kesal. Kesalnya tidak bisa dilukiskan lagi. Ling Ling adalah seorang wanita. Tentunya dia pun mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Ratu Ayu saat ini.
"Memang benar. Tapi suamiku tidak salah. Yang salah justru wanita laknat itu. Kenapa pula dia harus datang ke kehidupan kami?"
Meskipun Prabu Katapangan bisa dikatakan sedikit salah, namun Ratu Ayu tetap akan menganggapnya tidak salah.
Istri mana yang tidak mau membela suaminya kalau direndahkan oleh orang lain?
Ling Ling langsung terdiam. Dia baru sadar kalau dirinya sudah salah bicara. Untung bahwasanya Ratu Ayu tidak mempermasalahkan hal tersebut.
"Ratu, aku ingin bertanya. Apakah kau tahu bagaimana Prabu bisa bertemu dengan selir baru yang misterius itu?" tanya Cakra Buana.
Dia amat penasaran. Oleh sebab itulah dirinya mengajukan pertanyaan seperti itu agar bisa mendapatkan sebuah jawaban.
Tapi naas, jawaban Ratu Ayu ternyata tidak sesuai dengan harapannya semula.
"Aku tidak tahu pasti. Yang lain pun sama. Aku hanya tahu wanita itu tiba-tiba dibawa ke Istana Kerajaan sepulang suamiku berkeliling wilayah kekuasaannya," jawab Ratu Ayu.
Pendekar Tanpa Nama hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. Dia sangat yakin kalau bibinya itu tidak pernah berbohong. Sebab pemuda itu tahu kalau Ratu Ayu mempunyai sifat yang hampir sama dengannya.
Yaitu tidak suka dan tidak pandai berbohong.
"Hemm, kapan Ratu jatuh sakit parah?" tanya Dewi Bercadar Merah secara tiba-tiba.
Dia tahu, sekarang sudah waktunya untuk membicarakan hal terpenting tersebut. Oleh sebab itulah dirinya mulai memancing Ratu Ayu agar bicara lebih jauh lagi.
"Sekitar satu minggu setelah kehadiran selir baru itu,"
"Bagaimana kejadiannya? Apkah Ratu masih ingat?"
"Aku hanya ingat kalau pada saat itu sudah tiba waktunya untuk makan malam. Awalnya memang tidak terjadi apa-apa, tapi sepeminum teh kemudian, aku merasakan hal lain yang terjadi atas tubuhku. Kabarnya aku langsung pingsan. Setelah aku di bawa ke kamar, aku merasakan ada seseorang masuk. Dia menotok seluruh jalan darah dan tenaga dalamku,"
__ADS_1
"Apakah Ratu tahu kira-kira siapakah orang tersebut?"